Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Minggu, 13 Juli 2014

windithamrin: Dhikr Clothes,.. juaranya kaos keluarga muslim

windithamrin: Dhikr Clothes,.. juaranya kaos keluarga muslim: Assalamualaikum wr.wb. kini hadir kaos keluarga muslim "Dhikr Clothes" dengan desain  lucu dan unik loh,.. kaos dengan model ...





KOK ndak ada harganya??

Kamis, 10 Juli 2014

Pijakan Jatidiri




Oleh: David Sukma
Altar langit merekah jingga bertabur gumpalan awan kelam yang teriris kilat berjalan mendekat. Diujung sana sang mentari tengah barjingkrak hendak menutup harian. Siutan angin gemerisik membelai ujung-ujung hijau padi. Bulir-bulir kesejahteraan merunduk diujungnya yang sebulan lagi siap panen. Auman kerbau di sungai membawanya bangkit dari alam air dan mendekati rerumputan untuk memuaskan kehendak perut yang keroncongan.
Hamparan padi di tepi sungai menemaniku memandikan kerbau. Desa ini masih tentram dan damai oleh suasana alam yang terbuai masa jauh dari jangkauan orang-orang rakus. Ditepi jalan ada sebongkah pohon besar yang disekitarnya berserakan tanaman padi yang tumbuh subur. Kulihat seseorang di bawah pohon itu melambaikan tangan padaku. Wajah itu, kulit putih itu, apa itu Ardan si bocah kota? Aku pun berjalan mendekat. Aku tahu bahwa desa ini memberinya kenangan buruk.
“Agus…,” ujarnya saat aku semakin dekat. “Duduk, temani gue,” pintanya lesu. Aku pun duduk disampingnya turut bersandar pada pohon rindang ini. Ransel yang tersandar di pohon penuh sesak oleh semua perlengkapan pribadi. “Jadi kamu sudah mau kembali ke Jakarta to, Ardan?” tanyaku ragu. Ardan mengangguk, memegangi kepala yang katanya sudah sakit sejak sebulan yang lalu. Kulihat layar hanphone yang ia pegang berulang kali berganti-ganti gambar, dialah si gadis desa pujaan Ardan. Foto-foto Yanti pasti menjadai sebuah kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Gadis desa pertama yang memberinya sebuah kedamaian.
“Ini semua salah gue, Gus. Andaikan Yanti nggak mengenal gue, mungkin Yanti bakal menikah sama elu dan hidup bahagia sampai punya banyak anak dan mungkin elu kelak bakal mandiin kebo lu itu  bareng anak-anak lu dan Yanti,” ujarnya miris menatap langit muram. “Sudahlah, Ardan. Yang lalu biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang, lupakan desa ini. Jadilah orang besar dan kamu bisa punya banyak kebo di kota sana,” ledekku mencoba mencairkan pikirannya. “Hahaha...kebo? Kebo di Jakarta itu bentuknya batangan. Tinggal makan, Gus. Hahahaha…punya banyak kebo lu bilang. Hahaha…” kulihat Ardan tertawa-tawa geli menggelengkan kepala. Ia memegang perut dan masih memegang kepalanya besama hanphone.
“Gue pikir semuanya bakal berjalan lancar, Gus. Tapi semua usaha keras gue bakal gue hentikan sampai di sini.” Kucoba diam mendengar semua perkataan Ardan, sebulan yang lalu dia adalah bocah kota yang aku benci, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai memaklumi keberadaannya. “Cerita saja kalau kamu masih punya beban. Jadi kamu bisa pergi dari desa ini tanpa pikiran yang membebani kamu…” ardan melihat kearahku, ia menarik nafas panjang seolah mengiyakan kata-kataku.
Dulu gue kesini dengan satu tujuan, selesaikan semua ini dan wisuda dengan cepat. Jadi gue bisa nggantiin bokap gue di perusahaan. Pertama gue datang ke desa ini yang gue liat adalah Yanti, dia bermain air dengan kebomu itu di sana. Gue potret dia diam-dam. Dan malam harinya ternyta dia adalah putri dari pak kepala desa tempat gue menginap. Beberapa hari gue di sana, setiap selesai mencari data, gue selalu mencoba mendekati Yanti yang tiap sore selalu menyirami bunga mawar putih yang tumbuh cantik di dalam pagar di depan emperan rumah.
Ardan mulai memutar otak melihat nosatalgia benak. Kakinya lurus dan tangan memegang hanphone melihat-lihat gambar Yanti yang tersenyum manis. Entah kenapa gue bisa suka sama dia, Gus. Tiap sore gue duduk di emperan rumah untuk menulis laporan observasi yang gue cari dari mulut-mulut warga. Diterpa semilir angin bersama bulir-bulir serbuk sari yang terhempas ke udara. Tiap sore itu pula harum tubuh Yanti mengelilingi gue. Rambutnya yang hitam pekat, panjang sepinggang. Badannya yang semampai ditemani kulit kuning lansat. Wajahnya catik dan senyumnya adu bidadari. Benar-benar tepat bila dia disebuat bunga desa.
Tapi saat gue tahu elu adalah calon suami Yanti, dada gue mulai membengkak oleh setan yang menyeruak bersama bilah pisau neraka yang menyusupkan kekecewaan. Semakin gue memikirkan itu, semakin tubuh gue mulai mengambil inisiatif. Sore itu gue ngobrol sampai malam, dia tertawa-tawa riang dengan semua candaan kota yang gue lantunkan. Dia pun menanggapi semua yang gue katakan, seolah dia memang ingin dekat. Tapa menunggu lama saat ia bicara tanpa memandang gue, langsung gue cium pipinya. Yanti terperangah kaget dan menyentuh pipi. Wajahnya merona merah, gue pun merasa seperti ada yang menggelitik di hati. Gue tersenyum menatapnya, tapi Yanti langsung berlari masuk ke dalam rumah. Haha..malam itu  adalah amalm yang lucu.
Aku geram mendengarkannya. Lucu kau bilang, kau meracuni perasaan Yanti yang sudah kupelihara sejak lama. Kau membuatnya bimbang dengan perasaannya. Gemerisik ranting pohon yang bergoyang diterpa angin sore menutupi panasnya dadaku yang mendengar cerita Ardan. Parang yang tergeletak disampingku berulang kali kulihat. Ujungnya mengkilap meski langit senja membisikkan kesabaran.
Suatu malam aku mendatangai rumah Yanti, sungkem kepada kedua orang tuanya yang memang sudah merestui hubungan kami. Kami ngobrol sejenak di ruang tamu sampai akhirnya Yanti menemuiku. Kami pun duduk berdampingan membicarakan banyak renungan dan sesekali menggodanya. Namun dari dalam rumah seseorang keluar dari salah satu kamar menuju ruang tamu dan menyapa kami dengan santainya. Saat melihatnya rasa khawatir langsung menyerbu batinku, membawaku pada pikiran-pikiran buruk.
“Yanti, siapa orang itu?” dia tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Dia mas Ardan. Orang kota yang datang kemari untuk menulis sekripsi.” Tanganku mengepal keras, otot-otot tangan menguat padat. Keberadaannya disini akan mengganggu hubungan kami pastinya. Semua pikiran negateif terbayang dibenakku, hatiku pun turut merasakan pemikiran-pemikiran kacau ini. Namun akal sehatku bergmam, “Sabar, orang itu hanya numpang lewat di rumah ini. Ingat Gusti, wanita ini belum sepenuhnya jadi milikmu. Dia masih punya hak untuk menentukan pilihannya. Bila kamu ingin memilikinya, secepatnya kamu harus membuat keputusan. Lamar dia.”
Rasa sesak di rongga dada seketika menghilang, senyum menilik masa menemaniku untuk semakin optimis dengan Yanti. Hubungan ini sudah lama kami bina, orang tua kami pun sudah saling menyetujui. Hanya tinggal selontar kata yang akan membawa kami dalam pinangan.
Malam semakin larut terbirit waktu. Siutan angin malam menggoda rinai bulu di leher. Di depan pintu rumah, Yanti melepas kepulanganku. Namun saat sampai di pertengahan jalan, kulihat Ardan berdiri di tepi sambil memutar-mutar hanphone_nya. “Kalau nggak salah namamu agus. Jauhi Yanti,” tegasnya langsung berjalan melewatiku. Ini seperti sebuah peringatan dari seorang pendatang yang tak tahu diri.
“Hei, berhenti kamu. Saya ini calon suami Yanti. Seharusnya saya yang bilang seperti itu. lebih baik kamu pergi dari desa ini. lagi pula tidak seharusnya kamu ada di sini,” teriakku. Tapi ia tetap berjalan meninggalkanku. Dadaku penuh geram melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, namun tiba-tiba tubuhnya berjalan gontai dan akhirnya rubuh. Seketika itu aku mendekat. Darah mengalir di hidung, kesadarannya lenyap entah kemana. Tanpa pikir panjang aku langsung menggendongnya kembali ke rumah Yanti.
Auman kerbau  membangkitkan kami dari lamunan. “Hahahaha…dasar kebo,” ujar Ardan. “Agus kau masih ingat malam itu?” kulihat ia mengambil sebendel kertas dari dalam tas dan membukanya. Semilir angin membawaku memerhatikan mulutnya bergumam menceritakan kejadian itu.
Waktu itu sore seperti ini, tapi lolongan corong masjid sudah berkumandang di kedua desa yang saling berbatasan sawah. Aku dan Yanti tengah berjalan pulang membawa kerbau dari sungai. Di jalan berbatu itu kami dihadang empat orang pemuda desa sebelah. Mereka adalah orang-orang yang juga menyukai Yanti, namun tanpa banyak bicara salah seorang mendekat dan langsung memukulku hingga aku terjerembab jatuh dan punggungku terbentur batu jalan. Yanti sontak berteriak. Namun tiba-tiba dari belakang mereka Ardan berlari dan langsung memukuli mereka berempat. Entah bagaimana ia bisa ada di jalan ini, mungkin ia baru selesai mewawancarai penduduk setempat.
“Agus, bawa Yanti pergi dari sini. Serahkan saja mereka padaku,” teriaknya setelah memukul jatuh seorang berkulit coklat gelap. Aku pun bergegas bangkit dan menarik tangan Yanti membawanya berlari bersama kerbau yang begitu malas berjalan.
Malam tiba, purnama bertengger cantik di altar langit. Ditemani jutaan bintang yang meretas ditiap malamnya, mereka berpendar-pendar menyebarkan panji-panji kehidupan. Di ruang tamu, aku bersama keluarga Yanti menunggu kepulangan Ardan. Sudah jam tujuh dan Ardan masih belum terlihat.
            Dari pintu depan sebuah tangan terjulur masuk diikuti tubuh Ardan yang mukanya penuh lebam dan tertutup merah darah. Seketika aku berlari menyongsongnya yang langsung terjatuh sebelum memasuki rumah.
            Larut sudah malam ini, berulang kali Yanti mengkompres kepala Ardan yang lebam. Tubuhnya yang kotor telah dibasuh air hangat. Kulihat matanya perlahan-lahan terbuka, ia pun segera memegang kepalanya dan duduk di atas kasur tidurnya.
            “Agus, Yanti, pak Kepala desa,” ujarnya melihat sekeliling. “Mas, kepala kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya Yanti sambil memeras kain kompres. “Lu nggak perlu khawatir, Yanti. kepalaku memang sepertinya sudah bermasalah sebelum aku sampai di desa ini. mungkin sudah dangkal umurku. Hahaha…,” ujarnya santai.
Aku dan pak kepala desa saling memandang seolah tahu ada sesuatu dikepalanya. Memang seblum ini aku juga melihatnya memegangi kepala. Apa mungkin ia punya penyakit di sana?
Sekali lagi auman kerbau terdengar dan Ardan langsung melihat kearahnya. “Gus, sudah semakin sore. Kebo lu itu mungkin sudah ingin pulang. hahaha…” ia tertawa lebar sambil mengusap-usap rambut belakang kepalanya. “Ah, ngomong apa to kamu, biar saja keboku itu. Aku temani kamu nunggu bis sampai…”
“Ah, ada sms Gus,” ujarnya memotong perkataanku. Kulihat raut wajahnya cemas membaca sms itu. Bahkan ia kesal sampai memukul-mukul tanah. “Ardan…”
“Ah…mungkin ini moment paling berharga yang gue dapatkan di desa ini.” ia menyeka air matanya yang perlahan merembas keluar. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan. “Berharga? Aku pikir kamu itu nggak ngapa-ngapain, Ardan?” tanyaku ragu. “Hus! Sembarangan…selama ini gue nggak pernah ngelakuin banyak hal seperti ini, Gus. Apa lagi berusaha sendiri mencari data demi kelulusan gue. Dan bahkan disini gue mendapat teman dan keluarga baru yang ternyata lebih peduli dari pada keluarga gue yang di Jakarta. Thaks bro…” ujarnya melempar tangan ke pundakku.
“Doakan tahun depan gue masih idup. Hahaha…” ujarnya sepele. Jidatku mengkerut mendengarkan perkataannya. “Ardan, kamu ngomong apa to? Kamu kan masih muda, tentu umurmu msaih panjang. Pasti tahun depan kamu bisa main ke sini lagi,” terangku menguatkannya.
“Entahlah, Gus. Ada sesuatu di kepala gue yang membuat gue risau. Ini seperti bom waktu, Gus. Hahaha…” sekali lagi ia tertawa sepele. Aku tahu ia tengah sedih dengan penyakit yang ia derita.
“Huwaaa…bis gue udah datang, Gus.” Ia berdiri, mengambil tas punggungnya dan ia kenakan. Bis kota di ujung jalan itu masih lumayan jauh.
Kami saling berhadap-hadapan, wajahnya lega dari penantian lama untuk menunggu datangnya bis kota ini. Ia menjulurkan tangan, kami pun saling berjabat bahkan ia langsung memlukku erat. “Thank you Bro…lu udah gue anggep seperti saudara sendiri.” Ia menjabat tanganku erat. Entah apa yang ia katakan, aku tak tahu maksud dari ucapannya. Kedekatan kami hanya sebatas itu, tapi ia sudah menganggapku seperti saudara. Apa dia menemukan jati dirinya di desa ini?
Suara laju bis menderu semakin dekat. Matanya terlihat tajam mengamati bis kota. “Ok, sampai ketemu lagi,” ujarnya sambil berlari, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berlari kembali mendekatiku. Ia meraih tas punggung dan membukanya, mengelurkan sebendel kertas putih. “Ini bro, sekirpsi gue. Baca di rumah,” ujarnya tersenyum lebar. Ia berlari mendekati jalan hendak mengehentikan bis. Saat bis itu berhenti di hadapannya, ia menoleh melihatku, melambaikan tangan dan tersenyum lega sebelum akhirnya masuk ke dalam bis dan pintu pun tertutup membawanya pergi menjauh dari lingkungan desa ini.
Bis kota semakin berpaling dan menghilang di ujung jalan yang menurun. Bendel kertas ini tak begitu tebal. Bukankah ini hasil pekerjaannya selama ini, kenapa ia serahkan ke padaku? Seruan adzan terdengan dari desaku, langit jingga pun telah muram penuh dengan mendung kelam. Angin sawah yang dingin menerpa tubuhku yang berjalan mendekati kerbau di atas ladang rumput.
Sambil berjalan, kubuka lebar pertama dari sekripsi ini. “Bom Waktu.” Tertulis besar di cover awalnya. Kubuka lagi lembar kedua, kulihat darfat isi yang sampi 37 bab. Semuanya memiliki judul dari masing-masing bab ini. Kubuka lagi lembar ketiga, kubaca tulisan kata pengantar. “Untuk desa sepi yang damai oleh masa.” Kepalaku miring ketika membacanya, rasa heran membelenggu pikiranku ingin semakin membuka di tiap lembarnya.
Kubuka lagi beberapa lembar. “Apa seperti ini yang namanya sekripsi? Kenapa seperti cerita?” pikirku setelah membaca beberapa lembar lanjutan. Kubalik lagi untuk melihat lembar kata pengantar.
Kerbau di depanku mengaum ketika aku semakin dekat. Kutepuk-tepuk punggungnya yang penuh lemak dan aku pun lompat ke punggungnya. Sambil berjalan kurasakan tulang-tulang kerbau menusuk-nusuk pantatku, berlenggang kekanan dan kekiri mengikuti irama kaki kerbau.
Semakin kubaca kata pengantar ini semakin kumengerti maksud tulisan Ardan. Maka kusimpulakan untuk mengkopinya dan akan kuserahkan ke perpustakan SD dan kantor kepala desa besok pagi. Ardan ternyata seperti inilah hasil observasimu selama ini_kau mengambil makna yang begitu dalam hingga aku bingung dengan pikiranmu.

Selasa, 08 Juli 2014

Kesurupan



Oleh: David Sukma Putra           
 Rumput-rumput kering tampak jingga di lapang sekolah, telah kering oleh musim dan terik yang menyengat. Semua siswa berhambur di lapangan, duduk mengepung pada sebuah titik merah keramaian. Dengan tubuh besar maupun kecil semua terlihat sama. Tinggi dan rendah pun telah terhapuskan. Derajat si kaya dan si miskin di antara mereka melebur dan memudar. Dalam kumpulan inilah semua sama dan tak ada yang membeda-bedakan. Hanya saja status senior dan dewan pembimbing yang menjadi faktor penghormatan pembeda. Namun datangnya malam, ia telah berusaha menyamarkan.
Semula kita sanggup berdiri tegak membusungkan dada dan menyombongkan jidat menyambut istimewanya kebersamaan. Namun semakin mentari menyusup menyembunyikan terang, kegelapan mulai merangsek bersama udara yang kian menusuk tulang. Kini kami hanya mampu meringkuk riang diantara jago merah yang berkibar perkasa di tengah lapang dan semilir angin yang menyayati.
Layaknya serpihan emas yang berhambur di pelataran lapang, rumput-rumput kering pun harus turut serta mengibarkan kesepian. Tapi untuk mereka teman-temanku, hal ini terasa biasa karena tawa dan latah mereka telah mengalahkan senyap dan sunyinya kegelapan yang berkubang. Apalagi untuk aku yang terkenal sebagai cewek tomboy.
“Huft… setan-setan malam pun akan kukencingi sambil berlari bila sampai berani menunjukkan batang hidungnya kepada si jagoan karate ini.”  
Dalam rangkulan malam yang terasa mencekam, terlihat wajah riang anak-anak SMA 1 Jogja yang menghangatkan diri dalam acara api unggun pada malam terakhir kegiatan Persami. Mereka melepas letih bersama setelah kegiatan outbond yang benar-benar melelahkan.
            Dita mendekat. Langsung bersila dan berbisik di telingaku. “Debby, masih lama nggak sih ni api unggun. Aduuu…kebelet niii.”
Tanpa di perintah, Desya bergabung dan melempar salam. “Kenapa, Dit? Kalo kebelet ya sana pipis sendiri. Hahahaha….” Desya tertawa seakan itu sebuah lelucon. Dita meliriknya sinis. “Dasar kamu nggak setia kawan!”
            “Debby, ayoooo… udah nggak tahan niii..” tambahnya. “Hih, kamu tuh! Kamu nggak lhiat apa? Bentar lagi laaa… tuh si Radit di suruh ngungkapin cinta sama si Dian, pasti si Dian bakal malu-malu kucing nih. Iya kan Sya… Si  Dian kan orangnya gampang banget malu.” Desya geli dengan adegan romance di depan sana.
            Dengan cepat Desya mengiyakan kata-kataku. “Iya Deb. Adu… jadi pengeeen…”
            Meliha Desya dan aku keasyikan sendiri dan tidak memerdulikannya. Dita pun geram sampai memukul kepalaku dan Desya. “Tuk…tukk..”
Aku menoleh diikuti dan Desya dengan tatapan tajam dan gigi yang menyeringai. Membuat Dita takut dan merasa bersalah.
Dita menghembus nafas dengan berlebih. “Ih! Padahalkan aku yang seharusnya marah.. Kok malah kalian si yang marah… Aku kan cuma minta ditemenin...”
Dengan sigap Debby lalu berjalan mendekati kak Davin selaku salah satu Bantara yang memimpin acara ini.
            “Kak Davin. Aku minta izin mau ke kamar kecil.”
            Ia mengangguk. “Mm. Ya udah, ayok.” Kak Davin lalu berdiri untuk mengawal Debby.
            Namun Debby terhenti. Ia bingung melihat kak Davin yang ingin mengantarkannya. Karena bingung ia pun garuk-garuk kepala. “Eh, bentar-bentar. Kak Davin mau ke mana?”
            “Lhooo.., ya ngawal kalian lah! Ntar kalau terjadi apa-apa sama kalian gimana cobaaa? Hem!”
            Debby bersungut-sungut sambil manyun. “Iiiih… masak cowok yang ngawal si... Kita kan mau ke kamar mandi cewek. Lagian ini kan di sekolah. Nggak bakal terjadi apa-apa lah. Kak Davin tu terlalu khawatir sama Debby ah…ah..ah.. hahaha.” Namun kali ini Debby malah berlebihan melihat sikap kak Davin yang dimatanya terasa super ganteng.
            Kak Davin memegang peluitnya dan mendekat. “Cetuk! Mulutmu tuh bikin merinding.”
Sekali lagi kepala debby terkena pukulan. Kali ini debby di pukul oleh kak Davin menggunakan peluit pramuka yang dari tadi bergelantungan kesana-kemari mengikuti tingkah laku kak Davin.
            “Aduh!! Kak Davin!!!” teriak Debby keras.
Mendengar suara Debby yang berteriak kesakitan hanya karena hal kecil. Semua peserta api unggun langsung terdiam. Mereka yang tadinya tengah tertawa-tawa melihat temannya di depan dirayu oleh salah seorang temannya. Kini menolehkan  ke arah Debby.
            Citra yang berdiri bersama para bantara, meliriknya. “Davin! Ini kan malam terakhir. Kamu tuh jangan terlalu kasar sama adek kelas! Ini kan malam santai…”
            Segera Davin berkoar tak mau salah. “Citra, yang kasar tu siapa…? Ini si Deby aja yang nyolot dari tadi.”
Salah seorang peserta tiba-tiba ada yang bersorak,  “Huuuu, kak Davin nakal…” tiba-tiba tanpa dikomandoi lagi, seluruh peserta langsung menghujam kak Davin secara bersamaan.
            “Huuuuuuuu… Kak Davin nakaaaal… huuuuu… hahaha.” Seluruh peserta malah menjadikannya sebagai bahan candaan. Sebenarnya bukan hanya peserta tapi para Bantara pun ikut menertawainya.
Tapi apa respon kak Davin?
            “Hei!! Apa yang lucu?! Ayo ketawa lagi! Ayo! Kenapa pada diem! Yang lucu tadi manaaaa… ayo diketawain lagi! Kalian mau pada jadi jagoan apa?! Gimana coba… silahkan kalian ketawa. Hei! Malah pada melototin aku. Lanjutin acara.” tunjuknya pada dua orang teatrikar perayu di dekat api unggun.
            Namun tiba-tiba. “Plugh…plugh.”
            Tanpa aba-aba, kak Davin langsung kembali berkoar keras. “Aduh… Hei! Siap… aaa…” suaranya melengking hingga mendesis dan akhirnya hilang.
 Kak Davin berteriak marah karena ada yang memukulnya. Namun saat menengok kebelakang ternyata pak Minto yang memukulnya. Jelas saja ini membuatnya kaget, di tambah lagi dia telah marah-marah tadi. Hauft merepotkan.
            “Eeeeeiiiiit… Bapak, maap, pak map ya. Gak sengaja… Kirain tadi siapa? Hehehe...” ia cengengesan sambil mengusap-ngusap kepala karena malu.
            “Huwakakakakaka….” Kembali seluruh peserta meledakkan tawa melihat tingkah konyol kak Davin yang tadi sempat marah-marah.
            “Davin… Davin… kamu tuh…” seru Citra sambil tersenyum manis kepada kak Davin.
            “Citra, malah ketawa si…” sahutnya cepat.
Kak Davin yang masih berdiri dan menjadi sorotan para peserta persami seperti tidak menyadari kalau temanku si Dita ini benar-benar sudah tidak tahan ingin ke kamar kecil.
            “Pak Minto... ini lho… kasihan Dita yang udah kebelet.” rengek Debby.
Pak Minto lalu memukul pantan kak davin sekali lagi dengan tongkat pramuka yang sejak pagi ia bawa-bawa.
            “Plugh..” lalu menuding-nudingkannya ke arah kamar mandi tanpa mengatakan sepeser kata pun. Dengan wajah yang mengkerut sambil sedikit tersenyum saat berhadapan dengan kak Davin. Ekspresi seperti ini merupakan kebiasaan pak Minto yang ramah dan tidak pernah marah kepada anak didiknya. Gayanya yang perlente dengan kacamata hitam yang tak pernah luput dari tampang tirusnya dan rambut klimisnya yang lebat. Begitulah pembina pramuka kami.
            “Iya pak, iayaaaa….” Lalu kak Davin berjalan di depan_mengawal kami yang ingin ke kamar kecil.
Kamar kecil yang berada di sudut sekolah merupakan suasana mencekam kedua setelah ruang OSIS yang kabarnya sering ada anak yang kesurupan. Bahkan mitos-mitos tentang kedua lokasi itu telah menjadi sarapan berhari-hari oleh para siswa-siswi SMA ini.
Kamar kecil di sudut sekolah ini hanya memiliki dua buah lampu penerang berwarna kuning di sudutnya. Membuat suasana malam semakin menakutkan. Kami berempat berjalan semakin mendekat dan suasana kelam pun seperti mulai menarik kami yang semakin mendekat pada satu tujuan yang sama.
Aku yang tomboy ini pun kini merasa takut dengan suasana kamar kecil ini. Baru kali ini aku kemari saat malam hari, sepertinya wajar bila perasaanku tidak enak. Bulu kuduk ini sekarang terasa tegang. Sepertinya mereka takut akan sesuatu lain yang datang. Haduuu…  hatiku semakin kacau memikirkan hal ini.
            “Debb… Debby. Debby…Hei. Jangan bengong. Kalian semua tolong jangan bengong. Jaga agar pikiran kalian tidak kosong. Semuanya tolong baca basmalah dalam hati. Kalian semua tahu kan gosip tentang tempat ini. Jadi tolong jangan diremehkan. Ditta, buruan kamu pipisnya.” Seru kak Davin yang khawatir kepada kami bertiga.
Tapi perasaanku benar-benar tidak enak. Seluruh bulu kudukku sepertinya ingin kabur dan lepas dari kulitku. Uuuu…. Kuharap tidak terjadi sesuatu di tempat ini. Setan-setan tolong pergi jangan ganggu kami.
Kulihat kak Davin yang sedang asik bercanda dengan Desya tidak merasa takut sedikit pun dengan suasana di tempat ini. Lalu apa hanya aku yang merasa tidak enak. Badanku pun sepertinya semakin berat, seolah ada sesuatu yang mendekat dan memelukku. Bulu kuduk pada bagian tertentu sepertinya berdiri tegap karena ketakutan. Rasa takut ini semakin lama semakin kuat dan mulai menguasai tubuh ini.
Pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Ditta yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya. Ia keluar menghampiri kami dan mengajak untuk kembali ke acara api unggun bersama yang lainnya.
            “Kak Davin, udah ni. Yuk balik.” Pinta Ditta lembut.
Kak Davin hanya meresponnya dengan senyum dan anggukan lalu mambalikkan badan dan meninggalkan tempat ini. Namun baru dua meter aku melangkah. Sepertinya badan ini semakin berat dan enggan untuk berjalan. Bahkan sudah kupaksakan untuk melangkah sepertinya masih tetap benar-benar berat. Kepalaku tiba-tiba pusing. Tanah yang kuinjak sepertinya bergelimpangan membuat tubuhku tidak setabil dan akhirnya aku rubuh.
Saat aku tebangun kembali. Aku berada di ruangan guru yang dikelilingi kakak-kakak Bantara dan masih ditemani kedua temanku. Badanku terasa sakit semua. Kepalaku juga terasa benar-benar berat. Aku tidak tahu sebenarnya aku kenapa? 
Ditta yang duduk di samping kasurnya mulai melihat Debby membuka mata. “Debby, kamu sudah sadar? Pak Minto, debby sudah sadar ni,” teriak Ditta pelan.
Saat pak Minto akan mendekat tiba-tiba tangan Debby mencengkeram tangan Dita dengan kuat. Matanya berlarian kesana-kemari melihat sesuatu yang entah diarahkan ke mana. Tatapannya tajam dan kuat, namun tatapan itu kosong.
Dita yang khawatir lalu memegang kedua pipi Debby. “Debby… Debby. Kamu ngeliat apa, Debb? Debby tolong fokus Debb. Kamu ini kenapa?”
Kasur kecil itu sekarang bergetar karena tubuh Debby mulai kejang-kejang. Bahkan Debby mulai berteriak-teriak kacau. Matanya terus melotot dan berlarian kesan-kemari akan tujuan yang tak pasti. Kak Davin, Ditta, dan pak Minto lalu mendekat memegangi kaki dan tangan Debby.
            Kak Davin melirik pak Minto. Ia begitu khawatir dan takut dengan tingkah Debby. “Pak Minto, sepertinya Debby kesurupan Pak.”
Pak Minto mendekat langsung memegang rahang bawah Debby dan mulai membacakan basmalah dan ayat-ayat Al’Quran lainnya. Tubuh Debby yang tadinya kejang-kejang tiba-tiba berhenti. Sepertinya Debby pingsan…
Tepat pukul satu malam kejadian ini berhenti. Tubuh debby terlihat benar-benar lemas. “Pak minto, apa debby nggak apa-apa? Yang kutahu, orang kesurupan itu tubuhnya pasti sakit semua.”
            Ditta menatap kasihan melihat teman dekatnya terkapar. “Kak Davin, ini pasti gara-gara aku yang ngajak Debby ke kamar kecil. Dia pasti nggak ikhlas dengan ajakanku. Makannya dia marah sampe setan masuk ke badannya.”
Pak Minto sepertinya tersenyum lebar mendengar kata-kata Ditta. Pak Minto yang tengah duduk santai di kursi guru langsung berkumandang mengomentari perkataan Ditta.
            “Ditta, orang kesurupan itu ada alasannya. Pertama karena orang itu kotor, mungkin Debby lagi menstruasi. Kedua karena pikirannya yang kosong. Jadi mudah banget buat di masuki setan. Ketiga karena Debby mungkin berbuat sesuatu yang tidak baik, dalam artian dia telah mengusik keberadaan setan itu. Tapi bisa juga orang lain yang berbuat buruk, namun Karena tubuhnya kuat dan bersih maka ia tidak kesurupan. Dan si setan akhirnya mencari tubuh yang mudah untuk dimasuki. Terutama si Debby ini.” Jelas bos Minto panjang lebar.
            “Mmmmm…. Tapi kasian Debby, pak. Pak, Debby bangun tuh.” Kata Desya menunjuk Debby dengan dagu.
Debby yang merasa bingung dengan apa yang terjadi, ia merengek ketakutan. “Pak, Debby takuuuut…”
            Pak Minto mendekat dan membelai rambut Debby. “Jangan takut Debby. Kamu di sini sama teman-teman. Semuanya di sini buat kamu.”
Kini mata Debby kembali berputar-putar kacau mengarah ke berbagai penjuru ruangan. Pak Minto yang sigap lalu menampar-nampar pipi Debby. “Debby, sadar Debby. Sadar.. Debby. Baca asma Allah, jangan takut. Kamu harus kuat.” Sekali lagi pak Minto menampar-nampar pipi Debby.
            “Arghhhh…. Sakit pak… badan Debby semuanya sakit. Aduh, tanganku, tanganku ditarik ini… tanganku adu adu.. sakiiiit…”
            “Debby, kamu harus kuat Debby. Ayo ikuti bapak baca asma Allah. Ashadu alla ila haillallah…” Pak Minto membantu Debby berkata.
Asma Allah yang diucapkan pak Minto sepertinya tidak berpengaruh terhadap Debby. Mungkin karena Debby tidak bisa ikut mengucapkannya. Tubuh Debby kini kembali kejang-kejang. Semua orang yang berada di ruang UKS itu langsung mendekat dan memegang tangan dan kaki Debby dengan kuat. Kini Debby kembali berteriak-teriak kacau. Entah apa yang ia takutkan. Matanya berulangkali berlarian kesana kemari. Lalu pak Minto mengambil sebuah inisiatif.
            “Ayo semuanya, lepasin, lepasin tangan kalian.” Perintah pak Minto.
            “Tapi pak, nanti Debby gimana…” kata kak Davin khawatir.
            “Sudah, turuti saja perkataan bapak. Ini mahluk tidak mau keluar dari tubuh Debby. Biasanya cara lain untuk menangani kasus seperti ini, biarkan saja dia teriak-teriak. Biarkan  mahluk ini merasuk total ke tubuh  Debby. Setelah itu kita turuti semua permintaannya.”
“Pancal juga boleh pak..” Sahut kak Davin kesal yang sedikitpun malah tak membantu.
“Cuma itu jalan satu-satnya agar mahluk ini mau keluar dari badan Debby.” Jelas pak Minto.
Semua tangan yang tadi memegangi Debby kini mulai melarikan diri untuk melepas tubuh Debby. Debby yang kejang-kejang di atas kasur UKS kini mulai tenang. Namun tubuhnya merangkak ingin turun dari kasur. Lalu pak Minto mendekat dan memegang tubuh Debby agar tidak ke mana-mana.
            “Davin, pengang kaki Debby dengan kuat.” Perintah Pak Minto.
Tanpa mengatakan apapun lalu kak Davin memegang kaki Debby.
            “Hei, kamu siapa? Maumu apa? Kenapa kamu masuk ke tubuh anak ini?” tanya pak minto kepada Debby yang tengah kesurupan sambil melet-melet.
            “Aku Singo Dimejo, aku haus, aku mau minum.” Jawab Debby sambil menggeram-geram.
            “Desya, ambilkan minum.” Perintah pak Minto.
            “Sudah minum kan? Sekarang ayo keluar. Ini bukan tubuhmu!” bentak Pak Minto.
            “Cerewet, aku lagi betah ni. Asal kamu tahu, gara-gara kalian ini pacarku jadi kabur .” geram Debby.
Pak Minto yang keheranan mendengar jawaban debby. Lalu kembali bertanya. Tapi didahului oleh kak Davin.
            “Pacar? Yang bener aja!! Heh, kamu itu setan! Mana ada setan pacaran! Buruan keluar! Keluar dari tubuh pacarku!” bentak kak Davin sambil memelototi mata Debby.
            “Dasar cerewet, setan juga punya perasaan, bego!” geram Debby semakin kuat.
            “Heh, mau kamu apa lagi. Kalau kamu nggak segera keluar dari tubuh anak ini. Nanti akan kupaksa kamu untuk keluar dan itu pasti akan membuatmu sakit.” Sekali lagi pak minto membentak Debby.
            “Aku mau pulang.” Jawab Debby sambil tertawa.
            “Bagus, kalau kamu mau pulang. Ya sudah sana pulang dan keluarlah dari tubuh anak ini.” Kata pak Minto.
            “Anterin.” Sahut Debby cepat.
            “What!! Setan pulang minta di anter. Yang bener  aja. Kamu itu setan. Dateng nggak ada yang minta, pulang minta dianter. Sopan donk! Kalu bikin aku kesel, kupancal juga malah lama-lama. Setan nggak beres.” bentak kak Davin yang heran dengan Debby.
Pak Minto yang mendengar ucapan kak Davin yang semakin lama semakin terasa seenaknya saja, sekarang mulai kesal dengannya.
“Plugh!” Pak minto memukul pundak kak Davin dan menuding ke arah wajah kak Davin.
            “Hehe, sory Pak. Abis ni setan lama-lama ngelunjak pak…”
            “Ok, di mana rumahmu? Akan kami antar, tapi setelah itu kamu harus keluar!” bentak pak Minto untuk yang berulang kalinya.
            “Di pojok kamar mandi tadi.” Jawab Debby.
Minggu sore diterpa angin nakal aku bergoyang ria bersama teman-teman. Sore ini adalah hari perpisahan persami yang telah selesai kami laksanakan. Seluruh peserta baik kakak-kakak Bantara mau pun Laksana, tengah bergembira ria dengan lagu dangdut yang tengah di suarakan di tanah lapang.
Kami yang telah merapikan diri untuk segera meninggalkan sekolah, telah berdiri di lapangan sekolah yang sebelumnya didirikan puluhan tenda untuk tempat kami menginap. Aku yang telah sembuh dari kesurupan kini menjadi bahan ejekan teman-teman.
Dan di depan sana datanglah seorang bijak yang tengah berdiri tegap menghadap ke arah kami. Dialah pak Minto dengan kaca mata hitamnya yang selalu ia banggakan. Ia mengumandangkan bait-bait penutupan. Seusai pidatonya ia persilahkan kami semua untuk pulang ke rumah masing-masing.
Namun sebelum meninggalkan sekolahan, aku Dita, dan Desya menemui kak Davin untuk berpamitan. Ternyata kak Davin tengah duduk bersam pak Minto di  beranda sekolah. Kami pun langsung menghampiri mereka.
            “Kak Davin…, pak Minto…” teriak Desya genit.
            “Hei, sini. Duduk dulu laaa… nyantai aja pulangnya. Rumah kalian deket kan? Ngobrol-ngobrol dulu dah.”
Kita bertiga pun menuruti keinginan kak Davin. Ditambah lagi kak Davin orangnya ganteng dan keren. Ini tentu menambah semangat kami untuk semakin dekat dengannya.
            “Cie cieeeeee… yang baru kesurupan. Hahaha…” goda kak Davin.
            “Iiiih… apaan si kak Davin!” sambil menggembungkan kedua pipinya.
            “Debby tambah cantik deh kalo ngambek gitu…” rayu kak Davin mantap.
            “Cinlok niyeeee…” kata Desya.
            “Cinlok ama setannya apa ama Debbynya niiih.. hahahaha…” sahut Dita.
Mereka berempat tertawa ria menggodaku yang tengah kesal dengan masalah kesurupan tadi malam.
            “Iiiih, emang aku kesurupannya gimana sih? Ceritain donk...” Pinta Debby manja.
            “Eh kamu tu kesurupan tapi malah ngerepotin, tau nggak.” ujar kak Davin nyolot.
            “Hahaha… iya bener banget kak. Debby, tu setan tu minta minum segala tau gak siii…” kata Dita lebay.
            “Eh Dit, minta minum si masih mending. Tapi masak sih setan pulang minta di anter? Aneh kan, setan pulang minta di anter…. Dia pikir dia siapa coba…. Terus kalok tu setan gak mau pulang, ntar Debby gimana coba…hahahaha”  goda kak Davin girang.
            “Iya Deb, waktu kamu pingsan setelah kesurupan itu kita pada ketawa-ketawa karena nyeritain ulah kamu waktu kesurupan tau gak…” kata Ditta.
            “Terus tu setan juga bilang kalok pacarnya tu kabur gara-gara kitaaaa… hahaha, setan juga pacaran cobaaa…” goda Desya.
            “Nha, pas tu setan bilang gitu… Kak Davin langsung bilang. Heh keluar dari tubuh pacarku! Cie cie… kak Davin, cie cie… cinlok nih.” Goda Desya.
            Pak Minto menghela nafas dengen berlebih. “Pak Minto kayaknya cuma jadi patung ni disini. Dah mendingan pak Minto pulang duluan.”
            “Oke, pak.” Seru Dita.
Desya kini menggodaku dengan menggelitiki pinggangku. Rasanya aku ingin marah karena mereka terus saja menggodaku. Dari yang kesurupan sampai yang cinlok, semuanya ditujukan padaku. Ditambah lagi tatapan mata dan senyuman kak Davin yang membuatku benar-benar tersipu malu. Bahkan membuatku jadi salah tingakah.
            “Sialan ni setan. Gara-gara dia aku jadi bahan ledekan kalian. Dasar setan kurang ajar!” bentak Debby sambil menggembungkan kedua pipinya kembali.
            “Ala.., seharusnya kamu bersyukur karena kesurupan. Kalo nggak kamu nggak bakal jadian ama kak Davin. Ckckck…” goda Desya.
Tiba-tiba perasaan semalam kembali muncul dan perlahan tapi pasti, mulai mendekapku dalam kegelapan. Bisikan-bisikan aneh mulai terdengar dan sepertinya hanya aku yang mendengarnya. Sebenarnya ada apa ini. Apa si setan belum pergi? Padahal ini kan masih sore.
Kepalaku kembali terasa penat, pusing, dan dunia serasa berputar-putar. Aku pun kembali terjatuh dan pingsan di pangkuan Desya.
Desya lalu membelai rambutku. “Debby, kalo mau tidur mendingan kita pulang sekarang deh. Debby, Deb… Debby! Pak Mintooooo…….” Teriak Desya kuat-kuat.
Desya yang panik langsung berteriak memanggil Pak Minto. Dalam pikirnya mungkin Debby kembali kesurupan dikarenakan kata-katanya yang kasar tadi.
Mereka bertiga hanya terkaget dan terbengong melihatku kembali pingsan. Bahkan mereka bertatap-tatapan mata karena takut aku kesurupan lagi.
            “jangan-jangan!” seru Dita.
            “Pak Minto. Buruan…” teriak Desya untuk yang kedua kalinya.
Beruntung pak Minto belum jauh meninggalkan kami.
            Dengan sekali sentakan mendadak, Debby kembali duduk. Mata merah menyala-nyala. Berlarian kesana-kemari. Ditta, Desya, dan kak Davin terpaku dengan kekhawatiran yang luarbiasa hebat.
“Oh, shit!” keluh kak Davin.

The Photograph




THE PHOTOGRAPH
Oleh: David Sukma
Inspirated by Cah Elek
Gemetar. Alunan melodi irama kecil bergemerincing di sekujur tubuh, merata ke seluruh pori-pori kehidupan. Keringat berkucuran terjun menukik cepat dari kening otak terpelajar. Denyut jantungnya berdebum kuat takkuasa menyaksikan merah. Perutnya mulai mual, sesuatu memaksa naik ke atas permukaan melewati tenggorokan. Ia tertunduk lemas tanpa hasrat dengan pakaiannya yang serba biru muda.
Disekitarnya, rekan kerjanya tengah berusaha keras memperjuangkan kehidupan dan keselamatan sebuah nyawa yang masih bertengger tanpa sadar di dalamnya. Meraka berulang kali berganti alat untuk menunjang keberhasilan proses. Tapi seorang darinya meliriknya tajam, bahkan yang lainnya berulang kali melihatnya sinis hingga bosan dengan kelakuanku yang tak mau bergerak di sudut tepi ranjang menatap kekalutan.
“Keluar, tunggu di ruangku.” Perintahnya datar sambil menjahit bekas luka menganga di perut, tanpa mau menatapku.
****
Sapi kosong tanpa terusik kebisingan orang yang selalu membicarakanku, hanya saja katub kecil di dalam dadaku terus berdegup kencang. Membuatku menciut kecil diantara sesamanya. Sudah kali keempatnya aku seperti ini menghadapi kewajibanku. Mungkinkah kali ini aku di skors bahkan di pindahkan dari posisi ini? Hauft…baguslah kalau memang seperti itu, biarkan ayahku tau rasa kalau sedikitpun aku tak menginginkan ini. Semua ini keputusannya, semuai ini kehendaknya, bahkan ia merengut kebahagianku hanya demi kehormatan dan harga diri di depan mata keluarga yang seluruhnya adalah dokter.
Tiba-tiba pintu terbuka, seorang berjubah putih masuk dengan tangan yang membasuh keringat didahinya. Ia berjalan mendekatiku dan menepuk pundakku, langsung duduk di singgasana panasnya. Ia terpaku diam mengkecam keheningan dengan menatapku dingin dan serius. “Begitukah jadi dokter?” tantangnya menatapku miris. “Kamu pikir ini main-main? Pertaruhan kita itu nyawa orang…jika kamu belum bisa berfikir dewasa dan masih teguh pada pendirianmu yang konyol itu, terserah kamu. Tapi ini sudah keempat kalinya.” Kecamnya datar kuat sambil menekankan jari di ujung meja menguatkan omongannya. “Kamu Om skors selama dua bulan.” ujarnya berpaling dariku.
Aku tahu aku layak untuk mendapat hukuman ini. Lagi pula aku melakukan ini bukan untukku, aku melakukannya atas dasar yang bahkan tak mampu kulewati untuk kulebih tinggi darinya. Mendengar ucapan Omku, bahkan aku tak takut. Hanya saja ada rasa plong di dalam dadaku yang entah langsung bersorak-sorak riang seolah ini sebuah kesempatan besar.
****
Angin semilir menyejukkan, membawa terbang semua kenangan dan beban buruk yang menimpa. Aku duduk di sebuah bangku kayu panjang berwarna coklat yang terletak di sudut taman rumah sakit. Bersila kecil dengan secangkir hangat segelas kopi susu coklat yang mengepul ke mukaku.
Rambut panjang terumbai di belakang kursi, hitam lebatnya melambai-lambai seorang pemuda yang berada cukup jauh darinya yang tanpa sadar tengah mengamatinya.
Kulirik jam bulat di tanganku. “Jam empat sore.” Apa yang kulakukan ini benar? Bila aku merelakan inginku ini pergi, berarti aku menyiakan kebahagiaanku. Bila aku memaksimalkan yang sudah kudapatkan ini, aku pasti akan hidup nyaman. Tapi untuk apa? Aku tak mendapat kebahagiaan di sini. Jiwaku melayang di sini, hidup di sini. Tapi ragaku, mengembara jauh ke ruang hidup yang lebih baik.
Langit jingga bertebaran indah di atas sana. Ia mendongak tanpa rasa di wajahnya, dingin datar orang kalut tanpa hasrat. Burung blekok berbulu putih terbang bebas membelah awan. Tiba-tiba sekilat cahaya dari samping mengagetkanku. Kulihat pemuda itu sedang memotretku. Apa aku ini obyek yang baik?
Dilihatnya hasil jepretan itu. Ia tersenyum melihatku, berjalan mendekat dan duduk di sampingku. “Ini.” ujarnya menjulurkan kameranya. Kuterima tanpa geram, kulihat wajahku terbenam di sana. Hanyut dalam kesendirian yang mendalam. Terbawa arus kelamnya kegalauan. “Kau pasien di rumah sakit ini?” tanyaku sembari menyodorkan kopi susu milikku kepadanya.
“Eh, aaaaaah…te..terimakasih.” Ujarnya risih menerima segelas kopi bekas milikku yang telah berkurang sedikit. Dengan ragu-ragu ia meminumnya perlahan sambil melirikku yang masih lekat mengawasinya agar meminumnya. “Ah…” ujarnya sambil mengacungkan jempol melotot kesal. “Hari ini aku keluar dari sini. Sudah bosan aku harus tinggal di sini dengan bius yang terus-menerus menjerumuskanku. Hahaha…” terangnya mengusap-usap kepala belakangnya.
“Emmmm…” jawabku. “Bagaimana hasil jepretanku? Seperti seorang professional bukan? Hahaha…tentunya suatu hari nanti aku akan menjadi kameramen handal.” Ujarnya menyombongkan diri mengikat tangannya di depan dada. “Benarkah? Wauw…” ujarku meragukan. Aku berdiri melangkah beberapa meter, mencari obyek menarik dan berulang kali menjepretnya. “Lihatlah milikku.” Ia mengambil kamera yang kusodorkan, melihatnya dengan rakus dan senyum kagumnya mulai terkembang lebar. “Huwa…heeeeebaaaaaaat…kau pasti beruntung bisa menjepret seperti ini. Tapi sayang, bila dilihat lebih mendalam lagi, milikku lebih punya makna dan dapat menyampaikan pesan tersendiri.” Terangnya tak mau kalah, mencoba membesarkan jepretan miliknya yang memang jauh dari mulikku.
“Benarkah? Wauw...” ujarku yang langsung berjalan menjauh darinya. “Apa? Kau menyindirku? Hei…tunggu.” Ujarnya menghentikanku. “Kenalkan, aku Diva.” “Panggil saja aku Arin.” Ujarku sembari berjabat tangan dengannya. “Besok temui aku di taman kota. Akan kuajari kau bagaimana menikmati fotografi itu. Ok…” ujarnya tersenyum.
“E..hm..e..hm..huwahahahahaha…” tawaku yang tertahan langsung meledak. “Yang benar aja. Kau mau mengajariku. Apa kau tak bisa melihat bagaimana hasil jepretanku? Wau…kau benar-benar bocah yang luarbiasa. Berani mengajak seorang wanita untuk jalan.” Ujarku menyindirnya dan langsung berlalu berjalan meninggalkannya. “Hei aku ini sudah dewasa. Aku akan menunggumu!!! Jam dua. Jam dua di taman kota. Kau harus datang…” teriaknya meyakinkanku. “Haha…dasar bocah, mengajari fotografi? Yang benar aja…hah…” gerutuku sambil jalan.
****
Di bawah koridor ini aku berjalan, sendiri dengan semua rasa yang entah kemana. Hanya bocah itu yang masih terngiang di otakku. Kudekati pintu ruang kerjaku untuk mengambil tas, berkemas, lalu pulang. Hariku kali ini benar-benar berat tapi juga melegakan, aku jadi bingung, harus senang atau harus sedih.
Saat handle pintu kubuka ternyata ada Dion yang sudah menungguku di dalam sana. Ia berdiri dari kursi dan langsung mendekat dengan cepat. “Karin, apa benar kau di skors?” tanyanya khawatir. Aku menggangguk pelan mengiyakan sambil berjalan melewatinya mengambil tas kecilku dan kunci mobil yang ada di laci meja.
Saat aku akan kembali berjalan melewatinya ia menarik tanganku. “Kau ini, apa kau ingin seperti ini terus. Aku ini pacarmu, sekali ini tolong dengarlah aku. Menikahlah denganku, dengan begitu kau tak perlu khawatir dengan pekerjaanmu.” Terangnya serius. “Apa hanya itu yang kau pikirkan?” ujarku sambil melepas paksa genggaman tangannya di lenganku. “Tunggu Karin, maaf bila aku terlalu mengaturmu. Tapi aku ingin yang terbaik untukmu. Mungkin kau butuh refresing, besok aku akan menjemputmu, kita pergi ke pantai. Bagaimana?” ia membelai rambutku sambil menatapku dengan senyum. “Terserah.”
****
Cahaya bulan yang temaram di langit sana enggan membuatku tersenyum menikmati malam yang sunyi ini. Jam dinding di atas meja menunjukkan angka sembilan malam dan di lantai satu itu suara ayah dan bunda tengah berdebat keras. Aku yakin sebentar lagi mereka akan menuju kamarku ini.
Di dalam kamar ini aku terkujur telungkup sibuk mereview kembali hasil jepretanku dulu yang aku simpan di dalam notebook. Senyum tipis kembali menyeringai dari hasil flash yang terang di layar notebookku. Wajah unyu-unyu teman sekampus, ekspresi konyol yang mereka persembahkan selalu membawaku ke dalam nostalgia yang menyenangkan.
Derap kaki mendekati kamarku cepat, seketika pintu terbuka, ayah dan bunda langsung masuk. “Arin, keterlaluan. Seperti inikah hasil sarjanamu, sedikitpun tak ada yang beres. Kau mempermalukan ayah di depan keluarga. Kau ini anak ayah satu-satunya…seharusnya kau bisa menjaga nama baik ayah.” Ujarnya menatapku. Sebenarnya aku juga memikirkan semua perkataan ayah, membuat malu orang tua bukanlah hal baik yang seharusnya dilakukan seorang anak.  “Apa kau masih ingin menjadi fotografer professional? Sehingga kau benar-benar berbuat semaumu dengan pekerjaanmu sekarang?” “Ayah, bukan seperti itu yang Arin lakukan…” “Lalu apa? Ayah ini sudah melakukan segala cara agar kau bisa menjadi sarjana kedokteran dan bekerja di rumah sakit Ommu itu. Tapi apa?”
“Arin…sekali-kali dengarkanlah ayahmu. Turutilah perkataannya, kau jangan terlalu egois…” ujar ibuku membelai rambutku. “Yang egois itu kalian berdua. Kalian selalu memaksaku melakukan ini itu, padahal aku tak menginginkannya. Sejak dulu aku tak tahan dengan darah. Ayah…sebagai dokter mana mungkin aku bisa melakukan semua itu. Ayah dan bunda yang seharusnya lebih paham dengan keadaanku, tapi masih tetap memaksaku untuk menjadi dokter. Ini semua salah kalian!” teriakku kecewa dengan semua pemikiran mereka. Aku melempar diri di kasur, membentang selimut dan menutupkannya ke sekujur tubuhku.
“Arin…” ujar bunda mengelus pundakku. “Bunda, biarlah dia lakukan semaunya.” Ujar ayahku yang kemudian bangkit dan keluar dari kamar diikuti ibuku dari belakang.
****
Secangkir kopi susu wanginya semerbak menyejukkan, kuhirup aromanya perlahan, masuk ke dalam hidung dan bergoyang lentik di dalam hatiku. Duduk di tengah keriangan orang-orang yang juga menikmati secangkir kopi hangat bersama rekan-rekan kerja dan pasangan mereka. Dibawah altar langit yang bercakrawala, aku duduk di bawah naungan meja bundar yang teduh oleh payung putih lebar sebuah kafe santai di luar ruangan yang berada di tepi taman kota.
Entah kenapa tubuhku malah berayun kemari, bukannya menunggu Dion menjemputku tapi aku malah menuruti keinginan bocah yang baru kukenal itu. Mungkinkah karena dia pecinta forografi? Atau karena aku yang tak mau kalah dengan bocah itu? huft…mungkin aku butuh sedikit warna dalam hidupku. Satu tahun belakangan ini aku mulai bosan dengan semua rutinitas menjenuhkan yang selalu kukerjakan. Mungkin ini saatnya melawan arus.
Tiba-tiba sebuah tangan menutup kedua kelopak mataku. Aku kaget terperanga, kutebak-tebak mungkinkah ini Dion? Karena hanya Dion yang sering melakukan ini padaku. Ia melepasakan tangannya dan langsung duduk di sampingku, menebar senyum manis dari wajahnya yang lumayan rupawan. Kulitnya putih bersih dan tubuhnya lebih tinggi dariku, mungkin bila kita berjalan bersama kami akan terlihat sebagai pasangan yang serasi. Hanya saja dia lebih muda dariku. Ditambah lagi, baju dan tas ransel itu….? dia masih SMA.
“Nih…” dijulurkannya kamera miliknya. Kulihat di dalamnya ada banyak foto-fotoku di tempat ini. Semuanya hanya melamun, tak berarti sekali hariku.
“Bagus…” ujarku malas, kulayangkan tangan mengambil secangkir kopi milikku tapi dia langsung mengambilnya dan meminumnya. “Hei, itu kopiku.” Teriakku. “Shuuuuut…” ujarnya isyarat diam. “Kita harus cepat, mumpung suasananya tepat.” Ujarnya masih meneguk kopi perlahan. “Suasana?” pikirku bingung.
Langsung tanpa meminta izinku ia menarik tanganku membawaku berlari cepat melewati payung-payung peneduh ruko pinggir jalan. Ingin rasanya aku marah dan menarik tanganku, tapi saat ia berbalik dan menatapku. Kulihat senyum manisnya terurai, membuatku tak tega untuk merusak suasana hatinya. Kini kami berdiri di taman kota, ia berulang kali menjepret obyek menarik yang membuatnya bersemangat. Bahkan ia menggodaku untuk bersaing mengambil gambar.
Senyum dan tawa kami terkembang, telah banyak gambar yang kami ambil. Semuanya obyek unik yang menarik, bahkan ia memotretku saat tersenyum. Bersamanya kenapa terasa sangat berbeda, seolah seketika aku melepaskan semua penat di dada. Ia menggandengaku erat, melewati sebuah jembatan kecil yang di bawahnya bertebaran ikan koi yang menawan. Sekarang kami berdiri di kubangan air mancur, bermain-main kecil saling menciprat air.
Burung-burung camar yang bertengger di ranting pohon itu mengamati kami, ikut tersenyum heran dengan suasana janggal yang mempesona. Kami duduk di sebuah bangku kayu di tepi taman, di bawah rindangnya pohon cery yang sedang berbuah. “Kau ini, keinginan bila di tahan Cuma bikin wajah manismu jerawatan.” Ujarnya tenang menyentil jidatku. “Apa?” tanyaku heran, seolah dia tahu apa yang kurasakan. Apa wajahku ini benar-benar seperti orang malang.
“Hahahaha…lihat ini.” ia menyodorkan hasil jepretannya yang terisi senyumanku. “Kau bisa tertawa.” “Emang aku batu…?” Ujarku manja menggembungkan pipiku. “Aduh, kenapa aku jadi bertingkah seperti ini dengannya. Sikapnya seperti orang yang lebih dewasa, dia sedikit pun tak ragu denganku.” pikirku. Jantungku berdegup kencang saat ia memegang tanganku, gugup hingga meradang ke perutku.
“Meski pun itu beban, tapi kau bisa mewarnainya bersamaku. Biarlah sebuah kesenangan kecil ini melukis indah penuh pelangi di dalam hatimu. Rumah sakit mungkin memabosankan, tapi semuanya bisa kau lawan dengan kesenanganmu. Biarlah itu mengalir mengisi relung hatimu yang kesepian.” Ujarnya panjang lenbar sambil membelai rambutku.
Kenapa dengan bocah ini, apa dia punya indrakeenam? Semua ucapannya membuatku tenang dan nyaman. Kebersamaan ini, sesuatu yang berbeda. Tanpa sadar kepalaku terhuyun ke pahanya, aku tiduran dengan nyamannya. Ia membelaiku penuh kasih sayang. Kenapa aku tak menolak?
“Terimakasih, karena kau aku bisa hidup satu bulan lagi…” ujarnya pelan. Aku terbeku sejenak, memikirkan kata-katanya ini. “Kenapa kau berterimakasih?” tanyaku cepat sambil memainkan jariku di pahanya. “Operasi itu, membuatku bertahan hidup meski sejenak.” Aku terbelalak ragu. Bangkit dan langsung duduk menatap wajahnya. Apa dia orang yang waktu itu kuoperasi bersama rekan-rekan kerjaku? Mungkinkah?
“Saat aku hampir tertidur dengan obat bius yang meracuniku, aku melihatmu datang mendekat dengan tangan yang gemetaran. Hahaha…kau ini, meski professional ternyata bila wanita tetap saja punya rasa takut dan iba yang besar.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.
Tanpa sadar air mataku mengalir perlahan membasahi pipiku. Sejuk dan dingin bersama terpa angin yang perlahan mengibas rambut panjangku. Dia…apa dia tengah menguatkanku. Padahal sedikitpun aku tak menyentuh operasi itu, tubuhku terlalu takut untuk menyelamatkan sebuah nyawa yang ternyata sangat berharga sepeti ini. “Apa yang telah kuperbuat selama ini? aku menyiakan sebuah jalan luarbiasa yang sangat indah. Menyelamatkan orang ternyata lebih memuaskan dari pada hanya mengambil secarik gambar dari bagian hidup yang terlewatkan.” Pikirku. “Terimakasih bila kau berpikir seperti itu. Tapi aku..” jarinya menghentikan ucapanku. “Shuuuuut…lihat…” ujarnya menarik tanganku menyentuh dadanya. “Jantungku berdetak kencang karenamu.” Aku ragu harus berkata apa, tapi meski aku tak menolongnya, ucapannya membuatku bangga.
“Aku menyukaimu. Kau maukan jadi pacarku?” ujarnya. Mataku terhentak ingin keluar, dia tak ragu-ragu dengan ucapannya. “Apa benar kau menyukaiku? Mungkin kau hanya merasa sangat berterimakasih denganku hingga kau menyukaiku.” Ujarku dingin. “Kau ini…” ujarnya sambil sekali lagi menyentik jidatku. Aku tersipu malu dengan senyumannya. “Jangan anggap remeh kata-kataku. Mari kita buat lukisan abstrak dalam hidup kita. Kadang yang aneh itu lebih indah bukan?” ia tersenyum sambil memegang tanganku meyakinkan ucapannya. “Meski kau pikir hubungan kita ini aneh, tapi aku nyaman bersama denganmu…” ujarnya. Sekali lagi aku tertegun penuh makna. Ternyata yang kita rasakan itu sama, mungkin ini akan membuatku lebih berarti bila bersama dengannya. Tapi apa ini benar?
“Jadi, apa keputusanmu?”