Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Kamis, 08 Maret 2012

Zida


Zida
Oleh: David Sukma
 
 
Semua hati dan pikiran seharusnya patuh akan keinginan pemiliknya. Begitu pula denganku seharusnya. Semua teman-temanku sedang memperhatikan pelajaran dengan serius. Tapi apa yang tengah kulakukakan? Aku duduk dengan tenang di bangku tengah paling pinggir. Kepalaku yang berat kusandarkan pada tembok dengan tenang tanpa sepengatahuan orang lain. Pak Guru di depan kelas menjelaskan pelajaran dengan suara yang begitu keras dan semua siswa pun memperhatikan. Kedua mataku tertuju padanya. Tapi pikiranku tengah melayang-layang jauh memikirkan fantasi hidup suram yang kualami sendiri. Suram dan kosong seperti mataku yang melihat kedalam angan.
Aku yang baru memasuki semester baru di kelas tiga SMA ini serasa tak sanggup lagi menjalani hari-hari sekolah bersama teman-teman yang selalu baik dan peduli kepadaku. Masa-masa sekolahku sebagai siswi seharusnya kunikmati dan kuperjuangkan untuk bekal melanjutkan ke perguruan tinggi nanti. Tapi apa, semangatku luntur oleh kerasnya perjuangan hidup yang harus kulalui. Meski aku dibantu oleh adikku Handri, yang kini juga duduk dikelas tiga bersama namun berbeda kelas. Kami adalah dua anak kembar yang berbeda jenis kelamin. Tapi kami selalu menjaga dan melindungi satu sama lain, begitulah ajaran ibu kami sebelum ia pergi meninggalkan kami dalam damai.
Tiga bulan yang lalu ia mengalami kecelakaan maut saat ulang tahun di umur 45 nya. Bersama ayah dan juga Handri yang ikut dalam perayaan ibu, hanya aku yang hari itu tak mau ikut untuk merayakan ulang tahun ibu. Aku yang tengah kalut dengan Upik pacar sekelasku, membuatku malas untuk melakukan segalanya.
Malam itu adalah malam paling kelam dalam hidupku. Malam dimana Ia mengambil nyawa ibu tercintaku. Aku yang tengah duduk di ruang tamu dengan setumpuk makanan ringan di meja, tak mempedulikan dering telepon rumah yang telah berulang kali mengaum. Televisi yang kunyalakan bahkan tak membuatku tertarik untuk mengikuti acaranya. Mulutku penuh dengan chiki yang riuh gemuruh bergeming dalam mulut berbaur dengan bunyi telepon yang telah keempat kalinya berdering. Akhirnya kuputuskan untuk mengangkatnya. Kudengar suara kekhawatiran dari ucapan mulut ayahku yang memintaku segera datang ke rumah sakit.
          “Zida, sekarang juga berangkat kerumah sakit. Mintalah pak Agus mengantarmu ke rumah sakit Putra Medica. Kita barusaja kecelakaan Zida….”
Secuil kalimat itu yang membuat air mataku terjun deras dalam seketika. Rasa takut dan panik menyelimutiku. Pak Agus yang mendengar berita ini langsung bergegas mengambil kunci mobil dan langsung melayangkanku menuju rumah sakit.
Di ujung sana ku lihat ayah duduk di kursi tunggu depan ruang UGD dan langsung kuhampiri. Saat aku mendekat, ayah langsung memelukku erat. Kulihat kepalanya telah di perban karena luka benturan yang ia alami. Darah kering yang terlihat merah menganga telah merekah merata di sekitar kepala. Tapi aku tak melihat ibu dan Handri. Dimana mereka? Apa mereka ada di dalam ruang UGD ini, tanyaku dalam pikir.
Tiba-tiba pintu UGD terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah muram wujud dari kekecewaan diri yang ia pajang di depan muka kami, “Bapak, istri anda tak sanggup kami selamatkan. Pendarahan besar dikepalanya, membuat nyawannya tak tertolong lagi.”
Secepat ucapan dokter itu, tangisku pun langsung berderai dan memohon dokter itu untuk melakukan segala cara agar nyawa ibuku bisa tertolong. Aku dan ayah langsung berlari masuk melihat keadaan ibuku. Tapi disana, ia sudah terbujur tanpa daya untuk kembali hidup bersama kami. Tangisku meledak-ledak tak percaya dengan kepergian ibu yang kurasakan begitu cepat. Belum lagi kudapati kabar tentang adikku Handri.
Pagi itu kami harus mengadakan upacara kematian ibu, dan tangsiku masih enggan tuk reda. Dari kabar dokter yang telah kami dengar. Kemungkinan besar Handri akan mengalami kebutaan pada mata kirinya akibat serpihan kaca yang menghujam matanya. Bahkan hingga kini Handri belum sadarkan diri di rumah sakit akibat benturan keras dan syok yang kemungkinan menghambat kesadarannya. Upacara kematian ibu pun ia takkan pernah merasakannya. Aku tak sampai hati akan seperti apa nantinya Handri bila saat sadar nanti ia mengetahui bahwa ibu telah meninggal.
Telah genap seminggu dari kepergian ibu. Kini Handri pun telah diizinkan untuk pulang dari rumah sakit. Hatinya hancur mengetahui mata kirinya harus buta karena kecelakaan konyol ini. Bahkan donormata untuk Handri masih belum kami dapatkan. Ayah masih berharap akan adanya donor mata untuk Handri, agar ia tak merasa begitu bersalah dengan kecelakaan ini. Selama ini pula kami belum mengatakan apa pun tentang ibu kepada Handri. Tiap kali ia bertanya pasti kami jawab bahwa, “Ibu menunggumu di rumah, makannya kamu harus segera sembuh, Handri.” Hanya itu yang mampu kami katakana untuk menguatkan hati Handri.
Tapi kini setelah ia pulang, justru kenyataan buruk yang harus ia terima. Mengetahui ibunya telah meninggal, Handri langsung menyalahkan ayah. Ia tak terima harus kehilangan ibu kesayangannya. Lagi pula selama ini hanya ibu yang selalu peduli kepada kami. Ayah yang seharusnya menjadi tauladan kami, ia tak pernah mempedulikan kami. Ia selalu sibuk dengan urusan kantor dan selalu pulang malam. Tak pernah punya waktu untuk kami dan tak pernah mau peduli dengan urusan kami.
Kini satu bulan telah berlalu. Kujalani hari-hariku begitu sepi tanpa seorang ibu di rumah. Handri yang periang kini menjadi anak yang pendiam dan sering berkelahi di sekolah. Bahkan ia sering bolos sekolah dan entah keluyuran kemana tanpa tujuan yang jelas. Ayah yang seorang pekerja keras, kini ia malah sering menghabiskan waktunya di rumah. Kudengar ia telah turun jabatan. Di rumah, kerjanya hanya tidur dan tak pernah mau melakukan apa pun. Ia kini menjadi orang yang malas, murung dan tak punya semangat hidup. Sebenarnya sudah berulang kali aku mencoba menjelaskan bahwa kecelakaan itu bukanlah kesalahan ayah, tapi ayah selalu menyalahkan diri sendiri, membuatnya tenggelam dalam kebiasaan buruk yang tak pernah ia lakukan.
Di rumah ini, yang kami miliki hanya rumah dan segala isinya yang masih bertahan untuk tetap bersama kami dalam keluarga kacau yang tak pernah kubayangkan ini. Seorang pembantu dan seorang supir yang dulu kami miliki, kini telah pergi meninggalkan kami.
Hari-hari yang kulalui kini terasa begitu sepi tanpa hadirnya seorang ibu yang selalu ada untuk kami. Disekolah pun aku tak pernah merasakan kesenangan lagi. sekolah yang menjadi kesibukan segala aktivitas di luar rumah, kini hanya sebgai tempat singgah sementara dan sekedar tempat berpaling dari lingkungan rumah yang membosankan.
Tiap kali pulang sekolah aku harus membersihkan rumah, mencuci, dan memasak makanan untuk ayah dan Handri. Berulang kali Handri marah padaku karena masakanku yang tidak enak. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa kubuat. Tapi kemudian Handri mengajariku bagaimana cara memasak yang benar, dan saat itulah kesenangan dirumah dapat kami rasakan. Meski pun Handri anak laki-laki, tapi dia suka memasak, dan hal inilah yang membuat Handri selalu ingat dengan ibu. Memasak adalah hobi menyenangkan yang ditularkan ibu kepada Handri.
Pernah suatu hari Handri yang memasak semua makanan dan dia pun mendapat pujian luarbiasa dari ayah. Tapi sekarang, ayah sekali pun tidak pernah berkata sepatah kata pun kepada kami. Tiap kali pulang kerja, ia langsung pergi ke kamar. Kamarnya pun penuh dengan aroma minuman keras. Tong sampah di luar rumah sering di hampiri para pemulung karena dipenuhi sampah botol minuman keras. Mungkin karena depresi dan rasa bersalah yang membuatnya seperti ini. Ayah yang rajin beribadah pun kini telah berubah total, ia telah lupa kepada Allah dan tak pernah lagi beribadah. Aku yang muak dengan kelakuan ayah sudah tak pernah lagi mempedulikannya, begitu pula dengan Handri. Ia juga tak pernah mempedulikan ayah.
Bel sekolah berbunyi. Aku pun terbangun dari lamunanku. Kulihat sekeliling, semua anak merapikan bukunya dan langsung pergi keluar untuk membeli makanan. Ajakan Diana untuk pergi ke kantin sekolah kuabaikan. Aku pusing memikirkan ayah yang jadi seperti ini karena ditinggal pergi ibu. Hanya tinggal aku yang terkulai lemas tanpa semangat. Kurasakan sepi di kelas ini. Kuputuskan untuk kembali merebahkan kepala dan menutup mata.
Pernah berulang kali aku berpikir bahwa suatu saat ayah pasti akan dipecat dari kantornya. Kelakuan ayah dirumah saja sudah seperti itu, aku tak tahu seperti apa kelakuan ayah di kantor hingga ia masih dipertahankan untuk bekerja disana.
Pernah suatu malam ayah mabuk berat. Saat itu kulihat jam dinding di kamarku tepat menunjukkan pukul sepuluh malam. Kamar Handri yang bersampingan dengan kamarku sepertinya sudah tak terdengar suara apa pun, mungkin ia sudah tidur. Tiba-tiba ayah masuk kedalam kamarku. Ia berjalan sempoyongan dan matanya sayu-sayu mabuk tak karuan. Ia mendekat namun baru beberapa langkah ia pun terjatuh karena tak sanggup menahan berat tubuhnya.
Aku pun mendekat membantunya berdiri. Kubantu ayah berjalan ke kasur tidurku. Kuletakkan botol minnumannya namun tiba-tiba ia menciumku dan berkata yang tidak-tidak, “Wulan, kupikir kau sudah mati. Syukurlah kalau kau sudah pulang. Aku sudah sangat merindukanmu.” Berulang kali ayah mencoba menciumku. Dimatanya aku adalah ibu, pasti ini pengaruh minuman keras yang diminum ayah.
          “Ayah ini aku, Zida. Ayah! Ayah! Sadar ayah! Aku Zida! Handriiiiiiiii……!” rontaku sebelum akhirnya aku berteriak memanggil adikku.
Handri yang mendengar teriakanku langsung bergegas melayangkan kaki ke kamarku. Melihat ayah yang akan  melakukan hal bejat kepadaku ia langsung menyeret ayah keluar dari kamarku. Tapi ayah tak dapat merima begitu saja. Dimatanya aku adalah ibu, hingga ayah benar-benar tak rela dijauhkan darinya.
Ayah pun akhhirnya memukul wajah Handri hingga ia terjatuh. Melihatnya melakukan itu, aku langsung mendekat. Kulihat perban yang membalut mata Handri mengucurkan begitu banyak darah. Handri pun merintih kesakitan. Ayah yang kalap langsung tersadar. Ia buang botol minuman di genggaman tangannya dan langsung menggendong Handri membawanya kerumah sakit.
Di ruang tunggu kami duduk menanti penjelasan dokter yang menangani Handri. Sempat aku berulang kali marah kepada ayah. Ia pun menangis menyesali perbuatannya. Bahkan ia sempat meminta maaf padaku. Tapi aku tidak puas dengan ucapannya. Kusuruh ayah agar berjanji untuk merubah diri. Aku tak ingin ayah yang seperti ini. Aku ingin ayah kembali sepeti dulu lagi. seorang ayah yang senang bekerja keras, rajin beribadah tapi juga aku ingin ayah peduli pada keluarga. Yang kupunyai sekarang hanya ayah dan Handri. Karena itu aku ingin ayah menyayangi kami dan peduli kepada kami. Hanya itu permintaanku kepada ayah. Dan ayah pun mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berlutut di pahaku, ia menangis dan terus meminta maaf padaku.
Kulihat dokter mendekat, ia ajak ayah untuk berbicara di ruang kerjanya. Entah apa yang mereka bicarakan. Kulihat Handri tertidur di kamar rumah sakit ini. Aku pun duduk di samping menemaninya. “Maafkan kakakmu ini Handri. Karena kakak, matamu harus terluka lagi. semoga matamu baik-baik saja.”
Pagi harinya ayah dan Handri langsung dibawa ke ruang operasi. Kudengar dari dokter bahwa ayah akan menyumbangkan matanya untuk Handri sebagai penebusan dosa yang telah ia perbuat. Aku terkejut mendengar hal ini. Aku tak tahu harus berekspresi seperti apa. Tapi aku menunggu hingga operasi itu selesai.
Dua minggu telah berlalu. Ayah dan Handri pun telah diizinkan pulang dan beberapa hari telah berlalu setelah peristiwa itu. Hari-hari dirumah kurasakan benar-benar berbeda. sepertinya ayah sudah bertekat untuk menjadi orang yang bertanggung jawab dan membuang kebiasaan buruknya itu. Ia telah kembali rajin beribadah. Tiap kali pulang kerja, ayah selalu membawa makanan ringan untuk cemilan menonton TV bersama. Kali ini hari-hari yang kami lalui lebih menyenangkan. Handri pun dengan mata barunya, kini telah mampu menjalani hari-hari seperti biasanya. Kulihat senyum ayah yang terkembang bangga akan apa yang telah ia lakukan. Aku turut senang melihatnya bahagia lagi.
          “Zida… zida…?” Diana membangunkanku dari tidur.
          “Apa…? Tanyaku.
          “ih, kamu tuh! Nih, kubawain es. Sekarang apa lagi yang kamu pikirin, Zidaaaa…? Jangan bilang kalau kamu lagi pusing mikirin Upik! Cie…cie… yang lagi galau.
          “Diana, kamu tuh apaan sih!” Aku beranjak dari bangku dan langsung mengerjar Diana yang menggodaku.
Tertawa ria bergurau bersama. Kupikir ini yang harus kunikmati dihari-hariku menjalani sekolah. Apa lagi yang harus kupikirkan? Masalah dirumah sudah kelar. Apa karena masalahku dengan Upik harus membuatku termenung lagi dan mengacuhkan segala hal untuk memikirkan masalah-masalah sepele. Apa lagi hanya masalah pacar, kupikir ini tidak penting!
          “Piyuk…!”
          “Aaaaaaaaah…… Diana……!”
          “Upz… hahahahaha….” Dia tertwa lebar melihatku basay kuyup oleh tumpahan es di tanganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar