IDENTITAS BUKU
Judul buku: Surat Kecil Untuk Tuhan
Penulis: Agnes Davonar
Penerbit: Inanda Published
Tahun terbit: 2008
Tebal: 228 hlm
Hari ini adalah hari senin, setelah uasai mandi aku langsung verangkat sekolah. Di sekolah aku bertemu teman-temanku, Andhini yang jenius dan Adhinda yang ceriwis dan manja. Kami terkenal yang paling heboh dan kami bergabung dalam tim volley yang paling pandai pastinya
Setelah semua kegiatan sekolah telah aku laksanakan, aku pun pulang naamun oerutku terasa sakit. Aku lihat ada noda merah di rokku. Tadinya aku bingng tentang nodaa merah ini, namun aku tahu ini biasa bagi remaja.
“Ayah aku datang bulan…” uajr ku.
“terus Ayah harus bagai mana?” Tanya ayahku balik
“Ayah gimana sih.” Jawabku sewot.
“Sini putrid ayah sudaah dewasa rupanya. Sana Tanya kak Putri yang sudah pengalaman.”
Hal ini kadang terkadang membuatku sedikit malu pada ayah, namun mau bagaimana lagi, mungkun karena pengalaman pertama.
Hari ini setelah pulang sekolah aku langsung baca komik seperti biasa. Namu n di rumah , Kiki matanya terlihat aneh dan ia menangis. Setelah usut-demi usut ditanyai, ternya tai a tertular sakit mataa dari temannya.
Hari berikutnya aku merasa bosan sekali di kelas dan pelajaranya sedikit membosankan. Aku lalu keluar menuju kantin, untung saja waktu itu pak Ius sedang lengah jadi aku bisa berjalan tanpa diawasi. Di kantin aku melihat seorang anak yang bertanya pada ibuny “Mamah, wajah kakak itu kenapa? Kok kayak monster.”
Mendengar ucapannya aku sedih sekali, sebenarnya apa penyakitku ini. Namun aku hanyatersenyum menanggapi anak itu. Di rumah aku berusaha terus mencari informasi tentang pengobatan ini, ayah dan semua mkeluargaku membantuku bahkan teman-temanku.
Hari ini kami berangkat menuju pengobatan pak haji yang katanya amat manjur. Namun disana aku difonis kanker, dan pak haji itu bilang bahwa kalau sudah kanker ia tidak mampu mengobatinya, harus dibawa ke ahlhinya. Dalam hati aku menangis karena ini pasti tak mungkin dapat diobati
Lalu kami berkunjung ke tempat Prof. Muklis ia adalah sepesialis kanker. Didalam suatu ruangan ayah ku bicara dengan dokter seusai pemeriksaan. Aku difonis lima hari akan mati karena kanker ini, ayahku tubuhnya bergetar mendengar hal itu. Ia katakana apapun pengobatannya yang pasti selain oprasi. Ayah tersenyum-senyum pada ku sedangkan Profesor hanya menyuruhku terus berdoa.
Pagi ini kembali bersam Prof. Muklis setelah mengikuti radioterapi berkali-kali, aku dinyatakan sembuh dari kanker ganas itu bahkan Prof. Muklis seolah tak percaya. Ia mengtakan padaku “Ini Mukajizat Tuhan, Keke, kau harus benar-benar mensyukurinya.” Aku percaya itu adalah kebenaran, ayahku menangis mendengar ucapan Profesor.
Hari ini ujian berlangsung, semua siswa tampak serius mengerjakan soal-soal. Banyak teman yang bertanya padaku dan aku pun member mereka bocoran, dalam hati aku berdoa agar aku yang mendapat nilai terbaik.stelah mengikuti ujian ini tentunya liburan panjang menanti.
Stelah libur panjang akupun kembali menjalani kehidupan sekolahku. Malam ini aku mendengar ayah becara dengan kakChika dan kak Kiki. Ayah mengatakan tentang kekhawatirannya peda kedua kakakku. Pagi itu aku langsung diajak ayah pergi ke tempat praktik prof. Muklis. Setelah melihat wajahku, raut muka professor berubah, aku merasakan itu. Ia menunjukkan hasil rongsen pada ayahku, dan melihat bagaimana mungkin kangkeryang difonis telah hilang kini kembali lagi den berpindah tempat di mata kananku.
Setelah pemeriksaan itu kami pulang, dirumah ayah menjelaskan semuanya dengan pelan-pelan. Aku menagis dalam kamar mendengar penjelasanku “Aku pasti mati.” Setelah pulang dari sekolah, aku minta ijin ke ayah untuk langsung tidur. Ayah tahu tentang keadaanku dan langsung menyodorkan obat-oabatan untukku.
Sore ini kami kembali ke tempatr prof. Muklis, professor mengatakan bahwa aku memang telah di takdirkan hidup bersama kanker itu, ayahku menangis namun aku berusaha untuk menguatkan diri ayah.
Keadaanku semakin lama semakin memburuk, bahkan baenar-benar memburuk aku sering merasakan sakit di kepala dan wajahku pun menajdi terlihat jelek, dengan keadaanku ini aku sering kali menangis setelah solat dalam doa-doaku.
Wajahku kini mulai membesar, aku sering kali merasa sakit tak terkira di wajahku dan sesak didada yang perih untuk bernafas. Mungkin sebagian organ tubuhku telah rusak, aku hanya berharap agar bisa hidup lebuh lama lagi. Ayah selalu cemas meraskan kondisiku ini.
Pagi ini ayah telah menungguku untuk mengantarku berangkat ke SMP. Ia melihatku berjalan dengan kedua tangan dan kaki diseret-seret, ayahku menangis dalam hati melihat putrid kesayangannya kondisinya semaki rusak. Aku menyuruh ayahku untuk menggendongku karena kakiku terasa lumpuh dan sampai di sekolah aku di gendong kembali oleh Pak Ius sampai ke bangku ujian yang akan dilaksanakan hari ini. Aku berdoa agar nyawaku jangan diambil sekarang karena aku harus mengikuti ujian. Aku mimisan di dalam kelas setelah menahan agar darah ini tidak keluar selama lima belas menit, pak Ius langsung berlari ke tempatku menanyakan keadaanku. Mungkin tiap ruang kelas ini telah ternoda oleh darahku yang kerap sekali mkeluar dari hidungku.
Di rumah aku menuliskan sebuah surat untuk keluargaku karena aku telah merasa bahwa hidupku akan berakhir, aku sudah merasakan itu. Surat yang berisikan permintaan maafku kepada seluruh keluargaku ini. Surat ini aku berikan pada seorang kakak cantik yang menghilang dalam cahaya, sebuah titik cahay mendekatiku dan ak seolah tertelan oleh cahaya itu danaku mulai menghilang.
Tiga hari lamanya aku koma tak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang benar-benar telah parah di rumah sakit.
“Keke…keke udah bangun.” Tanya ayahku
“Maaf yah, aku pergi tidak pamitan!” ujarku”Gak papa Keke, kalau mau pergi, pergi aja, Ayah udah iklas kok.” Ayah mulai mengerti maksudku.
“Ayah….Ibu….Kak Chika, Kiki.” Mulutku mulai tak kuat untuk bicara.
Melihat aku mulai tak bisa berbicara sepatah kata pun, paman langsung menyodorkan kertas padaku. “Ini Keke, tulis disini.” Aku menulis banyak hal, namun tak mampu aku menulis banyak lagi, aku mintamaaf pada keluargaku melalui tilisan ini.
Tepat tanggal 25 Desember 2006, Keke menghembuskan nafas terakhir pada pukul sebelas malam.
KOMENTAR
Novel ini berisi tentang perjalanan hidupseorang anak, yang berjuang melawan kangker ganas yang menyerang tubuhnya. Banyak kejadian mengiris hati yang di ceritakan dengan bahasa yang membuatmu ingin menangis merasakan betapa sedihnya dan sakitny sosok Keke.hidup ini tidak selamanya semua orang merasa kan kebahagiaan dalam kesehatan, ada yang dengan susah payah berusaha membanting tenaga untuk menjalani hidup dalam sakitnya, hal inilah yang membuat novel ini terlihat bagus dernagan ceritanyas yang pilu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar