Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Kamis, 08 Maret 2012

Dav


“DAV”
Oleh: David Sukm

Huft… huft… berulangkali aku mengambil nafas cepat untuk mencoba mengumpulkan keberanian. Kupejamkan mata, menghirup udara sedalam mungkin, dan menghembuskannya perlahan. Hatiku mulai terasa tenang. Aku yang berdiri tegap bersandar pada dinding ruang kuliah menatapnya dengan penuh perhatian. Kulihat senyumnya masih terkembang. Tawanya yang memancarkan sinar keindahan dari seorang gadis yang kutaksir mati-matian di lingkaran kampus ini. Selalu membuatku merasa tenang dan hangat didalam dada. Sial dia melihat ke arahku. Kesempatan ini takkan kusia-siakan. Kulambaikan tanganku memintanya datang padaku. Dengan senyum penuh kebanggaan aku mencoba merayunya.
            “Hei, kebalkon yuk. Di ruang ini terus gerah rasanya.” Mencoba membujuknya.
            “Ngapain Dav? Kamu tuh, lagi asik-asik ngumpul ma temen malah ngajak aku ke balkon. Ada apa hayo ada apa…? Cie…cie… aku jadi GR nih. Ehm… pasti ada yang mau diomongin sama aku. Ya kan… ya kan… ya kan… hahahaha!” tawanya mencoba menggodaku.
            “Dasar Citra galak. Ya pokoknya ada yang mau kuomongin sama kamu. Ayok.” Mengajaknya sambil aku menyentil jidatnya yang terkesan lebar.
            “Adu… hiiiii… kok galak si. Aku tuh cantik, manis, imut, and nganenin. Bukannya galak. Hahahaaha.”
            “Dasar narsis! Ayo.” Akulalu menarik tangannya.
Kuajak dia berjalan bersama ke balkon lantai lima. Sesampainya di balkon, Citra langsung berlari menuju ke tepian balkon. Dipeganginya pagar pembatas balkon itu. Aku pun mengikutinya dari belakang.
            “Huwaaaa… pemandangan dari atas sini emang enak ya. Kita bisa lihat kampus lain. Pohon-pohonnya hijau. Hemmmm… rasanya nyaman berada disini. Ditambah lagi langit agak mendung. Rasanya bener-bener pas berada disini.” Ia merentangkan kedua tangannya menikmati angin yang berhembus kencang.
Awan mendung pun semakin mengental di langit sana. Menambah kencang laju angin yang bertubi-tubi menerpa tubuh Citra. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Siang ini balkon sepi pengunjung. Biasanya selalu ada orang yang duduk dan berkumpul di sini.
Tangan Citra yang putih nan halus aku pegang dan kutarik ia hingga berhadap-hadapan denganku. Kutatap matanya yang jernih. Ku belai rambutnya yang hitam lebat. Kurasakan lembut membelainya.
            “Citra, aku… aku suka sama kamu. Aku… aku sayang sama kamu. Aku nggak tahu kenapa aku tuh bisa suka sama kamu. Kita emang sering bercanda bareng. SMS-an. Kamu pun sering curhat sama aku. Aku nggak tahu sebenarnya seperti apa perasaan aku. Tapi aku… aku… aku rasa aku suka sama kamu dan ini… bukan hanya sekedar rasa suka, Cit. aku rasa aku bener-bener suka dan sayang sama kamu. Aku…aku… ingin…” Mencoba menyakinkan Citra dengan semua ucapan jujurnya.
Citra menutup mulutku dengan jarinya agar aku berhenti bicara.
            “Shuuuuuuuuuuut! Cukup. Aku sudah cukup mendengar penjelasan kamu. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan kamu sama aku, Dav. Tapi kamu sudah terlambat.”
            “Aku tahu, Cit. Aku tahu.”
            “Lalu kenapa kamu baru bilang sekarang. Kenapa? Aku sekarang sudah pacaran sama Arweda. Kamu pun sudah tahu kan?” mengatakannya sambil menangis.
