IDENTITAS BUKU
Judul Buku: Negeri 5 Menara
Pengarang: a. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juli 2009
Tebal: 416
Cover: Lima Menara
Selulus Madrasah setingkat SMP, aku ingin sekali melanjutkan ke SMA Negri, namun ibuku bersikeras agar aku kembali melanjutkan sekolah di pondok. Konflik antara aku dan ibuku pun berlangsung, untuk memenuhi keinginan ibuku it, aku putuska bersedia melanjutkan sekolah di pondok, tapi aku meminta pondok yang berada di Jawa, uakni Pondok Madani sesuai anjuran Pak Etek Gindo pamanku sendiri. Lalu keesokan harinya aku lekas-lekas di antar ayahku menuju ke pulau Jawa agar tidak tertingal pendaftaran masuk.
Dengan menaiki bis PO ANS Full AC kami menuju Pulau Jawa. Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, akhirnya kami sampi di Pondok Madani. Setelah mengikuti ujian masuk dan melihat bahwa di papan pengumuman aku berhasil diterima. Ayahku pun memutuskan untuk pulang kembali ke Minangkabau.
Di hari pertamaku ini aku berteman dengan Raja dari Medan, ia adalah sosok teman yang selalu bersemangat dan tidak pernah memiliki pandangan negative. Said dari Surabaya, ia adalah keturunan campuran Arab Indonesia. Dulmajid dari sumenep yang bertubuh tinggi tetapi tidak setinggi dan sebesar Said. Atang dari Bandung, ia bertubuh gendut dan buterlihat bulat. Lalu Baso dari Goa, ia adalah pribadi yang rajinn membaca dan penggemar buku.
Mereka semua menjadi teman sekamarku. Seringkali kali kami berdiskusi dan mengerjakan tugas di menara, hingga kami diberi julukan Sahibul Menara. Hari ini kami harus sudah mengirimkan tugas Jayus kami, yakni mencatat kesalahan orang lain guna menjaga ketertiban PM. Tugas ini kami dapat karena hari pertama di PM kami sudah tertinggal jadwal berkumpul di lapangan PM.
Akhirnya setelah mengikuti berbagai kegiatan dan pengajaran di PM, tibalah waktu ujian semester satu. Aku merasa belum siap walaupun semua matapelajaran telah aku pelajari, hal ini sangat bebeda dengan Baso, ia sama sekali tidak merasa tegang sedikitpun, mungkin karena dia seorang kutu buku, jadi semua pelajaran telah ia hafal diluar kepala. Raja yang paling berani dan bijaksana di antara para sahibul menara, samasekali tidak merasakan tegang.
Ujian pertama ini selama satu minggu adalah ujian lisan. Dan aku berhasil melaluinya dengan rasa tenang. Begitu pula teman-teman sahibul menara, mereka sepertinya juga telah berhasil mengerjakan dengan penuh percayadiri. Namun itu belum selesai, karena masih ada satuminggu lagi ujian tulis.
Siang ini kami, seluruh siswa PM benar-benar merasa lega. Selesailah kerjakeras kami dalam menghadapi ujian semester satu. Kini waktunya kami mendapatkan liburan selama dua minggu. Inilah saat-saat yang ditunggu-tunggu seluruh siswa, untuk bisa bersantai setelah menjalani berbagai aktifitas yang begitu padat di PM.
Semua siswa banyak yang pulang kepung mereka masing-masing, kecuali siswa yang rumahnya jauh, mereka memutuskan untuk tetap di PM. Tapi aku yang kampungnya begitu jauh tetap meninggalkan PM untuk menikmati liburan ini, namun aku tidak pulang ke kamppung, melainkan pulang ke Surabaya di rumah Said. Ku lihat begitu luarbiasa besarnya rumah Said, di rumahnya aku bertemu semua keluarganya yang keturunan Arab.
Setelah liburan selesai, kami pun kembali ke PM. Semuanya begitu asik menceritakan pengalaman mereka saat kembali ke kampung. Malam hari tiba-tiba Kurdi bercerita tentang sesuatu yang indah yang ia lihat di lingkungan PM, Kurdi adalah salah satu teman satu kamar kami, ia memang tidak pulang selama masa liburan kemarin. “Hei Alif, tahukah kau anaknya Ustad Khalid, guru yang paling tegas dan paling disegani.!” Raja langsung secepat kilat menjawab ocehan Khalid yang ditujukan pada ku “Ya Sarah, asal kau tahu Lif, sedikit saja kau melihat wajahnya, kau akan selalu memimpikannya dalam tidur, Sarah itu sangat cantik.” Aku menjawab pertanyaan itu “Ya, aku pernah melihatnya, tapi aku baru tahu namanya dari kalian ini, dia memang sangat cantik. Andai saja aku bisa berkenalan langsung dengannya.” Sepontan Raja menjawab dengan mengejekku “Hah, yang benar saja Lif, kalau berhasil bersalaman dengan Sarah kau akan ku traktir makan makrunah sebulan penuh.” Langsung aku jawab dengan semangat, walaupun aku tahu ini benar-benar sulit “Baik, siap-siap kau kaget mendapati ketangguhanku, hehe…?” “tapi aku tidak akan percaya begitu saja dengan mu Lif, harus ada gambar kamu bersalaman dengan Sarah ya..!”
Esok harinya aku telah rencanakan suatui siasat, yakni sebuah wawancara eksklusif dengan Ustad Khalid. Perjanjian wawancara pun telah ku buat dengan Ustad Khalid. Pagi ini setelah subuh aku mandi dan persiapkan segalanya.
Aku diterima di beranda rumahnya yang asri, aku langsung menanyakan berbagai hal tentang beberapa hal penting yang menarik dari Usta Khalid. Usai wawancara aku lalu meminta foto bersama keluarga sebagai background. Inilah saat-saat yang paling ku tunggu-tunggu, karena aku akan langsung bertemu dengan Sarah. Ustad Khalid dan kelurganya pun telah berhasil aku foto, termasuk yang paling penting adalah Sarah.
Setelah edisi majalah ini tercetak aku langsung datang ke rumah Ustad, kutunjukkan majalah itu. Betapa senagnya Ustad melihat hasil wawancaraku, keluarganya pun antusias untuk melihatnya. Begitupun aku juga berantusias bertemu Sarah. Setelah itu aku di ajak saran oleh Ustad Khalid bersama keluarganya. Ussai sarapan aku meminta foto bersama keluarga Ustad, alasannya sih sebagai kenang-kenangan.
Foto itu kutunjukkan kepada Raja, ia kaget ternyata aku mampu berkenalan dengan Sarah yang benar-benar sulit untuk bisa ditemui. Langsung saja ku minta jatah traktiran satu bulan makan makrunah.
Semenjak keberhasilanku itu, teman-teman selalu membicarakan tentang kehebatanku. Hingga kini aku dan teman-teman telah menjadi siswa paling senior di PM. Setelah ujian kelulusan ini, kami ditantang para guru untuk bertanding dalam hal olahraga.
Pertandinganm itu pun telah usai dan kami amat merasa senang dengan pertandingan yang menyenangkan itu. Kini saatnya perpisahan, kami berjabat tengan dengan seluruh penghuni PM. Alangkah banyaknya hingga kami merasakan pegal di tangan kami karena harus berjabat tangan dengan lima ribu siswa PM.
Kini kami telah berhasil meraih cita-cita kami masing-masing tanpa menghilangkan rasa persaudaraan kami di antara ke lima Sahibil Menara. Saat ini aku Raja dan Atang telah berhasil meraih mimpi-mimpi kami dan kini kami bertemu di London, tepatnya di Tlafagar Scuare, sebuah lapangan beton yang amat luas dengan air mancur yang menengadah ke atas sambil menatap patung pahlawan perang Inggris Admiral Horatio Nelson yang begitu besar dan gagah.
KOMENTAR
Sebuah karya sastra yang benar-benar menyuguhkan kehidupan para tokoh yang begitu apik dengan kemasan dalam kehidupan pondok yang begitu padat aktifitas.
Dengan moto mereka “Manjadda Wajada” itulah yang selalu member mereka semangat untuk terus berjuang mencapai cita-cita mereka. Bahasa yang amat bagus dengan alur penceritaan yang rapi dan bahasa cakap yang lucu dan lues ini menjadikan novel ini asik untuk terus di baca.
Dengan membaca novel ini kita menjadi terinspirasi untuk selalu berbuat lebih keras dari biasanya, agar kita selalu mendapat hasil yang memuaskan. Impian adalah bagian dari hidupmu, maka teruslah bermimpi agar hidup ini menjadi lebih berarti. Seperti para tokoh dalam novel luarbiasa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar