Menggapai Cemara dengan senang hati berbagi ilmu bersama. Meski ini Blog pribadi, tapi kan kami sambut kedatangan anda sebagai tamu berilmu... Hafe Fun Fella's..
Selasa, 02 Oktober 2012
Minggu, 20 Mei 2012
Lepas Sudah
Terlanjur
Oleh: David Sukma
Oleh: David Sukma
ini dua di antara satu
bahkan satu menghasilkan dua
kafilah pernah di suguhkan untuk menerka
tapi hadirnya membawa kebimbangan
aku berjalan menjadi buta oleh sebuh keputusan
hadirku adalah sayu
sayu dari lingkup tak terobati
yang dirundung pilu oleh asa
karena sebuah putus, maka ilhamku lenyap oleh lepas
Selasa, 08 Mei 2012
Doa Kepada Surga
"Doa Kepada Surga"
Terbiak embun fajar
Aku bersandar dari selimut malam
Terkoak merpati pagi
Aku terbangun dari senyap mimpi
Beringsut kelabu surya
Aku meretas jerih gemericik suci
Begidik sabuk perindang polos
Aku bersujud dalam runyam
Duhai ESA pelindung masa
Aku berhadap mutiara kalbu
Remang hati di kerudung pilu
Jalan sepintas Doa,
Terlantun mulut cercap
Mengigau nyata menjadi bulir
Melambai kata demi jalan ESA
Terbaik untuk semua
Lebarkan jalan
Ampuni segala dosa
Karena benih tertanam dosa
Demi masa untuk hidup kedua
Jalanmu suci ilahi
Demi ridhomu aku melantun
Sebuah syair irama sendu
Yang tersayang yang memberiku hidup
Terbiak embun fajar
Aku bersandar dari selimut malam
Terkoak merpati pagi
Aku terbangun dari senyap mimpi
Beringsut kelabu surya
Aku meretas jerih gemericik suci
Begidik sabuk perindang polos
Aku bersujud dalam runyam
Duhai ESA pelindung masa
Aku berhadap mutiara kalbu
Remang hati di kerudung pilu
Jalan sepintas Doa,
Terlantun mulut cercap
Mengigau nyata menjadi bulir
Melambai kata demi jalan ESA
Terbaik untuk semua
Lebarkan jalan
Ampuni segala dosa
Karena benih tertanam dosa
Demi masa untuk hidup kedua
Jalanmu suci ilahi
Demi ridhomu aku melantun
Sebuah syair irama sendu
Yang tersayang yang memberiku hidup
Sabtu, 28 April 2012
Dia Yang
Dia Yang
terurai di malam mendung
dia yang manis menatapku kutakkuasa menatap balik.
ada lagi dia yang jelek menatapku kutatap balik hatiku hancur.
pernah dia yang imut menatapku datar kutatap balik malu aku pun menghindar.
dia yang begitu manis senyumnya kutatap senang tapi ia menghilang.
apa guna melihat? apa guna memerhatikan? apa guna suka bila kau tak mampu memberi yang terbaik.
Rabu, 25 April 2012
Pijakan Jatidiri
Pijakan Jatidiri
Oleh: David Sukma
diperjuangkan
dari sebuah ajang komersiil
Altar langit
merekah jingga bertabur gumpalan awan kelam yang teriris kilat berjalan
mendekat. Diujung sana sang mentari tengah barjingkrak hendak menutup harian.
Siutan angin gemerisik membelai ujung-ujung hijau padi. Bulir-bulir
kesejahteraan merunduk diujungnya yang sebulan lagi siap panen. Auman kerbau di
sungai membawanya bangkit dari alam air dan mendekati rerumputan untuk
memuaskan kehendak perut yang keroncongan.
Hamparan padi di
tepi sungai menemaniku memandikan kerbau. Desa ini masih tentram dan damai oleh
suasana alam yang terbuai masa jauh dari jangkauan orang-orang rakus. Ditepi
jalan ada sebongkah pohon besar yang disekitarnya berserakan tanaman padi yang
tumbuh subur. Kulihat seseorang di bawah pohon itu melambaikan tangan padaku.
Wajah itu, kulit putih itu, apa itu Ardan si bocah kota? Aku pun berjalan
mendekat. Aku tahu bahwa desa ini memberinya kenangan buruk.
“Agus…,” ujarnya
saat aku semakin dekat. “Duduk, temani gue,” pintanya lesu. Aku pun duduk disampingnya
turut bersandar pada pohon rindang ini. Ransel yang tersandar di pohon penuh
sesak oleh semua perlengkapan pribadi. “Jadi kamu sudah mau kembali ke Jakarta
to, Ardan?” tanyaku ragu. Ardan mengangguk, memegangi kepala yang katanya sudah
sakit sejak sebulan yang lalu. Kulihat layar hanphone yang ia pegang berulang
kali berganti-ganti gambar, dialah si gadis desa pujaan Ardan. Foto-foto Yanti
pasti menjadai sebuah kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Gadis desa
pertama yang memberinya sebuah kedamaian.
“Ini semua salah
gue, Gus. Andaikan Yanti nggak mengenal gue, mungkin Yanti bakal menikah sama
elu dan hidup bahagia sampai punya banyak anak dan mungkin elu kelak bakal
mandiin kebo lu itu bareng anak-anak lu
dan Yanti,” ujarnya miris menatap langit muram. “Sudahlah, Ardan. Yang lalu
biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang, lupakan desa ini. Jadilah orang besar
dan kamu bisa punya banyak kebo di kota sana,” ledekku mencoba mencairkan pikirannya.
“Hahaha...kebo? Kebo di Jakarta itu bentuknya batangan. Tinggal makan, Gus.
Hahahaha…punya banyak kebo lu bilang. Hahaha…” kulihat Ardan tertawa-tawa geli menggelengkan
kepala. Ia memegang perut dan masih memegang kepalanya besama hanphone.
“Gue pikir
semuanya bakal berjalan lancar, Gus. Tapi semua usaha keras gue bakal gue
hentikan sampai di sini.” Kucoba diam mendengar semua perkataan Ardan, sebulan
yang lalu dia adalah bocah kota yang aku benci, tapi seiring berjalannya waktu,
aku mulai memaklumi keberadaannya. “Cerita saja kalau kamu masih punya beban.
Jadi kamu bisa pergi dari desa ini tanpa pikiran yang membebani kamu…” ardan
melihat kearahku, ia menarik nafas panjang seolah mengiyakan kata-kataku.
Dulu gue kesini
dengan satu tujuan, selesaikan semua ini dan wisuda dengan cepat. Jadi gue bisa
nggantiin bokap gue di perusahaan. Pertama gue datang ke desa ini yang gue liat
adalah Yanti, dia bermain air dengan kebomu itu di sana. Gue potret dia
diam-dam. Dan malam harinya ternyta dia adalah putri dari pak kepala desa tempat
gue menginap. Beberapa hari gue di sana, setiap selesai mencari data, gue
selalu mencoba mendekati Yanti yang tiap sore selalu menyirami bunga mawar
putih yang tumbuh cantik di dalam pagar di depan emperan rumah.
Ardan mulai
memutar otak melihat nosatalgia benak. Kakinya lurus dan tangan memegang
hanphone melihat-lihat gambar Yanti yang tersenyum manis. Entah kenapa gue bisa
suka sama dia, Gus. Tiap sore gue duduk di emperan rumah untuk menulis laporan
observasi yang gue cari dari mulut-mulut warga. Diterpa semilir angin bersama
bulir-bulir serbuk sari yang terhempas ke udara. Tiap sore itu pula harum tubuh
Yanti mengelilingi gue. Rambutnya yang hitam pekat, panjang sepinggang.
Badannya yang semampai ditemani kulit kuning lansat. Wajahnya catik dan senyumnya
adu bidadari. Benar-benar tepat bila dia disebuat bunga desa.
Tapi saat gue
tahu elu adalah calon suami Yanti, dada gue mulai membengkak oleh setan yang
menyeruak bersama bilah pisau neraka yang menyusupkan kekecewaan. Semakin gue memikirkan
itu, semakin tubuh gue mulai mengambil inisiatif. Sore itu gue ngobrol sampai
malam, dia tertawa-tawa riang dengan semua candaan kota yang gue lantunkan. Dia
pun menanggapi semua yang gue katakan, seolah dia memang ingin dekat. Tapa
menunggu lama saat ia bicara tanpa memandang gue, langsung gue cium pipinya.
Yanti terperangah kaget dan menyentuh pipi. Wajahnya merona merah, gue pun
merasa seperti ada yang menggelitik di hati. Gue tersenyum menatapnya, tapi
Yanti langsung berlari masuk ke dalam rumah. Haha..malam itu adalah amalm yang lucu.
Aku geram
mendengarkannya. Lucu kau bilang, kau meracuni perasaan Yanti yang sudah
kupelihara sejak lama. Kau membuatnya bimbang dengan perasaannya. Gemerisik
ranting pohon yang bergoyang diterpa angin sore menutupi panasnya dadaku yang
mendengar cerita Ardan. Parang yang tergeletak disampingku berulang kali
kulihat. Ujungnya mengkilap meski langit senja membisikkan kesabaran.
Suatu malam aku
mendatangai rumah Yanti, sungkem kepada kedua orang tuanya yang memang sudah
merestui hubungan kami. Kami ngobrol sejenak di ruang tamu sampai akhirnya
Yanti menemuiku. Kami pun duduk berdampingan membicarakan banyak renungan dan
sesekali menggodanya. Namun dari dalam rumah seseorang keluar dari salah satu
kamar menuju ruang tamu dan menyapa kami dengan santainya. Saat melihatnya rasa
khawatir langsung menyerbu batinku, membawaku pada pikiran-pikiran buruk.
“Yanti, siapa
orang itu?” dia tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Dia mas
Ardan. Orang kota yang datang kemari untuk menulis sekripsi.” Tanganku mengepal
keras, otot-otot tangan menguat padat. Keberadaannya disini akan mengganggu
hubungan kami pastinya. Semua pikiran negateif terbayang dibenakku, hatiku pun
turut merasakan pemikiran-pemikiran kacau ini. Namun akal sehatku bergmam,
“Sabar, orang itu hanya numpang lewat di rumah ini. Ingat Gusti, wanita ini
belum sepenuhnya jadi milikmu. Dia masih punya hak untuk menentukan pilihannya.
Bila kamu ingin memilikinya, secepatnya kamu harus membuat keputusan. Lamar
dia.”
Rasa sesak di
rongga dada seketika menghilang, senyum menilik masa menemaniku untuk semakin
optimis dengan Yanti. Hubungan ini sudah lama kami bina, orang tua kami pun
sudah saling menyetujui. Hanya tinggal selontar kata yang akan membawa kami
dalam pinangan.
Malam semakin
larut terbirit waktu. Siutan angin malam menggoda rinai bulu di leher. Di depan
pintu rumah, Yanti melepas kepulanganku. Namun saat sampai di pertengahan
jalan, kulihat Ardan berdiri di tepi sambil memutar-mutar hanphone_nya. “Kalau
nggak salah namamu agus. Jauhi Yanti,” tegasnya langsung berjalan melewatiku.
Ini seperti sebuah peringatan dari seorang pendatang yang tak tahu diri.
“Hei, berhenti
kamu. Saya ini calon suami Yanti. Seharusnya saya yang bilang seperti itu.
lebih baik kamu pergi dari desa ini. lagi pula tidak seharusnya kamu ada di
sini,” teriakku. Tapi ia tetap berjalan meninggalkanku. Dadaku penuh geram
melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, namun tiba-tiba tubuhnya berjalan
gontai dan akhirnya rubuh. Seketika itu aku mendekat. Darah mengalir di hidung,
kesadarannya lenyap entah kemana. Tanpa pikir panjang aku langsung
menggendongnya kembali ke rumah Yanti.
Auman kerbau membangkitkan kami dari lamunan.
“Hahahaha…dasar kebo,” ujar Ardan. “Agus kau masih ingat malam itu?” kulihat ia
mengambil sebendel kertas dari dalam tas dan membukanya. Semilir angin
membawaku memerhatikan mulutnya bergumam menceritakan kejadian itu.
Waktu itu sore
seperti ini, tapi lolongan corong masjid sudah berkumandang di kedua desa yang
saling berbatasan sawah. Aku dan Yanti tengah berjalan pulang membawa kerbau
dari sungai. Di jalan berbatu itu kami dihadang empat orang pemuda desa sebelah.
Mereka adalah orang-orang yang juga menyukai Yanti, namun tanpa banyak bicara
salah seorang mendekat dan langsung memukulku hingga aku terjerembab jatuh dan
punggungku terbentur batu jalan. Yanti sontak berteriak. Namun tiba-tiba dari
belakang mereka Ardan berlari dan langsung memukuli mereka berempat. Entah
bagaimana ia bisa ada di jalan ini, mungkin ia baru selesai mewawancarai
penduduk setempat.
“Agus, bawa Yanti
pergi dari sini. Serahkan saja mereka padaku,” teriaknya setelah memukul jatuh
seorang berkulit coklat gelap. Aku pun bergegas bangkit dan menarik tangan
Yanti membawanya berlari bersama kerbau yang begitu malas berjalan.
Malam tiba,
purnama bertengger cantik di altar langit. Ditemani jutaan bintang yang meretas
ditiap malamnya, mereka berpendar-pendar menyebarkan panji-panji kehidupan. Di
ruang tamu, aku bersama keluarga Yanti menunggu kepulangan Ardan. Sudah jam
tujuh dan Ardan masih belum terlihat.
Dari pintu depan sebuah tangan
terjulur masuk diikuti tubuh Ardan yang mukanya penuh lebam dan tertutup merah
darah. Seketika aku berlari menyongsongnya yang langsung terjatuh sebelum
memasuki rumah.
Larut sudah malam ini, berulang kali
Yanti mengkompres kepala Ardan yang lebam. Tubuhnya yang kotor telah dibasuh
air hangat. Kulihat matanya perlahan-lahan terbuka, ia pun segera memegang
kepalanya dan duduk di atas kasur tidurnya.
“Agus, Yanti, pak Kepala desa,”
ujarnya melihat sekeliling. “Mas, kepala kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya
Yanti sambil memeras kain kompres. “Lu nggak perlu khawatir, Yanti. kepalaku
memang sepertinya sudah bermasalah sebelum aku sampai di desa ini. mungkin
sudah dangkal umurku. Hahaha…,” ujarnya santai.
Aku dan pak
kepala desa saling memandang seolah tahu ada sesuatu dikepalanya. Memang seblum
ini aku juga melihatnya memegangi kepala. Apa mungkin ia punya penyakit di
sana?
Sekali lagi auman
kerbau terdengar dan Ardan langsung melihat kearahnya. “Gus, sudah semakin
sore. Kebo lu itu mungkin sudah ingin pulang. hahaha…” ia tertawa lebar sambil
mengusap-usap rambut belakang kepalanya. “Ah, ngomong apa to kamu, biar saja
keboku itu. Aku temani kamu nunggu bis sampai…”
“Ah, ada sms
Gus,” ujarnya memotong perkataanku. Kulihat raut wajahnya cemas membaca sms
itu. Bahkan ia kesal sampai memukul-mukul tanah. “Ardan…”
“Ah…mungkin ini
moment paling berharga yang gue dapatkan di desa ini.” ia menyeka air matanya
yang perlahan merembas keluar. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan. “Berharga?
Aku pikir kamu itu nggak ngapa-ngapain, Ardan?” tanyaku ragu. “Hus!
Sembarangan…selama ini gue nggak pernah ngelakuin banyak hal seperti ini, Gus.
Apa lagi berusaha sendiri mencari data demi kelulusan gue. Dan bahkan disini
gue mendapat teman dan keluarga baru yang ternyata lebih peduli dari pada
keluarga gue yang di Jakarta. Thaks bro…” ujarnya melempar tangan ke pundakku.
“Doakan tahun
depan gue masih idup. Hahaha…” ujarnya sepele. Jidatku mengkerut mendengarkan
perkataannya. “Ardan, kamu ngomong apa to? Kamu kan masih muda, tentu umurmu
msaih panjang. Pasti tahun depan kamu bisa main ke sini lagi,” terangku
menguatkannya.
“Entahlah, Gus.
Ada sesuatu di kepala gue yang membuat gue risau. Ini seperti bom waktu, Gus.
Hahaha…” sekali lagi ia tertawa sepele. Aku tahu ia tengah sedih dengan
penyakit yang ia derita.
“Huwaaa…bis gue
udah datang, Gus.” Ia berdiri, mengambil tas punggungnya dan ia kenakan. Bis
kota di ujung jalan itu masih lumayan jauh.
Kami saling berhadap-hadapan,
wajahnya lega dari penantian lama untuk menunggu datangnya bis kota ini. Ia
menjulurkan tangan, kami pun saling berjabat bahkan ia langsung memlukku erat.
“Thank you Bro…lu udah gue anggep seperti saudara sendiri.” Ia menjabat
tanganku erat. Entah apa yang ia katakan, aku tak tahu maksud dari ucapannya.
Kedekatan kami hanya sebatas itu, tapi ia sudah menganggapku seperti saudara.
Apa dia menemukan jati dirinya di desa ini?
Suara laju bis
menderu semakin dekat. Matanya terlihat tajam mengamati bis kota. “Ok, sampai
ketemu lagi,” ujarnya sambil berlari, namun tiba-tiba ia menghentikan
langkahnya dan berlari kembali mendekatiku. Ia meraih tas punggung dan
membukanya, mengelurkan sebendel kertas putih. “Ini bro, sekirpsi gue. Baca di
rumah,” ujarnya tersenyum lebar. Ia berlari mendekati jalan hendak
mengehentikan bis. Saat bis itu berhenti di hadapannya, ia menoleh melihatku,
melambaikan tangan dan tersenyum lega sebelum akhirnya masuk ke dalam bis dan
pintu pun tertutup membawanya pergi menjauh dari lingkungan desa ini.
Bis kota semakin
berpaling dan menghilang di ujung jalan yang menurun. Bendel kertas ini tak
begitu tebal. Bukankah ini hasil pekerjaannya selama ini, kenapa ia serahkan ke
padaku? Seruan adzan terdengan dari desaku, langit jingga pun telah muram penuh
dengan mendung kelam. Angin sawah yang dingin menerpa tubuhku yang berjalan
mendekati kerbau di atas ladang rumput.
Sambil berjalan,
kubuka lebar pertama dari sekripsi ini. “Bom Waktu.” Tertulis besar di cover
awalnya. Kubuka lagi lembar kedua, kulihat darfat isi yang sampi 37 bab.
Semuanya memiliki judul dari masing-masing bab ini. Kubuka lagi lembar ketiga,
kubaca tulisan kata pengantar. “Untuk desa sepi yang damai oleh masa.” Kepalaku
miring ketika membacanya, rasa heran membelenggu pikiranku ingin semakin
membuka di tiap lembarnya.
Kubuka lagi
beberapa lembar. “Apa seperti ini yang namanya sekripsi? Kenapa seperti
cerita?” pikirku setelah membaca beberapa lembar lanjutan. Kubalik lagi untuk
melihat lembar kata pengantar.
Kerbau di depanku
mengaum ketika aku semakin dekat. Kutepuk-tepuk punggungnya yang penuh lemak
dan aku pun lompat ke punggungnya. Sambil berjalan kurasakan tulang-tulang kerbau
menusuk-nusuk pantatku, berlenggang kekanan dan kekiri mengikuti irama kaki
kerbau.
Semakin kubaca
kata pengantar ini semakin kumengerti maksud tulisan Ardan. Maka kusimpulakan
untuk mengkopinya dan akan kuserahkan ke perpustakan SD dan kantor kepala desa
besok pagi. Ardan ternyata seperti inilah hasil observasimu selama ini_kau
mengambil makna yang begitu dalam hingga aku bingung dengan pikiranmu.
Menjadi Bayang?
Menjadi Bayang?
Terurai 25 April 2012
Rasional membawamu
dalam sebuah keputusan klimaks yang akhirnya menguntungkan dan sebuah kenang
pengalaman hadir sebagai buah hikmah sebuah keputusan.
Awalnya kau ragu, baiknnya ini kau ambil atau kau tinggal. Sebuah rasa menyeruak membawamu ke dalam mangsa gelap. Tapi coba melawan pertahankan sebuah pikir dari titik anti emosional.
Awalnya berat, apakah akan kau terima sebagai sebuah
tantangan atau akan kau biarkan berlalu sebagai sebuah beban. Ini hadir di
setiap jiwa manusia. Menggerogoti teguh tiang penyangga iman. Biarkan mereka
berbisik irama sumbang, dengarkan saja sekelumit pucuk kosa kata luarbiasa yang
mereka kembang. Cukup kau dengar saja. lalu biarkan itu berlalu dan jangan kau
ikuti. Turutilah jati diri milik pribadi. kita hidup berdasar ego dan
nurani.
kau ini sudah dewasa bukan? Jalani dan putuskan
semua yang kau anggap benar. Pijakkan kaki kakimu untuk merangkai waktu yang
penuh hasil. Tunjukkan kalau kau mempu berdiri sendiri jauh dari bayang-bayang
orang lain. Untuk itu kah kau hidup, berdiri dibelakang orang lain, menjadi
bayangan yang membawanya menjadi terang.
Ruang hidup ini jauh dan luarbiasa. Kau terlahir
ditakdirkan untuk memiliki masa. Masa yang berdiri dari apa yang kau pijakkan.
Maka terangilah jalan pijakmu dari dasar rasional dan rasa yang mengundang
untung dan manfaat. Tinggalkan semua yang menghambat dan tak bermartabat.
Sabtu, 14 April 2012
Kenang Pahit
“Buah Simalakama”
Oleh:
David Sukma
Aku
ini hijau tentang rasa. Tak pernah begitu memahami semua yang diinginkan wanita.
Ini sebuah kisahku, kisah malapetaka. Yang tinggal mengalur dalam angan baka. Sampai
pedih yang mengakar di dalam dada. Kini aku kalut terjerembab oleh mimpi-mimpi
lama di dalam penjara.
Bukannya
aku tak punya malu atau apa. Kemarin itu aku datang ke rumahmu dan kau
menghilang entah kemana. Kutanya, yang kau jawab sebuah kepalsuan. Kau bilang
begitu cinta hingga aku selalu memikirkanmu. Kali ini aku terjun dalam deras
hujan rela kedinginan tuk datang ke rumahmu, menjengukmu yang kau bilang sakit.
Tetap, kau juga menghilang. Ada apa ini? Padahal aku begitu berharap denganmu.
Orang tua kita saling mensetujui. Kini tinggal kamu yang putuskan akan kemana
arah tujuanmu nanti.
Sudah
dewasa? Sudah katamu. Tapi kau masih seperti ini. Kau bilang mau serius
denganku. Bahkan ikatan di jemari telah terlihat sejak waktu itu. “Anita, ini
adalah bukti cinta kita. Yang terukir di tangan melalui bilah emas yang
melingkar. Sudikah kau hidup denganku selamanya?” kau menatapku penuh bahagia
hingga aku berseri sebuah masa depan yang indah. Kau mengangguk hingga kedua
orang tua kita saling mengerti betapa besar cinta kita.
“Sayang,
aku juga menginginkanmu. Mari bersama jalani waktu indah tanpa derai munafik
kata.” Ujarmu tersenyum manis di hadapanku. Kini kutahu bagaimana pemikiranmu.
Kau serius, apalagi aku yang sudah mapan ini. Karena itulah aku semakin yakin
dengan hubungan kita berdua.
Umurku
memang jauh sepuluh tahun lebih tua darimu. Kurasakan kedewasaanku memenuhi
semua inginmu. Semerbak wangi tubuh indahmu yang terkulai di pahaku kalai itu, membuatku
semakin cinta padamu. Meski matahari membuat peluh kita mengalir deras, tapi di
bawah pohon rindang itu kita bisa membilas luka bersama, saling mengerti dan
memahami kata. “Aku ingin kita seperti ini terus.” Pintamu lembut. Aku pun
mengiyakan kala itu. Mungkin kau yang masih muda masih butuh kesegaran jiwa.
Tanpa pikir panjang aku seolah tahu maksud kata-katamu.
Pernah
hingga larut malam aku pulang kerja. Lampu rumah gelap sudah. Kau pun tak
menunggu dan menyambutku hangat. Aku berinisiatif melepas pakaian dan langsung
tidur berbaring di sapingmu dalam kasur hangat yang telah kita persiapkan. Tapi
saat kubuka pintu, anganku mulai membayang. Sebuah jahat menghantam bilik
jantung dengan keras. Pikirku pun langsung kencang. Dunia kasur sudah
acak-acakan. Seingatku hanya aku dan kamu yang bisa melakukannya.
Aku
coba berfikir jernih. Dia istriku yang kusayang, begitu pula sebaliknya.
Mungkin dia sedang kesal menungguku tak pulang-pulang. Pikirku pun
menenangkanku. Aku tidur di sampingnya tanpa mencoba membangunkannya. Hingga
pagi hari tiba, dia menyambutku dengan sebuah wedang yang hangatnya hingga ke
pulupuk mata. Kau tersenyum menyambutku, mendekat dan merangkulku dari
belakang. “Mas, jangan punya dulu ya. Aku masih ingin begini.” Pintamu sekali
lagi terlontar. Kuiyakan pula sesuai inginmu. Karena aku juga tidak mau
buru-buru. Meski orang tua sudah minta momongan, karena dia belum mau, maka aku
menurut.
Bulan
berganti musim. Di ujung musim ini aku utarakan inginnya orang tua. Kau tetap
masih menolak untuk punya. Katanya masih ingin begitu. Padahal aku sudah mulai
bosan dengan malam penuh irama dan ingin punya pemeriah keluarga. Bujuk rayu telah
kukerahkan untukmu. Tapi tetap, kau menolak demi karir nyata milikmu itu.
Minggu
ini aku dalam perjalanan luar kota. Selama satu minggu penuh kau kutinggal
dirumah. Hati sakit meninggalkanmu sendirian, tapi kewajiban adalah kewajiban.
Namun satu yang kutakutkan adalah para tetangga sebelah. Aku tak mau ada
gunjingan. “Jaga diri dirumah. Jangan terima tamu malam-malam. Apa lagi bukan
orang yang kau kenal. Aku pamit dulu sayang.” Kau tersenyum memberiku doa agar
selamat di jalan dan hatiku pun tenang karenanya.
Seminggu
berlalu dan ini malam terakhirku di kota asing tetangga. Pernah aku memikirkan
di musim kering itu. Pertengkaran kita selama semalam. Kau ingin aku kembali
pada jalan imanku. Tapi aku menolak enggan kembali pada yang kupercayai. “Kalu
begitu masuklah dalam imanku. Kepercayaanku terbuka sayang.” Pintamu lembut.
Tapi aku sudah kalut dengan semua itu. Karena sebuah masa, keluarga awal yang
kubina lenyap karenanya. Hingga aku ateis tak beriman. Aku sangat marah kau
menyebutku macam-macam. Bahkan kau meramalkan masa depan di nirvana sana.
Kutampar kau tanpa iba, demi harga diriku seorang suami yang perkasa.
Malam
itu pun telah reda. Kini malam aku penuh risau di dada. Esok pagi waktunya aku
kembali ke lingkunganku. Semoga kau baik-baik sayang. Malam semakin larut dan
mataku terkatub bersama mimpi indah yang selalu kudambakan. Kulihat keluarga
kita bahagia, punya seorang anak pintar yang luarbiasa. Tetangga pun memandang
kita dengan hormat. “Betapa lengkapnya jalan hidupku ini.”
Pagi
menjelang, aku berangkat di tengah awan dan langit cerah. Dari jendela kulihat
rajawali yang kunaiki menyibak awan yang begitu dekat dengan matahari. Putih bersih
bergumpal menyilaukan, mataku silau takkuasa melihat sekitar.
Sampai
di rumah kau menyambut dengan bangga. “Kubawakan kau oleh-oleh sayang.”
Setangkai durian montong kulambaikan padamu.
Kau
mencium tangannku dengan sopan, kucim keningmu dengan penuh kasih sayang. Kau
membawaku masuk, berbincang membicarakan semuanya. Hingga malam kita di rumah,
mengisi waktu yang seminggu hilang. Jam dinding melirik tajam, sekarang pukul
sepuluh malam. Sudah penuh rasaku ingin membelaimu. “Kamu lagi capek sayang.
Mending istirahat saja. Bisa di lanjut besokkan?” ujarmu menolak permintaan.
Aku kecewa menahan rasa. Padahal aku sudah sangat merindukanmu.
Pagi
datang menjelang. Lengkingan ayam berkoar kencang. Membangunkan bersama subuh
yang bersenandung. Aku terbangun menyuruhmu membuat kopi hangat. Aku duduk di
ruang keluarga, di samping telepon yang sedang kugenggam. Kutelephon kedua
orang tua kita. Mereka marah dan sudah sangat ingin momongan dari darah daging
anaknya ini. Istriku datang, meletakkan kopi di meja. Ia duduk di sampingku
bersandar pada pundakku. Kubelai pelan ia sambil sayu-sayu mengantuk.
“Sayang,
kita sudah dua tahun menikah. Kenapa kau masih belum ingin punya momongan?”
tanyaku perlahan membuatnya terbelalak. Aku tak pernah menanyakan alasan, kali
ini ia mungkin sadar, betapa inginnya aku mendapat momongan dari orang yang
kusayang. “Aku tak layak sayang.” Jawabmu buram. Aku terhunus belati tajam
mendengar kata-katamu. Pikirku menarawang kealam baka. Sebuah jalan buruk
mungkinkah telah kau buat, hingga enggan dapat anak dariku.
“Aku
ini wanita karir. Tolong mengertilah. Aku begitu cinta dengan pekerjaanku. Dulu
telah kurelakan semua hal untuk mencapainya. Kini bila aku harus hamil, aku
pasti dikeluarkan sayang.” Elakmu takkaruan. Membuatku bungkam tak bisa
melawan. “Tapi dengar. Apa kau tak mau punya anak dariku. Kalau perlu berhentilah.
Aku ini sudah mapan. Pekerjaanku pun bisa menghidupi kita dan keluargamu.
Kenapa kau masih begitu kolot tak mau menuruti orang tuamu bahkan suamimu ini.”
Terangku mencoba menyadarkan.
Kau
membentakku. Menyuruhku diam dan tak perlu dibicarakan. Tapi aku terus
menerjang, memaksamu untuk mengerti dan mau memahami. Malah kau mendorongku,
menjatuhkanku seolah kau jijik denganku. “Kau ini kenapa! Menurutlah denganku.
Jadilah ibu rumah tangga, urus anak, suami, dan rumah. Tapi jika kelak kau
ingin kembali bekerja. Aku mengizinkanmu. Tapi untuk kali ini, cobalah mengerti
dan menurut denganku! Hanya untuk kali ini. Krena aku sudah sangat menginginkan
momongan sayang.” Kau hanya diam, melepas tanganku paksa, melempar semua kata.
Kau
berlari ke dalam kamar, ambil tas, ambil baju semua. Aku bingung dengan pikiranmu.
“Kenapa harus begini? Kau mau kembali ke rumah orang tuamu hanya karena masalah
ini?” ini memalukan. Kau tak bisa diatur. Kubiarkan kau meninggalkan rumah. Tak
sudi lagi berdebat kata. Biarlah dia pergi ke rumah mertua atau orang tua.
Biarlah mereka yang menyadarkanmu, sayang.
Terik
mentari sudah sepenggalah jalah. Panasnya mualai terngiang menyilaukan. Perutku
lapar, mendekati meja, kosong belaka. Kuputuskan untuk makan di warung samping
rumah. Di dalamnya banyak tetangga membeli sayur, beli makan, beli lauk, dan beli
gosip di lingkungan orang.
Aku
duduk dan memesan makanan. Sebuah piring tersandar di atas meja. Kusantap
dengan lahap. Tapi mereka melihatku cepat. Tajam sengit denganku seorang. “Suami
yang tidak bisa menjaga istri…” ujar seseorang. Aku tergelitik dalam dada
mendengar ucapan itu. “Maksudnya apa?” tanyaku serius tajam. “Dia itu tak tahu
diri. Apa kau suaminya tak pernah tahu betapa gilanya istrimu itu. Dia itu
warung. Warung setan!” teriaknya. “Tutup mulutmu tetangga! Bicaralah yang
sopan.” Tudingku.
“Kalau
tidak percaya, tanyakan sama semua orang komplek. Semua tahu. Tiap malam selalu
berganti-ganti. Dia itu terlalu liar untukmu!” ujar beberapa orang mengiyakan
semua benar.
Dadaku
panas. Kepalaku semakin membesar ingin meledak. Meja kayu kugebrak keras-keras.
Semua orang terpaku takut melihatku garang. Aku pulang dengan cepat. Pikirku
risau takkaruan, “Pergi kemana dia?” hingga malam aku tak bisa tenang. Sanak
keluarga kutelephon sudah. “Tidak ada. Memang kenapa?” jawab mereka sama.
Pikiranku semakin melayang tak karuan. “Istriku, apa benar kurangajar?” pikirku
di bawah detak jam bundar. “Jam 11 malam.” Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi
kencang. Tanpa ragu aku kedepan.
Kubuka
pintu, kulihat dia menangis deras. Langsung bersujud di kakiku yang telanjang.
Karena sayang, kubawa dia masuk ke dalam, kutanyai dengan seksama. “Aku sadar,
aku salah sayang. Aku tak menurutimu. Sekarang aku mau punya anak, sayang.”
Terangnya tersedu sedan. Aku memeluknya hangat, mungkin dia benar-benar sudah
sadar dan mau menuruti pintaku dan kedua orang tua.
Sembilan
bulan berlalu, waktunya melahirkan telah tiba. Kubawa dia ke rumah sakit
terdekat. Di dalam kamar itu ia berteriak-teriak. Kugenggam tangannya kuat. “Semoga
keduanya selamat.” Kini meletus sudah. Bayi yang kuidam-idamkan telah keluar.
Para orang tua tersenyum senang panjatkan doa kepada yang-ESA.
Dokter
datang mendekat, membawa bayi yang telah bersih dari darah. “Bayi anda terlahir
cacat. Satu kaki, satu tangan, satu mata, dan cacat mental. Ini sungguh tak bisa
di percaya. Kami ikut berduka.” Ujarnya remang. Turut pilu melihat nasip orang.
Aku
tak percaya, tubuhku dingin otakku berhenti bekerja. Kedua mertuaku mendekat
menepuk punggungku iba. Kudekati bayi itu, tiba-tiba aku pingsan tak mampu
menguatkan raga. Semua yang kuimpikan, semua yang kubayangkan tuk hidup indah.
Kini berlalu sudah.
Dalam
ketidak sadaran aku menerawang masa. Suara-suara tetangga itu kembali
terdengar. Apa yang mereka bilang waktu itu apa benar? Apa ini karma dari yang
telah di perbuat istriku? Apa ini akibat dari aku yang melupakan Tuhan? Apa ini
hukuman?
Bulan
berganti tahun, kini ia sudah berumur tiga tahun. Para tetangga memandang sinis
tanpa iba. “Itu akibatnya kalau istrimu bejat!” Tuding mereka. Ini mungkin
bukan karena ulah istriku seorang, aku pun turut ikut ambil andil. Aku yang tak
pernah lagi mau berdoa, kini dengan paksa harus mengambil hikmah dari limbah
yang diratapi orang.
Kala
itu hampir petang, bocah itu bermain sendirian. Berjalan di tepi jalan dan
tiba-tiba semua hal berada di rumah sakit. Darah segar berkucuran. “Dia
kehabisan darah. Kami harap anda dari pihak keluarga bersedia mendonorkan
darah, karena darah milik anak anda langka, pasti dari keluarga ada persamaan.”
kembali bertemu dengannya. Kami pun telah sepakat. Saat uji laboratorium tiba,
tak ada yang positif. Aku tertunduk lemas. Dokter mengambil inisiativ lain.
Hari
berganti bulan. Belum kutanyakan perihal semua ini. Aku pergi ke rumah sakit.
Tes DNA kujalani tuk buktikan kebenaran remang ini. Hasil keluar dan ternyata
memang benar. Aku pun pulang penuh dendam. Panas membara di dalam dada
menyeruak hingga ke otak. Mata merah penuh setan mengibliskan diri. Kubuka
pintu dengan mendobrak. Ia kaget luarbiasa, melihatku kalap di lahap setan. Dan
semuanya hilang…
Rabu, 11 April 2012
Kisahmu Pesonamu
KISAHMU PESONAMU
Menulis, apa sih itu menulis?
Menulis, apa artinya untuk kalian?
Nothing? Wau.....pemikiran yang klasik.
Menulis ya, penyair bilang menulis itu sebuah limpahan jerit rintih kata yang terrenung di dalam angan. HASSEK dah...! hahah... bayangkan kalau hidupmu itu adalah sebuah tayangan kecil yang ada di dalam layar media. "Lalu hidup yang seperti itu apa?" bisa di bilang itu sebuah novel, murni dari sebuah jalan takdir yang kau jalani.
"Oh ya...? Wauuu..."
Asem, jangan sombong ente!!! Mau denger celoteh konyol kagaaaak???
"Hoooo...Thenthu thenthu...." ujarnya mucu-mucu....
Coba kita pikir bersama, apa hidup kita ini bisa dikatakan sebagai sebuah kisah bermutu?
"Emmmmm.....kayaknya enggak deh."
"Oooooo thenthu....Thenthu enggak!!" bentakku membesarkan. "Apa lagi hidupmu kauwand."
Mampukah sebuah perjalanan hidupmu itu dikisahkan? No no no...hidupmu belum seberarti sebuah kisah yang telah terbukukan. Maka buatlah hidup kita lebih berarti. jangan sia-siakan semua kesempatan, jangan sepelekan sebuah angan, jangan kau remehkan semua yang terlintas. Satu yang perlu kau ingat, hidupmu takkan berarti bila kau terus menjalani hal yang seperti ini.
Tingkatkanlah, aku yakin kau mampu. semakin tinggi taraf hidup yang meliputi pikiran, cara pandang, kegigihan, tujuan-tujuan, motifasi, keringat yang terkucur, bualan-bualan itu... semua bisa kau manfaatkan. semua bisa lebih menjadi yang terbaik.
Saya pernah dengar sebuah wejangan, seseorang yang seperti kita, bila ingin di hargai, maka menulislah. Dengan begitu derajatmu akan semakin tinggi di hadapan manusia. Yah, sebatas manusia. Kecuali kau punya iman yang begitu kuat hingga kau layak untuk di hargai di depan Tuhan-mu.
Semua angan yang terlintas, baiknya jangan kau remehkan. Limpahkan dalam secarik sajadah hidup yang akan membawamu dalam dunia tanpa batas. Curahkan setiap rintih kata yang terukir di jidatmu. Nikmatilah alunan jedat-jedut irama yang terhentak dari nadi-nadimu. Semua akan menjelma menjadi kisah malapetaka yang akan menggemparkan keluarga dan semua orang yang kau kenal.
Kisahmu, adalah pesonamu kauwand.
dari sebuah pengakuan
"Ini seputar ujar bukan maksud mengguriu.
Karena saya sendiri masih mencoba selalu belajar."
Senin, 09 April 2012
Sedikit bocoran tentang Para Titisan
Sedikit bocoran dari Para Titisan, Novel garapanku yang masih dalam proses
Pasang
Surut (Bab 23)
Di
keheningan pagi di satu kamar itu masih tak terganggu. Masih tenang tanpa
rayuan. Ruang di sampingnya dan di bawah telah ramai dan penuh udik orang-orang
yang telah bersiap. Bulatan luar biasa di sudut angkasa yang berbinar begitu
terang dan menyilaukan tiap kelopak mata yang penasaran, telah bergema,
sinarnya bergema ke berbagai sudut ruang di daratan bumi. Menelisip ke berbagai
pelosok sudut. Menembus berbagai benda. Membawa kehidupan baru di tiap
pertemuannya.
Di
samping rumah, kolam ikan bergenang air bergolak pelan dan kadang tersibak oleh
polah ikan yang bergelimpangan penuh elok di dalamnya. Besutan sinar mentari
menerjang masuk. Membilah pori-pori air yang rata lembut tanpa gelombang. Tersirat masuk menerangi dalam kolam.
Seberkah cahaya terang memberi pewarna alami yang kaya manfaat.
Ada
gadis di tepian kolam ini. Senyum mudanya memberi harapan pada kehidupan di
dalam kolam. Ikan-ikan koi menengadah padanya. Berkecamuk berebut cuilan roti
yang dilemparkan olehnya. Ia tersenyum
melihat mereka. Ia jongkok menghadap kolam dengan seragan SMP. Roti tawar di
tangan kanannya ia gigit, mulutnya berdebam-debam. Sesekali ia kembali
melempari sebagian dari roti itu ke kolam. Tanpa ragu ikan-ikan yang lapar itu
langsung menyambarnya. Berebut secuil roti yang mengapung di air. Elok warna
merah dan putihnya yang berbaur menjadi satu. Kini terpoles oleh sinar mentari
pagi yang menyambutnya. Mereka terlihat mengkilap indah penuh gaya.
Gadis
itu berdiri. Mencuili-cuil roti itu dan melemparkannya ke dalam kolam. Roti
yang tinggal separuh itu ia gigit sekali dan langsung ia lemparkan ke kolam.
Mereka pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Langsung berebut, bergerombol,
dan saling senggol. Sibak air pun tak terhentikan.
Gadis
itu berlari lentik meninggalkan kolam. Rambutnya terurai panjang di bawah sinar
mentari pagi. Senyumnya terurai murni tanpa luka di hati. Di bawah altar langit
ini, terik mentari menghangatkannya sejenak. Rambutnya yang hitam lebat
terkilap oleh sang surya. Melihat wajah polosnya yang manis, rona pagi pun
tersenyum padanya.
Ia
masuk ke dalam rumah, berlari-lari seperti anak kecil. Lakunya lentik
memanjakan tubunya seperti bidadari muda yang berseri-seri melihat pelangi sore
di atas danau. Ia berlari ke meja makan, melihat ayahnya yang berdiri usai
makan hendak mengambil sepatu. Kepalanya mengarah pada ibunya yang berada di
pintu dapur membawa segelas susu. Mereka saling tatap. Ibunya tersenyum melihat
anak gadisnya pagi ini bersemangat untuk beraktivitas.
“Mah, Kak Bumi masih belum
bangun…?”
Ibunya
mengangguk berjalan mendekatinya, melewatinya, dan Gadis ini bermain-main
dengan pundak ibunya. Berjalan bersama dengan canda dan goda. Ia beranjak berlari
mendekati tangga dan menaikinya. Kakinya yang di balut kaus kaki membuat
langkahnya tak beririama. Lembut bagai kulit bidadari desa. Ia menuju kamar
dengan pintu yang bergelantungan seekor tarzan. Langsung membukanya, masuk dan
berhenti. Melihat Kakaknya yang masih tenang di atas kasur, ia menggigit bibir.
Melipat tangan ke dada memikirkan sesuatu. Dirasainya suasana kamar masih
kelam. Dingin masih bernaung di sini. Ia pun bergegas menuju jendela. Dengan
cepat membuka gordin dan jendelanya. Pintu balkon pun turut ia buka. Semerbak
harum aroma kesejukan pagi langsung ia rasakan. Ia berjalan ke pagaran balkon.
Tangannya menengadah ke samping. Wajahnya melihat angkasa. Rambut panjangnya
terjatuh lurus dan bergoyang tertiup angin. Menghirup udara pagi yang masih
begitu segar, membawa senyumnya dalam uraiaan rasa yang turut tersenyum di
dalamnya. Sorot mentari memendarkan baju OSISnya.
Berlari
mendekati kasur, duduk di sana memandang kakaknya. Ia terkejut, suasana hatinya
langsung berubah. Di sentuhnya warna merah di dekat bibir kakanya. Sudah kering
dan kasar. Ia pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya.
“Kakak…kak bangun kak…kamu nggak
apa-apakan…? Kakak.” Teriaknya khawatir menggoyangkan tubuh kakaknya agar
bangun.
Mata
kakaknya pun terbuka. Masih sayup-sayup bersama guncangan kuat dari adiknya. Ia
bangkit dan duduk. “Bungaaaa….ada apa si pagi-pagi teriak-teriak…” Ujarnya
pelan malas ditemani ia menguap dari mulutnya lebar.
“Kakak!! Bajumu banyak darahnya.
Kotor, wajahmu juga kak…kakak kok bisa sih.” Teriaknya heran dan penasaran
dengan meraba-raba pakaian kakaknya.
Bumi
melihat pakaiannya. Ia tersentak sadar. Pikirannya langsung tertuju pada
kejadian tadi malam. Ia memegang dadanya, memegang wajahnya, ia memegang semua
bagian tubuhnya yang terasa penuh luka. Namun semua yang dirasanya terluka
sepertinya telah menghilang. Dan sekarang ia bingung kenapa ada di dalam kamar.
Ia pun langsung terfikir tentang Nanda.
“Kakak jawab dong…bajumu ini
kena darah kan?” Tanya Bunga memaksa.
Bumi
menyentuh kancing bajunya, membukanya dengan cepat. Bunga hanya terdiam
penasaran melihat kakaknya. Bumi beranjak dari kasur, ia jongkok di samping
kasur dan melemparkannya ke bawah ranjang. Ia berjalan cepat masuk ke dalam
kamar mandi. Bunga mengikutinya. Ia membasuh mukanya dengan air berkali-kali.
Menggosoknya hingga noda kotor di muka menghilang. Ia juga membasuk ke dua
tangannya. Usai itu ia langsung mendekati cermin. Melihat tubuhnya. Ia memegang
dadanya yang semalam terasa sangat sakit. Menyentuh wajahnya yang seharusnya
bengkak dan memar. Tapi sekarang semuanya terlihat normal.
Bunga
di belakangnya masih melihatnya heran. “Kakak, jawab Bunga dong, Kak?” Pintanya
merengek penasaran.
Bumi
berbalik mendengar ucapan adiknya. Mendekatinya, kedua tangannya menyentuh
pundak Bunga. “Bunga, itu semua kena cat air. Semalem Kakak mainan cat air.
Jadi jangan bilang Mamah ya. Baju Kakak sampai kotor kayak gitu nanti Kakak
kena marah.” Terangnya langsung mencium pipi adiknya.
“Eh.” Sahutnya sambil memegang
pipi yang baru di kecup Kakaknya. Ia terpaku melihat punggung kakaknya berlari
keluar kamar dengan sebuah kemeja yang ia ambil. Bunga berjalan keluar dari
kamar. Melihat Kakaknya berlari tergesa-gesa.
Bumi
berlari cepat melewati ayahnya yang sedang duduk meminum susu pemberian ibunya.
Mereka duduk di teras depan.
“Eh, Bumi….” Tukas ibunya.
Ayahnya
yang baru meneguk susu pun langsung menelannya cepat. “Hei, Bumi mau kemana?”
Teriak Ayahnya keras.
Bumi
tak menjawab, masih terus berlari melewati
halaman rumah. Sampai di pintu gerbang, ia membukanya cepat. Tanpa menutupnya
dan terus berlari kencang menuju rumah Nanda. Beberapa meter berlalu, di tengah
jalan ia menginjak batu. Karena kesakitan, saat berlari ia langsung
terlompat-lompat cepat dengan satu kaki dan kaki satunya ia angkat, ia lihat
dan ia sentuh-sentuh. Namun secepat itu pula karena ia melihat kakinya yang
terasa sakit, ia tak melihat batu bundar yang lumayan besar di depannya. Ia
yang terlompat-lompat cepat tanpa sengaja menginjaknya dan terpeleset
jatuh.
Tanpa
keluh ia mencoba berdiri, bangkit, dan kembali berlari sambil memegangi pinggul
dan tangannya yang sakit karena jatuh. Terus berlari hingga akhirnya tiba di
depan pagar rumah Nanda. Ia berlari masuk, dilihatnya Kakek Nanda tengah duduk
di depan membaca Koran sambil minum secangkir kopi. Sampai di depan Kakek itu,
“Kakek! Nanda…Nanda ada di rumahkan?” Bentaknya bertanya khawatir berdiri
dengan kaki yang masih berlari-lari.
“Ada di dalam…” Jawabnya heran
melihat Bumi yang terburu-buru.
Langsung
bumi berlari mendekati pintu masuk dan masuk dengan cepat namun ia langsung
terjatuh karena lantainya yang licin sehabis dipell oleh Bibik.
“Adoooooooh…pinggangku…” Ujarnya
menggeliat kesakitan di lantai.
Nanda
di dalam kamar telah mengenakan tas punggungnya. Mendengar suara Bumi ia
langsung keluar dari kamar. Bumi mencoba bangkit meski pinggangnya terasa
sakit. Pelan-pelan ia berjalan di atas lantai licin itu.
“Nanda…” Ujarnya sambil berjalan
cepat mendekatinya dan langsung memeluknya. Nanda terkejut dalam pelukan. Kakek
Nanda di luar mencoba bangkit karena tadi dia mendengar suara Bumi yang jatuh.
“Nanda, kamu…kamu nggak
apa-apakan. Kamu nggak di apa-apainkan?” Tanyanya khawatir menelisik.
“Aku nggak apa-apa. Harusnya aku
yang bertanya seperti itu.” Ujarnya tersenyum.
“Syukurlah.
Aku sangat khawatir.” Ujarnya langsung memeluk Nanda kembali. Dalam pelukan itu
Nanda pun ikut memeluknya. Ia tersenyum bahagia karena ternyata Bumi
benar-benar peduli padanya.
Di
depan pintu, Kakek Nanda melihatnya. Ia langsung berjalan mendekat sambil
menggulung Koran di tangannya. “Dasar Bocah gemblung.” Teriaknya sambil memukul
kepala Bumi dengan Koran.
“Aduh!! Kakek. Sakit Kek” Teriak
Bumi.
“Kapok!”
“What?” Bumi bingung.
Kembali
kakek memukul kepala Bumi sekali lagi. “Bocah edan. Pulang sana. Pagi-pagi main
peluk cucu orang. Nggak sopan!” Teriak Kakek.
“Hehehehe…maaf Kek.” Ujarnya malu
mengusap-usap kepala bagian belakang.
“Kangen ya kangen….! Tapi kamu
mandi dulu…sudah hampir jam 7. Lihat tuh lantai rumah Kakek jadi kotor bekas
cap kaki kamu!!” Ujarnya sambil mengarahkan jarinya ke lantai.
“Heheheh..iya iya maaf Kek.”
“Sana pulang, pulang, pulang
dulu.” Sambil memukul-mukulkan Koran ke Bumi. Bumi menahannya dengan kedua
tangan.
“Aduh…aduh…iya Kek, iya aku
pulang!!” Bumi pun berlari keluar dari rumah.
“Dasar, mentang-mentang sudah
dapet izin dari Kakek.” Gerutu Kakek.
“Apa Kek?” Tanya Nanda di
belakangnya.
“Huh…?” ujarnya kaget.
Tiba-tiba
kepala Bumi muncul lagi dari pintu.
“Apa lagi sekarang?” Teriak
Kakek.
“Heheheh…Nanda jangan berangkat
dulu, nanti biar aku jemput.” Teriak Bumi langsung kabur berlari meninggalkan
rumah itu
****
Bumi
berjalan cepat mendekati teras rumahnya. Melangkahkan kaki dan masuk ke dalam
rumah. Di dalam rumah, ibunya melihatnya berjalan melewatinya yang sedang
menonoton televise. “Bumi, dari mana kamu?” Tanyanya meletakkan remot TV dan
duduk menyilangkan kaki layaknya seorang wanita.
“Bumi dari rumah Nanda, Mah.”
melanjutkan jalan.
“Nanda, siapa?” Tanyanya heran
memiringkan kepala, jidatnya mengkerut.
“Temen, Mah…besok kapan-kapan
kuajak ke sini. Rumahnya deket sini kok…” Ujarnya sambil melangkah menaiki
beberapa anak tangga.
“Oh Nanda cucunya kakek Supomo
itu?” Ujarnya terkejut mengenalnya.
“Wah…Mamah tahu, Mah?” Tanya
Bumi penasaran dan berbalik turun dari tangga ingin mendekati ibunya.
“Udah sana mandi. Udah hampir
jam tujuh. Ceritanya besok aja.”
“Hahaha…Ok Mah…” tertawa kecil
langsung berlari menaiki tangga.
Ibunya
yang masih duduk melihat punggung Bumi berlari menjauh. Kini kembali
membenarkan duduknya. Menghadap televise, memegang janggutnya, memikirkan
sesuatu. Pikirannya terbawa pada ingatannya dulu. Sempat ia mengingat tentang
tragedy kecelakaan di bangjo itu. Kecelakaan yang merengut banyak korban.
Brutal dan mengenaskan. Dia kini teringat oleh sebuah nama, “Itu Nanda anak Bu
Aisyah. Si gadis kecil manis yang bermata bundar berkulit putih bersih seperti
orang keturunan Cina. Ternyata gadis itu.” Pikirnya. Kecelakan itu menewaskan
semua anggota keluarganya. Beruntung hanya gadis kecil itulah yang selamat dan
kini di rawat oleh Kakeknya. Saat pemakaman, semua warga sini menghadirinya,
termasuk warga perumahan ini karena sebagian ada warga dari sini juga yang ikut
terlindas truk itu.
Langganan:
Komentar (Atom)
