Pijakan Jatidiri
Oleh: David Sukma
diperjuangkan
dari sebuah ajang komersiil
Altar langit
merekah jingga bertabur gumpalan awan kelam yang teriris kilat berjalan
mendekat. Diujung sana sang mentari tengah barjingkrak hendak menutup harian.
Siutan angin gemerisik membelai ujung-ujung hijau padi. Bulir-bulir
kesejahteraan merunduk diujungnya yang sebulan lagi siap panen. Auman kerbau di
sungai membawanya bangkit dari alam air dan mendekati rerumputan untuk
memuaskan kehendak perut yang keroncongan.
Hamparan padi di
tepi sungai menemaniku memandikan kerbau. Desa ini masih tentram dan damai oleh
suasana alam yang terbuai masa jauh dari jangkauan orang-orang rakus. Ditepi
jalan ada sebongkah pohon besar yang disekitarnya berserakan tanaman padi yang
tumbuh subur. Kulihat seseorang di bawah pohon itu melambaikan tangan padaku.
Wajah itu, kulit putih itu, apa itu Ardan si bocah kota? Aku pun berjalan
mendekat. Aku tahu bahwa desa ini memberinya kenangan buruk.
“Agus…,” ujarnya
saat aku semakin dekat. “Duduk, temani gue,” pintanya lesu. Aku pun duduk disampingnya
turut bersandar pada pohon rindang ini. Ransel yang tersandar di pohon penuh
sesak oleh semua perlengkapan pribadi. “Jadi kamu sudah mau kembali ke Jakarta
to, Ardan?” tanyaku ragu. Ardan mengangguk, memegangi kepala yang katanya sudah
sakit sejak sebulan yang lalu. Kulihat layar hanphone yang ia pegang berulang
kali berganti-ganti gambar, dialah si gadis desa pujaan Ardan. Foto-foto Yanti
pasti menjadai sebuah kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Gadis desa
pertama yang memberinya sebuah kedamaian.
“Ini semua salah
gue, Gus. Andaikan Yanti nggak mengenal gue, mungkin Yanti bakal menikah sama
elu dan hidup bahagia sampai punya banyak anak dan mungkin elu kelak bakal
mandiin kebo lu itu bareng anak-anak lu
dan Yanti,” ujarnya miris menatap langit muram. “Sudahlah, Ardan. Yang lalu
biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang, lupakan desa ini. Jadilah orang besar
dan kamu bisa punya banyak kebo di kota sana,” ledekku mencoba mencairkan pikirannya.
“Hahaha...kebo? Kebo di Jakarta itu bentuknya batangan. Tinggal makan, Gus.
Hahahaha…punya banyak kebo lu bilang. Hahaha…” kulihat Ardan tertawa-tawa geli menggelengkan
kepala. Ia memegang perut dan masih memegang kepalanya besama hanphone.
“Gue pikir
semuanya bakal berjalan lancar, Gus. Tapi semua usaha keras gue bakal gue
hentikan sampai di sini.” Kucoba diam mendengar semua perkataan Ardan, sebulan
yang lalu dia adalah bocah kota yang aku benci, tapi seiring berjalannya waktu,
aku mulai memaklumi keberadaannya. “Cerita saja kalau kamu masih punya beban.
Jadi kamu bisa pergi dari desa ini tanpa pikiran yang membebani kamu…” ardan
melihat kearahku, ia menarik nafas panjang seolah mengiyakan kata-kataku.
Dulu gue kesini
dengan satu tujuan, selesaikan semua ini dan wisuda dengan cepat. Jadi gue bisa
nggantiin bokap gue di perusahaan. Pertama gue datang ke desa ini yang gue liat
adalah Yanti, dia bermain air dengan kebomu itu di sana. Gue potret dia
diam-dam. Dan malam harinya ternyta dia adalah putri dari pak kepala desa tempat
gue menginap. Beberapa hari gue di sana, setiap selesai mencari data, gue
selalu mencoba mendekati Yanti yang tiap sore selalu menyirami bunga mawar
putih yang tumbuh cantik di dalam pagar di depan emperan rumah.
Ardan mulai
memutar otak melihat nosatalgia benak. Kakinya lurus dan tangan memegang
hanphone melihat-lihat gambar Yanti yang tersenyum manis. Entah kenapa gue bisa
suka sama dia, Gus. Tiap sore gue duduk di emperan rumah untuk menulis laporan
observasi yang gue cari dari mulut-mulut warga. Diterpa semilir angin bersama
bulir-bulir serbuk sari yang terhempas ke udara. Tiap sore itu pula harum tubuh
Yanti mengelilingi gue. Rambutnya yang hitam pekat, panjang sepinggang.
Badannya yang semampai ditemani kulit kuning lansat. Wajahnya catik dan senyumnya
adu bidadari. Benar-benar tepat bila dia disebuat bunga desa.
Tapi saat gue
tahu elu adalah calon suami Yanti, dada gue mulai membengkak oleh setan yang
menyeruak bersama bilah pisau neraka yang menyusupkan kekecewaan. Semakin gue memikirkan
itu, semakin tubuh gue mulai mengambil inisiatif. Sore itu gue ngobrol sampai
malam, dia tertawa-tawa riang dengan semua candaan kota yang gue lantunkan. Dia
pun menanggapi semua yang gue katakan, seolah dia memang ingin dekat. Tapa
menunggu lama saat ia bicara tanpa memandang gue, langsung gue cium pipinya.
Yanti terperangah kaget dan menyentuh pipi. Wajahnya merona merah, gue pun
merasa seperti ada yang menggelitik di hati. Gue tersenyum menatapnya, tapi
Yanti langsung berlari masuk ke dalam rumah. Haha..malam itu adalah amalm yang lucu.
Aku geram
mendengarkannya. Lucu kau bilang, kau meracuni perasaan Yanti yang sudah
kupelihara sejak lama. Kau membuatnya bimbang dengan perasaannya. Gemerisik
ranting pohon yang bergoyang diterpa angin sore menutupi panasnya dadaku yang
mendengar cerita Ardan. Parang yang tergeletak disampingku berulang kali
kulihat. Ujungnya mengkilap meski langit senja membisikkan kesabaran.
Suatu malam aku
mendatangai rumah Yanti, sungkem kepada kedua orang tuanya yang memang sudah
merestui hubungan kami. Kami ngobrol sejenak di ruang tamu sampai akhirnya
Yanti menemuiku. Kami pun duduk berdampingan membicarakan banyak renungan dan
sesekali menggodanya. Namun dari dalam rumah seseorang keluar dari salah satu
kamar menuju ruang tamu dan menyapa kami dengan santainya. Saat melihatnya rasa
khawatir langsung menyerbu batinku, membawaku pada pikiran-pikiran buruk.
“Yanti, siapa
orang itu?” dia tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Dia mas
Ardan. Orang kota yang datang kemari untuk menulis sekripsi.” Tanganku mengepal
keras, otot-otot tangan menguat padat. Keberadaannya disini akan mengganggu
hubungan kami pastinya. Semua pikiran negateif terbayang dibenakku, hatiku pun
turut merasakan pemikiran-pemikiran kacau ini. Namun akal sehatku bergmam,
“Sabar, orang itu hanya numpang lewat di rumah ini. Ingat Gusti, wanita ini
belum sepenuhnya jadi milikmu. Dia masih punya hak untuk menentukan pilihannya.
Bila kamu ingin memilikinya, secepatnya kamu harus membuat keputusan. Lamar
dia.”
Rasa sesak di
rongga dada seketika menghilang, senyum menilik masa menemaniku untuk semakin
optimis dengan Yanti. Hubungan ini sudah lama kami bina, orang tua kami pun
sudah saling menyetujui. Hanya tinggal selontar kata yang akan membawa kami
dalam pinangan.
Malam semakin
larut terbirit waktu. Siutan angin malam menggoda rinai bulu di leher. Di depan
pintu rumah, Yanti melepas kepulanganku. Namun saat sampai di pertengahan
jalan, kulihat Ardan berdiri di tepi sambil memutar-mutar hanphone_nya. “Kalau
nggak salah namamu agus. Jauhi Yanti,” tegasnya langsung berjalan melewatiku.
Ini seperti sebuah peringatan dari seorang pendatang yang tak tahu diri.
“Hei, berhenti
kamu. Saya ini calon suami Yanti. Seharusnya saya yang bilang seperti itu.
lebih baik kamu pergi dari desa ini. lagi pula tidak seharusnya kamu ada di
sini,” teriakku. Tapi ia tetap berjalan meninggalkanku. Dadaku penuh geram
melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, namun tiba-tiba tubuhnya berjalan
gontai dan akhirnya rubuh. Seketika itu aku mendekat. Darah mengalir di hidung,
kesadarannya lenyap entah kemana. Tanpa pikir panjang aku langsung
menggendongnya kembali ke rumah Yanti.
Auman kerbau membangkitkan kami dari lamunan.
“Hahahaha…dasar kebo,” ujar Ardan. “Agus kau masih ingat malam itu?” kulihat ia
mengambil sebendel kertas dari dalam tas dan membukanya. Semilir angin
membawaku memerhatikan mulutnya bergumam menceritakan kejadian itu.
Waktu itu sore
seperti ini, tapi lolongan corong masjid sudah berkumandang di kedua desa yang
saling berbatasan sawah. Aku dan Yanti tengah berjalan pulang membawa kerbau
dari sungai. Di jalan berbatu itu kami dihadang empat orang pemuda desa sebelah.
Mereka adalah orang-orang yang juga menyukai Yanti, namun tanpa banyak bicara
salah seorang mendekat dan langsung memukulku hingga aku terjerembab jatuh dan
punggungku terbentur batu jalan. Yanti sontak berteriak. Namun tiba-tiba dari
belakang mereka Ardan berlari dan langsung memukuli mereka berempat. Entah
bagaimana ia bisa ada di jalan ini, mungkin ia baru selesai mewawancarai
penduduk setempat.
“Agus, bawa Yanti
pergi dari sini. Serahkan saja mereka padaku,” teriaknya setelah memukul jatuh
seorang berkulit coklat gelap. Aku pun bergegas bangkit dan menarik tangan
Yanti membawanya berlari bersama kerbau yang begitu malas berjalan.
Malam tiba,
purnama bertengger cantik di altar langit. Ditemani jutaan bintang yang meretas
ditiap malamnya, mereka berpendar-pendar menyebarkan panji-panji kehidupan. Di
ruang tamu, aku bersama keluarga Yanti menunggu kepulangan Ardan. Sudah jam
tujuh dan Ardan masih belum terlihat.
Dari pintu depan sebuah tangan
terjulur masuk diikuti tubuh Ardan yang mukanya penuh lebam dan tertutup merah
darah. Seketika aku berlari menyongsongnya yang langsung terjatuh sebelum
memasuki rumah.
Larut sudah malam ini, berulang kali
Yanti mengkompres kepala Ardan yang lebam. Tubuhnya yang kotor telah dibasuh
air hangat. Kulihat matanya perlahan-lahan terbuka, ia pun segera memegang
kepalanya dan duduk di atas kasur tidurnya.
“Agus, Yanti, pak Kepala desa,”
ujarnya melihat sekeliling. “Mas, kepala kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya
Yanti sambil memeras kain kompres. “Lu nggak perlu khawatir, Yanti. kepalaku
memang sepertinya sudah bermasalah sebelum aku sampai di desa ini. mungkin
sudah dangkal umurku. Hahaha…,” ujarnya santai.
Aku dan pak
kepala desa saling memandang seolah tahu ada sesuatu dikepalanya. Memang seblum
ini aku juga melihatnya memegangi kepala. Apa mungkin ia punya penyakit di
sana?
Sekali lagi auman
kerbau terdengar dan Ardan langsung melihat kearahnya. “Gus, sudah semakin
sore. Kebo lu itu mungkin sudah ingin pulang. hahaha…” ia tertawa lebar sambil
mengusap-usap rambut belakang kepalanya. “Ah, ngomong apa to kamu, biar saja
keboku itu. Aku temani kamu nunggu bis sampai…”
“Ah, ada sms
Gus,” ujarnya memotong perkataanku. Kulihat raut wajahnya cemas membaca sms
itu. Bahkan ia kesal sampai memukul-mukul tanah. “Ardan…”
“Ah…mungkin ini
moment paling berharga yang gue dapatkan di desa ini.” ia menyeka air matanya
yang perlahan merembas keluar. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan. “Berharga?
Aku pikir kamu itu nggak ngapa-ngapain, Ardan?” tanyaku ragu. “Hus!
Sembarangan…selama ini gue nggak pernah ngelakuin banyak hal seperti ini, Gus.
Apa lagi berusaha sendiri mencari data demi kelulusan gue. Dan bahkan disini
gue mendapat teman dan keluarga baru yang ternyata lebih peduli dari pada
keluarga gue yang di Jakarta. Thaks bro…” ujarnya melempar tangan ke pundakku.
“Doakan tahun
depan gue masih idup. Hahaha…” ujarnya sepele. Jidatku mengkerut mendengarkan
perkataannya. “Ardan, kamu ngomong apa to? Kamu kan masih muda, tentu umurmu
msaih panjang. Pasti tahun depan kamu bisa main ke sini lagi,” terangku
menguatkannya.
“Entahlah, Gus.
Ada sesuatu di kepala gue yang membuat gue risau. Ini seperti bom waktu, Gus.
Hahaha…” sekali lagi ia tertawa sepele. Aku tahu ia tengah sedih dengan
penyakit yang ia derita.
“Huwaaa…bis gue
udah datang, Gus.” Ia berdiri, mengambil tas punggungnya dan ia kenakan. Bis
kota di ujung jalan itu masih lumayan jauh.
Kami saling berhadap-hadapan,
wajahnya lega dari penantian lama untuk menunggu datangnya bis kota ini. Ia
menjulurkan tangan, kami pun saling berjabat bahkan ia langsung memlukku erat.
“Thank you Bro…lu udah gue anggep seperti saudara sendiri.” Ia menjabat
tanganku erat. Entah apa yang ia katakan, aku tak tahu maksud dari ucapannya.
Kedekatan kami hanya sebatas itu, tapi ia sudah menganggapku seperti saudara.
Apa dia menemukan jati dirinya di desa ini?
Suara laju bis
menderu semakin dekat. Matanya terlihat tajam mengamati bis kota. “Ok, sampai
ketemu lagi,” ujarnya sambil berlari, namun tiba-tiba ia menghentikan
langkahnya dan berlari kembali mendekatiku. Ia meraih tas punggung dan
membukanya, mengelurkan sebendel kertas putih. “Ini bro, sekirpsi gue. Baca di
rumah,” ujarnya tersenyum lebar. Ia berlari mendekati jalan hendak
mengehentikan bis. Saat bis itu berhenti di hadapannya, ia menoleh melihatku,
melambaikan tangan dan tersenyum lega sebelum akhirnya masuk ke dalam bis dan
pintu pun tertutup membawanya pergi menjauh dari lingkungan desa ini.
Bis kota semakin
berpaling dan menghilang di ujung jalan yang menurun. Bendel kertas ini tak
begitu tebal. Bukankah ini hasil pekerjaannya selama ini, kenapa ia serahkan ke
padaku? Seruan adzan terdengan dari desaku, langit jingga pun telah muram penuh
dengan mendung kelam. Angin sawah yang dingin menerpa tubuhku yang berjalan
mendekati kerbau di atas ladang rumput.
Sambil berjalan,
kubuka lebar pertama dari sekripsi ini. “Bom Waktu.” Tertulis besar di cover
awalnya. Kubuka lagi lembar kedua, kulihat darfat isi yang sampi 37 bab.
Semuanya memiliki judul dari masing-masing bab ini. Kubuka lagi lembar ketiga,
kubaca tulisan kata pengantar. “Untuk desa sepi yang damai oleh masa.” Kepalaku
miring ketika membacanya, rasa heran membelenggu pikiranku ingin semakin
membuka di tiap lembarnya.
Kubuka lagi
beberapa lembar. “Apa seperti ini yang namanya sekripsi? Kenapa seperti
cerita?” pikirku setelah membaca beberapa lembar lanjutan. Kubalik lagi untuk
melihat lembar kata pengantar.
Kerbau di depanku
mengaum ketika aku semakin dekat. Kutepuk-tepuk punggungnya yang penuh lemak
dan aku pun lompat ke punggungnya. Sambil berjalan kurasakan tulang-tulang kerbau
menusuk-nusuk pantatku, berlenggang kekanan dan kekiri mengikuti irama kaki
kerbau.
Semakin kubaca
kata pengantar ini semakin kumengerti maksud tulisan Ardan. Maka kusimpulakan
untuk mengkopinya dan akan kuserahkan ke perpustakan SD dan kantor kepala desa
besok pagi. Ardan ternyata seperti inilah hasil observasimu selama ini_kau
mengambil makna yang begitu dalam hingga aku bingung dengan pikiranmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar