Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 02 Oktober 2012

Saya Ingin Menjadi Supermen


Saya Ingin Menjadi Supermen

 

Setiap individu memiliki harapan dari tindakan berkelanjutan yang mereka ambil. Sebagai contoh kecil adalah kekuatan suci, yakni harapan. Harapan menimbulkan pemikiran dan tujuan kedepan yang begitu memengaruhi individu. Ini membentuk sudut pandang sebagai sosok cita-cita yang mendasari tindakan dan keputusan.

Tiap individu melanjutkan jenjang pendidikan hingga ke bangku kuliah. Tentu dengan dasar dan pilihan yang sesuai dengan kemampuan tiap-tiap individu. Di awal menempuh kuliah mereka memiliki satu tujuan pasti yang seolah tak akan goyah, namun itu semua memiliki perjalanan waktunya masing-masing. Hal-hal demikian dapat merubah pandangan awal dari individu.

Ada beragam faktor yang menjadikan seseorang membelokkan atau memutuskan jalur awal yang ia tempuh untuk sebuah cita-cita yang mereka gadang-gadang sebelum masuk dalam lingkup bangku kuliah. Pertama; individu tidaklah hidup sendiri, terutama di kehidupan perkuliahan. Mereka akan bertemu dengan beragam fantasi pemikiran dari masing-masing individu yang ia kenal. Semakin dalam ia merenungkan fantasi tersebut, alam pikirnya akan hanyut oleh pemikiran tersebut. Ia akan tertarik dan mulai memikirkan hingga menghayalkan apa yang tadi di tuturkan oleh teman tersebut.

Kedua; pengaruh oragnisasi merupakan hal penting dalam peningkatan kemampuan berkoordinasi dan berkomunikasi dengan seseorang maupun kelompok. Di sini ia akan di tempatkan pada posisi berdiri sendiri yang mengikat pemikirannya. Akan belajar dari lingkungan yang ia hadapi seperti dalam organisasi tersebut.

Tiap orang memasuki sebuah organisasi adalah dengan alasan. Tentu berkaitan dengan cita-cita, namun tetap hal demikian tidak dapat menjamin individu untuk dapat meraih cita-citanya, bahkan terbang seperti supermen. Karena organisasi akan membentuk pemikiran dan menguatkannya hingga memiliki ideologi penguatan terhadap organisasi tersebut. Banyak dari mereka dapat bertahan dalam organisasi namun banyak pula yang tergelincir dan berhenti di tengah-tengah karena meresa tak mampu dan terbebani.

Ketiga; peluang dan keberuntungan. Ada beragam peluang yang diberikan oleh beragam perusahan. Beragam peluang itu tidak semuanya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan tujuan seseorang. Banyak diantara peluang itu hanya satu yang memungkinkan untuk di ambil. Namun juga tetap memiliki rintangan, yakni pesaing. Tapi semua itu dapat berubah dengan adanya keberuntungan di pihaknya.

Saya Ingin Menjadi Supermen. Itu adalah kata yang dapat mewakilkan harapan dan cita-cita setiap individu. Bagaimana tidak, mereka melanjutkan pendidikan hingga kejenjang perkuliahan layaknya supermen yang sedang terbang. Mereka berangan untuk dapat hidup sesuai harapan mereka dan menggapai cita-cita dengan mudah. Tapi begitu banyak diantaranya jalan berkelok yang membuat mereka tidak dapat mewujudkan cita-cita.

Hanya sepersekian individu dapan mencapai cita-cita yang mereka harapkan dan menjadi seorang Supermen. Hidup bukan untuk nomaden. Hidup adalah untuk bergerak dan berfantasi. Tiap fantasi menimbulkan secuil harapan yang akan mempengaruhi dan membimbingnya. Meski kadang meleset dari cita-cita, namun terkadang pula itu lebih baik dari sebuah cita-citanya.