"Berambang
15 ribu per kilonya, Bu. Mau beli berapa kilo?" ujarnya sembari menyeka
keringat yang berbulir di sudut kening dengan jarit cokelat yang lusuh.
Kulitnya
coklat hampir gelap terbakar terik.
Berjual di
emper toko-toko lingkung pasar.
Menari
pengunjung untuk membeli bulir merah pedas.
Tak peduli
tubuh berselimut debu.
Tak peduli
bermandikan keringat dan terpayungi terik.
Demi anak
dan keluarga, ia mengais setitik rezeki halal.
Meski hati
teriris penawar tega karena harganya mencekik tulang rawan
Ia tetap
tabah
Ia tetap
tegar
Menebar
senyum semerbak mawar demi membetahkan pembeli
Sesekali ia
tertawa oleh bualan ngawur mereka
Ia tetap ramah
dengan hati seluas lapang
Dalam diam
ia menangisi derajat hidup di mata orang.