Aku tak tega melihatnya menangis karena. Aku pikir dia sekarang pasti merasa gundah. Citra menangis. Mungkinkah sebelumnya dia pernah menyukaiku?
            “Citra aku juga tahu kalau kamu sudah pacaran sama Arweda. Aku… aku Cuma pengen mengutarakan perasaanku ini. Aku tahu aku terlambat. Tapi aku bener-bener sayang sama kamu, Cit.”
            “Terus mau gimana? Kamu tahu kalau aku sudah punya pacar. Tapi kamu tetep mau nembak aku. Sekarang aku sudah merasa nyaman sama Arweda. Aku nggak mungkin mutusin Arweda karena kamu kan? Dulu aku memang pernah suka sama kamu Dav. Tapi kamu… kamu bahkan nggak merespon perasaanku. Sekarang kamu malah baru menyatakan perasaan kamu sama aku. Kamu terlambat.” Masih air matanya menetes menjawab pernyataanku dengan lembut.
            “Citra, aku tahu kalau aku sudah terlambat menyatakan perasaanku sama kamu. Tapi aku mengatakan ini agar kamu tahu kalau aku sebenarnya sayang sama kamu. Maaf kalau aku malah membuat kamu jadi bimbang. Maaf kalau aku baru mengatakannya sekarang. Tapi sekarang aku mengatakan ini agar aku tidak menyesal nantinya. Agar aku puas dan tenang karena sudah mengatakan perasaanku yang sebenarnya.”
            “Plak!” tanpa kuduga Citra menamparku.
            “Sekarang malah aku yang menyesal karena sudah mendengarkan pernyataanmu. Kenapa kamu baru bilang sekarang. Padahal dulu aku sempat mengharapkan kamu tuk jadi pacarku. Tapi kamu nggak mau mengutarakan perasaanmu.” Kembali Citra menangis tersedu.
Aku tersenyum menanggapi tamparan dan ucapannya. Meskipun saat terkena tampar tadi aku merasa kaget dan sedikit takut. Tapi aku senang mendengar ucapannya.
            “Ya udah kita sudah tahu perasaan kita masing-masing. Aku pengen kamu tetap pacaran sama Arweda. Aku nggak pengen kamu putus gara-gara aku. karena Arweda itu juga temen aku.”
            “Yeeeeee, siapa yang mau putusin Arweda. Arweda tu lebih ganteng dari kamu tauk. Aku nggak nyesel kok jadian sama dia. Weeeeeek… hahahaha” dia mencoba kembali manggodaku. Ia menghentikan tangisnya dan kini ia tertawa lebar. Membuatku tambah sayang kepadanya.
            “Hoooooo gitu yaaaaaa. Ok… Ok…” aku lalu merangkulnya dan menyentilnnya berunlang kali.
            “Aduh…aduh… Sakiiiiiit…..” Dia tersenyum menatapku.
Tiba-tiba Citra mendekat dan memelukku dengan erat.
 “Dav. Aku masih sayang sama kamu.”
Aku pun ikut memeluknya dengan erat. Kubelai rambutnya berulang kali.
“Aku juga sayang sama kamu.”
Aku dan Citra lalu saling bertatapan. Tersenyum dan saling memiliki satu sama lain. Hati kami terasa benar-benar damai.
            “Dav!”
            “Apa?”
            “Hehehehe…” Ia tersenyum kepadaku.
Aku tahu bahwa ia pasti merasa senang karena aku telah mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Citra beranjak pergi meninggalkanku. Sesekali ia berbalik menatapku dan tersenyum. Sebelum berjalan jauh meninggalkanku sendirian di balkon, ia melambaikan tangannya.
            “Dav, nanti malam telpon aku ya.” Pintanya.
Aku hanya tersenyum dan mengacungkan kedua jempolku kepadanya. Punggungnya pun kini tak terlihat. Kini aku sendirian di balkon. Kupandangi sekitar terasa amat nyaman. Hatiku sejuk. Beban yang kupikul kini telah menghilang. Sekarang aku bagaikan secuil kertas yang melayang-layang bebas di udara.
Hanphonku berdering. Kulihat ada sebuah nama. Amy. SMS apa dia ya?
“Dav kamu dimana” Aku tersenyum melihat SMS-nya.
“Aku ada di balkon lantai lima. Kesini aja. Aku sendirian dan kesepian tanpamu disini. Hahaha…..” Jawabku melalui SMS balasan yang kukirimkan.
“Dasar kau!” Jawabnya.
Tak lama kemudian ia muncul dan memanggil namaku.
“Dav. SMS-mu tuh… dasar lebai.” Mengejekku.
Ia mendekatiku yang tengah berdiri tegak menantinya di pagar balkon yang hanya setinggi pusarku ini. Aku tersenyum melihatnya mendekat.
            “Hiiiii… dasar orang gila. Senyam-senyum sendiri. Udah ah. Aku jadi GR nih kalau kamu senyum terus pas ngelihat aku.” Katany amalu.
Aku lalu mendekatinya. Membelai rambutnya. Ia pasti kaget karena aku tiba-tiba berubah sikap menjadi romantis kepadanya. Kupegang pundaknya lalu menariknya dengan kuat. Aku peluk ia erat-erat.
            “Dav, kmu kenapa?” Tanyanya tanpa penolakan lepas dari pelukanku.
            “Amy, mulai sekarang jangan panggil aku Dav! Aku suka dengan sebutan itu karena Citra yang memanggilku. Tapi namaku yang sebenarnya kamu juga tahu kan. Daniel Ardinata Vasya. Mulai sekarang panggil aku Daniel. Jangan kamu panggil aku Dav lagi.”
Aku masih tetap memeluknya erat, aku belai rambutnya yang sepanjang pundak. Sepertinya ia pun menikmati pelukanku. Kurasakan tangannya mulai ikut memelukku. Kurasakan tubuhnya yang hangat dan rambutnya yang lembut. Memang sepertinya hanya wanitalah yang mampu mengobati segala penyakit hati.
            “Amy, kita sudah satu tahun jadi sahabat kan?”
            “Iya. Kenapa?” Tanyanya.
            “Selama itu cuma kamu yang selalu berada disisiku. Selama itu pula cuma kamu yang selalu mendengar keluh kesahku yang konyol itu.” Mencoba menggombal kata-kata kepadanya. Lalu aku hentikan kata-kataku sejenak.
            “Amy aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Cuma kamu satu dihatiku. Dalam hatiku cuma ada namumu yang terukir tebal didinding hati dan perasaanku. Cuma kamu yang selalu terpintas dalam setiap angan dan mimpi-mimpi indahku. Amy, aku sayang dan cinta sama kamu.”
Kupegang pundaknya. Kulihat dia menangis mendengar kata-kataku ynag tulus. Aku pun menghapus air matanya menggunakan kedua tanganku.
            “Amy, kamu maukan jadi pacarku.”
Dia menatap mataku dengan penuh harapan. Sejanak ia menghentikan nafas. Menariknya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
            “Em.” Dia pun hanya mengangguk menjawab permintaanku.
Kembali aku memeluknya dengan penuh rasa sayang. langit pun tiba-tiba menangis melihat adegan romatis kami.
            “Daniel gerimis nih.” Tanya Amy enggan kehujanan.
            “Kamu nggak manggil aku Dav lagi? Hem!” Tanyaku.
            “Kan kamu yang minta agar aku memanggilmu Daniel, bukan Dav.”
            “Kalau begitu tetaplah disini bersamaku. Biarlah nama Dav hanyut dan terhapus bersama derasnya hujan di siang ini. Amy, terima kasih karena kamu sudah mau menerima hatiku.”
Ia menguatkan pelukannya. Kurasakan hangat tubuhnya semakin kuat. Gerimis pun berubah menjadi hujan lebat. Aku memeluknya erat-erat. Kurasakan hati kami saling terpaut. Hangatnya mampu menghilangkan dinginnya air hujan yang mengguyur kami. Terima kasih Tuhan. Kau berikan aku kenikmatan hidup yang tiada tara. Kupejamkan mata ini dan kunikmti pelukan ini bersama guyuran hujan yang semakin deras.

1 komentar: