Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Minggu, 01 April 2012

Resensi Novel Sang Pemimpi


IDENTITAS BUKU
Judul Buku: Sang Pemimpi
Penulis: Andrea Herata
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2006
Cover: Pria di Atas Jembatan
Tebal: 292 hlm

            Kali ini aku bersama ketiga sahabatku benar-benar dalam keadaan genting, bersembunyi di dalam gudang milik Nyonya Pho seorang saudagar kaya, sedangkan di luar gudang ada Pak Mustar yang dengan jengkel dan marah mengejar-ngejar kami karena kenakalan kami di sekolah tadi. Tiba-tiba terdengar suara Nyonya Pho menyuruh anak buahnya untuk mengangkat peti-peti berisi ikan yang harus dikirim ke pasar. Kami bertiga ketakutan tpi aria punya siasatr busuk   “Ikal, Jimbrong…ayo kita sembunyi di dalam peti-peti ikan ini, dari pada kita dituduh pencuri oleh Nyonya Pho, lebih baik kita bau busuk ikan bukannn.!”
            Sisat Arai ini disetujui Jimbrong, aku pun mengangguk saja karena ini benar-benar genting. Secepat itu pula kami telah berada di pasar, namun kami masih di dalam peti ini. “kreek-kreeek” anak buah Nyonya Pho membuka peti ini. Mereka kaget luar biasa melihat kami bertiga berada dalam peti busuk bau ikan ini. Kami pun malu karena banyak sekali orang yang yang melihat kami, kami bertiga langsung berlari kencang meninggalkan tempat itu dan langsung kembali ke kamar kos kami.
            Esok harinya setelah pulang sekolah SMA kami bertiga memutuskan untuk menonton film bioskop yang posternya begitu nesar dengan gambar wanita seksi terpampang di samping kamar kos kami. Kami dengan sejurus akal busuk Arai telah berhasil memperdaya A Kiun gadis Hokian penjual tiket masuk dan berhasil pula menghasut Pak Cik Basman. Dengan kerudung dan pakaian wanita, kami bertiga berhasil masuk kedalam bioskop.
            Sebenarnya anak sekolah tidak diprbolehkan menonton film bioskop, namun karena kami bertiga telah menggebu-gebu dan bersepakat untuk menonton, kami pun menontonya. Sebentar lagi film ini selesai, namun kami telah benar-benar menikmati ketegangan menonton gadis seksi ini, tiba-tiba film dihentikan, kami gaget dan berfikir bahwa kami ketahuan. Ternyata benar kalau kami ketahuan, Pak Mustar selaku guru besar yang benar-benar di hormati keberadaanya oleh  seluruh warga desa maupun warga sekolah, kami langsung dipermalukan di dalam gedung boskop oleh Pak Mustar, dan ia pun berjanji akan member hukuman setimpal di sekolahan.
            Hari ini hari senin, saat upacara selesai, Pak Mustar member pengumuman bahwa kami telah menonton film bioskop. Kami di permalukan habis-habisan didepan seluruh murit SMA. Bukan hanya itu, kami pun disuruh memerankan tokoh-tokoh yang yang berada dalam film itu sebelum pulang sekolah nanti.
            Para guru dan siwa-siswi menyaksikan pertunjukan  drama kami bertiga dengan tawa yangluarbiasa karena menyaksikan kehebihan kami di panggung. Ini benar-benar hukuman yang sangat memalukan bagi kami, namun bukan hanya ini hukuman kami, pulang sekolah besok, kami harus membersihkan kamar mandi seluruh sekolah. Kami pun telah mengerjakannya dengan berat hati dan emosi tinggi sambil mengerutu menyelesaikan tugas menyebalkan ini.
            Banyak hal luarbiasa telah kami lalui bersama di saat SMA, seperti saat Jimbrong berhasil membuat Laksmi tersenyum lebar karena melihat Jimbrong dengan gagah menaiki kuda yang diberi nama Pangeran Raja Brana. Bukan hanya itu, Arai juga telah berhasil membuat rayuannya memikat hati Nurmala, gadis cantik yang ditaksir Arai habis-habisan, dengan lantunan lagu yang dipelajarinya dari Bang Zaitun. Aku pun telah berhasil membuat Ayah bangga kepadaku, walaupun nilai raporku jeblok gara-gara aku telah pesimis tentang mimpi-mimpi kami. Namun aku berhasil meyakinkan Ayahku bahwa aku akn berubah, dan kembali optimis akan mimpi-mimpi kami.
            Kini aku telah lulus kuliah di universitas IPB Bandung, dengan bekerja sebagai penyortir surat di kantor Pos Bandung, aku berhasil membiayai kuliah hingga selesai. Sedangkan Jimbrong, ia kini bekerja sebagai tangan kanan terpercaya Nyonya Pho untuk merawat ke delapan kudanya. Sedangkan keberadaan Arai sendiri tidak aku ketahui.
            Pagi ini aku sedang mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa lanjutan di Eropa. Saat ini aku benar-benar sedang berhadapan langsung dengan profesor pengujiku. Profesor itu tampak kaget melihat proposal risetku, secepat itu pula ia menanyaiku berbagai hal berkaitan dengan proposalku. Ia tampak bersemangat sekali, bagaimana tidak, katanya proposalku merupakan model baru dalam ilmu ekonomi mikro.
            Setelah selesai aku lalu keluar dan kudengar diruangan samping ini suara yang sepertinya telah ku kenal lama. Ternyata benar, itu suara Arai, ia juga mengikuti tes sama sepertiku. Kami lalusaling berpelukan melepas rasa rindu. Ternyata Arai selama ini kuliah di Universitas Mulawarman, jurusan Biologi, lulus cum laude.
            Untuk menunggu waktu penguman tiba kami pulang ke Balitong, sesampainya disana kami bertemu Jimbron yang sekarang telah beristri Laksmi dan memiliki lima anak. Kami benar-benar senang bertemu saudara lama yang kini berkumpul kembali dengan impian yang masing-masing telah terpenuhi.
            Satu bulan di kampung halaman terasa begitu cepat, sore ini kami mendapat kiriman surat pos dari Bandung. Pastinya itu adalah surat pengumuman tes yang kami ikuti. Aku membuka surat keputusan itu bersama ibuku, ternyata aku diterima kuliah di Universite’ de Paris, Sorebone, Prancis. Ayah dan ibuku menangis bangga melihat surat keputusan itu, tapi di kamar sebelah aku mendengar isak tangis Arai setelah membaca surat keputusan itu. Aku dekati dia dan kuminta surat itu, ternya ia menangis karena ia lulus tes dan diterima di Universitas yang sama denganku. Aku lalu memeluk Arai, yang terisak tangis, mungkin dia menangis karena berusaha menunjukkan keberhasilannya kepada kedua oramg tuanya yang telah lama meninggal sewaktu ia kecil.

KOMENTAR
            Novel ini menceritakan suatu realitas yang sangat menarik untuk terus dibaca, memberi suatu inspirasi tersendiri bagi kita. Novel ini merupakan suatu contoh akan hiburan yang mendidik. Bahasa yang apik di selimuti peristiwa dan alur yang menarik, konflik yang memikat dengan pemaparan bahasa yang menghibur merupakan salah satu aspek tersendiri dalam novel apik ini. Banyak hal dalam novel ini dapat kita ambil unsur positifnya dan  banyak pula amanat-amanat tersirat. Saya benar-benar menyukai novel ini, sebelumnya saya tidak pernah membaca novel, satupun itu saya belum pernah. Namun saya akui novel ini benar-benar bagus, membuat saya bersemangat membaca, dan tidak menjadikan bosan sehing membaca dipilah-pilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar