windithamrin: Dhikr Clothes,.. juaranya kaos keluarga muslim: Assalamualaikum wr.wb. kini hadir kaos keluarga muslim "Dhikr Clothes" dengan desain lucu dan unik loh,.. kaos dengan model ...
KOK ndak ada harganya??
Menggapai Cemara dengan senang hati berbagi ilmu bersama. Meski ini Blog pribadi, tapi kan kami sambut kedatangan anda sebagai tamu berilmu... Hafe Fun Fella's..
Minggu, 13 Juli 2014
Kamis, 10 Juli 2014
Pijakan Jatidiri
Altar langit
merekah jingga bertabur gumpalan awan kelam yang teriris kilat berjalan
mendekat. Diujung sana sang mentari tengah barjingkrak hendak menutup harian.
Siutan angin gemerisik membelai ujung-ujung hijau padi. Bulir-bulir
kesejahteraan merunduk diujungnya yang sebulan lagi siap panen. Auman kerbau di
sungai membawanya bangkit dari alam air dan mendekati rerumputan untuk
memuaskan kehendak perut yang keroncongan.
Hamparan
padi di tepi sungai menemaniku memandikan kerbau. Desa ini masih tentram dan
damai oleh suasana alam yang terbuai masa jauh dari jangkauan orang-orang
rakus. Ditepi jalan ada sebongkah pohon besar yang disekitarnya berserakan
tanaman padi yang tumbuh subur. Kulihat seseorang di bawah pohon itu melambaikan
tangan padaku. Wajah itu, kulit putih itu, apa itu Ardan si bocah kota? Aku pun
berjalan mendekat. Aku tahu bahwa desa ini memberinya kenangan buruk.
“Agus…,”
ujarnya saat aku semakin dekat. “Duduk, temani gue,” pintanya lesu. Aku pun
duduk disampingnya turut bersandar pada pohon rindang ini. Ransel yang
tersandar di pohon penuh sesak oleh semua perlengkapan pribadi. “Jadi kamu
sudah mau kembali ke Jakarta to, Ardan?” tanyaku ragu. Ardan mengangguk,
memegangi kepala yang katanya sudah sakit sejak sebulan yang lalu. Kulihat
layar hanphone yang ia pegang berulang kali berganti-ganti gambar, dialah si
gadis desa pujaan Ardan. Foto-foto Yanti pasti menjadai sebuah kenangan yang tidak
akan pernah ia lupakan. Gadis desa pertama yang memberinya sebuah kedamaian.
“Ini semua
salah gue, Gus. Andaikan Yanti nggak mengenal gue, mungkin Yanti bakal menikah
sama elu dan hidup bahagia sampai punya banyak anak dan mungkin elu kelak bakal
mandiin kebo lu itu bareng anak-anak lu
dan Yanti,” ujarnya miris menatap langit muram. “Sudahlah, Ardan. Yang lalu
biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang, lupakan desa ini. Jadilah orang besar
dan kamu bisa punya banyak kebo di kota sana,” ledekku mencoba mencairkan pikirannya.
“Hahaha...kebo? Kebo di Jakarta itu bentuknya batangan. Tinggal makan, Gus.
Hahahaha…punya banyak kebo lu bilang. Hahaha…” kulihat Ardan tertawa-tawa geli menggelengkan
kepala. Ia memegang perut dan masih memegang kepalanya besama hanphone.
“Gue pikir
semuanya bakal berjalan lancar, Gus. Tapi semua usaha keras gue bakal gue
hentikan sampai di sini.” Kucoba diam mendengar semua perkataan Ardan, sebulan
yang lalu dia adalah bocah kota yang aku benci, tapi seiring berjalannya waktu,
aku mulai memaklumi keberadaannya. “Cerita saja kalau kamu masih punya beban.
Jadi kamu bisa pergi dari desa ini tanpa pikiran yang membebani kamu…” ardan
melihat kearahku, ia menarik nafas panjang seolah mengiyakan kata-kataku.
Dulu gue
kesini dengan satu tujuan, selesaikan semua ini dan wisuda dengan cepat. Jadi
gue bisa nggantiin bokap gue di perusahaan. Pertama gue datang ke desa ini yang
gue liat adalah Yanti, dia bermain air dengan kebomu itu di sana. Gue potret
dia diam-dam. Dan malam harinya ternyta dia adalah putri dari pak kepala desa
tempat gue menginap. Beberapa hari gue di sana, setiap selesai mencari data,
gue selalu mencoba mendekati Yanti yang tiap sore selalu menyirami bunga mawar
putih yang tumbuh cantik di dalam pagar di depan emperan rumah.
Ardan mulai
memutar otak melihat nosatalgia benak. Kakinya lurus dan tangan memegang
hanphone melihat-lihat gambar Yanti yang tersenyum manis. Entah kenapa gue bisa
suka sama dia, Gus. Tiap sore gue duduk di emperan rumah untuk menulis laporan
observasi yang gue cari dari mulut-mulut warga. Diterpa semilir angin bersama
bulir-bulir serbuk sari yang terhempas ke udara. Tiap sore itu pula harum tubuh
Yanti mengelilingi gue. Rambutnya yang hitam pekat, panjang sepinggang.
Badannya yang semampai ditemani kulit kuning lansat. Wajahnya catik dan
senyumnya adu bidadari. Benar-benar tepat bila dia disebuat bunga desa.
Tapi saat
gue tahu elu adalah calon suami Yanti, dada gue mulai membengkak oleh setan
yang menyeruak bersama bilah pisau neraka yang menyusupkan kekecewaan. Semakin
gue memikirkan itu, semakin tubuh gue mulai mengambil inisiatif. Sore itu gue
ngobrol sampai malam, dia tertawa-tawa riang dengan semua candaan kota yang gue
lantunkan. Dia pun menanggapi semua yang gue katakan, seolah dia memang ingin
dekat. Tapa menunggu lama saat ia bicara tanpa memandang gue, langsung gue cium
pipinya. Yanti terperangah kaget dan menyentuh pipi. Wajahnya merona merah, gue
pun merasa seperti ada yang menggelitik di hati. Gue tersenyum menatapnya, tapi
Yanti langsung berlari masuk ke dalam rumah. Haha..malam itu adalah amalm yang lucu.
Aku geram
mendengarkannya. Lucu kau bilang, kau meracuni perasaan Yanti yang sudah
kupelihara sejak lama. Kau membuatnya bimbang dengan perasaannya. Gemerisik
ranting pohon yang bergoyang diterpa angin sore menutupi panasnya dadaku yang
mendengar cerita Ardan. Parang yang tergeletak disampingku berulang kali
kulihat. Ujungnya mengkilap meski langit senja membisikkan kesabaran.
Suatu malam
aku mendatangai rumah Yanti, sungkem kepada kedua orang tuanya yang memang
sudah merestui hubungan kami. Kami ngobrol sejenak di ruang tamu sampai
akhirnya Yanti menemuiku. Kami pun duduk berdampingan membicarakan banyak
renungan dan sesekali menggodanya. Namun dari dalam rumah seseorang keluar dari
salah satu kamar menuju ruang tamu dan menyapa kami dengan santainya. Saat
melihatnya rasa khawatir langsung menyerbu batinku, membawaku pada
pikiran-pikiran buruk.
“Yanti,
siapa orang itu?” dia tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Dia
mas Ardan. Orang kota yang datang kemari untuk menulis sekripsi.” Tanganku
mengepal keras, otot-otot tangan menguat padat. Keberadaannya disini akan
mengganggu hubungan kami pastinya. Semua pikiran negateif terbayang dibenakku,
hatiku pun turut merasakan pemikiran-pemikiran kacau ini. Namun akal sehatku
bergmam, “Sabar, orang itu hanya numpang lewat di rumah ini. Ingat Gusti,
wanita ini belum sepenuhnya jadi milikmu. Dia masih punya hak untuk menentukan
pilihannya. Bila kamu ingin memilikinya, secepatnya kamu harus membuat
keputusan. Lamar dia.”
Rasa sesak
di rongga dada seketika menghilang, senyum menilik masa menemaniku untuk
semakin optimis dengan Yanti. Hubungan ini sudah lama kami bina, orang tua kami
pun sudah saling menyetujui. Hanya tinggal selontar kata yang akan membawa kami
dalam pinangan.
Malam semakin
larut terbirit waktu. Siutan angin malam menggoda rinai bulu di leher. Di depan
pintu rumah, Yanti melepas kepulanganku. Namun saat sampai di pertengahan
jalan, kulihat Ardan berdiri di tepi sambil memutar-mutar hanphone_nya. “Kalau
nggak salah namamu agus. Jauhi Yanti,” tegasnya langsung berjalan melewatiku.
Ini seperti sebuah peringatan dari seorang pendatang yang tak tahu diri.
“Hei,
berhenti kamu. Saya ini calon suami Yanti. Seharusnya saya yang bilang seperti
itu. lebih baik kamu pergi dari desa ini. lagi pula tidak seharusnya kamu ada
di sini,” teriakku. Tapi ia tetap berjalan meninggalkanku. Dadaku penuh geram
melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, namun tiba-tiba tubuhnya berjalan
gontai dan akhirnya rubuh. Seketika itu aku mendekat. Darah mengalir di hidung,
kesadarannya lenyap entah kemana. Tanpa pikir panjang aku langsung
menggendongnya kembali ke rumah Yanti.
Auman
kerbau membangkitkan kami dari lamunan.
“Hahahaha…dasar kebo,” ujar Ardan. “Agus kau masih ingat malam itu?” kulihat ia
mengambil sebendel kertas dari dalam tas dan membukanya. Semilir angin
membawaku memerhatikan mulutnya bergumam menceritakan kejadian itu.
Waktu itu
sore seperti ini, tapi lolongan corong masjid sudah berkumandang di kedua desa
yang saling berbatasan sawah. Aku dan Yanti tengah berjalan pulang membawa
kerbau dari sungai. Di jalan berbatu itu kami dihadang empat orang pemuda desa
sebelah. Mereka adalah orang-orang yang juga menyukai Yanti, namun tanpa banyak
bicara salah seorang mendekat dan langsung memukulku hingga aku terjerembab
jatuh dan punggungku terbentur batu jalan. Yanti sontak berteriak. Namun
tiba-tiba dari belakang mereka Ardan berlari dan langsung memukuli mereka
berempat. Entah bagaimana ia bisa ada di jalan ini, mungkin ia baru selesai
mewawancarai penduduk setempat.
“Agus, bawa
Yanti pergi dari sini. Serahkan saja mereka padaku,” teriaknya setelah memukul
jatuh seorang berkulit coklat gelap. Aku pun bergegas bangkit dan menarik
tangan Yanti membawanya berlari bersama kerbau yang begitu malas berjalan.
Malam tiba,
purnama bertengger cantik di altar langit. Ditemani jutaan bintang yang meretas
ditiap malamnya, mereka berpendar-pendar menyebarkan panji-panji kehidupan. Di
ruang tamu, aku bersama keluarga Yanti menunggu kepulangan Ardan. Sudah jam
tujuh dan Ardan masih belum terlihat.
Dari pintu depan sebuah tangan
terjulur masuk diikuti tubuh Ardan yang mukanya penuh lebam dan tertutup merah
darah. Seketika aku berlari menyongsongnya yang langsung terjatuh sebelum
memasuki rumah.
Larut sudah malam ini, berulang kali
Yanti mengkompres kepala Ardan yang lebam. Tubuhnya yang kotor telah dibasuh
air hangat. Kulihat matanya perlahan-lahan terbuka, ia pun segera memegang
kepalanya dan duduk di atas kasur tidurnya.
“Agus, Yanti, pak Kepala desa,”
ujarnya melihat sekeliling. “Mas, kepala kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya
Yanti sambil memeras kain kompres. “Lu nggak perlu khawatir, Yanti. kepalaku
memang sepertinya sudah bermasalah sebelum aku sampai di desa ini. mungkin
sudah dangkal umurku. Hahaha…,” ujarnya santai.
Aku dan pak
kepala desa saling memandang seolah tahu ada sesuatu dikepalanya. Memang seblum
ini aku juga melihatnya memegangi kepala. Apa mungkin ia punya penyakit di
sana?
Sekali lagi
auman kerbau terdengar dan Ardan langsung melihat kearahnya. “Gus, sudah
semakin sore. Kebo lu itu mungkin sudah ingin pulang. hahaha…” ia tertawa lebar
sambil mengusap-usap rambut belakang kepalanya. “Ah, ngomong apa to kamu, biar
saja keboku itu. Aku temani kamu nunggu bis sampai…”
“Ah, ada
sms Gus,” ujarnya memotong perkataanku. Kulihat raut wajahnya cemas membaca sms
itu. Bahkan ia kesal sampai memukul-mukul tanah. “Ardan…”
“Ah…mungkin
ini moment paling berharga yang gue dapatkan di desa ini.” ia menyeka air
matanya yang perlahan merembas keluar. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan. “Berharga?
Aku pikir kamu itu nggak ngapa-ngapain, Ardan?” tanyaku ragu. “Hus!
Sembarangan…selama ini gue nggak pernah ngelakuin banyak hal seperti ini, Gus.
Apa lagi berusaha sendiri mencari data demi kelulusan gue. Dan bahkan disini
gue mendapat teman dan keluarga baru yang ternyata lebih peduli dari pada
keluarga gue yang di Jakarta. Thaks bro…” ujarnya melempar tangan ke pundakku.
“Doakan
tahun depan gue masih idup. Hahaha…” ujarnya sepele. Jidatku mengkerut mendengarkan
perkataannya. “Ardan, kamu ngomong apa to? Kamu kan masih muda, tentu umurmu
msaih panjang. Pasti tahun depan kamu bisa main ke sini lagi,” terangku
menguatkannya.
“Entahlah,
Gus. Ada sesuatu di kepala gue yang membuat gue risau. Ini seperti bom waktu,
Gus. Hahaha…” sekali lagi ia tertawa sepele. Aku tahu ia tengah sedih dengan
penyakit yang ia derita.
“Huwaaa…bis
gue udah datang, Gus.” Ia berdiri, mengambil tas punggungnya dan ia kenakan. Bis
kota di ujung jalan itu masih lumayan jauh.
Kami saling
berhadap-hadapan, wajahnya lega dari penantian lama untuk menunggu datangnya
bis kota ini. Ia menjulurkan tangan, kami pun saling berjabat bahkan ia
langsung memlukku erat. “Thank you Bro…lu udah gue anggep seperti saudara
sendiri.” Ia menjabat tanganku erat. Entah apa yang ia katakan, aku tak tahu
maksud dari ucapannya. Kedekatan kami hanya sebatas itu, tapi ia sudah
menganggapku seperti saudara. Apa dia menemukan jati dirinya di desa ini?
Suara laju
bis menderu semakin dekat. Matanya terlihat tajam mengamati bis kota. “Ok,
sampai ketemu lagi,” ujarnya sambil berlari, namun tiba-tiba ia menghentikan
langkahnya dan berlari kembali mendekatiku. Ia meraih tas punggung dan
membukanya, mengelurkan sebendel kertas putih. “Ini bro, sekirpsi gue. Baca di
rumah,” ujarnya tersenyum lebar. Ia berlari mendekati jalan hendak
mengehentikan bis. Saat bis itu berhenti di hadapannya, ia menoleh melihatku,
melambaikan tangan dan tersenyum lega sebelum akhirnya masuk ke dalam bis dan
pintu pun tertutup membawanya pergi menjauh dari lingkungan desa ini.
Bis kota
semakin berpaling dan menghilang di ujung jalan yang menurun. Bendel kertas ini
tak begitu tebal. Bukankah ini hasil pekerjaannya selama ini, kenapa ia
serahkan ke padaku? Seruan adzan terdengan dari desaku, langit jingga pun telah
muram penuh dengan mendung kelam. Angin sawah yang dingin menerpa tubuhku yang
berjalan mendekati kerbau di atas ladang rumput.
Sambil
berjalan, kubuka lebar pertama dari sekripsi ini. “Bom Waktu.” Tertulis besar
di cover awalnya. Kubuka lagi lembar kedua, kulihat darfat isi yang sampi 37
bab. Semuanya memiliki judul dari masing-masing bab ini. Kubuka lagi lembar
ketiga, kubaca tulisan kata pengantar. “Untuk desa sepi yang damai oleh masa.”
Kepalaku miring ketika membacanya, rasa heran membelenggu pikiranku ingin
semakin membuka di tiap lembarnya.
Kubuka lagi
beberapa lembar. “Apa seperti ini yang namanya sekripsi? Kenapa seperti
cerita?” pikirku setelah membaca beberapa lembar lanjutan. Kubalik lagi untuk
melihat lembar kata pengantar.
Kerbau di
depanku mengaum ketika aku semakin dekat. Kutepuk-tepuk punggungnya yang penuh
lemak dan aku pun lompat ke punggungnya. Sambil berjalan kurasakan
tulang-tulang kerbau menusuk-nusuk pantatku, berlenggang kekanan dan kekiri
mengikuti irama kaki kerbau.
Semakin
kubaca kata pengantar ini semakin kumengerti maksud tulisan Ardan. Maka
kusimpulakan untuk mengkopinya dan akan kuserahkan ke perpustakan SD dan kantor
kepala desa besok pagi. Ardan ternyata seperti inilah hasil observasimu selama
ini_kau mengambil makna yang begitu dalam hingga aku bingung dengan pikiranmu.
Selasa, 08 Juli 2014
Kesurupan
Oleh: David Sukma Putra
Rumput-rumput kering tampak jingga
di lapang sekolah, telah kering oleh musim dan terik yang menyengat. Semua
siswa berhambur di lapangan, duduk mengepung pada sebuah titik merah keramaian.
Dengan tubuh besar maupun kecil semua terlihat sama. Tinggi dan rendah pun
telah terhapuskan. Derajat si kaya dan si miskin di antara mereka melebur dan
memudar. Dalam kumpulan inilah semua sama dan tak ada yang membeda-bedakan. Hanya
saja status senior dan dewan pembimbing yang menjadi faktor penghormatan
pembeda. Namun datangnya malam, ia telah berusaha menyamarkan.
Semula
kita sanggup berdiri tegak membusungkan dada dan menyombongkan jidat menyambut
istimewanya kebersamaan. Namun semakin mentari menyusup menyembunyikan terang,
kegelapan mulai merangsek bersama udara yang kian menusuk tulang. Kini kami
hanya mampu meringkuk riang diantara jago merah yang berkibar perkasa di tengah
lapang dan semilir angin yang menyayati.
Layaknya
serpihan emas yang berhambur di pelataran lapang, rumput-rumput kering pun harus
turut serta mengibarkan kesepian. Tapi untuk mereka teman-temanku, hal ini
terasa biasa karena tawa dan latah mereka telah mengalahkan senyap dan sunyinya
kegelapan yang berkubang. Apalagi untuk aku yang terkenal sebagai cewek tomboy.
“Huft…
setan-setan malam pun akan kukencingi sambil berlari bila sampai berani
menunjukkan batang hidungnya kepada si jagoan karate ini.”
Dalam
rangkulan malam yang terasa mencekam, terlihat wajah riang anak-anak SMA 1
Jogja yang menghangatkan diri dalam acara api unggun pada malam terakhir
kegiatan Persami. Mereka melepas letih bersama setelah kegiatan outbond yang
benar-benar melelahkan.
Dita mendekat. Langsung bersila dan
berbisik di telingaku. “Debby, masih lama nggak sih ni api unggun.
Aduuu…kebelet niii.”
Tanpa
di perintah, Desya bergabung dan melempar salam. “Kenapa, Dit? Kalo kebelet ya
sana pipis sendiri. Hahahaha….” Desya tertawa seakan itu sebuah lelucon. Dita
meliriknya sinis. “Dasar kamu nggak setia kawan!”
“Debby, ayoooo… udah nggak tahan
niii..” tambahnya. “Hih, kamu tuh! Kamu nggak lhiat apa? Bentar lagi laaa… tuh
si Radit di suruh ngungkapin cinta sama si Dian, pasti si Dian bakal malu-malu
kucing nih. Iya kan Sya… Si Dian kan
orangnya gampang banget malu.” Desya geli dengan adegan romance di depan sana.
Dengan cepat Desya mengiyakan kata-kataku.
“Iya Deb. Adu… jadi pengeeen…”
Meliha Desya dan aku keasyikan
sendiri dan tidak memerdulikannya. Dita pun geram sampai memukul kepalaku dan Desya.
“Tuk…tukk..”
Aku
menoleh diikuti dan Desya dengan tatapan tajam dan gigi yang menyeringai. Membuat
Dita takut dan merasa bersalah.
Dita
menghembus nafas dengan berlebih. “Ih! Padahalkan aku yang seharusnya marah.. Kok
malah kalian si yang marah… Aku kan cuma minta ditemenin...”
Dengan
sigap Debby lalu berjalan mendekati kak Davin selaku salah satu Bantara yang
memimpin acara ini.
“Kak Davin. Aku minta izin mau ke
kamar kecil.”
Ia mengangguk. “Mm. Ya udah, ayok.”
Kak Davin lalu berdiri untuk mengawal Debby.
Namun Debby terhenti. Ia bingung
melihat kak Davin yang ingin mengantarkannya. Karena bingung ia pun garuk-garuk
kepala. “Eh, bentar-bentar. Kak Davin mau ke mana?”
“Lhooo.., ya ngawal kalian lah! Ntar
kalau terjadi apa-apa sama kalian gimana cobaaa? Hem!”
Debby bersungut-sungut sambil
manyun. “Iiiih… masak cowok yang ngawal si... Kita kan mau ke kamar mandi
cewek. Lagian ini kan di sekolah. Nggak bakal terjadi apa-apa lah. Kak Davin tu
terlalu khawatir sama Debby ah…ah..ah.. hahaha.” Namun kali ini Debby malah
berlebihan melihat sikap kak Davin yang dimatanya terasa super ganteng.
Kak Davin memegang peluitnya dan
mendekat. “Cetuk! Mulutmu tuh bikin merinding.”
Sekali
lagi kepala debby terkena pukulan. Kali ini debby di pukul oleh kak Davin
menggunakan peluit pramuka yang dari tadi bergelantungan kesana-kemari
mengikuti tingkah laku kak Davin.
“Aduh!! Kak Davin!!!” teriak Debby
keras.
Mendengar
suara Debby yang berteriak kesakitan hanya karena hal kecil. Semua peserta api
unggun langsung terdiam. Mereka yang tadinya tengah tertawa-tawa melihat
temannya di depan dirayu oleh salah seorang temannya. Kini menolehkan ke arah Debby.
Citra yang berdiri bersama para
bantara, meliriknya. “Davin! Ini kan malam terakhir. Kamu tuh jangan terlalu kasar
sama adek kelas! Ini kan malam santai…”
Segera Davin berkoar tak mau salah. “Citra,
yang kasar tu siapa…? Ini si Deby aja yang nyolot dari tadi.”
Salah
seorang peserta tiba-tiba ada yang bersorak, “Huuuu, kak Davin nakal…” tiba-tiba tanpa
dikomandoi lagi, seluruh peserta langsung menghujam kak Davin secara bersamaan.
“Huuuuuuuu… Kak Davin nakaaaal… huuuuu…
hahaha.” Seluruh peserta malah menjadikannya sebagai bahan candaan. Sebenarnya
bukan hanya peserta tapi para Bantara pun ikut menertawainya.
Tapi
apa respon kak Davin?
“Hei!! Apa yang lucu?! Ayo ketawa
lagi! Ayo! Kenapa pada diem! Yang lucu tadi manaaaa… ayo diketawain lagi! Kalian
mau pada jadi jagoan apa?! Gimana coba… silahkan kalian ketawa. Hei! Malah pada
melototin aku. Lanjutin acara.” tunjuknya pada dua orang teatrikar perayu di
dekat api unggun.
Namun tiba-tiba. “Plugh…plugh.”
Tanpa aba-aba, kak Davin langsung
kembali berkoar keras. “Aduh… Hei! Siap… aaa…” suaranya melengking hingga
mendesis dan akhirnya hilang.
Kak Davin berteriak marah karena ada yang
memukulnya. Namun saat menengok kebelakang ternyata pak Minto yang memukulnya.
Jelas saja ini membuatnya kaget, di tambah lagi dia telah marah-marah tadi.
Hauft merepotkan.
“Eeeeeiiiiit… Bapak, maap, pak map
ya. Gak sengaja… Kirain tadi siapa? Hehehe...” ia cengengesan sambil mengusap-ngusap
kepala karena malu.
“Huwakakakakaka….” Kembali seluruh
peserta meledakkan tawa melihat tingkah konyol kak Davin yang tadi sempat
marah-marah.
“Davin… Davin… kamu tuh…” seru Citra
sambil tersenyum manis kepada kak Davin.
“Citra, malah ketawa si…” sahutnya
cepat.
Kak
Davin yang masih berdiri dan menjadi sorotan para peserta persami seperti tidak
menyadari kalau temanku si Dita ini benar-benar sudah tidak tahan ingin ke
kamar kecil.
“Pak Minto... ini lho… kasihan Dita
yang udah kebelet.” rengek Debby.
Pak
Minto lalu memukul pantan kak davin sekali lagi dengan tongkat pramuka yang
sejak pagi ia bawa-bawa.
“Plugh..” lalu menuding-nudingkannya
ke arah kamar mandi tanpa mengatakan sepeser kata pun. Dengan wajah yang
mengkerut sambil sedikit tersenyum saat berhadapan dengan kak Davin. Ekspresi
seperti ini merupakan kebiasaan pak Minto yang ramah dan tidak pernah marah
kepada anak didiknya. Gayanya yang perlente dengan kacamata hitam yang tak
pernah luput dari tampang tirusnya dan rambut klimisnya yang lebat. Begitulah
pembina pramuka kami.
“Iya pak, iayaaaa….” Lalu kak Davin
berjalan di depan_mengawal kami yang ingin ke kamar kecil.
Kamar
kecil yang berada di sudut sekolah merupakan suasana mencekam kedua setelah
ruang OSIS yang kabarnya sering ada anak yang kesurupan. Bahkan mitos-mitos
tentang kedua lokasi itu telah menjadi sarapan berhari-hari oleh para
siswa-siswi SMA ini.
Kamar
kecil di sudut sekolah ini hanya memiliki dua buah lampu penerang berwarna
kuning di sudutnya. Membuat suasana malam semakin menakutkan. Kami berempat
berjalan semakin mendekat dan suasana kelam pun seperti mulai menarik kami yang
semakin mendekat pada satu tujuan yang sama.
Aku
yang tomboy ini pun kini merasa takut dengan suasana kamar kecil ini. Baru kali
ini aku kemari saat malam hari, sepertinya wajar bila perasaanku tidak enak.
Bulu kuduk ini sekarang terasa tegang. Sepertinya mereka takut akan sesuatu
lain yang datang. Haduuu… hatiku semakin
kacau memikirkan hal ini.
“Debb… Debby. Debby…Hei. Jangan bengong.
Kalian semua tolong jangan bengong. Jaga agar pikiran kalian tidak kosong.
Semuanya tolong baca basmalah dalam hati. Kalian semua tahu kan gosip tentang
tempat ini. Jadi tolong jangan diremehkan. Ditta, buruan kamu pipisnya.” Seru
kak Davin yang khawatir kepada kami bertiga.
Tapi
perasaanku benar-benar tidak enak. Seluruh bulu kudukku sepertinya ingin kabur
dan lepas dari kulitku. Uuuu…. Kuharap tidak terjadi sesuatu di tempat ini.
Setan-setan tolong pergi jangan ganggu kami.
Kulihat
kak Davin yang sedang asik bercanda dengan Desya tidak merasa takut sedikit pun
dengan suasana di tempat ini. Lalu apa hanya aku yang merasa tidak enak.
Badanku pun sepertinya semakin berat, seolah ada sesuatu yang mendekat dan
memelukku. Bulu kuduk pada bagian tertentu sepertinya berdiri tegap karena
ketakutan. Rasa takut ini semakin lama semakin kuat dan mulai menguasai tubuh
ini.
Pintu
kamar mandi terbuka. Terlihat Ditta yang sepertinya sudah selesai dengan
urusannya. Ia keluar menghampiri kami dan mengajak untuk kembali ke acara api
unggun bersama yang lainnya.
“Kak Davin, udah ni. Yuk balik.”
Pinta Ditta lembut.
Kak
Davin hanya meresponnya dengan senyum dan anggukan lalu mambalikkan badan dan
meninggalkan tempat ini. Namun baru dua meter aku melangkah. Sepertinya badan
ini semakin berat dan enggan untuk berjalan. Bahkan sudah kupaksakan untuk
melangkah sepertinya masih tetap benar-benar berat. Kepalaku tiba-tiba pusing.
Tanah yang kuinjak sepertinya bergelimpangan membuat tubuhku tidak setabil dan
akhirnya aku rubuh.
Saat
aku tebangun kembali. Aku berada di ruangan guru yang dikelilingi kakak-kakak Bantara
dan masih ditemani kedua temanku. Badanku terasa sakit semua. Kepalaku juga
terasa benar-benar berat. Aku tidak tahu sebenarnya aku kenapa?
Ditta
yang duduk di samping kasurnya mulai melihat Debby membuka mata. “Debby, kamu
sudah sadar? Pak Minto, debby sudah sadar ni,” teriak Ditta pelan.
Saat
pak Minto akan mendekat tiba-tiba tangan Debby mencengkeram tangan Dita dengan
kuat. Matanya berlarian kesana-kemari melihat sesuatu yang entah diarahkan ke mana.
Tatapannya tajam dan kuat, namun tatapan itu kosong.
Dita
yang khawatir lalu memegang kedua pipi Debby. “Debby… Debby. Kamu ngeliat apa,
Debb? Debby tolong fokus Debb. Kamu ini kenapa?”
Kasur
kecil itu sekarang bergetar karena tubuh Debby mulai kejang-kejang. Bahkan Debby
mulai berteriak-teriak kacau. Matanya terus melotot dan berlarian kesan-kemari
akan tujuan yang tak pasti. Kak Davin, Ditta, dan pak Minto lalu mendekat
memegangi kaki dan tangan Debby.
Kak Davin melirik pak Minto. Ia
begitu khawatir dan takut dengan tingkah Debby. “Pak Minto, sepertinya Debby
kesurupan Pak.”
Pak
Minto mendekat langsung memegang rahang bawah Debby dan mulai membacakan
basmalah dan ayat-ayat Al’Quran lainnya. Tubuh Debby yang tadinya kejang-kejang
tiba-tiba berhenti. Sepertinya Debby pingsan…
Tepat
pukul satu malam kejadian ini berhenti. Tubuh debby terlihat benar-benar lemas.
“Pak minto, apa debby nggak apa-apa? Yang kutahu, orang kesurupan itu tubuhnya
pasti sakit semua.”
Ditta menatap kasihan melihat teman
dekatnya terkapar. “Kak Davin, ini pasti gara-gara aku yang ngajak Debby ke
kamar kecil. Dia pasti nggak ikhlas dengan ajakanku. Makannya dia marah sampe
setan masuk ke badannya.”
Pak
Minto sepertinya tersenyum lebar mendengar kata-kata Ditta. Pak Minto yang
tengah duduk santai di kursi guru langsung berkumandang mengomentari perkataan
Ditta.
“Ditta, orang kesurupan itu ada
alasannya. Pertama karena orang itu kotor, mungkin Debby lagi menstruasi. Kedua
karena pikirannya yang kosong. Jadi mudah banget buat di masuki setan. Ketiga
karena Debby mungkin berbuat sesuatu yang tidak baik, dalam artian dia telah
mengusik keberadaan setan itu. Tapi bisa juga orang lain yang berbuat buruk,
namun Karena tubuhnya kuat dan bersih maka ia tidak kesurupan. Dan si setan
akhirnya mencari tubuh yang mudah untuk dimasuki. Terutama si Debby ini.” Jelas
bos Minto panjang lebar.
“Mmmmm…. Tapi kasian Debby, pak. Pak,
Debby bangun tuh.” Kata Desya menunjuk Debby dengan dagu.
Debby
yang merasa bingung dengan apa yang terjadi, ia merengek ketakutan. “Pak, Debby
takuuuut…”
Pak Minto mendekat dan membelai
rambut Debby. “Jangan takut Debby. Kamu di sini sama teman-teman. Semuanya di sini
buat kamu.”
Kini
mata Debby kembali berputar-putar kacau mengarah ke berbagai penjuru ruangan.
Pak Minto yang sigap lalu menampar-nampar pipi Debby. “Debby, sadar Debby. Sadar..
Debby. Baca asma Allah, jangan takut. Kamu harus kuat.” Sekali lagi pak Minto
menampar-nampar pipi Debby.
“Arghhhh…. Sakit pak… badan Debby
semuanya sakit. Aduh, tanganku, tanganku ditarik ini… tanganku adu adu..
sakiiiit…”
“Debby, kamu harus kuat Debby. Ayo
ikuti bapak baca asma Allah. Ashadu alla ila haillallah…” Pak Minto membantu Debby
berkata.
Asma
Allah yang diucapkan pak Minto sepertinya tidak berpengaruh terhadap Debby.
Mungkin karena Debby tidak bisa ikut mengucapkannya. Tubuh Debby kini kembali
kejang-kejang. Semua orang yang berada di ruang UKS itu langsung mendekat dan
memegang tangan dan kaki Debby dengan kuat. Kini Debby kembali berteriak-teriak
kacau. Entah apa yang ia takutkan. Matanya berulangkali berlarian kesana
kemari. Lalu pak Minto mengambil sebuah inisiatif.
“Ayo semuanya, lepasin, lepasin
tangan kalian.” Perintah pak Minto.
“Tapi pak, nanti Debby gimana…” kata
kak Davin khawatir.
“Sudah, turuti saja perkataan bapak.
Ini mahluk tidak mau keluar dari tubuh Debby. Biasanya cara lain untuk
menangani kasus seperti ini, biarkan saja dia teriak-teriak. Biarkan mahluk ini merasuk total ke tubuh Debby. Setelah itu kita turuti semua
permintaannya.”
“Pancal
juga boleh pak..” Sahut kak Davin kesal yang sedikitpun malah tak membantu.
“Cuma
itu jalan satu-satnya agar mahluk ini mau keluar dari badan Debby.” Jelas pak
Minto.
Semua
tangan yang tadi memegangi Debby kini mulai melarikan diri untuk melepas tubuh
Debby. Debby yang kejang-kejang di atas kasur UKS kini mulai tenang. Namun
tubuhnya merangkak ingin turun dari kasur. Lalu pak Minto mendekat dan memegang
tubuh Debby agar tidak ke mana-mana.
“Davin, pengang kaki Debby dengan kuat.”
Perintah Pak Minto.
Tanpa
mengatakan apapun lalu kak Davin memegang kaki Debby.
“Hei, kamu siapa? Maumu apa? Kenapa
kamu masuk ke tubuh anak ini?” tanya pak minto kepada Debby yang tengah
kesurupan sambil melet-melet.
“Aku Singo Dimejo, aku haus, aku mau
minum.” Jawab Debby sambil menggeram-geram.
“Desya, ambilkan minum.” Perintah
pak Minto.
“Sudah minum kan? Sekarang ayo
keluar. Ini bukan tubuhmu!” bentak Pak Minto.
“Cerewet, aku lagi betah ni. Asal
kamu tahu, gara-gara kalian ini pacarku jadi kabur .” geram Debby.
Pak
Minto yang keheranan mendengar jawaban debby. Lalu kembali bertanya. Tapi
didahului oleh kak Davin.
“Pacar? Yang bener aja!! Heh, kamu itu
setan! Mana ada setan pacaran! Buruan keluar! Keluar dari tubuh pacarku!”
bentak kak Davin sambil memelototi mata Debby.
“Dasar cerewet, setan juga punya
perasaan, bego!” geram Debby semakin kuat.
“Heh, mau kamu apa lagi. Kalau kamu
nggak segera keluar dari tubuh anak ini. Nanti akan kupaksa kamu untuk keluar
dan itu pasti akan membuatmu sakit.” Sekali lagi pak minto membentak Debby.
“Aku mau pulang.” Jawab Debby sambil
tertawa.
“Bagus, kalau kamu mau pulang. Ya
sudah sana pulang dan keluarlah dari tubuh anak ini.” Kata pak Minto.
“Anterin.” Sahut Debby cepat.
“What!! Setan pulang minta di anter.
Yang bener aja. Kamu itu setan. Dateng
nggak ada yang minta, pulang minta dianter. Sopan donk! Kalu bikin aku kesel, kupancal
juga malah lama-lama. Setan nggak beres.” bentak kak Davin yang heran dengan Debby.
Pak
Minto yang mendengar ucapan kak Davin yang semakin lama semakin terasa
seenaknya saja, sekarang mulai kesal dengannya.
“Plugh!”
Pak minto memukul pundak kak Davin dan menuding ke arah wajah kak Davin.
“Hehe, sory Pak. Abis ni setan lama-lama
ngelunjak pak…”
“Ok, di mana rumahmu? Akan kami
antar, tapi setelah itu kamu harus keluar!” bentak pak Minto untuk yang
berulang kalinya.
“Di pojok kamar mandi tadi.” Jawab Debby.
…
Minggu
sore diterpa angin nakal aku bergoyang ria bersama teman-teman. Sore ini adalah
hari perpisahan persami yang telah selesai kami laksanakan. Seluruh peserta baik
kakak-kakak Bantara mau pun Laksana, tengah bergembira ria dengan lagu dangdut
yang tengah di suarakan di tanah lapang.
Kami
yang telah merapikan diri untuk segera meninggalkan sekolah, telah berdiri di
lapangan sekolah yang sebelumnya didirikan puluhan tenda untuk tempat kami
menginap. Aku yang telah sembuh dari kesurupan kini menjadi bahan ejekan
teman-teman.
Dan
di depan sana datanglah seorang bijak yang tengah berdiri tegap menghadap ke
arah kami. Dialah pak Minto dengan kaca mata hitamnya yang selalu ia banggakan.
Ia mengumandangkan bait-bait penutupan. Seusai pidatonya ia persilahkan kami
semua untuk pulang ke rumah masing-masing.
Namun
sebelum meninggalkan sekolahan, aku Dita, dan Desya menemui kak Davin untuk
berpamitan. Ternyata kak Davin tengah duduk bersam pak Minto di beranda sekolah. Kami pun langsung
menghampiri mereka.
“Kak Davin…, pak Minto…” teriak
Desya genit.
“Hei, sini. Duduk dulu laaa… nyantai
aja pulangnya. Rumah kalian deket kan? Ngobrol-ngobrol dulu dah.”
Kita
bertiga pun menuruti keinginan kak Davin. Ditambah lagi kak Davin orangnya
ganteng dan keren. Ini tentu menambah semangat kami untuk semakin dekat
dengannya.
“Cie cieeeeee… yang baru kesurupan.
Hahaha…” goda kak Davin.
“Iiiih… apaan si kak Davin!” sambil
menggembungkan kedua pipinya.
“Debby tambah cantik deh kalo
ngambek gitu…” rayu kak Davin mantap.
“Cinlok niyeeee…” kata Desya.
“Cinlok ama setannya apa ama Debbynya
niiih.. hahahaha…” sahut Dita.
Mereka
berempat tertawa ria menggodaku yang tengah kesal dengan masalah kesurupan tadi
malam.
“Iiiih, emang aku kesurupannya
gimana sih? Ceritain donk...” Pinta Debby manja.
“Eh kamu tu kesurupan tapi malah
ngerepotin, tau nggak.” ujar kak Davin nyolot.
“Hahaha… iya bener banget kak.
Debby, tu setan tu minta minum segala tau gak siii…” kata Dita lebay.
“Eh Dit, minta minum si masih
mending. Tapi masak sih setan pulang minta di anter? Aneh kan, setan pulang
minta di anter…. Dia pikir dia siapa coba…. Terus kalok tu setan gak mau
pulang, ntar Debby gimana coba…hahahaha”
goda kak Davin girang.
“Iya Deb, waktu kamu pingsan setelah
kesurupan itu kita pada ketawa-ketawa karena nyeritain ulah kamu waktu
kesurupan tau gak…” kata Ditta.
“Terus tu setan juga bilang kalok
pacarnya tu kabur gara-gara kitaaaa… hahaha, setan juga pacaran cobaaa…” goda Desya.
“Nha, pas tu setan bilang gitu… Kak
Davin langsung bilang. Heh keluar dari
tubuh pacarku! Cie cie… kak Davin, cie cie… cinlok nih.” Goda Desya.
Pak Minto menghela nafas dengen
berlebih. “Pak Minto kayaknya cuma jadi patung ni disini. Dah mendingan pak
Minto pulang duluan.”
“Oke, pak.” Seru Dita.
Desya
kini menggodaku dengan menggelitiki pinggangku. Rasanya aku ingin marah karena
mereka terus saja menggodaku. Dari yang kesurupan sampai yang cinlok, semuanya
ditujukan padaku. Ditambah lagi tatapan mata dan senyuman kak Davin yang
membuatku benar-benar tersipu malu. Bahkan membuatku jadi salah tingakah.
“Sialan ni setan. Gara-gara dia aku
jadi bahan ledekan kalian. Dasar setan kurang ajar!” bentak Debby sambil
menggembungkan kedua pipinya kembali.
“Ala.., seharusnya kamu bersyukur
karena kesurupan. Kalo nggak kamu nggak bakal jadian ama kak Davin. Ckckck…”
goda Desya.
Tiba-tiba
perasaan semalam kembali muncul dan perlahan tapi pasti, mulai mendekapku dalam
kegelapan. Bisikan-bisikan aneh mulai terdengar dan sepertinya hanya aku yang
mendengarnya. Sebenarnya ada apa ini. Apa si setan belum pergi? Padahal ini kan
masih sore.
Kepalaku
kembali terasa penat, pusing, dan dunia serasa berputar-putar. Aku pun kembali
terjatuh dan pingsan di pangkuan Desya.
Desya
lalu membelai rambutku. “Debby, kalo mau tidur mendingan kita pulang sekarang
deh. Debby, Deb… Debby! Pak Mintooooo…….” Teriak Desya kuat-kuat.
Desya
yang panik langsung berteriak memanggil Pak Minto. Dalam pikirnya mungkin Debby
kembali kesurupan dikarenakan kata-katanya yang kasar tadi.
Mereka
bertiga hanya terkaget dan terbengong melihatku kembali pingsan. Bahkan mereka
bertatap-tatapan mata karena takut aku kesurupan lagi.
“jangan-jangan!” seru Dita.
“Pak Minto. Buruan…” teriak Desya
untuk yang kedua kalinya.
Beruntung
pak Minto belum jauh meninggalkan kami.
Dengan sekali sentakan mendadak,
Debby kembali duduk. Mata merah menyala-nyala. Berlarian kesana-kemari. Ditta,
Desya, dan kak Davin terpaku dengan kekhawatiran yang luarbiasa hebat.
“Oh,
shit!” keluh kak Davin.
The Photograph
THE
PHOTOGRAPH
Oleh: David
Sukma
Inspirated by
Cah Elek
Gemetar. Alunan melodi
irama kecil bergemerincing di sekujur tubuh, merata ke seluruh pori-pori
kehidupan. Keringat berkucuran terjun menukik cepat dari kening otak
terpelajar. Denyut jantungnya berdebum kuat takkuasa menyaksikan merah.
Perutnya mulai mual, sesuatu memaksa naik ke atas permukaan melewati
tenggorokan. Ia tertunduk lemas tanpa hasrat dengan pakaiannya yang serba biru
muda.
Disekitarnya, rekan
kerjanya tengah berusaha keras memperjuangkan kehidupan dan keselamatan sebuah
nyawa yang masih bertengger tanpa sadar di dalamnya. Meraka berulang kali
berganti alat untuk menunjang keberhasilan proses. Tapi seorang darinya
meliriknya tajam, bahkan yang lainnya berulang kali melihatnya sinis hingga
bosan dengan kelakuanku yang tak mau bergerak di sudut tepi ranjang menatap
kekalutan.
“Keluar, tunggu di
ruangku.” Perintahnya datar sambil menjahit bekas luka menganga di perut, tanpa
mau menatapku.
****
Sapi kosong tanpa terusik
kebisingan orang yang selalu membicarakanku, hanya saja katub kecil di dalam
dadaku terus berdegup kencang. Membuatku menciut kecil diantara sesamanya.
Sudah kali keempatnya aku seperti ini menghadapi kewajibanku. Mungkinkah kali
ini aku di skors bahkan di pindahkan dari posisi ini? Hauft…baguslah kalau
memang seperti itu, biarkan ayahku tau rasa kalau sedikitpun aku tak
menginginkan ini. Semua ini keputusannya, semuai ini kehendaknya, bahkan ia
merengut kebahagianku hanya demi kehormatan dan harga diri di depan mata
keluarga yang seluruhnya adalah dokter.
Tiba-tiba pintu terbuka,
seorang berjubah putih masuk dengan tangan yang membasuh keringat didahinya. Ia
berjalan mendekatiku dan menepuk pundakku, langsung duduk di singgasana
panasnya. Ia terpaku diam mengkecam keheningan dengan menatapku dingin dan
serius. “Begitukah jadi dokter?” tantangnya menatapku miris. “Kamu pikir ini
main-main? Pertaruhan kita itu nyawa orang…jika kamu belum bisa berfikir dewasa
dan masih teguh pada pendirianmu yang konyol itu, terserah kamu. Tapi ini sudah
keempat kalinya.” Kecamnya datar kuat sambil menekankan jari di ujung meja
menguatkan omongannya. “Kamu Om skors selama dua bulan.” ujarnya berpaling
dariku.
Aku tahu aku layak untuk
mendapat hukuman ini. Lagi pula aku melakukan ini bukan untukku, aku melakukannya
atas dasar yang bahkan tak mampu kulewati untuk kulebih tinggi darinya. Mendengar
ucapan Omku, bahkan aku tak takut. Hanya saja ada rasa plong di dalam dadaku
yang entah langsung bersorak-sorak riang seolah ini sebuah kesempatan besar.
****
Angin semilir menyejukkan,
membawa terbang semua kenangan dan beban buruk yang menimpa. Aku duduk di
sebuah bangku kayu panjang berwarna coklat yang terletak di sudut taman rumah
sakit. Bersila kecil dengan secangkir hangat segelas kopi susu coklat yang
mengepul ke mukaku.
Rambut panjang terumbai di
belakang kursi, hitam lebatnya melambai-lambai seorang pemuda yang berada cukup
jauh darinya yang tanpa sadar tengah mengamatinya.
Kulirik jam bulat di
tanganku. “Jam empat sore.” Apa yang kulakukan ini benar? Bila aku merelakan
inginku ini pergi, berarti aku menyiakan kebahagiaanku. Bila aku memaksimalkan
yang sudah kudapatkan ini, aku pasti akan hidup nyaman. Tapi untuk apa? Aku tak
mendapat kebahagiaan di sini. Jiwaku melayang di sini, hidup di sini. Tapi
ragaku, mengembara jauh ke ruang hidup yang lebih baik.
Langit jingga bertebaran
indah di atas sana. Ia mendongak tanpa rasa di wajahnya, dingin datar orang
kalut tanpa hasrat. Burung blekok berbulu putih terbang bebas membelah awan.
Tiba-tiba sekilat cahaya dari samping mengagetkanku. Kulihat pemuda itu sedang
memotretku. Apa aku ini obyek yang baik?
Dilihatnya hasil jepretan
itu. Ia tersenyum melihatku, berjalan mendekat dan duduk di sampingku. “Ini.”
ujarnya menjulurkan kameranya. Kuterima tanpa geram, kulihat wajahku terbenam
di sana. Hanyut dalam kesendirian yang mendalam. Terbawa arus kelamnya kegalauan.
“Kau pasien di rumah sakit ini?” tanyaku sembari menyodorkan kopi susu milikku
kepadanya.
“Eh, aaaaaah…te..terimakasih.”
Ujarnya risih menerima segelas kopi bekas milikku yang telah berkurang sedikit.
Dengan ragu-ragu ia meminumnya perlahan sambil melirikku yang masih lekat
mengawasinya agar meminumnya. “Ah…” ujarnya sambil mengacungkan jempol melotot
kesal. “Hari ini aku keluar dari sini. Sudah bosan aku harus tinggal di sini
dengan bius yang terus-menerus menjerumuskanku. Hahaha…” terangnya mengusap-usap
kepala belakangnya.
“Emmmm…” jawabku.
“Bagaimana hasil jepretanku? Seperti seorang professional bukan?
Hahaha…tentunya suatu hari nanti aku akan menjadi kameramen handal.” Ujarnya
menyombongkan diri mengikat tangannya di depan dada. “Benarkah? Wauw…” ujarku
meragukan. Aku berdiri melangkah beberapa meter, mencari obyek menarik dan
berulang kali menjepretnya. “Lihatlah milikku.” Ia mengambil kamera yang
kusodorkan, melihatnya dengan rakus dan senyum kagumnya mulai terkembang lebar.
“Huwa…heeeeebaaaaaaat…kau pasti beruntung bisa menjepret seperti ini. Tapi
sayang, bila dilihat lebih mendalam lagi, milikku lebih punya makna dan dapat
menyampaikan pesan tersendiri.” Terangnya tak mau kalah, mencoba membesarkan
jepretan miliknya yang memang jauh dari mulikku.
“Benarkah? Wauw...” ujarku
yang langsung berjalan menjauh darinya. “Apa? Kau menyindirku? Hei…tunggu.”
Ujarnya menghentikanku. “Kenalkan, aku Diva.” “Panggil saja aku Arin.” Ujarku
sembari berjabat tangan dengannya. “Besok temui aku di taman kota. Akan kuajari
kau bagaimana menikmati fotografi itu. Ok…” ujarnya tersenyum.
“E..hm..e..hm..huwahahahahaha…”
tawaku yang tertahan langsung meledak. “Yang benar aja. Kau mau mengajariku.
Apa kau tak bisa melihat bagaimana hasil jepretanku? Wau…kau benar-benar bocah
yang luarbiasa. Berani mengajak seorang wanita untuk jalan.” Ujarku
menyindirnya dan langsung berlalu berjalan meninggalkannya. “Hei aku ini sudah
dewasa. Aku akan menunggumu!!! Jam dua. Jam dua di taman kota. Kau harus
datang…” teriaknya meyakinkanku. “Haha…dasar bocah, mengajari fotografi? Yang
benar aja…hah…” gerutuku sambil jalan.
****
Di bawah koridor ini aku
berjalan, sendiri dengan semua rasa yang entah kemana. Hanya bocah itu yang
masih terngiang di otakku. Kudekati pintu ruang kerjaku untuk mengambil tas,
berkemas, lalu pulang. Hariku kali ini benar-benar berat tapi juga melegakan,
aku jadi bingung, harus senang atau harus sedih.
Saat handle pintu kubuka
ternyata ada Dion yang sudah menungguku di dalam sana. Ia berdiri dari kursi dan
langsung mendekat dengan cepat. “Karin, apa benar kau di skors?” tanyanya
khawatir. Aku menggangguk pelan mengiyakan sambil berjalan melewatinya
mengambil tas kecilku dan kunci mobil yang ada di laci meja.
Saat aku akan kembali
berjalan melewatinya ia menarik tanganku. “Kau ini, apa kau ingin seperti ini
terus. Aku ini pacarmu, sekali ini tolong dengarlah aku. Menikahlah denganku,
dengan begitu kau tak perlu khawatir dengan pekerjaanmu.” Terangnya serius.
“Apa hanya itu yang kau pikirkan?” ujarku sambil melepas paksa genggaman
tangannya di lenganku. “Tunggu Karin, maaf bila aku terlalu mengaturmu. Tapi
aku ingin yang terbaik untukmu. Mungkin kau butuh refresing, besok aku akan
menjemputmu, kita pergi ke pantai. Bagaimana?” ia membelai rambutku sambil menatapku
dengan senyum. “Terserah.”
****
Cahaya bulan yang temaram
di langit sana enggan membuatku tersenyum menikmati malam yang sunyi ini. Jam
dinding di atas meja menunjukkan angka sembilan malam dan di lantai satu itu
suara ayah dan bunda tengah berdebat keras. Aku yakin sebentar lagi mereka akan
menuju kamarku ini.
Di dalam kamar ini aku
terkujur telungkup sibuk mereview kembali hasil jepretanku dulu yang aku simpan
di dalam notebook. Senyum tipis kembali menyeringai dari hasil flash yang
terang di layar notebookku. Wajah unyu-unyu teman sekampus, ekspresi konyol
yang mereka persembahkan selalu membawaku ke dalam nostalgia yang menyenangkan.
Derap kaki mendekati
kamarku cepat, seketika pintu terbuka, ayah dan bunda langsung masuk. “Arin,
keterlaluan. Seperti inikah hasil sarjanamu, sedikitpun tak ada yang beres. Kau
mempermalukan ayah di depan keluarga. Kau ini anak ayah satu-satunya…seharusnya
kau bisa menjaga nama baik ayah.” Ujarnya menatapku. Sebenarnya aku juga
memikirkan semua perkataan ayah, membuat malu orang tua bukanlah hal baik yang
seharusnya dilakukan seorang anak. “Apa
kau masih ingin menjadi fotografer professional? Sehingga kau benar-benar
berbuat semaumu dengan pekerjaanmu sekarang?” “Ayah, bukan seperti itu yang
Arin lakukan…” “Lalu apa? Ayah ini sudah melakukan segala cara agar kau bisa
menjadi sarjana kedokteran dan bekerja di rumah sakit Ommu itu. Tapi apa?”
“Arin…sekali-kali
dengarkanlah ayahmu. Turutilah perkataannya, kau jangan terlalu egois…” ujar
ibuku membelai rambutku. “Yang egois itu kalian berdua. Kalian selalu memaksaku
melakukan ini itu, padahal aku tak menginginkannya. Sejak dulu aku tak tahan
dengan darah. Ayah…sebagai dokter mana mungkin aku bisa melakukan semua itu. Ayah
dan bunda yang seharusnya lebih paham dengan keadaanku, tapi masih tetap
memaksaku untuk menjadi dokter. Ini semua salah kalian!” teriakku kecewa dengan
semua pemikiran mereka. Aku melempar diri di kasur, membentang selimut dan
menutupkannya ke sekujur tubuhku.
“Arin…” ujar bunda
mengelus pundakku. “Bunda, biarlah dia lakukan semaunya.” Ujar ayahku yang
kemudian bangkit dan keluar dari kamar diikuti ibuku dari belakang.
****
Secangkir kopi susu
wanginya semerbak menyejukkan, kuhirup aromanya perlahan, masuk ke dalam hidung
dan bergoyang lentik di dalam hatiku. Duduk di tengah keriangan orang-orang
yang juga menikmati secangkir kopi hangat bersama rekan-rekan kerja dan
pasangan mereka. Dibawah altar langit yang bercakrawala, aku duduk di bawah
naungan meja bundar yang teduh oleh payung putih lebar sebuah kafe santai di
luar ruangan yang berada di tepi taman kota.
Entah kenapa tubuhku malah
berayun kemari, bukannya menunggu Dion menjemputku tapi aku malah menuruti
keinginan bocah yang baru kukenal itu. Mungkinkah karena dia pecinta forografi?
Atau karena aku yang tak mau kalah dengan bocah itu? huft…mungkin aku butuh
sedikit warna dalam hidupku. Satu tahun belakangan ini aku mulai bosan dengan
semua rutinitas menjenuhkan yang selalu kukerjakan. Mungkin ini saatnya melawan
arus.
Tiba-tiba sebuah tangan
menutup kedua kelopak mataku. Aku kaget terperanga, kutebak-tebak mungkinkah
ini Dion? Karena hanya Dion yang sering melakukan ini padaku. Ia melepasakan
tangannya dan langsung duduk di sampingku, menebar senyum manis dari wajahnya
yang lumayan rupawan. Kulitnya putih bersih dan tubuhnya lebih tinggi dariku,
mungkin bila kita berjalan bersama kami akan terlihat sebagai pasangan yang
serasi. Hanya saja dia lebih muda dariku. Ditambah lagi, baju dan tas ransel itu….?
dia masih SMA.
“Nih…” dijulurkannya kamera
miliknya. Kulihat di dalamnya ada banyak foto-fotoku di tempat ini. Semuanya
hanya melamun, tak berarti sekali hariku.
“Bagus…” ujarku malas,
kulayangkan tangan mengambil secangkir kopi milikku tapi dia langsung
mengambilnya dan meminumnya. “Hei, itu kopiku.” Teriakku. “Shuuuuut…” ujarnya
isyarat diam. “Kita harus cepat, mumpung suasananya tepat.” Ujarnya masih
meneguk kopi perlahan. “Suasana?” pikirku bingung.
Langsung tanpa meminta
izinku ia menarik tanganku membawaku berlari cepat melewati payung-payung
peneduh ruko pinggir jalan. Ingin rasanya aku marah dan menarik tanganku, tapi
saat ia berbalik dan menatapku. Kulihat senyum manisnya terurai, membuatku tak
tega untuk merusak suasana hatinya. Kini kami berdiri di taman kota, ia
berulang kali menjepret obyek menarik yang membuatnya bersemangat. Bahkan ia
menggodaku untuk bersaing mengambil gambar.
Senyum dan tawa kami
terkembang, telah banyak gambar yang kami ambil. Semuanya obyek unik yang
menarik, bahkan ia memotretku saat tersenyum. Bersamanya kenapa terasa sangat
berbeda, seolah seketika aku melepaskan semua penat di dada. Ia menggandengaku
erat, melewati sebuah jembatan kecil yang di bawahnya bertebaran ikan koi yang
menawan. Sekarang kami berdiri di kubangan air mancur, bermain-main kecil saling
menciprat air.
Burung-burung camar yang
bertengger di ranting pohon itu mengamati kami, ikut tersenyum heran dengan
suasana janggal yang mempesona. Kami duduk di sebuah bangku kayu di tepi taman,
di bawah rindangnya pohon cery yang sedang berbuah. “Kau ini, keinginan bila di
tahan Cuma bikin wajah manismu jerawatan.” Ujarnya tenang menyentil jidatku.
“Apa?” tanyaku heran, seolah dia tahu apa yang kurasakan. Apa wajahku ini
benar-benar seperti orang malang.
“Hahahaha…lihat ini.” ia
menyodorkan hasil jepretannya yang terisi senyumanku. “Kau bisa tertawa.”
“Emang aku batu…?” Ujarku manja menggembungkan pipiku. “Aduh, kenapa aku jadi
bertingkah seperti ini dengannya. Sikapnya seperti orang yang lebih dewasa, dia
sedikit pun tak ragu denganku.” pikirku. Jantungku berdegup kencang saat ia
memegang tanganku, gugup hingga meradang ke perutku.
“Meski pun itu beban, tapi
kau bisa mewarnainya bersamaku. Biarlah sebuah kesenangan kecil ini melukis
indah penuh pelangi di dalam hatimu. Rumah sakit mungkin memabosankan, tapi
semuanya bisa kau lawan dengan kesenanganmu. Biarlah itu mengalir mengisi
relung hatimu yang kesepian.” Ujarnya panjang lenbar sambil membelai rambutku.
Kenapa dengan bocah ini,
apa dia punya indrakeenam? Semua ucapannya membuatku tenang dan nyaman.
Kebersamaan ini, sesuatu yang berbeda. Tanpa sadar kepalaku terhuyun ke
pahanya, aku tiduran dengan nyamannya. Ia membelaiku penuh kasih sayang. Kenapa
aku tak menolak?
“Terimakasih, karena kau
aku bisa hidup satu bulan lagi…” ujarnya pelan. Aku terbeku sejenak, memikirkan
kata-katanya ini. “Kenapa kau berterimakasih?” tanyaku cepat sambil memainkan
jariku di pahanya. “Operasi itu, membuatku bertahan hidup meski sejenak.” Aku
terbelalak ragu. Bangkit dan langsung duduk menatap wajahnya. Apa dia orang yang
waktu itu kuoperasi bersama rekan-rekan kerjaku? Mungkinkah?
“Saat aku hampir tertidur
dengan obat bius yang meracuniku, aku melihatmu datang mendekat dengan tangan
yang gemetaran. Hahaha…kau ini, meski professional ternyata bila wanita tetap
saja punya rasa takut dan iba yang besar.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.
Tanpa sadar air mataku
mengalir perlahan membasahi pipiku. Sejuk dan dingin bersama terpa angin yang
perlahan mengibas rambut panjangku. Dia…apa dia tengah menguatkanku. Padahal
sedikitpun aku tak menyentuh operasi itu, tubuhku terlalu takut untuk
menyelamatkan sebuah nyawa yang ternyata sangat berharga sepeti ini. “Apa yang
telah kuperbuat selama ini? aku menyiakan sebuah jalan luarbiasa yang sangat
indah. Menyelamatkan orang ternyata lebih memuaskan dari pada hanya mengambil
secarik gambar dari bagian hidup yang terlewatkan.” Pikirku. “Terimakasih bila
kau berpikir seperti itu. Tapi aku..” jarinya menghentikan ucapanku. “Shuuuuut…lihat…”
ujarnya menarik tanganku menyentuh dadanya. “Jantungku berdetak kencang
karenamu.” Aku ragu harus berkata apa, tapi meski aku tak menolongnya,
ucapannya membuatku bangga.
“Aku menyukaimu. Kau
maukan jadi pacarku?” ujarnya. Mataku terhentak ingin keluar, dia tak ragu-ragu
dengan ucapannya. “Apa benar kau menyukaiku? Mungkin kau hanya merasa sangat
berterimakasih denganku hingga kau menyukaiku.” Ujarku dingin. “Kau ini…”
ujarnya sambil sekali lagi menyentik jidatku. Aku tersipu malu dengan
senyumannya. “Jangan anggap remeh kata-kataku. Mari kita buat lukisan abstrak
dalam hidup kita. Kadang yang aneh itu lebih indah bukan?” ia tersenyum sambil
memegang tanganku meyakinkan ucapannya. “Meski kau pikir hubungan kita ini
aneh, tapi aku nyaman bersama denganmu…” ujarnya. Sekali lagi aku tertegun
penuh makna. Ternyata yang kita rasakan itu sama, mungkin ini akan membuatku
lebih berarti bila bersama dengannya. Tapi apa ini benar?
“Jadi, apa keputusanmu?”
Langganan:
Komentar (Atom)
