Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 02 Oktober 2012

Saya Ingin Menjadi Supermen


Saya Ingin Menjadi Supermen

 

Setiap individu memiliki harapan dari tindakan berkelanjutan yang mereka ambil. Sebagai contoh kecil adalah kekuatan suci, yakni harapan. Harapan menimbulkan pemikiran dan tujuan kedepan yang begitu memengaruhi individu. Ini membentuk sudut pandang sebagai sosok cita-cita yang mendasari tindakan dan keputusan.

Tiap individu melanjutkan jenjang pendidikan hingga ke bangku kuliah. Tentu dengan dasar dan pilihan yang sesuai dengan kemampuan tiap-tiap individu. Di awal menempuh kuliah mereka memiliki satu tujuan pasti yang seolah tak akan goyah, namun itu semua memiliki perjalanan waktunya masing-masing. Hal-hal demikian dapat merubah pandangan awal dari individu.

Ada beragam faktor yang menjadikan seseorang membelokkan atau memutuskan jalur awal yang ia tempuh untuk sebuah cita-cita yang mereka gadang-gadang sebelum masuk dalam lingkup bangku kuliah. Pertama; individu tidaklah hidup sendiri, terutama di kehidupan perkuliahan. Mereka akan bertemu dengan beragam fantasi pemikiran dari masing-masing individu yang ia kenal. Semakin dalam ia merenungkan fantasi tersebut, alam pikirnya akan hanyut oleh pemikiran tersebut. Ia akan tertarik dan mulai memikirkan hingga menghayalkan apa yang tadi di tuturkan oleh teman tersebut.

Kedua; pengaruh oragnisasi merupakan hal penting dalam peningkatan kemampuan berkoordinasi dan berkomunikasi dengan seseorang maupun kelompok. Di sini ia akan di tempatkan pada posisi berdiri sendiri yang mengikat pemikirannya. Akan belajar dari lingkungan yang ia hadapi seperti dalam organisasi tersebut.

Tiap orang memasuki sebuah organisasi adalah dengan alasan. Tentu berkaitan dengan cita-cita, namun tetap hal demikian tidak dapat menjamin individu untuk dapat meraih cita-citanya, bahkan terbang seperti supermen. Karena organisasi akan membentuk pemikiran dan menguatkannya hingga memiliki ideologi penguatan terhadap organisasi tersebut. Banyak dari mereka dapat bertahan dalam organisasi namun banyak pula yang tergelincir dan berhenti di tengah-tengah karena meresa tak mampu dan terbebani.

Ketiga; peluang dan keberuntungan. Ada beragam peluang yang diberikan oleh beragam perusahan. Beragam peluang itu tidak semuanya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan tujuan seseorang. Banyak diantara peluang itu hanya satu yang memungkinkan untuk di ambil. Namun juga tetap memiliki rintangan, yakni pesaing. Tapi semua itu dapat berubah dengan adanya keberuntungan di pihaknya.

Saya Ingin Menjadi Supermen. Itu adalah kata yang dapat mewakilkan harapan dan cita-cita setiap individu. Bagaimana tidak, mereka melanjutkan pendidikan hingga kejenjang perkuliahan layaknya supermen yang sedang terbang. Mereka berangan untuk dapat hidup sesuai harapan mereka dan menggapai cita-cita dengan mudah. Tapi begitu banyak diantaranya jalan berkelok yang membuat mereka tidak dapat mewujudkan cita-cita.

Hanya sepersekian individu dapan mencapai cita-cita yang mereka harapkan dan menjadi seorang Supermen. Hidup bukan untuk nomaden. Hidup adalah untuk bergerak dan berfantasi. Tiap fantasi menimbulkan secuil harapan yang akan mempengaruhi dan membimbingnya. Meski kadang meleset dari cita-cita, namun terkadang pula itu lebih baik dari sebuah cita-citanya.

Minggu, 20 Mei 2012

Lepas Sudah



Terlanjur
Oleh: David Sukma


ini dua di antara satu
bahkan satu menghasilkan dua
kafilah pernah di suguhkan untuk menerka
tapi hadirnya membawa kebimbangan
aku berjalan menjadi buta oleh sebuh keputusan
hadirku adalah sayu
sayu dari lingkup tak terobati
yang dirundung pilu oleh asa
karena sebuah putus, maka ilhamku lenyap oleh lepas

Selasa, 08 Mei 2012

Doa Kepada Surga


"Doa Kepada Surga"

Terbiak embun fajar
Aku bersandar dari selimut malam
Terkoak merpati pagi
Aku terbangun dari senyap mimpi
Beringsut kelabu surya
Aku meretas jerih gemericik suci
Begidik sabuk perindang polos
Aku bersujud dalam runyam
Duhai ESA pelindung masa
Aku berhadap mutiara kalbu
Remang hati di kerudung pilu
Jalan sepintas Doa,
Terlantun mulut cercap
Mengigau nyata menjadi bulir
Melambai kata demi jalan ESA
Terbaik untuk semua
Lebarkan jalan
Ampuni segala dosa
Karena benih tertanam dosa
Demi masa untuk hidup kedua
Jalanmu suci ilahi
Demi ridhomu aku melantun
Sebuah syair irama sendu
Yang tersayang yang memberiku hidup

Sabtu, 28 April 2012

Dia Yang


Dia Yang

terurai di malam mendung 

dia yang manis menatapku kutakkuasa menatap balik.
ada lagi dia yang jelek menatapku kutatap balik hatiku hancur.
pernah dia yang imut menatapku datar kutatap balik malu aku pun menghindar.
dia yang begitu manis senyumnya kutatap senang tapi ia menghilang.
apa guna melihat? apa guna memerhatikan? apa guna suka bila kau tak mampu memberi yang terbaik.

Rabu, 25 April 2012

Pijakan Jatidiri


Pijakan Jatidiri
Oleh: David Sukma
diperjuangkan
dari sebuah ajang komersiil

Altar langit merekah jingga bertabur gumpalan awan kelam yang teriris kilat berjalan mendekat. Diujung sana sang mentari tengah barjingkrak hendak menutup harian. Siutan angin gemerisik membelai ujung-ujung hijau padi. Bulir-bulir kesejahteraan merunduk diujungnya yang sebulan lagi siap panen. Auman kerbau di sungai membawanya bangkit dari alam air dan mendekati rerumputan untuk memuaskan kehendak perut yang keroncongan.
Hamparan padi di tepi sungai menemaniku memandikan kerbau. Desa ini masih tentram dan damai oleh suasana alam yang terbuai masa jauh dari jangkauan orang-orang rakus. Ditepi jalan ada sebongkah pohon besar yang disekitarnya berserakan tanaman padi yang tumbuh subur. Kulihat seseorang di bawah pohon itu melambaikan tangan padaku. Wajah itu, kulit putih itu, apa itu Ardan si bocah kota? Aku pun berjalan mendekat. Aku tahu bahwa desa ini memberinya kenangan buruk.
“Agus…,” ujarnya saat aku semakin dekat. “Duduk, temani gue,” pintanya lesu. Aku pun duduk disampingnya turut bersandar pada pohon rindang ini. Ransel yang tersandar di pohon penuh sesak oleh semua perlengkapan pribadi. “Jadi kamu sudah mau kembali ke Jakarta to, Ardan?” tanyaku ragu. Ardan mengangguk, memegangi kepala yang katanya sudah sakit sejak sebulan yang lalu. Kulihat layar hanphone yang ia pegang berulang kali berganti-ganti gambar, dialah si gadis desa pujaan Ardan. Foto-foto Yanti pasti menjadai sebuah kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Gadis desa pertama yang memberinya sebuah kedamaian.
“Ini semua salah gue, Gus. Andaikan Yanti nggak mengenal gue, mungkin Yanti bakal menikah sama elu dan hidup bahagia sampai punya banyak anak dan mungkin elu kelak bakal mandiin kebo lu itu  bareng anak-anak lu dan Yanti,” ujarnya miris menatap langit muram. “Sudahlah, Ardan. Yang lalu biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang, lupakan desa ini. Jadilah orang besar dan kamu bisa punya banyak kebo di kota sana,” ledekku mencoba mencairkan pikirannya. “Hahaha...kebo? Kebo di Jakarta itu bentuknya batangan. Tinggal makan, Gus. Hahahaha…punya banyak kebo lu bilang. Hahaha…” kulihat Ardan tertawa-tawa geli menggelengkan kepala. Ia memegang perut dan masih memegang kepalanya besama hanphone.
“Gue pikir semuanya bakal berjalan lancar, Gus. Tapi semua usaha keras gue bakal gue hentikan sampai di sini.” Kucoba diam mendengar semua perkataan Ardan, sebulan yang lalu dia adalah bocah kota yang aku benci, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai memaklumi keberadaannya. “Cerita saja kalau kamu masih punya beban. Jadi kamu bisa pergi dari desa ini tanpa pikiran yang membebani kamu…” ardan melihat kearahku, ia menarik nafas panjang seolah mengiyakan kata-kataku.
Dulu gue kesini dengan satu tujuan, selesaikan semua ini dan wisuda dengan cepat. Jadi gue bisa nggantiin bokap gue di perusahaan. Pertama gue datang ke desa ini yang gue liat adalah Yanti, dia bermain air dengan kebomu itu di sana. Gue potret dia diam-dam. Dan malam harinya ternyta dia adalah putri dari pak kepala desa tempat gue menginap. Beberapa hari gue di sana, setiap selesai mencari data, gue selalu mencoba mendekati Yanti yang tiap sore selalu menyirami bunga mawar putih yang tumbuh cantik di dalam pagar di depan emperan rumah.
Ardan mulai memutar otak melihat nosatalgia benak. Kakinya lurus dan tangan memegang hanphone melihat-lihat gambar Yanti yang tersenyum manis. Entah kenapa gue bisa suka sama dia, Gus. Tiap sore gue duduk di emperan rumah untuk menulis laporan observasi yang gue cari dari mulut-mulut warga. Diterpa semilir angin bersama bulir-bulir serbuk sari yang terhempas ke udara. Tiap sore itu pula harum tubuh Yanti mengelilingi gue. Rambutnya yang hitam pekat, panjang sepinggang. Badannya yang semampai ditemani kulit kuning lansat. Wajahnya catik dan senyumnya adu bidadari. Benar-benar tepat bila dia disebuat bunga desa.
Tapi saat gue tahu elu adalah calon suami Yanti, dada gue mulai membengkak oleh setan yang menyeruak bersama bilah pisau neraka yang menyusupkan kekecewaan. Semakin gue memikirkan itu, semakin tubuh gue mulai mengambil inisiatif. Sore itu gue ngobrol sampai malam, dia tertawa-tawa riang dengan semua candaan kota yang gue lantunkan. Dia pun menanggapi semua yang gue katakan, seolah dia memang ingin dekat. Tapa menunggu lama saat ia bicara tanpa memandang gue, langsung gue cium pipinya. Yanti terperangah kaget dan menyentuh pipi. Wajahnya merona merah, gue pun merasa seperti ada yang menggelitik di hati. Gue tersenyum menatapnya, tapi Yanti langsung berlari masuk ke dalam rumah. Haha..malam itu  adalah amalm yang lucu.
Aku geram mendengarkannya. Lucu kau bilang, kau meracuni perasaan Yanti yang sudah kupelihara sejak lama. Kau membuatnya bimbang dengan perasaannya. Gemerisik ranting pohon yang bergoyang diterpa angin sore menutupi panasnya dadaku yang mendengar cerita Ardan. Parang yang tergeletak disampingku berulang kali kulihat. Ujungnya mengkilap meski langit senja membisikkan kesabaran.
Suatu malam aku mendatangai rumah Yanti, sungkem kepada kedua orang tuanya yang memang sudah merestui hubungan kami. Kami ngobrol sejenak di ruang tamu sampai akhirnya Yanti menemuiku. Kami pun duduk berdampingan membicarakan banyak renungan dan sesekali menggodanya. Namun dari dalam rumah seseorang keluar dari salah satu kamar menuju ruang tamu dan menyapa kami dengan santainya. Saat melihatnya rasa khawatir langsung menyerbu batinku, membawaku pada pikiran-pikiran buruk.
“Yanti, siapa orang itu?” dia tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Dia mas Ardan. Orang kota yang datang kemari untuk menulis sekripsi.” Tanganku mengepal keras, otot-otot tangan menguat padat. Keberadaannya disini akan mengganggu hubungan kami pastinya. Semua pikiran negateif terbayang dibenakku, hatiku pun turut merasakan pemikiran-pemikiran kacau ini. Namun akal sehatku bergmam, “Sabar, orang itu hanya numpang lewat di rumah ini. Ingat Gusti, wanita ini belum sepenuhnya jadi milikmu. Dia masih punya hak untuk menentukan pilihannya. Bila kamu ingin memilikinya, secepatnya kamu harus membuat keputusan. Lamar dia.”
Rasa sesak di rongga dada seketika menghilang, senyum menilik masa menemaniku untuk semakin optimis dengan Yanti. Hubungan ini sudah lama kami bina, orang tua kami pun sudah saling menyetujui. Hanya tinggal selontar kata yang akan membawa kami dalam pinangan.
Malam semakin larut terbirit waktu. Siutan angin malam menggoda rinai bulu di leher. Di depan pintu rumah, Yanti melepas kepulanganku. Namun saat sampai di pertengahan jalan, kulihat Ardan berdiri di tepi sambil memutar-mutar hanphone_nya. “Kalau nggak salah namamu agus. Jauhi Yanti,” tegasnya langsung berjalan melewatiku. Ini seperti sebuah peringatan dari seorang pendatang yang tak tahu diri.
“Hei, berhenti kamu. Saya ini calon suami Yanti. Seharusnya saya yang bilang seperti itu. lebih baik kamu pergi dari desa ini. lagi pula tidak seharusnya kamu ada di sini,” teriakku. Tapi ia tetap berjalan meninggalkanku. Dadaku penuh geram melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, namun tiba-tiba tubuhnya berjalan gontai dan akhirnya rubuh. Seketika itu aku mendekat. Darah mengalir di hidung, kesadarannya lenyap entah kemana. Tanpa pikir panjang aku langsung menggendongnya kembali ke rumah Yanti.
Auman kerbau  membangkitkan kami dari lamunan. “Hahahaha…dasar kebo,” ujar Ardan. “Agus kau masih ingat malam itu?” kulihat ia mengambil sebendel kertas dari dalam tas dan membukanya. Semilir angin membawaku memerhatikan mulutnya bergumam menceritakan kejadian itu.
Waktu itu sore seperti ini, tapi lolongan corong masjid sudah berkumandang di kedua desa yang saling berbatasan sawah. Aku dan Yanti tengah berjalan pulang membawa kerbau dari sungai. Di jalan berbatu itu kami dihadang empat orang pemuda desa sebelah. Mereka adalah orang-orang yang juga menyukai Yanti, namun tanpa banyak bicara salah seorang mendekat dan langsung memukulku hingga aku terjerembab jatuh dan punggungku terbentur batu jalan. Yanti sontak berteriak. Namun tiba-tiba dari belakang mereka Ardan berlari dan langsung memukuli mereka berempat. Entah bagaimana ia bisa ada di jalan ini, mungkin ia baru selesai mewawancarai penduduk setempat.
“Agus, bawa Yanti pergi dari sini. Serahkan saja mereka padaku,” teriaknya setelah memukul jatuh seorang berkulit coklat gelap. Aku pun bergegas bangkit dan menarik tangan Yanti membawanya berlari bersama kerbau yang begitu malas berjalan.
Malam tiba, purnama bertengger cantik di altar langit. Ditemani jutaan bintang yang meretas ditiap malamnya, mereka berpendar-pendar menyebarkan panji-panji kehidupan. Di ruang tamu, aku bersama keluarga Yanti menunggu kepulangan Ardan. Sudah jam tujuh dan Ardan masih belum terlihat.
            Dari pintu depan sebuah tangan terjulur masuk diikuti tubuh Ardan yang mukanya penuh lebam dan tertutup merah darah. Seketika aku berlari menyongsongnya yang langsung terjatuh sebelum memasuki rumah.
            Larut sudah malam ini, berulang kali Yanti mengkompres kepala Ardan yang lebam. Tubuhnya yang kotor telah dibasuh air hangat. Kulihat matanya perlahan-lahan terbuka, ia pun segera memegang kepalanya dan duduk di atas kasur tidurnya.
            “Agus, Yanti, pak Kepala desa,” ujarnya melihat sekeliling. “Mas, kepala kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya Yanti sambil memeras kain kompres. “Lu nggak perlu khawatir, Yanti. kepalaku memang sepertinya sudah bermasalah sebelum aku sampai di desa ini. mungkin sudah dangkal umurku. Hahaha…,” ujarnya santai.
Aku dan pak kepala desa saling memandang seolah tahu ada sesuatu dikepalanya. Memang seblum ini aku juga melihatnya memegangi kepala. Apa mungkin ia punya penyakit di sana?
Sekali lagi auman kerbau terdengar dan Ardan langsung melihat kearahnya. “Gus, sudah semakin sore. Kebo lu itu mungkin sudah ingin pulang. hahaha…” ia tertawa lebar sambil mengusap-usap rambut belakang kepalanya. “Ah, ngomong apa to kamu, biar saja keboku itu. Aku temani kamu nunggu bis sampai…”
“Ah, ada sms Gus,” ujarnya memotong perkataanku. Kulihat raut wajahnya cemas membaca sms itu. Bahkan ia kesal sampai memukul-mukul tanah. “Ardan…”
“Ah…mungkin ini moment paling berharga yang gue dapatkan di desa ini.” ia menyeka air matanya yang perlahan merembas keluar. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan. “Berharga? Aku pikir kamu itu nggak ngapa-ngapain, Ardan?” tanyaku ragu. “Hus! Sembarangan…selama ini gue nggak pernah ngelakuin banyak hal seperti ini, Gus. Apa lagi berusaha sendiri mencari data demi kelulusan gue. Dan bahkan disini gue mendapat teman dan keluarga baru yang ternyata lebih peduli dari pada keluarga gue yang di Jakarta. Thaks bro…” ujarnya melempar tangan ke pundakku.
“Doakan tahun depan gue masih idup. Hahaha…” ujarnya sepele. Jidatku mengkerut mendengarkan perkataannya. “Ardan, kamu ngomong apa to? Kamu kan masih muda, tentu umurmu msaih panjang. Pasti tahun depan kamu bisa main ke sini lagi,” terangku menguatkannya.
“Entahlah, Gus. Ada sesuatu di kepala gue yang membuat gue risau. Ini seperti bom waktu, Gus. Hahaha…” sekali lagi ia tertawa sepele. Aku tahu ia tengah sedih dengan penyakit yang ia derita.
“Huwaaa…bis gue udah datang, Gus.” Ia berdiri, mengambil tas punggungnya dan ia kenakan. Bis kota di ujung jalan itu masih lumayan jauh.
Kami saling berhadap-hadapan, wajahnya lega dari penantian lama untuk menunggu datangnya bis kota ini. Ia menjulurkan tangan, kami pun saling berjabat bahkan ia langsung memlukku erat. “Thank you Bro…lu udah gue anggep seperti saudara sendiri.” Ia menjabat tanganku erat. Entah apa yang ia katakan, aku tak tahu maksud dari ucapannya. Kedekatan kami hanya sebatas itu, tapi ia sudah menganggapku seperti saudara. Apa dia menemukan jati dirinya di desa ini?
Suara laju bis menderu semakin dekat. Matanya terlihat tajam mengamati bis kota. “Ok, sampai ketemu lagi,” ujarnya sambil berlari, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berlari kembali mendekatiku. Ia meraih tas punggung dan membukanya, mengelurkan sebendel kertas putih. “Ini bro, sekirpsi gue. Baca di rumah,” ujarnya tersenyum lebar. Ia berlari mendekati jalan hendak mengehentikan bis. Saat bis itu berhenti di hadapannya, ia menoleh melihatku, melambaikan tangan dan tersenyum lega sebelum akhirnya masuk ke dalam bis dan pintu pun tertutup membawanya pergi menjauh dari lingkungan desa ini.
Bis kota semakin berpaling dan menghilang di ujung jalan yang menurun. Bendel kertas ini tak begitu tebal. Bukankah ini hasil pekerjaannya selama ini, kenapa ia serahkan ke padaku? Seruan adzan terdengan dari desaku, langit jingga pun telah muram penuh dengan mendung kelam. Angin sawah yang dingin menerpa tubuhku yang berjalan mendekati kerbau di atas ladang rumput.
Sambil berjalan, kubuka lebar pertama dari sekripsi ini. “Bom Waktu.” Tertulis besar di cover awalnya. Kubuka lagi lembar kedua, kulihat darfat isi yang sampi 37 bab. Semuanya memiliki judul dari masing-masing bab ini. Kubuka lagi lembar ketiga, kubaca tulisan kata pengantar. “Untuk desa sepi yang damai oleh masa.” Kepalaku miring ketika membacanya, rasa heran membelenggu pikiranku ingin semakin membuka di tiap lembarnya.
Kubuka lagi beberapa lembar. “Apa seperti ini yang namanya sekripsi? Kenapa seperti cerita?” pikirku setelah membaca beberapa lembar lanjutan. Kubalik lagi untuk melihat lembar kata pengantar.
Kerbau di depanku mengaum ketika aku semakin dekat. Kutepuk-tepuk punggungnya yang penuh lemak dan aku pun lompat ke punggungnya. Sambil berjalan kurasakan tulang-tulang kerbau menusuk-nusuk pantatku, berlenggang kekanan dan kekiri mengikuti irama kaki kerbau.
Semakin kubaca kata pengantar ini semakin kumengerti maksud tulisan Ardan. Maka kusimpulakan untuk mengkopinya dan akan kuserahkan ke perpustakan SD dan kantor kepala desa besok pagi. Ardan ternyata seperti inilah hasil observasimu selama ini_kau mengambil makna yang begitu dalam hingga aku bingung dengan pikiranmu.

Menjadi Bayang?


Menjadi Bayang? 
Terurai 25 April 2012

Rasional membawamu dalam sebuah keputusan klimaks yang akhirnya menguntungkan dan sebuah kenang pengalaman hadir sebagai buah hikmah sebuah keputusan.

Awalnya kau ragu, baiknnya ini kau ambil atau kau tinggal. Sebuah rasa menyeruak membawamu ke dalam mangsa gelap. Tapi coba melawan pertahankan sebuah pikir dari titik anti emosional. 
Awalnya berat, apakah akan kau terima sebagai sebuah tantangan atau akan kau biarkan berlalu sebagai sebuah beban. Ini hadir di setiap jiwa manusia. Menggerogoti teguh tiang penyangga iman. Biarkan mereka berbisik irama sumbang, dengarkan saja sekelumit pucuk kosa kata luarbiasa yang mereka kembang. Cukup kau dengar saja. lalu biarkan itu berlalu dan jangan kau ikuti. Turutilah jati diri milik pribadi. kita hidup berdasar ego dan nurani. 

kau ini sudah dewasa bukan? Jalani dan putuskan semua yang kau anggap benar. Pijakkan kaki kakimu untuk merangkai waktu yang penuh hasil. Tunjukkan kalau kau mempu berdiri sendiri jauh dari bayang-bayang orang lain. Untuk itu kah kau hidup, berdiri dibelakang orang lain, menjadi bayangan yang membawanya menjadi terang.

Ruang hidup ini jauh dan luarbiasa. Kau terlahir ditakdirkan untuk memiliki masa. Masa yang berdiri dari apa yang kau pijakkan. Maka terangilah jalan pijakmu dari dasar rasional dan rasa yang mengundang untung dan manfaat. Tinggalkan semua yang menghambat dan tak bermartabat.

Sabtu, 14 April 2012

Kenang Pahit


“Buah Simalakama”
Oleh: David Sukma
 

Aku ini hijau tentang rasa. Tak pernah begitu memahami semua yang diinginkan wanita. Ini sebuah kisahku, kisah malapetaka. Yang tinggal mengalur dalam angan baka. Sampai pedih yang mengakar di dalam dada. Kini aku kalut terjerembab oleh mimpi-mimpi lama di dalam penjara.
Bukannya aku tak punya malu atau apa. Kemarin itu aku datang ke rumahmu dan kau menghilang entah kemana. Kutanya, yang kau jawab sebuah kepalsuan. Kau bilang begitu cinta hingga aku selalu memikirkanmu. Kali ini aku terjun dalam deras hujan rela kedinginan tuk datang ke rumahmu, menjengukmu yang kau bilang sakit. Tetap, kau juga menghilang. Ada apa ini? Padahal aku begitu berharap denganmu. Orang tua kita saling mensetujui. Kini tinggal kamu yang putuskan akan kemana arah tujuanmu nanti.
Sudah dewasa? Sudah katamu. Tapi kau masih seperti ini. Kau bilang mau serius denganku. Bahkan ikatan di jemari telah terlihat sejak waktu itu. “Anita, ini adalah bukti cinta kita. Yang terukir di tangan melalui bilah emas yang melingkar. Sudikah kau hidup denganku selamanya?” kau menatapku penuh bahagia hingga aku berseri sebuah masa depan yang indah. Kau mengangguk hingga kedua orang tua kita saling mengerti betapa besar cinta kita.
“Sayang, aku juga menginginkanmu. Mari bersama jalani waktu indah tanpa derai munafik kata.” Ujarmu tersenyum manis di hadapanku. Kini kutahu bagaimana pemikiranmu. Kau serius, apalagi aku yang sudah mapan ini. Karena itulah aku semakin yakin dengan hubungan kita berdua.
Umurku memang jauh sepuluh tahun lebih tua darimu. Kurasakan kedewasaanku memenuhi semua inginmu. Semerbak wangi tubuh indahmu yang terkulai di pahaku kalai itu, membuatku semakin cinta padamu. Meski matahari membuat peluh kita mengalir deras, tapi di bawah pohon rindang itu kita bisa membilas luka bersama, saling mengerti dan memahami kata. “Aku ingin kita seperti ini terus.” Pintamu lembut. Aku pun mengiyakan kala itu. Mungkin kau yang masih muda masih butuh kesegaran jiwa. Tanpa pikir panjang aku seolah tahu maksud kata-katamu.
Pernah hingga larut malam aku pulang kerja. Lampu rumah gelap sudah. Kau pun tak menunggu dan menyambutku hangat. Aku berinisiatif melepas pakaian dan langsung tidur berbaring di sapingmu dalam kasur hangat yang telah kita persiapkan. Tapi saat kubuka pintu, anganku mulai membayang. Sebuah jahat menghantam bilik jantung dengan keras. Pikirku pun langsung kencang. Dunia kasur sudah acak-acakan. Seingatku hanya aku dan kamu yang bisa melakukannya.
Aku coba berfikir jernih. Dia istriku yang kusayang, begitu pula sebaliknya. Mungkin dia sedang kesal menungguku tak pulang-pulang. Pikirku pun menenangkanku. Aku tidur di sampingnya tanpa mencoba membangunkannya. Hingga pagi hari tiba, dia menyambutku dengan sebuah wedang yang hangatnya hingga ke pulupuk mata. Kau tersenyum menyambutku, mendekat dan merangkulku dari belakang. “Mas, jangan punya dulu ya. Aku masih ingin begini.” Pintamu sekali lagi terlontar. Kuiyakan pula sesuai inginmu. Karena aku juga tidak mau buru-buru. Meski orang tua sudah minta momongan, karena dia belum mau, maka aku menurut.
Bulan berganti musim. Di ujung musim ini aku utarakan inginnya orang tua. Kau tetap masih menolak untuk punya. Katanya masih ingin begitu. Padahal aku sudah mulai bosan dengan malam penuh irama dan ingin punya pemeriah keluarga. Bujuk rayu telah kukerahkan untukmu. Tapi tetap, kau menolak demi karir nyata milikmu itu.
Minggu ini aku dalam perjalanan luar kota. Selama satu minggu penuh kau kutinggal dirumah. Hati sakit meninggalkanmu sendirian, tapi kewajiban adalah kewajiban. Namun satu yang kutakutkan adalah para tetangga sebelah. Aku tak mau ada gunjingan. “Jaga diri dirumah. Jangan terima tamu malam-malam. Apa lagi bukan orang yang kau kenal. Aku pamit dulu sayang.” Kau tersenyum memberiku doa agar selamat di jalan dan hatiku pun tenang karenanya.
Seminggu berlalu dan ini malam terakhirku di kota asing tetangga. Pernah aku memikirkan di musim kering itu. Pertengkaran kita selama semalam. Kau ingin aku kembali pada jalan imanku. Tapi aku menolak enggan kembali pada yang kupercayai. “Kalu begitu masuklah dalam imanku. Kepercayaanku terbuka sayang.” Pintamu lembut. Tapi aku sudah kalut dengan semua itu. Karena sebuah masa, keluarga awal yang kubina lenyap karenanya. Hingga aku ateis tak beriman. Aku sangat marah kau menyebutku macam-macam. Bahkan kau meramalkan masa depan di nirvana sana. Kutampar kau tanpa iba, demi harga diriku seorang suami yang perkasa.
Malam itu pun telah reda. Kini malam aku penuh risau di dada. Esok pagi waktunya aku kembali ke lingkunganku. Semoga kau baik-baik sayang. Malam semakin larut dan mataku terkatub bersama mimpi indah yang selalu kudambakan. Kulihat keluarga kita bahagia, punya seorang anak pintar yang luarbiasa. Tetangga pun memandang kita dengan hormat. “Betapa lengkapnya jalan hidupku ini.”
Pagi menjelang, aku berangkat di tengah awan dan langit cerah. Dari jendela kulihat rajawali yang kunaiki menyibak awan yang begitu dekat dengan matahari. Putih bersih bergumpal menyilaukan, mataku silau takkuasa melihat sekitar.
Sampai di rumah kau menyambut dengan bangga. “Kubawakan kau oleh-oleh sayang.” Setangkai durian montong kulambaikan padamu.
Kau mencium tangannku dengan sopan, kucim keningmu dengan penuh kasih sayang. Kau membawaku masuk, berbincang membicarakan semuanya. Hingga malam kita di rumah, mengisi waktu yang seminggu hilang. Jam dinding melirik tajam, sekarang pukul sepuluh malam. Sudah penuh rasaku ingin membelaimu. “Kamu lagi capek sayang. Mending istirahat saja. Bisa di lanjut besokkan?” ujarmu menolak permintaan. Aku kecewa menahan rasa. Padahal aku sudah sangat merindukanmu.
Pagi datang menjelang. Lengkingan ayam berkoar kencang. Membangunkan bersama subuh yang bersenandung. Aku terbangun menyuruhmu membuat kopi hangat. Aku duduk di ruang keluarga, di samping telepon yang sedang kugenggam. Kutelephon kedua orang tua kita. Mereka marah dan sudah sangat ingin momongan dari darah daging anaknya ini. Istriku datang, meletakkan kopi di meja. Ia duduk di sampingku bersandar pada pundakku. Kubelai pelan ia sambil sayu-sayu mengantuk.
“Sayang, kita sudah dua tahun menikah. Kenapa kau masih belum ingin punya momongan?” tanyaku perlahan membuatnya terbelalak. Aku tak pernah menanyakan alasan, kali ini ia mungkin sadar, betapa inginnya aku mendapat momongan dari orang yang kusayang. “Aku tak layak sayang.” Jawabmu buram. Aku terhunus belati tajam mendengar kata-katamu. Pikirku menarawang kealam baka. Sebuah jalan buruk mungkinkah telah kau buat, hingga enggan dapat anak dariku.
“Aku ini wanita karir. Tolong mengertilah. Aku begitu cinta dengan pekerjaanku. Dulu telah kurelakan semua hal untuk mencapainya. Kini bila aku harus hamil, aku pasti dikeluarkan sayang.” Elakmu takkaruan. Membuatku bungkam tak bisa melawan. “Tapi dengar. Apa kau tak mau punya anak dariku. Kalau perlu berhentilah. Aku ini sudah mapan. Pekerjaanku pun bisa menghidupi kita dan keluargamu. Kenapa kau masih begitu kolot tak mau menuruti orang tuamu bahkan suamimu ini.” Terangku mencoba menyadarkan.
Kau membentakku. Menyuruhku diam dan tak perlu dibicarakan. Tapi aku terus menerjang, memaksamu untuk mengerti dan mau memahami. Malah kau mendorongku, menjatuhkanku seolah kau jijik denganku. “Kau ini kenapa! Menurutlah denganku. Jadilah ibu rumah tangga, urus anak, suami, dan rumah. Tapi jika kelak kau ingin kembali bekerja. Aku mengizinkanmu. Tapi untuk kali ini, cobalah mengerti dan menurut denganku! Hanya untuk kali ini. Krena aku sudah sangat menginginkan momongan sayang.” Kau hanya diam, melepas tanganku paksa, melempar semua kata.
Kau berlari ke dalam kamar, ambil tas, ambil baju semua. Aku bingung dengan pikiranmu. “Kenapa harus begini? Kau mau kembali ke rumah orang tuamu hanya karena masalah ini?” ini memalukan. Kau tak bisa diatur. Kubiarkan kau meninggalkan rumah. Tak sudi lagi berdebat kata. Biarlah dia pergi ke rumah mertua atau orang tua. Biarlah mereka yang menyadarkanmu, sayang.
Terik mentari sudah sepenggalah jalah. Panasnya mualai terngiang menyilaukan. Perutku lapar, mendekati meja, kosong belaka. Kuputuskan untuk makan di warung samping rumah. Di dalamnya banyak tetangga membeli sayur, beli makan, beli lauk, dan beli gosip di lingkungan orang.
Aku duduk dan memesan makanan. Sebuah piring tersandar di atas meja. Kusantap dengan lahap. Tapi mereka melihatku cepat. Tajam sengit denganku seorang. “Suami yang tidak bisa menjaga istri…” ujar seseorang. Aku tergelitik dalam dada mendengar ucapan itu. “Maksudnya apa?” tanyaku serius tajam. “Dia itu tak tahu diri. Apa kau suaminya tak pernah tahu betapa gilanya istrimu itu. Dia itu warung. Warung setan!” teriaknya. “Tutup mulutmu tetangga! Bicaralah yang sopan.” Tudingku.
“Kalau tidak percaya, tanyakan sama semua orang komplek. Semua tahu. Tiap malam selalu berganti-ganti. Dia itu terlalu liar untukmu!” ujar beberapa orang mengiyakan semua benar.
Dadaku panas. Kepalaku semakin membesar ingin meledak. Meja kayu kugebrak keras-keras. Semua orang terpaku takut melihatku garang. Aku pulang dengan cepat. Pikirku risau takkaruan, “Pergi kemana dia?” hingga malam aku tak bisa tenang. Sanak keluarga kutelephon sudah. “Tidak ada. Memang kenapa?” jawab mereka sama. Pikiranku semakin melayang tak karuan. “Istriku, apa benar kurangajar?” pikirku di bawah detak jam bundar. “Jam 11 malam.” Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi kencang. Tanpa ragu aku kedepan.
Kubuka pintu, kulihat dia menangis deras. Langsung bersujud di kakiku yang telanjang. Karena sayang, kubawa dia masuk ke dalam, kutanyai dengan seksama. “Aku sadar, aku salah sayang. Aku tak menurutimu. Sekarang aku mau punya anak, sayang.” Terangnya tersedu sedan. Aku memeluknya hangat, mungkin dia benar-benar sudah sadar dan mau menuruti pintaku dan kedua orang tua.
Sembilan bulan berlalu, waktunya melahirkan telah tiba. Kubawa dia ke rumah sakit terdekat. Di dalam kamar itu ia berteriak-teriak. Kugenggam tangannya kuat. “Semoga keduanya selamat.” Kini meletus sudah. Bayi yang kuidam-idamkan telah keluar. Para orang tua tersenyum senang panjatkan doa kepada yang-ESA.
Dokter datang mendekat, membawa bayi yang telah bersih dari darah. “Bayi anda terlahir cacat. Satu kaki, satu tangan, satu mata, dan cacat mental. Ini sungguh tak bisa di percaya. Kami ikut berduka.” Ujarnya remang. Turut pilu melihat nasip orang.
Aku tak percaya, tubuhku dingin otakku berhenti bekerja. Kedua mertuaku mendekat menepuk punggungku iba. Kudekati bayi itu, tiba-tiba aku pingsan tak mampu menguatkan raga. Semua yang kuimpikan, semua yang kubayangkan tuk hidup indah. Kini berlalu sudah.
Dalam ketidak sadaran aku menerawang masa. Suara-suara tetangga itu kembali terdengar. Apa yang mereka bilang waktu itu apa benar? Apa ini karma dari yang telah di perbuat istriku? Apa ini akibat dari aku yang melupakan Tuhan? Apa ini hukuman?
Bulan berganti tahun, kini ia sudah berumur tiga tahun. Para tetangga memandang sinis tanpa iba. “Itu akibatnya kalau istrimu bejat!” Tuding mereka. Ini mungkin bukan karena ulah istriku seorang, aku pun turut ikut ambil andil. Aku yang tak pernah lagi mau berdoa, kini dengan paksa harus mengambil hikmah dari limbah yang diratapi orang.
Kala itu hampir petang, bocah itu bermain sendirian. Berjalan di tepi jalan dan tiba-tiba semua hal berada di rumah sakit. Darah segar berkucuran. “Dia kehabisan darah. Kami harap anda dari pihak keluarga bersedia mendonorkan darah, karena darah milik anak anda langka, pasti dari keluarga ada persamaan.” kembali bertemu dengannya. Kami pun telah sepakat. Saat uji laboratorium tiba, tak ada yang positif. Aku tertunduk lemas. Dokter mengambil inisiativ lain.
Hari berganti bulan. Belum kutanyakan perihal semua ini. Aku pergi ke rumah sakit. Tes DNA kujalani tuk buktikan kebenaran remang ini. Hasil keluar dan ternyata memang benar. Aku pun pulang penuh dendam. Panas membara di dalam dada menyeruak hingga ke otak. Mata merah penuh setan mengibliskan diri. Kubuka pintu dengan mendobrak. Ia kaget luarbiasa, melihatku kalap di lahap setan. Dan semuanya hilang…

Rabu, 11 April 2012

Kisahmu Pesonamu

KISAHMU PESONAMU


Menulis, apa sih itu menulis?

               Menulis, apa artinya untuk kalian?
Nothing? Wau.....pemikiran yang klasik.

       Menulis ya, penyair bilang menulis itu sebuah limpahan jerit rintih kata yang terrenung di dalam angan. HASSEK dah...! hahah... bayangkan kalau hidupmu itu adalah sebuah tayangan kecil yang ada di dalam layar media. "Lalu hidup yang seperti itu apa?" bisa di bilang itu sebuah novel, murni dari sebuah jalan takdir yang kau jalani. 
      "Oh ya...? Wauuu..." 
      Asem, jangan sombong ente!!! Mau denger celoteh konyol kagaaaak??? 
      "Hoooo...Thenthu thenthu...." ujarnya mucu-mucu....
      Coba kita pikir bersama, apa hidup kita ini bisa dikatakan sebagai sebuah kisah bermutu? 
      "Emmmmm.....kayaknya enggak deh."
      "Oooooo thenthu....Thenthu enggak!!" bentakku membesarkan. "Apa lagi hidupmu kauwand."
      Mampukah sebuah perjalanan hidupmu itu dikisahkan? No no no...hidupmu belum seberarti sebuah kisah yang telah terbukukan. Maka buatlah hidup kita lebih berarti. jangan sia-siakan semua kesempatan, jangan sepelekan sebuah angan, jangan kau remehkan semua yang terlintas. Satu yang perlu kau ingat, hidupmu takkan berarti bila kau terus menjalani hal yang seperti ini. 
      Tingkatkanlah, aku yakin kau mampu. semakin tinggi taraf hidup yang meliputi pikiran, cara pandang, kegigihan, tujuan-tujuan, motifasi, keringat yang terkucur, bualan-bualan itu... semua bisa kau manfaatkan. semua bisa lebih menjadi yang terbaik.
       Saya pernah dengar sebuah wejangan, seseorang yang seperti kita, bila ingin di hargai, maka menulislah. Dengan begitu derajatmu akan semakin tinggi di hadapan manusia. Yah, sebatas manusia. Kecuali kau punya iman yang begitu kuat hingga kau layak untuk di hargai di depan Tuhan-mu.
      Semua angan yang terlintas, baiknya jangan kau remehkan. Limpahkan dalam secarik sajadah hidup yang akan membawamu dalam dunia tanpa batas. Curahkan setiap rintih kata yang terukir di jidatmu. Nikmatilah alunan jedat-jedut irama yang terhentak dari nadi-nadimu. Semua akan menjelma menjadi kisah malapetaka yang akan menggemparkan keluarga dan semua orang yang kau kenal. 

Kisahmu, adalah pesonamu kauwand.

dari sebuah pengakuan 
"Ini seputar  ujar bukan maksud mengguriu. 
Karena saya sendiri masih mencoba selalu belajar."

Senin, 09 April 2012

Sedikit bocoran tentang Para Titisan

Sedikit bocoran dari Para Titisan, Novel garapanku yang masih dalam proses




Pasang Surut (Bab 23)

Di keheningan pagi di satu kamar itu masih tak terganggu. Masih tenang tanpa rayuan. Ruang di sampingnya dan di bawah telah ramai dan penuh udik orang-orang yang telah bersiap. Bulatan luar biasa di sudut angkasa yang berbinar begitu terang dan menyilaukan tiap kelopak mata yang penasaran, telah bergema, sinarnya bergema ke berbagai sudut ruang di daratan bumi. Menelisip ke berbagai pelosok sudut. Menembus berbagai benda. Membawa kehidupan baru di tiap pertemuannya.
Di samping rumah, kolam ikan bergenang air bergolak pelan dan kadang tersibak oleh polah ikan yang bergelimpangan penuh elok di dalamnya. Besutan sinar mentari menerjang masuk. Membilah pori-pori air yang rata lembut tanpa gelombang.  Tersirat masuk menerangi dalam kolam. Seberkah cahaya terang memberi pewarna alami yang kaya manfaat.
Ada gadis di tepian kolam ini. Senyum mudanya memberi harapan pada kehidupan di dalam kolam. Ikan-ikan koi menengadah padanya. Berkecamuk berebut cuilan roti yang dilemparkan olehnya.  Ia tersenyum melihat mereka. Ia jongkok menghadap kolam dengan seragan SMP. Roti tawar di tangan kanannya ia gigit, mulutnya berdebam-debam. Sesekali ia kembali melempari sebagian dari roti itu ke kolam. Tanpa ragu ikan-ikan yang lapar itu langsung menyambarnya. Berebut secuil roti yang mengapung di air. Elok warna merah dan putihnya yang berbaur menjadi satu. Kini terpoles oleh sinar mentari pagi yang menyambutnya. Mereka terlihat mengkilap indah penuh gaya.
Gadis itu berdiri. Mencuili-cuil roti itu dan melemparkannya ke dalam kolam. Roti yang tinggal separuh itu ia gigit sekali dan langsung ia lemparkan ke kolam. Mereka pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Langsung berebut, bergerombol, dan saling senggol. Sibak air pun tak terhentikan.
Gadis itu berlari lentik meninggalkan kolam. Rambutnya terurai panjang di bawah sinar mentari pagi. Senyumnya terurai murni tanpa luka di hati. Di bawah altar langit ini, terik mentari menghangatkannya sejenak. Rambutnya yang hitam lebat terkilap oleh sang surya. Melihat wajah polosnya yang manis, rona pagi pun tersenyum padanya.
Ia masuk ke dalam rumah, berlari-lari seperti anak kecil. Lakunya lentik memanjakan tubunya seperti bidadari muda yang berseri-seri melihat pelangi sore di atas danau. Ia berlari ke meja makan, melihat ayahnya yang berdiri usai makan hendak mengambil sepatu. Kepalanya mengarah pada ibunya yang berada di pintu dapur membawa segelas susu. Mereka saling tatap. Ibunya tersenyum melihat anak gadisnya pagi ini bersemangat untuk beraktivitas.
                “Mah, Kak Bumi masih belum bangun…?”
Ibunya mengangguk berjalan mendekatinya, melewatinya, dan Gadis ini bermain-main dengan pundak ibunya. Berjalan bersama dengan canda dan goda. Ia beranjak berlari mendekati tangga dan menaikinya. Kakinya yang di balut kaus kaki membuat langkahnya tak beririama. Lembut bagai kulit bidadari desa. Ia menuju kamar dengan pintu yang bergelantungan seekor tarzan. Langsung membukanya, masuk dan berhenti. Melihat Kakaknya yang masih tenang di atas kasur, ia menggigit bibir. Melipat tangan ke dada memikirkan sesuatu. Dirasainya suasana kamar masih kelam. Dingin masih bernaung di sini. Ia pun bergegas menuju jendela. Dengan cepat membuka gordin dan jendelanya. Pintu balkon pun turut ia buka. Semerbak harum aroma kesejukan pagi langsung ia rasakan. Ia berjalan ke pagaran balkon. Tangannya menengadah ke samping. Wajahnya melihat angkasa. Rambut panjangnya terjatuh lurus dan bergoyang tertiup angin. Menghirup udara pagi yang masih begitu segar, membawa senyumnya dalam uraiaan rasa yang turut tersenyum di dalamnya. Sorot mentari memendarkan baju OSISnya.
Berlari mendekati kasur, duduk di sana memandang kakaknya. Ia terkejut, suasana hatinya langsung berubah. Di sentuhnya warna merah di dekat bibir kakanya. Sudah kering dan kasar. Ia pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya.
                “Kakak…kak bangun kak…kamu nggak apa-apakan…? Kakak.” Teriaknya khawatir menggoyangkan tubuh kakaknya agar bangun.
Mata kakaknya pun terbuka. Masih sayup-sayup bersama guncangan kuat dari adiknya. Ia bangkit dan duduk. “Bungaaaa….ada apa si pagi-pagi teriak-teriak…” Ujarnya pelan malas ditemani ia menguap dari mulutnya lebar.
                “Kakak!! Bajumu banyak darahnya. Kotor, wajahmu juga kak…kakak kok bisa sih.” Teriaknya heran dan penasaran dengan meraba-raba pakaian kakaknya.
Bumi melihat pakaiannya. Ia tersentak sadar. Pikirannya langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Ia memegang dadanya, memegang wajahnya, ia memegang semua bagian tubuhnya yang terasa penuh luka. Namun semua yang dirasanya terluka sepertinya telah menghilang. Dan sekarang ia bingung kenapa ada di dalam kamar. Ia pun langsung terfikir tentang Nanda.
                “Kakak jawab dong…bajumu ini kena darah kan?” Tanya Bunga memaksa.
Bumi menyentuh kancing bajunya, membukanya dengan cepat. Bunga hanya terdiam penasaran melihat kakaknya. Bumi beranjak dari kasur, ia jongkok di samping kasur dan melemparkannya ke bawah ranjang. Ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Bunga mengikutinya. Ia membasuh mukanya dengan air berkali-kali. Menggosoknya hingga noda kotor di muka menghilang. Ia juga membasuk ke dua tangannya. Usai itu ia langsung mendekati cermin. Melihat tubuhnya. Ia memegang dadanya yang semalam terasa sangat sakit. Menyentuh wajahnya yang seharusnya bengkak dan memar. Tapi sekarang semuanya terlihat normal.
Bunga di belakangnya masih melihatnya heran. “Kakak, jawab Bunga dong, Kak?” Pintanya merengek penasaran.
Bumi berbalik mendengar ucapan adiknya. Mendekatinya, kedua tangannya menyentuh pundak Bunga. “Bunga, itu semua kena cat air. Semalem Kakak mainan cat air. Jadi jangan bilang Mamah ya. Baju Kakak sampai kotor kayak gitu nanti Kakak kena marah.” Terangnya langsung mencium pipi adiknya.
                “Eh.” Sahutnya sambil memegang pipi yang baru di kecup Kakaknya. Ia terpaku melihat punggung kakaknya berlari keluar kamar dengan sebuah kemeja yang ia ambil. Bunga berjalan keluar dari kamar. Melihat Kakaknya berlari tergesa-gesa.     
Bumi berlari cepat melewati ayahnya yang sedang duduk meminum susu pemberian ibunya. Mereka duduk di teras depan.
                “Eh, Bumi….” Tukas ibunya.
Ayahnya yang baru meneguk susu pun langsung menelannya cepat. “Hei, Bumi mau kemana?” Teriak Ayahnya keras.
Bumi tak menjawab,  masih terus berlari melewati halaman rumah. Sampai di pintu gerbang, ia membukanya cepat. Tanpa menutupnya dan terus berlari kencang menuju rumah Nanda. Beberapa meter berlalu, di tengah jalan ia menginjak batu. Karena kesakitan, saat berlari ia langsung terlompat-lompat cepat dengan satu kaki dan kaki satunya ia angkat, ia lihat dan ia sentuh-sentuh. Namun secepat itu pula karena ia melihat kakinya yang terasa sakit, ia tak melihat batu bundar yang lumayan besar di depannya. Ia yang terlompat-lompat cepat tanpa sengaja menginjaknya dan terpeleset jatuh. 
Tanpa keluh ia mencoba berdiri, bangkit, dan kembali berlari sambil memegangi pinggul dan tangannya yang sakit karena jatuh. Terus berlari hingga akhirnya tiba di depan pagar rumah Nanda. Ia berlari masuk, dilihatnya Kakek Nanda tengah duduk di depan membaca Koran sambil minum secangkir kopi. Sampai di depan Kakek itu, “Kakek! Nanda…Nanda ada di rumahkan?” Bentaknya bertanya khawatir berdiri dengan kaki yang masih berlari-lari.
                “Ada di dalam…” Jawabnya heran melihat Bumi yang terburu-buru.
Langsung bumi berlari mendekati pintu masuk dan masuk dengan cepat namun ia langsung terjatuh karena lantainya yang licin sehabis dipell oleh Bibik.
                “Adoooooooh…pinggangku…” Ujarnya menggeliat kesakitan di lantai.
Nanda di dalam kamar telah mengenakan tas punggungnya. Mendengar suara Bumi ia langsung keluar dari kamar. Bumi mencoba bangkit meski pinggangnya terasa sakit. Pelan-pelan ia berjalan di atas lantai licin itu.
                “Nanda…” Ujarnya sambil berjalan cepat mendekatinya dan langsung memeluknya. Nanda terkejut dalam pelukan. Kakek Nanda di luar mencoba bangkit karena tadi dia mendengar suara Bumi yang jatuh.
                “Nanda, kamu…kamu nggak apa-apakan. Kamu nggak di apa-apainkan?” Tanyanya khawatir menelisik.
                “Aku nggak apa-apa. Harusnya aku yang bertanya seperti itu.” Ujarnya tersenyum.
“Syukurlah. Aku sangat khawatir.” Ujarnya langsung memeluk Nanda kembali. Dalam pelukan itu Nanda pun ikut memeluknya. Ia tersenyum bahagia karena ternyata Bumi benar-benar peduli padanya.
Di depan pintu, Kakek Nanda melihatnya. Ia langsung berjalan mendekat sambil menggulung Koran di tangannya. “Dasar Bocah gemblung.” Teriaknya sambil memukul kepala Bumi dengan Koran.
                “Aduh!! Kakek. Sakit Kek” Teriak Bumi.
                “Kapok!”
                “What?” Bumi bingung.
Kembali kakek memukul kepala Bumi sekali lagi. “Bocah edan. Pulang sana. Pagi-pagi main peluk cucu orang. Nggak sopan!” Teriak Kakek.
                “Hehehehe…maaf Kek.” Ujarnya malu mengusap-usap kepala bagian belakang.
                “Kangen ya kangen….! Tapi kamu mandi dulu…sudah hampir jam 7. Lihat tuh lantai rumah Kakek jadi kotor bekas cap kaki kamu!!” Ujarnya sambil mengarahkan jarinya ke lantai.
                “Heheheh..iya iya maaf Kek.”
                “Sana pulang, pulang, pulang dulu.” Sambil memukul-mukulkan Koran ke Bumi. Bumi menahannya dengan kedua tangan.
                “Aduh…aduh…iya Kek, iya aku pulang!!” Bumi pun berlari keluar dari rumah.
                “Dasar, mentang-mentang sudah dapet izin dari Kakek.” Gerutu Kakek.
                “Apa Kek?” Tanya Nanda di belakangnya.
                “Huh…?” ujarnya kaget.
Tiba-tiba kepala Bumi muncul lagi dari pintu.
                “Apa lagi sekarang?” Teriak Kakek.
                “Heheheh…Nanda jangan berangkat dulu, nanti biar aku jemput.” Teriak Bumi langsung kabur berlari meninggalkan rumah itu
****
Bumi berjalan cepat mendekati teras rumahnya. Melangkahkan kaki dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, ibunya melihatnya berjalan melewatinya yang sedang menonoton televise. “Bumi, dari mana kamu?” Tanyanya meletakkan remot TV dan duduk menyilangkan kaki layaknya seorang wanita.
                “Bumi dari rumah Nanda, Mah.” melanjutkan jalan.
                “Nanda, siapa?” Tanyanya heran memiringkan kepala, jidatnya mengkerut.
                “Temen, Mah…besok kapan-kapan kuajak ke sini. Rumahnya deket sini kok…” Ujarnya sambil melangkah menaiki beberapa anak tangga.
                “Oh Nanda cucunya kakek Supomo itu?” Ujarnya terkejut mengenalnya.
                “Wah…Mamah tahu, Mah?” Tanya Bumi penasaran dan berbalik turun dari tangga ingin mendekati ibunya.
                “Udah sana mandi. Udah hampir jam tujuh. Ceritanya besok aja.”
                “Hahaha…Ok Mah…” tertawa kecil langsung berlari menaiki tangga.
Ibunya yang masih duduk melihat punggung Bumi berlari menjauh. Kini kembali membenarkan duduknya. Menghadap televise, memegang janggutnya, memikirkan sesuatu. Pikirannya terbawa pada ingatannya dulu. Sempat ia mengingat tentang tragedy kecelakaan di bangjo itu. Kecelakaan yang merengut banyak korban. Brutal dan mengenaskan. Dia kini teringat oleh sebuah nama, “Itu Nanda anak Bu Aisyah. Si gadis kecil manis yang bermata bundar berkulit putih bersih seperti orang keturunan Cina. Ternyata gadis itu.” Pikirnya. Kecelakan itu menewaskan semua anggota keluarganya. Beruntung hanya gadis kecil itulah yang selamat dan kini di rawat oleh Kakeknya. Saat pemakaman, semua warga sini menghadirinya, termasuk warga perumahan ini karena sebagian ada warga dari sini juga yang ikut terlindas truk itu.