Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Rabu, 25 April 2012

Pijakan Jatidiri


Pijakan Jatidiri
Oleh: David Sukma
diperjuangkan
dari sebuah ajang komersiil

Altar langit merekah jingga bertabur gumpalan awan kelam yang teriris kilat berjalan mendekat. Diujung sana sang mentari tengah barjingkrak hendak menutup harian. Siutan angin gemerisik membelai ujung-ujung hijau padi. Bulir-bulir kesejahteraan merunduk diujungnya yang sebulan lagi siap panen. Auman kerbau di sungai membawanya bangkit dari alam air dan mendekati rerumputan untuk memuaskan kehendak perut yang keroncongan.
Hamparan padi di tepi sungai menemaniku memandikan kerbau. Desa ini masih tentram dan damai oleh suasana alam yang terbuai masa jauh dari jangkauan orang-orang rakus. Ditepi jalan ada sebongkah pohon besar yang disekitarnya berserakan tanaman padi yang tumbuh subur. Kulihat seseorang di bawah pohon itu melambaikan tangan padaku. Wajah itu, kulit putih itu, apa itu Ardan si bocah kota? Aku pun berjalan mendekat. Aku tahu bahwa desa ini memberinya kenangan buruk.
“Agus…,” ujarnya saat aku semakin dekat. “Duduk, temani gue,” pintanya lesu. Aku pun duduk disampingnya turut bersandar pada pohon rindang ini. Ransel yang tersandar di pohon penuh sesak oleh semua perlengkapan pribadi. “Jadi kamu sudah mau kembali ke Jakarta to, Ardan?” tanyaku ragu. Ardan mengangguk, memegangi kepala yang katanya sudah sakit sejak sebulan yang lalu. Kulihat layar hanphone yang ia pegang berulang kali berganti-ganti gambar, dialah si gadis desa pujaan Ardan. Foto-foto Yanti pasti menjadai sebuah kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Gadis desa pertama yang memberinya sebuah kedamaian.
“Ini semua salah gue, Gus. Andaikan Yanti nggak mengenal gue, mungkin Yanti bakal menikah sama elu dan hidup bahagia sampai punya banyak anak dan mungkin elu kelak bakal mandiin kebo lu itu  bareng anak-anak lu dan Yanti,” ujarnya miris menatap langit muram. “Sudahlah, Ardan. Yang lalu biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang, lupakan desa ini. Jadilah orang besar dan kamu bisa punya banyak kebo di kota sana,” ledekku mencoba mencairkan pikirannya. “Hahaha...kebo? Kebo di Jakarta itu bentuknya batangan. Tinggal makan, Gus. Hahahaha…punya banyak kebo lu bilang. Hahaha…” kulihat Ardan tertawa-tawa geli menggelengkan kepala. Ia memegang perut dan masih memegang kepalanya besama hanphone.
“Gue pikir semuanya bakal berjalan lancar, Gus. Tapi semua usaha keras gue bakal gue hentikan sampai di sini.” Kucoba diam mendengar semua perkataan Ardan, sebulan yang lalu dia adalah bocah kota yang aku benci, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai memaklumi keberadaannya. “Cerita saja kalau kamu masih punya beban. Jadi kamu bisa pergi dari desa ini tanpa pikiran yang membebani kamu…” ardan melihat kearahku, ia menarik nafas panjang seolah mengiyakan kata-kataku.
Dulu gue kesini dengan satu tujuan, selesaikan semua ini dan wisuda dengan cepat. Jadi gue bisa nggantiin bokap gue di perusahaan. Pertama gue datang ke desa ini yang gue liat adalah Yanti, dia bermain air dengan kebomu itu di sana. Gue potret dia diam-dam. Dan malam harinya ternyta dia adalah putri dari pak kepala desa tempat gue menginap. Beberapa hari gue di sana, setiap selesai mencari data, gue selalu mencoba mendekati Yanti yang tiap sore selalu menyirami bunga mawar putih yang tumbuh cantik di dalam pagar di depan emperan rumah.
Ardan mulai memutar otak melihat nosatalgia benak. Kakinya lurus dan tangan memegang hanphone melihat-lihat gambar Yanti yang tersenyum manis. Entah kenapa gue bisa suka sama dia, Gus. Tiap sore gue duduk di emperan rumah untuk menulis laporan observasi yang gue cari dari mulut-mulut warga. Diterpa semilir angin bersama bulir-bulir serbuk sari yang terhempas ke udara. Tiap sore itu pula harum tubuh Yanti mengelilingi gue. Rambutnya yang hitam pekat, panjang sepinggang. Badannya yang semampai ditemani kulit kuning lansat. Wajahnya catik dan senyumnya adu bidadari. Benar-benar tepat bila dia disebuat bunga desa.
Tapi saat gue tahu elu adalah calon suami Yanti, dada gue mulai membengkak oleh setan yang menyeruak bersama bilah pisau neraka yang menyusupkan kekecewaan. Semakin gue memikirkan itu, semakin tubuh gue mulai mengambil inisiatif. Sore itu gue ngobrol sampai malam, dia tertawa-tawa riang dengan semua candaan kota yang gue lantunkan. Dia pun menanggapi semua yang gue katakan, seolah dia memang ingin dekat. Tapa menunggu lama saat ia bicara tanpa memandang gue, langsung gue cium pipinya. Yanti terperangah kaget dan menyentuh pipi. Wajahnya merona merah, gue pun merasa seperti ada yang menggelitik di hati. Gue tersenyum menatapnya, tapi Yanti langsung berlari masuk ke dalam rumah. Haha..malam itu  adalah amalm yang lucu.
Aku geram mendengarkannya. Lucu kau bilang, kau meracuni perasaan Yanti yang sudah kupelihara sejak lama. Kau membuatnya bimbang dengan perasaannya. Gemerisik ranting pohon yang bergoyang diterpa angin sore menutupi panasnya dadaku yang mendengar cerita Ardan. Parang yang tergeletak disampingku berulang kali kulihat. Ujungnya mengkilap meski langit senja membisikkan kesabaran.
Suatu malam aku mendatangai rumah Yanti, sungkem kepada kedua orang tuanya yang memang sudah merestui hubungan kami. Kami ngobrol sejenak di ruang tamu sampai akhirnya Yanti menemuiku. Kami pun duduk berdampingan membicarakan banyak renungan dan sesekali menggodanya. Namun dari dalam rumah seseorang keluar dari salah satu kamar menuju ruang tamu dan menyapa kami dengan santainya. Saat melihatnya rasa khawatir langsung menyerbu batinku, membawaku pada pikiran-pikiran buruk.
“Yanti, siapa orang itu?” dia tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Dia mas Ardan. Orang kota yang datang kemari untuk menulis sekripsi.” Tanganku mengepal keras, otot-otot tangan menguat padat. Keberadaannya disini akan mengganggu hubungan kami pastinya. Semua pikiran negateif terbayang dibenakku, hatiku pun turut merasakan pemikiran-pemikiran kacau ini. Namun akal sehatku bergmam, “Sabar, orang itu hanya numpang lewat di rumah ini. Ingat Gusti, wanita ini belum sepenuhnya jadi milikmu. Dia masih punya hak untuk menentukan pilihannya. Bila kamu ingin memilikinya, secepatnya kamu harus membuat keputusan. Lamar dia.”
Rasa sesak di rongga dada seketika menghilang, senyum menilik masa menemaniku untuk semakin optimis dengan Yanti. Hubungan ini sudah lama kami bina, orang tua kami pun sudah saling menyetujui. Hanya tinggal selontar kata yang akan membawa kami dalam pinangan.
Malam semakin larut terbirit waktu. Siutan angin malam menggoda rinai bulu di leher. Di depan pintu rumah, Yanti melepas kepulanganku. Namun saat sampai di pertengahan jalan, kulihat Ardan berdiri di tepi sambil memutar-mutar hanphone_nya. “Kalau nggak salah namamu agus. Jauhi Yanti,” tegasnya langsung berjalan melewatiku. Ini seperti sebuah peringatan dari seorang pendatang yang tak tahu diri.
“Hei, berhenti kamu. Saya ini calon suami Yanti. Seharusnya saya yang bilang seperti itu. lebih baik kamu pergi dari desa ini. lagi pula tidak seharusnya kamu ada di sini,” teriakku. Tapi ia tetap berjalan meninggalkanku. Dadaku penuh geram melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, namun tiba-tiba tubuhnya berjalan gontai dan akhirnya rubuh. Seketika itu aku mendekat. Darah mengalir di hidung, kesadarannya lenyap entah kemana. Tanpa pikir panjang aku langsung menggendongnya kembali ke rumah Yanti.
Auman kerbau  membangkitkan kami dari lamunan. “Hahahaha…dasar kebo,” ujar Ardan. “Agus kau masih ingat malam itu?” kulihat ia mengambil sebendel kertas dari dalam tas dan membukanya. Semilir angin membawaku memerhatikan mulutnya bergumam menceritakan kejadian itu.
Waktu itu sore seperti ini, tapi lolongan corong masjid sudah berkumandang di kedua desa yang saling berbatasan sawah. Aku dan Yanti tengah berjalan pulang membawa kerbau dari sungai. Di jalan berbatu itu kami dihadang empat orang pemuda desa sebelah. Mereka adalah orang-orang yang juga menyukai Yanti, namun tanpa banyak bicara salah seorang mendekat dan langsung memukulku hingga aku terjerembab jatuh dan punggungku terbentur batu jalan. Yanti sontak berteriak. Namun tiba-tiba dari belakang mereka Ardan berlari dan langsung memukuli mereka berempat. Entah bagaimana ia bisa ada di jalan ini, mungkin ia baru selesai mewawancarai penduduk setempat.
“Agus, bawa Yanti pergi dari sini. Serahkan saja mereka padaku,” teriaknya setelah memukul jatuh seorang berkulit coklat gelap. Aku pun bergegas bangkit dan menarik tangan Yanti membawanya berlari bersama kerbau yang begitu malas berjalan.
Malam tiba, purnama bertengger cantik di altar langit. Ditemani jutaan bintang yang meretas ditiap malamnya, mereka berpendar-pendar menyebarkan panji-panji kehidupan. Di ruang tamu, aku bersama keluarga Yanti menunggu kepulangan Ardan. Sudah jam tujuh dan Ardan masih belum terlihat.
            Dari pintu depan sebuah tangan terjulur masuk diikuti tubuh Ardan yang mukanya penuh lebam dan tertutup merah darah. Seketika aku berlari menyongsongnya yang langsung terjatuh sebelum memasuki rumah.
            Larut sudah malam ini, berulang kali Yanti mengkompres kepala Ardan yang lebam. Tubuhnya yang kotor telah dibasuh air hangat. Kulihat matanya perlahan-lahan terbuka, ia pun segera memegang kepalanya dan duduk di atas kasur tidurnya.
            “Agus, Yanti, pak Kepala desa,” ujarnya melihat sekeliling. “Mas, kepala kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya Yanti sambil memeras kain kompres. “Lu nggak perlu khawatir, Yanti. kepalaku memang sepertinya sudah bermasalah sebelum aku sampai di desa ini. mungkin sudah dangkal umurku. Hahaha…,” ujarnya santai.
Aku dan pak kepala desa saling memandang seolah tahu ada sesuatu dikepalanya. Memang seblum ini aku juga melihatnya memegangi kepala. Apa mungkin ia punya penyakit di sana?
Sekali lagi auman kerbau terdengar dan Ardan langsung melihat kearahnya. “Gus, sudah semakin sore. Kebo lu itu mungkin sudah ingin pulang. hahaha…” ia tertawa lebar sambil mengusap-usap rambut belakang kepalanya. “Ah, ngomong apa to kamu, biar saja keboku itu. Aku temani kamu nunggu bis sampai…”
“Ah, ada sms Gus,” ujarnya memotong perkataanku. Kulihat raut wajahnya cemas membaca sms itu. Bahkan ia kesal sampai memukul-mukul tanah. “Ardan…”
“Ah…mungkin ini moment paling berharga yang gue dapatkan di desa ini.” ia menyeka air matanya yang perlahan merembas keluar. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan. “Berharga? Aku pikir kamu itu nggak ngapa-ngapain, Ardan?” tanyaku ragu. “Hus! Sembarangan…selama ini gue nggak pernah ngelakuin banyak hal seperti ini, Gus. Apa lagi berusaha sendiri mencari data demi kelulusan gue. Dan bahkan disini gue mendapat teman dan keluarga baru yang ternyata lebih peduli dari pada keluarga gue yang di Jakarta. Thaks bro…” ujarnya melempar tangan ke pundakku.
“Doakan tahun depan gue masih idup. Hahaha…” ujarnya sepele. Jidatku mengkerut mendengarkan perkataannya. “Ardan, kamu ngomong apa to? Kamu kan masih muda, tentu umurmu msaih panjang. Pasti tahun depan kamu bisa main ke sini lagi,” terangku menguatkannya.
“Entahlah, Gus. Ada sesuatu di kepala gue yang membuat gue risau. Ini seperti bom waktu, Gus. Hahaha…” sekali lagi ia tertawa sepele. Aku tahu ia tengah sedih dengan penyakit yang ia derita.
“Huwaaa…bis gue udah datang, Gus.” Ia berdiri, mengambil tas punggungnya dan ia kenakan. Bis kota di ujung jalan itu masih lumayan jauh.
Kami saling berhadap-hadapan, wajahnya lega dari penantian lama untuk menunggu datangnya bis kota ini. Ia menjulurkan tangan, kami pun saling berjabat bahkan ia langsung memlukku erat. “Thank you Bro…lu udah gue anggep seperti saudara sendiri.” Ia menjabat tanganku erat. Entah apa yang ia katakan, aku tak tahu maksud dari ucapannya. Kedekatan kami hanya sebatas itu, tapi ia sudah menganggapku seperti saudara. Apa dia menemukan jati dirinya di desa ini?
Suara laju bis menderu semakin dekat. Matanya terlihat tajam mengamati bis kota. “Ok, sampai ketemu lagi,” ujarnya sambil berlari, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berlari kembali mendekatiku. Ia meraih tas punggung dan membukanya, mengelurkan sebendel kertas putih. “Ini bro, sekirpsi gue. Baca di rumah,” ujarnya tersenyum lebar. Ia berlari mendekati jalan hendak mengehentikan bis. Saat bis itu berhenti di hadapannya, ia menoleh melihatku, melambaikan tangan dan tersenyum lega sebelum akhirnya masuk ke dalam bis dan pintu pun tertutup membawanya pergi menjauh dari lingkungan desa ini.
Bis kota semakin berpaling dan menghilang di ujung jalan yang menurun. Bendel kertas ini tak begitu tebal. Bukankah ini hasil pekerjaannya selama ini, kenapa ia serahkan ke padaku? Seruan adzan terdengan dari desaku, langit jingga pun telah muram penuh dengan mendung kelam. Angin sawah yang dingin menerpa tubuhku yang berjalan mendekati kerbau di atas ladang rumput.
Sambil berjalan, kubuka lebar pertama dari sekripsi ini. “Bom Waktu.” Tertulis besar di cover awalnya. Kubuka lagi lembar kedua, kulihat darfat isi yang sampi 37 bab. Semuanya memiliki judul dari masing-masing bab ini. Kubuka lagi lembar ketiga, kubaca tulisan kata pengantar. “Untuk desa sepi yang damai oleh masa.” Kepalaku miring ketika membacanya, rasa heran membelenggu pikiranku ingin semakin membuka di tiap lembarnya.
Kubuka lagi beberapa lembar. “Apa seperti ini yang namanya sekripsi? Kenapa seperti cerita?” pikirku setelah membaca beberapa lembar lanjutan. Kubalik lagi untuk melihat lembar kata pengantar.
Kerbau di depanku mengaum ketika aku semakin dekat. Kutepuk-tepuk punggungnya yang penuh lemak dan aku pun lompat ke punggungnya. Sambil berjalan kurasakan tulang-tulang kerbau menusuk-nusuk pantatku, berlenggang kekanan dan kekiri mengikuti irama kaki kerbau.
Semakin kubaca kata pengantar ini semakin kumengerti maksud tulisan Ardan. Maka kusimpulakan untuk mengkopinya dan akan kuserahkan ke perpustakan SD dan kantor kepala desa besok pagi. Ardan ternyata seperti inilah hasil observasimu selama ini_kau mengambil makna yang begitu dalam hingga aku bingung dengan pikiranmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar