Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Minggu, 01 April 2012

Resense Novel Harimau Harimau Karya Mochtar Lubis


IDENTITAS BUKU
Judul Buku: Harimau! Harimau!
Pengarang: Mochtar Lubis
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit: 1992
Cover: Harimau dan Seorang pemburu
Tebal: 214 hlm

            Hutan Raya yang terhampar luas di seluruh pulau dari tepi pantai tempat ombak-ombak yang terentang hingga kekutub selatan. Sebagian Hutan Raya tak pernah di jejaki manusia. Dan mereka bertuju sudah seminggu lamanya berada didalamnya. Pak haji Rakhmat, diantaranya yang tertua. Pak Haji panggilannya, ia sudah berumur enam puluh tahun. Wak Katok berumur lima puluh tahun, berperawakan tinggi , hitam dan berotot.dia ahli pencak dan di anggap dukun besar di kampung. Dialah pemimpin para pendamar ini. Pak Balam yang sebaya dengan Wak Katok, orangnya pendiam, badannya kurus, tetapi kuat bekerja.
             Diantara mereka yang muda-muda adalah, Sutan berumur dua puluh tahun dan telah berkeluarga. Talib juga telah beristri dan beranak. Sama saja dengan Sanip ia juga telah telah beristri dan beranak. Dan Buyung yanmg termuda di antara mereka masih berumur Sembilan belas tahun, ia adalah murit Wak Katok.
            Wak Katok membawa senapan tuanya, biasanya ia hanya membawanya untuk berburu rusa atau babi. Hari ini Wak Katok hendak mengajak mereka berburu rusa yang seminggu ini sering lewat di huma Wak Hitam. Mereka bertuju telah siap dalam posisi menembak. Rusa ini terlihat sedikit besar. “Buyung, ayo kau yang tembak.”  Wak Katok menyerahkan senapannya pada Buyung muritnya. Buyung merasa senang karena kali ini ia berkesempatan menunjukkan kemampuannya. Suara desingan peluru pun terdengar namun, sayang tembakan itu meleset.
            Buyung merasa bersalah kepada para teman-temannya karena ia tidak berhasil menembak rusa itu. Seperti biasa, bila hari telah mulai petang ia lalu kembali ke Huma Wak Hitam. Disana makanan dan kopi hangat telah disiapkan oleh Siti Rubiah, istri keempat Wak Hitam yang paling muda, sedangkan ketiga istri yang lain berada di desa, itdak ikut dibawanya ke dalam hutan. Sebenarnya mereka bertuju ingin sekali mendapat ilmu perdukunan dari Wak Hitam, karena ia adalah dukun ternama di kampungnya.
            Setelah makan Buyung mengingat gadis yang ia cintai, Zaitun namanya. Kedua orangtuanya telah setuju bila Buyung menikah dengan Zaitun. Zaitun gadis yang memikat hatinya di desa, namun saat di huma Wak Hitam ia mulai merasa suka pada Siti Rubiah yang masih seumuran dengannya.
            Pagi ini setelah mereka mereka mencari dammar, mereka akan  kembali berburu rusa yang kemarin. Kali ini Buyung masih di percaya untuk menembak rusa itu, “Duaaar”  rusa iru tepat tertembak di kepalanya. Mereka lalu membawanya ke Huma Wak Hitam. Sambil memakan daging rusa itu, mereka memuji-muji kehebatan Buyung yang masih muda betul dapat menembak rusa tepat mengenai kepalanya.
            Esok harinya mereka berangkat untuk pulang menuju desa dengan  membawa damar yang telah mereka kumpulkan. Namun baru beberapa langkah mereka meninggalkan Huma Wak Hitam, Buyung teringat akan perangkap kancil yang telah ia buat di dekat kebun Wak Hitam. Buyung mengatakan pada teman-temannya “Kalian berangkatlah dulu, nanti aku menyusul, aku ingin melihat perangkap kancilku, mungkin saja ada kancil yang masuk.”
            Ternyata benar, didalam perangkapnya terdapat kancil yang masuk. Buyung lalu mengambilnya. Rencananya Buyung akan berikan kelinci itu pada Zaitun, namun ia teringat pada Siti Rubiah. Ia pun pergi kesungai mencari Rubiah. Di sungai ia lihat ada sosok Siti Rubiah yang sedang membuka kebayanya. Buyung lalu bersembunyi di sela-sela pepohonan, saat itulah ia melihat seluruh tubuh Siti Rubiah yang terlihat kuning langsat. Setelah melepas baju lalu ia menyuci pakaiannya. Di balik pepohonan Buyung tetap tidak beranjak dari tempatnya, ia masih kuat untuk melihat hingga Siti selesai mandi. Setelah Siti Rubiah mandi, ia lalu duduk di atas batu pinggir sungai. Buyung mendekatinya dan berpamitan pada Rubiah. Namun Rubiah malah menangis, Rubiah lalu bercerita akan kekerasan yang telah dilakukan oleh Wak Hitam terhadap dirinya dan ia menunjukkan bekas gigitan dan luka lain di bagian tubuhnya dengan membuka selendang yang ia pakai. Setelah melihat hal itu, Buyung merasa kasihan pada Rubiah, ia merasa tak tega meninggalkannya sendiri bersama Wak Hitam,Buyung lalu meninggalinya seekor kancil.
            Setelah itu Buyung menyusul rombongannya. Di dalam hutan yang benar-benar lebat ini, mereka bertuju mendengar auman Harimau, namun mereka tidak percaya kalau itu adalah auman harimhatau. Setelah mereka berjalan hingga petang, mereka pun berhenti untuk beristirahat dan mereka membuat api unggun. Stelah mereka salat maghrib mereka lalu  makan daginng rusa yang ia dapat dari bebruru lagi tadi pagi. Stelah makan, Pak Balam terasa perutnya mules, iapun lalu menuju sungai. Saat ia jongkok tiba tiba harimau datang, Pak Balam kaget lalu terjebur ke sungai yang dangkal itu. Harimau itu langsung mengoyaknya, kakinya remuk di gigit harimau. Ia berteriak meminta tolong kepada teman-temannya. Mereka mendengar teriakan Pak Balam dan langsung mendekatinya, mereka lihat harimau itu langsung lari melihat mereka datang.
            Karena gigitan itu, pak Balam luka parah. Saat itu ia langsung mengakui dosa-dosanya dan bukan itu saja, ia juga membocorka dosa-dosa Wak Katok yang sungguh tidak terpuji. Ia juga telah menyuruh semuanya mengakui dosa-dosa mereka. Namun mereka bungkam dalam ,ketakutan akan harimau. Pagi harinya mereka melanjutka perjalanan dengan menggotong Pak Balam dan damar-damar mereka. Namun ditengah perjalanan lagi-lagi harimau menyerang mereka dan melarika Talib. Mereka mengejar harimau itu, katika tiba di tempat ia dapati Talib terluka parah seperti Pak Balam. Mereka kembali ke tempat ia meninggalkan damar mereka dan Pak Balam, lalu mereka melanjutkan perjalanan.
            Mereka telah sampai di pondok kedu, dalam rasa takut yang menghantui diri masing-masing mereka terdiam. Luka Talip lebih parah dari Pak Balam namun Talib berteriak-teriak menyuruh Sanip mengakui dosa-dosanya. Sanip tidak tahan dengan ucapan Talip, ia lalu membungkam mulut Talib. Esok harinya mereka melihat Talib telah meninggal karena tidak dapat bertahan dari luka-luka parah akibat harimau. Setelah memandika menguburkan mayat Talib, mereka lalu berencana memburu harimau itu. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan mata dan telinga yang selalu waspada akan datangnya harimau. Hingga petang mereka berjalan, agaknya mereka belum bertemu harimau itu lagi, mereka putuskan untuk beristirahat dan kembali membuat api unggun. Di dalam keheningan berselimut ketakutan itu Pak Balam masih saja mengigau menyuruh mereka mengakui dosa-dosanya.
            Pagi harinya mereka tidak melanjutkan perjalanan kembali ke desa, melainkan memburu harimau itu. Yang berangkat memburu adalah Buyung, Wak Katok dan Pak Haji. Mereka kembali ke tempat Talib diserang, mereka menyusuri jejak-jejak harimau itu. Tiba-tiba mereka mendengar “Ooookk…tooooook!’ mereka diam, namun Wak Kato berkata  “Itu pasti demit alas ini.” Karena suara teriakan itu tidak jelas, mereka lalu mengacuhkannya. Karena mereka tidak berhasil menemukan harimau itu, mereka lalu kembali ke tempat mereka meninggalka Sutan dan Pak Balam. Namun mereka dapati bahwa Sanip telah di terkam harimau, kata Pak Balam. “Sutan meninggalkan ku sendiri, dan ia berlari ke dalam hutan sendiri. Pagi harinya Pak Balam meninggal karena demam yang sangat tinggi. Setelah menguburkan Pak Balam, mereka lalu mencari mayat Sutan, setelah mereka temukan ternya hanya tinggal tulang-belulang. Lalu mereka mgumpulkannya dan menguburkannya. Dalam keadaan ini Wak Katok berpikir bahwa mereka semua harus di lenyapkan, agar dosa-dosanya tidak tersebar dan membuatnya malu di desa nanti. Lalu Wak Katok punya rencana licik ingin membunuh mereka semua. Ia lalu menyuruh mereka semua pergi memasuki hutan tanpa membawa senapannya yang hanya satu dan itu milik Wak Katok. Mereka bertiga lalu pergi meninggalkan Wak Katok sendirian di tengah hutan belantara ini.
            Buyung lalu berfikir bahwa mereka tidak akan selamat tanpa senapan milik Wak Katok, “Bila kita di serang harimau, pasti kali ini kita semua akan mati, ayo kembali, kita rebut senapan itu.” Ucap Buyung. Mereka lalu menyergap Wak Katok, Buyung melompat ke punggung Wak Kato, dan mereka bergumul hebat, Buyung kalah Lalu Pak haji datang dari depan berusaha merebut senapan itu, namun ia malah tertembak. Sanip dari belakang langsung memukul kepala Wak Katok hingga pingsan. Lalu mereka membawa Pak Haji masuk kedalam pondok sedangkan Wak Kato mereka ikat tangan dan kakinya. Pagi harinya Pak Haji telah meninggal dunia. Lalu mereka putuskan untuk mengumpankan Wak Katok pada harimau.
            Wak Katok telah di ikat di pohon, saat itu ia menyumpah-nyumpah akan mengutuk mereka berdua. Karena ucapannya tak berhasi lalu ia berkata akan mengajari mereka berdua ilmu dukun paling ampuh  “Cukup Wak Katok, semua yang kau miliki adalah palsu. Semua yang diketahui orang-orang bahwa kau orang sakti adalah palsu, jadi lebih baik kau mati di makan harimau.” Kata Buyung. Buyung dan Sanip lalu menjau dari tempat itu dan mencari temapat setrategis untuk menembak harimau,
            Harimau itu datang, Wak Katong langsung berteriak keras-keras minta tolong. Ia sangat ketakutan, karena sejak awal ia memang takut dengan harimau ini. Saat harimau semakin dekat, Wak Katok pingsan karena saking takutnya. Disaat Buyung akan menembak harimau itu, tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk membiarkan Wak Katok dimakan harimau dulu. “Buyung, apa yang kau tunggu, ayo tembak.” Seru Sanip. Buyung lalu melepaskan tembakan, dan tepat mengenai dahi di antara kedua matanya.
            Dengan gembira mereka merayakan keberhasilan itu dengan menguliti harimau iti. Buyung merasa bebas dan terlepas dari hal-hal negative dan jahat yang telah mereka perbuat. Sanip dan Buyung merasa seperti terlahir kembali sebabdengan hadirnya harimau yang telah menewaskan kawan-kawan, itu membuat berbagai rahasia besar tipu muslihat teman-teman terkuak sudah.

KOMENTAR
            Novel ini menurut saya bagus dan mendidik. Bahasa yang rapi membalut seluruh kisah cerita masing-masing tokoh amatlah unik menggeliat. Dipaparkan seluruh tokohnya memiliki karakter-karakter tersembunyi yang akhirnya menimbulkan konflik batin dan konflik social antar tokoh-tokohnya.
            Kehidupan memang penuh dengan masalah, namun setudaknya jangan cobe kau tutupi dengan kebohongan yang nantinya akan menjatuhkan dirimu sendiri, membuatmu akan selalu menutupinya dengan kebohongan dan kejahatan yang baru bila kejahatan yang kau punya akan terkuak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar