Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Kamis, 08 Maret 2012

Diary Merah


“Diary Merah”
Oleh: David Sukma Putra
 
Sebenarnya apa yang mereka pikirkan. Ini adalah rumah, bukan pasar atau pun hutan rimba. Aku disini anak kalian yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dan bukan malah sebaliknya. Teriakan-teriakan ini membuatku takut. Membawaku dalam hati tanpa cahaya. Caci maki ini apa perlu aku melihatnya? Apa perlu aku mendengarnya? Aku menggigil dalam hati menyaksikan adegan drama tanpa rasa manusiawi. Tengisan yang berdering tanpa putus telah menggerakkan  bulu lembut pada lahan datar di sekujur kulit ini, merinding mengikuti alunan melodi kematian yang entah kapan akan menjemput. Suara-suara pecahan kaca yang bahkan tidak melukai tanah hidup ini pun telah mampu menyayat hati yang bahkan berada di luar jangkauan pecahan kaca itu. Sekali dua kali kurasakan seperti hidup di tempat anti moral. Apa pun yang telahku saksikan, kini tak mampu luput dari mata dan pendengaranku. Kejadian yang telah lampau tak dapat sirna dari hati dan ingatanku. Meski kini aku hampa.
Keluargaku yang semula hidup harmonis layaknya kehidupan sebuah keluarga pada umumnya. Yang memiliki pandangan hidup dengan dasar rasa kepedulian, saling menyayangi, saling menghormati, dan saling menjaga merupakan wujud kehidupan nyata yang hanya sejenak kurasakan. Entah nyata atau hanya kebohongan yang mereka sebarkan dalam dada ini, yang pasti aku tak pernah menyesal dilahirkan dalam keluarga busuk ini.
Rumahku memang terlihat megah, dengan bangunan yang luas dikelilingi pagar tembok dan besi. Didepan rumah terdapat taman dan kolam ikan yang menawan dihiasi tanaman bungan dan ikan mas yang berwarna-warni.
Dari dalam rumah tepatnya di ruang tamu aku sering duduk di sofa yang paling depan dan wajah kulekatkan pada kaca jendela untuk memandangi kolam ikan. Terutama setelah guyuran hujan yang dilanjutkan panas mentari yang menyinari. Seolah gulungan warna tergores di atas kolam. Barisan-barisan warna transparan yang elok telah memanggil hasrat cintaku pada rumah dan keluargaku. Dalam benak kubayangkan ikan-ikan di bawahnya ikut menengadah keatas memandangi gulungan warna yang sejukkan hati dan turut bersyukur atas karunnia Tuhan karena berikan nikmat hidup yang tiada tara.
Tapi berbeda dengan adikku yang baru kelas dua SD. Sepertinya dia tidak pernah suka bila melihatku senang dan merasakan damai di rumah sendiri. Dari dalam rumah dia pasti tahu kebiasaanku yang suka memandangi kolam ikan. Maka saat itu ia berlari keluar, mengambil batu yang berukuran besar dan dengan kuatnya ia lemparkan batu itu ke dalam kolam. Sontak aku langsung marah dan mengejar adikku. Suara hentakan kaki pun terdengar keras kala aku keluar dari ruang tamu dan dengan emosi kuteriakkan.
 “Nilaaa…… kamu tuhhhhh!” Emosiku tak dipedulikan oleh Nila, ia malah tertawa riang dan berlari mengelilingi taman untuk menghindari kejaranku.
“Nila… Putri… ayo masuk, mamah sudah bikinin supermi pake telur kesukaan kalian.” Dari depan pintu ruang tamu, mamah memanggil kami. Kulihat senyum seorang ibu terasa damai saat itu. Nila yang yang tengah melihat mamah, langsung aku seret dan ku gendong masuk ke dalam rumah.
“Ahhhhh…… kak Putri, ayo main lagi mumpung ujannya udah reda nih…” Kata-kata Nila yang terdengar manja ini selalu ku tanggapi dengan senyuman, entah kenapa aku tidak pernah marah apabila Nila bersikap manja denganku. Mungkin karena dia adikku, oh mungkin juga karena aku menikmati kebersamaanku dengan Nila.
Di meja makan papah telah menunggu kami, dengan secangkir kopi di samping mangkuk supermi dan sebuah putung rokok yang masih tersulut di mulutnya. Melihat aku, Nila dan Mamah, Papah lalu memanggil.
“Putri, Nila….. ayo duduk sini. Selagi supermi masih panas ayo makan bareng Papah, ayo Mamah juga.” Melambaikan tangan dan dengan senyum ria seorang papah kepada keluarganya.
Di meja makan yang berukuran sedang dan berbentuk lonjong itu kami berkumpul satu keluarga untuk makan supermi panas yang baru disajikan Mamah. Suasana saat itu terasa benar-benar damai, di tambah lagi pemandangan luar yang terlihat dari jendela kaca dekat meja makan. Cakapan-cakapan santai dari orang tua pun kunikmati sebagai senggama bersama dan panutan hidup.
“Putri, kamu tu anak Papah yang paling Gedhe. Kamu sudah SMA kelas 12. Kalau ada apa-apa sama Mamah dan Papah, pada akhirnya kamu yang harus memimpin dan memiliki tanggung jawab besar terhadap adikmu Nila yang masih kecil. Kamu harus mampu mengambil keputusan sendiri, keputusan yang tegas dan dapat diterima oleh pihak lain.”
Kata-kata Papah kali ini benar-benar berbeda dari biasanya. Kurasakan ini bukanlah candaan. Sambil menyeruput mie masuk ke dalam tenggorokanku, aku pun menjawab. “Papah tu tumben-tumbenan ngomong gini ke Putri. Bikin Putri mikir-mikir tau nggak Pah!” kujawab sambil memonyongkan mulutku keluar dan mengarahkannya ke Papah.
Papah pun tanggap dan langsung menjawab. “Ya kan sebagai anak Papah yang paling manja dan paling gedhe pastinya kamu tahu tanggung jawab melebihi adikmu itu.”
“Iya Papahku yang ganteeeeeeeeng… nggak usah di suruh pun Putri tahu kok apa yang harus dan enggak Putri lakuin.” Kulihat gerik raut muka Papah berbeda menanggapi jawabanku. Mamah sendiri hanya diam dan terus memakan mie yang berada di depannya.
Percakapan ini membuatku berfikir pasti ada sesuatu yang terjadi. Baru kali ini Papah bicara seperti ini ke aku.
Malam itu ketika aku dan Nila telah tidur, kudengar cekcok mulut antara Papah dan Mamah dikarenakan Papah pulang larut malam. Aku yang terbangun namun tak berani keluar kamar untuk mendapat kejelasan tentang kemarahan mereka.
Pagi harinya ketika semuanya sedang sarapan di meja makan, aku datang dengan pakaian rapi dan tas punggung yang sudah menempel di punggung belakangku.
“Lho Putri kok dah siap nih. Sebelum berangkat kamu harus makan dulu.” Seperti biasanya kata-kata seperti itulah yang diucapkan tiap pagi, dan hari ini pun masih diucapkan oleh Mamah.
Aku hanya diam mendengar kata-kata Mamah. “Papah, Mamah, Putri berangkat duluan…” aku berpamitan setelah menyeruput susu hangat buatan mamah. Kulakukan ini karena aku merasa marah dengan kedua orang tuaku. Kuharap yang kulakukan ini membuat mereka sadar apa yangku inginkan.
“Nila, kamu makan di ruang keluarga saja ya. Sana sambil nonton TV juga ngga papa…” Nila pun mengambil piringnya dan menuju ke ruang keluarga menuruti permintaan Papah.
Setelah aku keluar sepertinya Papah akan menyulut pertengkaran lagi. “Mamah… lihat kan yang dilakukan Putri tadi. Semua itu karena tadi malam mamah marah-marah, Putri pasti mendengar pertengkaran kita.” Walau pun tanpa mengeraskan ucapannya, Mamah tahu  kalau Papah sedang marah.
“Duarrr……!” mamah membanting sendok makannya ke meja makan. Sontak papah kaget melihat reaksi mamah yang berlebihan menanggapi ucapan papah. “Loh, papah malah nyalahin mamah. Seharusnya papah yang mikir dong, yang membuat mamah marah-marah gitu tu siapa. Kalau papah nggak main serong dengan sekretaris papah tentunya mamah nggak akan kayak gini pah!”
“Mah…, reaksi mamah tu berlebihan. Nggak perlu kan sampai memukul meja segala.” Papah menghembuskan nafas panjang dan mengatakan.”Papah harus bilang berapa kali sih. Dia itu cuma sekretaris papah. Dan yang mamah lihat di restoran waktu itu tu papah sedang makan dengan sekretaris dan kedua rekan kerja papah yang lainnya, mah….” Papah berusaha menjelaskan dan meluruskan kebenaran tanpa menggunakan emosi. Tapi sepertinya ucapan papah belum mampu meyakinkan mamah.
****
Tepat jam Sembilan malam ketika aku, Mamah dan Nila sedang menonton TV di kamar atas. Terdengar suara bel rumah berbunyi. Mamah langsung turun dan membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah papah dan ketiga teman kantornya. Mereka pun lalu duduk di ruang tamu. Aku sendiri tak tahu apa yang mereka cakapkan, tapi terdengar tawa riang mereka. Sepertinya papah mencoba membuktikan kalau papah sebenarnya tidak selingkuh.
Kini dua minggu berlalu setelah kedua orang tuaku marah-marah. Ketenangan dan kenyamana di rumah pun kurasakan benar-benar menyenangkan. sebenarnya sudah sering mamah dan papah saling bertengkar mempermasalahkan hal-hal sepele, tapi baru kali itulah papah berusaha menenangkan mamah sampai harus melibatkan orang lain. Sebenarnya aku tak menyukai pertengkaran sekecil apapun diantara mereka berdua. Aku tak pernah nyaman berada di lingkungan yang keras, apa lagi sering terjadi pertengkaran, bahkan di keluargaku sendiri. 
Senja itu menambah indah kicauan burung yang menari riang di taman depan rumah. Bilas warna jingga melambai-lamabai di pantulan air kolam membuatku tertarik untuk menikmati sore di rumah ini.
Riang hati di sore itu memurnikan isi hatiku. Walau pun sendirian di kolam ikan, namun senyum tetap menghiasi wajah imutku. Bahkan ikan-ikan kesayanganku ikut tersenyum menanggapi senyumku yang membuat mereka mengerti bahwa aku menikmati ketenangan ini. Keriangan ini kubawa memasuki rumah. Kuambil handphon yang berada di saku baju SMA-ku dan kuselipkan handsat ke dalam kedua telingaku. Sambil menari-nari kecil aku berjalan menuju kamar. Kulihat saat itu pintu kamar mamah tidak tertutup rapat. Karena penasaran maka kutengok kamar mamah dengan wajah sok imut untuk menyenangkan mamah.
Ternyata mamah sedang tengkurap. Tapi dia bukan tengkurap karena sedang tidur melainkan sepertinya mamah sedang menulis sesuatu di buku diarynya. Aku melangkah pelan-pelan dengan kaki-kaki kecilku yang kujinjitkan sambil memegangi rok yang kutarik keatas. Dan tanpa disadari oleh mamah aku lalu meloncat ke atas punggung mamah.
“Lagi ngapai mah! Kayaknya asik banget nulis diarynya.” Sambil tersenyum ria karena berhasil mengagetkan mamah.
“Putri, kamu tu bikin mamah kaget aja, besok lagi kalau masuk kamar orang tua tu ketuk pintu dulu!” mamah marah sambil menyubit pahaku. Tapi aku heran kenapa ekspresi mamah terlihat marah dan seolah seperti menyembunyikan sesuatu. Bahkan buku harian itu langsung di selipkan di bawah bantal tidurnya.
“Mamah tu masak sampai segitunya ngumpetin buku diary. Sini aku mo liat Mah.” Langsung tangan kuarahkan menuju bantal yang di tindih oleh Mamah.
“Putri, udah sana mandi. Pulang sekolah tu seharusnya kamu ganti baju, mandi, terus istirahat. Putri kan capek sekolah sampai sore, ayo sana mandi.” Nada marah dan ekspresi ketakutannya kini dipaksakan untuk seolah-olah terlihat ceria. Ini membuatku semakin heran, sebenarnya mamah ini kenapa? Apa ada yang di sembunyikan dari buku itu? Ahhhh….. tapi itu bukan urusanku.
“Iza mah…. Iza….iza….” Aku lalu keluar menuju kamarku, dengan ujung jari yang kugigit aku berfikir kalau yang ada di catatan mamah itu jadwal mingguan untuk bersetubuh dengan Papah, atau hitungan berapa banyak Mamah berantem dengan Papah, atau rincian keuangan keluarga, atau….atau…
Setelah masuk ke dalam kamar, aku lalu duduk di kasur, sambil membuka kancing bajuku……adu-aduuu…. Kenapa aku jadi mikir yang macem-macem, ya? Sampai ke yang kayak gitu lagi. Ah…itu kan bukan urusanku. Yang penting aku masih bisa jajan, dapet uang saku, and masih bisa ngedate sama Ardit, hihihi….
****
Duduk dimeja belajar semakin lama kulihat semakin mirip seperti kasur saat mata ini sayup-sayup ingin menutup gordennya. Namun aku masih sibuk merundukkan kepala untuk menulis tugas bahasa Indonesia. Hauft…. Mata ini sudah terasa berat layaknya gerbang sekolahku yang pasti tertutup saat malam hari. Mata ini pun sudah waktunya untuk kututup. Tulisan-tulisan di buku kulihat menari-nari riang bila aku mengantuk dan merasa senang bila kututup. Terpaksa, buku yang berada di atas meja pun semuanya aku tutup. Kakiku kuangkat keluar dari roongga bawah meja. Hoahhh…. Saat aku berdiri “Ring…ring…ring…” hanphonku berdering. Ahhh… Ardit… hihihi.
“Malem say… lagi ngapain nih…” Asik… ayang ku SMS. Melihat SMS ini mataku terbuka kembali, hati yang kurasakan telah bosan belajar kini langsung terdongkrak untuk segera membalas SMS-nya.
“Putri, besok pagi aku jemput ya. Berangkat bareng biar anget. Musim hujan kayak gini, siapa si yang mau kedinginan.”
Seperti orang gila, kutanggapi SMS ini dengan senyum. “Ting-tong… ting-tong” bunyi bel rumah berbunyi. Aku langsung berlari kepintu depan, kulihat jam dinding meneriakkan pukul sbelas malam. Jam dinding tua yang setiap satu jam pasti berdentang, kadang membuat telingaku enggan mendengar suaranya. Tapi Papaku selalu bilang. “Putri, barang bagus itu selalu berbeda dengan yang lainnya. Karena itu papa suka.”
Saat kubuka pintu depan. Mataku sontak terbuka lebar karena heran. Sambilku miringkan leher kepala, kubilang “Papah.”
“Mamah buruan ke sini, Papah nih.” Aku berteriak berharap Mamah segera turun melihat situasi yang terjadi di depan mata bulatku ini.
“Napa sih, ya suruh masuk dong. Kayak rumah siapa aja.” Setelah mengatakan itu mama langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke pintu depan.
Perasaanku kacau, isi kepalaku pun langsung kupaksa berfikir. Wanita ini siapa? Pakaian yang ia kenakan benar-benar seksi. Tangan papah merangkul pundaknya erat. Dan wanita ini pun menahan berat tubuh papah. Kulihat wajah papah tertunduk seperti orang tak sadar. Apa papah habis mabok? Tapi papah tidak pernah seperti itu.
Mamah menghampiri. Dengan heran dan kaget mengatakan seperti yang ku katakana. “Papah.” Lalu dengan tanggapnya langsung membantu membawa papah masuk ke dalam kamarnya. Tanpa di perintah pun aku ikut membantu untuk membawa masuk papah.
“Maaf, anda siapa? Sepertinya pakaian anda mencerminkan kalau anda bukan wanita baik-baik.” Awalnya pertanyaan mamah kurasa benar-benar sopan. Namun kelanjutannya ini memperlihatkan kalau mamah curiga dan tidak suka dengan wanita ini.
“Tanya saja suami anda. Kami tadi benar-benar menikmati kebersamaan kami.” Wanita ini menjawab dengan begitu santai. Bahkan senyumannya nampak seperti menantang Mamah. Tapi Mamah tidak tinggal diam. Mamah langsung berdiri dan melempar tangannya yang kemudian dengan keras mengenai pipi kanan wanita itu. Aku pun menyetujui tindakan Mamah tersebut. Bahkan dalam hati aku mengatakan “Rasakan tuh, berani-beraninya menggangu Papaku. Dasar pelacur.” Gerutuku tanpa terucap.
Wanita itu tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap dengan mata tajam tanpa senyum sinisnya lagi. Piipinya yang semakin lama semakin terlihat merah merupakan pertanda bahwa hargadirinya benar-benar diremehkan oleh keluarga ini. Tanpa basa-basi lagi ia langsung membalikkan tubuhnya untuk melangkah kan kaki keluar dari rumah ini.
Mamah yang geram dengan ulah Papah hanya mampu melihat wanita itu keluar kemudian melihat papah yang tertidur pulas karena mabuk. “Putri tolong jaga papah sebentar. Mamah mau menutup pintu.”
Tanpa menjawab perintah Mamah, aku lalu duduk di kasur sambil melepas sepatu yang masih melekat di kedua kaki Papah. Mamah lalu melangkah keluar namun bukan menuju ke pintu depan, melainkan menuju ke kamar mamah. Dalam hati aku bilang “Loh…Kukira Mamah mau menutup pintu depan.”
Setelah itu kulihat Mamah keluar dan menuju pintu depan. Sepertinya Mamah ke kamar untuk mengambil dompet? Itu terlihat jelas di tangan kiri Mamah yang memegang dompet besar kesayangannya. Karena heran, kuikuti Mamah dari belakang. Di depan pintu rumah, ternyata wanita tadi masih belum pergi. Dari kejauhan kulihat sepertinya mamah sedang berbicara dengan wanita itu. Tapi kenapa mamah harus membawa dompet untuk menyuruh wanita itu pergi. “Ah… aku nggak tahu ah.” Dalam hati aku kesal sendiri karena hal ini.
Terlewat dari semua itu. Malam ini aku kesulitan untuk tidur. Semua rahasia tidur pulas telah kulakukan. Tapi apa daya pikiran ini sulit sekali untuk tertidur. Setelah kejadian tadi sepertinya Mamah pun telah tidur. Bayang-bayang benak malam mulai meronta-ronta enggan memikirkan apa yang akan terjadi besok. Pasti dalam hati Mamah telah merasa sangat kesal dengan ulah papah. Bahkan atmosfer saat berada di dekat mamah tadi kurasakan sangat berbeda. Udara panas pasti telah berlarian mendesak masuk ke dalam kamar papah. Menimbulkan atmosfer baru dalam dekap emosi yang tertahan dalam dada. Bergemuruh riang meningkatkan aktivitas magma merah yang memanas. Uap panas pun naik turun dengan cepat terpompa melalui kedua gunung kembar yang telah bergemuruh dari tadi. “Ah…semoga besok pagi nggak ada keributan lagi.” Harapku dalam dada.
“Hoaaaahhhh.” Tepat pukul 05.30 aku bangun dari tidurku. Sepertinya belum terjadi kegemparan antara Mamah dan Papah. Semoga mereka berdua mampu menyelesaikannya tanpa kekerasan lagi. “Auftttt….. kepalaku terasa sakit gara-gara mikirin mamah dan Papah.” Dalam hati dan benakku terus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Ah mendingan aku mandi.”
Kulangkahkan badan mungil ini menuju kamar mandi. Tapi sebelumnya tenggorokan ini terasa begitu kering. Cairan bening yang seharusnya mampu berlari-lari riang, sepertinya kesulitan karena tenggorokanku begitu sakit untuk mampu menggerakkan mereka.
“Eheeemmrrgrggrgr...” Sepertinya suaraku akan serak. Seolah ada lumpur hidup yang menggumpal menyumbat beberapa sisi liang lahat di tenggorokanku.
“Mendingan aku minum dulu ah.” Sambil memegangi tenggorokan yang terasa sakit dan serak. Raut mukaku pun bergeming kacau mengikuti rasa sakit ini. Kulemparkan kaki ini perlahan menuju almari es di dekat dapur. Ternyata Mamah sedang memasak sayur untuk sarapan pagi dan sepertinya Papah juga belum bangun.
“Pagi Mah.” Walaupun dengan suara yang kacau karena serak. Tapiku coba menyapa Mamah untuk membantu mengurangi bebannya.
Aqua yang berisi air putih masih berada di genggamanku. Ku pegang menggunakan tangan kananku yang semakin lama semakin terasa tidak mampu menahan dinginya botol aqua ini. Namun bukan cuma air ini yang dingin. Ternyata suasana didapur ini pun ikut menjadi dingin. Sambil memiringkan leherku, dalam hati kuberkata.
 “Argghghghg… mamah kebangetan ah. Aku dicuekin!” lalu kedua pipiku kugembungkan karena menahan kesal diabaikan mamah.
Kumasukkan kembali botol aqua itu kedalam almari es. Lalu kututup pintunya dengan kuat untuk pelampiasan kesalku. “DUGGG.” Setelahitu aku seret badan ini menuju kamar mandi.
Seperti biasanya selalu kusirami badan ini dengan air hangat yang telah di sediakan Mamah. Tapi belum selesai aku mandi terdengar suara pecahan piring di dapur.
“Piyarrrrr…” memang Cuma satu piring yang pecah namun berikutnya suara papah dan mamah mulai meledak. Malah suara pecahan mereka lebih keras dari pecahan piring. Karena penasaran maka aku berhenti sejenak untuk mendengarkan pertengkaran mereka. Tapi entah kenapa badan ini seperti bergerak sendiri untuk mengambil handuk dan langsung menyembunyikan diri di kamar sendiri. Mungkin karena aku muak dengan pertengkaran mereka. Aku berusaha menjauhkan diri agar tidak terlibat dalam situasi itu.
Setelah aku mengenakan pakaian, sepertinya pertengkaran mereka telah berhenti. Atau mungkin malah akan bersambung ke adegan kedua nanti. “Huuuuft… aku menjadi takut berada di dalam rumah bersama mereka berdua.”
Aku ingin cepat-cepat berangkat sekolah. Karena itu setelah berpakaian rapi, aku langsung bergegas menuju meja makan. Ternyata di meja makan juga ada papah yang mungkin tengah kesal menerima tudingan-tudingan buruk dari mamah. Tapi juga salah Papah sendiri, kenapa jadi pria hidung belang. Papah yang aku kira adalah orang baik ternyata tega melukai hati Mamah.
Saat aku hampir mendekati meja makan, aku berdiri tepat beberapa meter di belakang Papah. Lalu papah menoleh. “Putri, mau berangkat sekolahkan. Sini makan dulu.” Dengan senyumnya yang santai. Papah mengajakku untuk sarapan pagi bersama. Walaupun kesal Papah berusaha tetap tersenyum menghadapiku.
Aku lalu duduk menerima tawaran Papah. Walau pun aku juga ikut kesal, bahkan ikut muak dengan ulah papah semalam. Ingin rasanya aku muntah-muntah bila melihat tampang Papah. Tapi aku tak pernah bisa menolak senyum manis seorang ayah kepada anaknya.
Kuambil piring yang ditumpuk di tengah meja. Aku juga mengambilkan piring untuk Papah. Aku bahkan berusaha mengambilkan nasi untuk Papah. Ini semua karena aku setiap pagi selalu yang mengambilkan nasi untuk Papah tersayangku. Namun yang kulakukan kali ini kenapa terasa begitu berat, bahkan aku seperti jijik melihat papah yang padahal telah berpenampilan rapi untuk berangkat kerja. Tapi untuk sayur dan lauk, biasanya mamah yang selalu membagikannya di setiap piring kami.
Lalu Mamah datang mengalun mendekati meja makan untuk meletakkan sayur dan lauk yang telah matang. Biasanya saat makan, karena meja makan berbentuk lonjong. Papah selalu berada di ujung lalu aku dan mamah selalu duduk berhadapan selain itu Nila pasti menemaniku duduk di samping kursiku untuk makan bersama.
Piring mamah telah kuisi nasi, kini tinggal mamah melayani kami dengan menuangkan sayur dan membagi lauk.
“Putri, mana Nila?” Mamah bertanya sambil mengambil tiga buah mangkuk yang semuanya diisi sayur bayam. Setelah mangkuk itu terisi sayur lalu dibagikan untuk aku, piring Nila dan mamah sendiri.
“Sepertinya Nila masih mandi, Mah. Nila mending biar makan sendiri aja nanti.” Kataku dengan nada santai dan diujung kalimat kusisipi dengan senyuman. Ini karena aku masih benar-benar menghormati mamah.
Ternyata sayur yang dibagikan mamah hanya untuk kami bertiga. Sedangkan papah dibiarkan saja tanpa memberi sayur. Kepalaku kini mulai berputar lagi. Sepertinya perang dunia kedua dalam waktu dekat akan kembali meledak-ledak.
Kini Mamah membagikan telur goring kepada tiap piring kami. Tapi ternyata piring Papah juga yang tidak diberi lauk. Di meja Papah, hanya terdapat sepiring nasi dan teh panas yang baru diminumnya. Kulihat wajah Papah sudah mulai kesal.
Karena tidak dilayani Mamah, maka Papah pun melempar tangannya untuk mengambil telur goring yang tepat berada di tengah meja. Tangan kanan Papah yang sudah sangat dekat dengan telur goring tersebut, tiba-tiba saja piring bergerak semakin menjauh dari tangan Papah karena ulah Mamah.
Papah pun emosi, dalam dadanya pasti penuh uap panas yang hendak mencuat ke permukaan. Tangannya menggemgang bak orang ingin memukul.
“Mamah! Bahkan saat sarapan bersama anak-anak, Mamah masih marah kayak gini. Maksudnya apa si. Papah tu mau makan terus berangkat ke kantor.”
“Ya udah. Minta makan aja sama selingkuhan kamu Pah. Papah tu seharusnya bersyukur karena masih mamah izinin untuk duduk di meja makan ini.” Sambil menunjuk ke arah muka papah.
“Apa! Izin..? ini rumah papah, semua yang ada di dalamnya tu hasil jerih payah papah selama ini. Bisa-bisanya mamah bilang izin… seharusnya tu mamah yang bersyukur karena bisa menikah dengan papah yang seluruh keluargaku ini orang kaya. Mamah tu apa, hem…? Orang miskin yang merayap dan menjelma jadi orang kaya dalam sekejap. Orang tua mama juga tiap bulan ngemis ke papah untuk uang bulanan. Mamah pikir tu uang bagaikan daun? semudah itu minta-min…..”
Belum selesai papah menuntaskan ucapannya tiba-tiba. “Srooot….” Air teh panas yang berada di depan meja papah dilemparkan ke dada papah. Sontak papah berdiri kepanasan.
“Arghhhhh…..” teriaknya dengan kibasan-kibasan baju yang tak teratur.
Tanpa diketahui siapa pun. Dari arah pintu masuk menuju ruang makan, ternyata ada Ardit yang berdiri terpaku menyaksikan keramaian ini. Sepertinya dia masuk karena pintu depan tidak dikunci. Dan mungkin saat memanggil-manggil tidak ada satu orang pun yang merespon. Sehingga dia memutuskan untuk memberanikan diri memasuki rumahku tanpa di suruh.
Karena emosi papah telah meluap-luap dan kinilah saat ledakannya akan terasa. Tanpa mengatakan apa-apa, papah lalu menarik rambut mamah hingga menjauh sedikit dari sudut meja makan.
Mamah yang kesakitan hanya mampu berekspresi layaknya orang yang merintih menikmati rasa asamnya buah jeruk yang belum masak. Kedua tangannya turut memegang tangan papah dengan usaha keras agar mampu terlepas. Namun genggaman papah terlalu kuat untuk mampu dilawan.
Aku yang ketakutan dan merasa bingung harus melakukan apa tiba-tiba berdiri mencoba melepaskan mamah dengan menarik lengan papah dan terus berusaha membujuknya agar bersedia melepaskannya dan menghentikan keributan ini.
“Dengar mah. Tiap kali kau ajak papah ribut, pasti selalu Papah rasakan kalau di mata Mamah ini aku bukan suamimu. Aku tahu dulu kita menikah karena paksaan orang tua. Tapi kini kita telah berkeluarga, bahkan kita telah memiliki dua orang anak! Seharusnya kau mengurangi sikap konyolmu itu. Aku ini suamimu! Kiblat rumah tangga yang seharusnya kau patuhi, kau hormati, dan kau layani.” Teriaknya pelan dan terus menyudutkan Mamah.
“Iya pah udahhhhh…. Semua bisa dibicarakan baik-baikkan? Nggak usah pakai kekerasan gini.” Bujukku meredakan emosi Papah.
“Dengarkan Papah, Putri. Mulut mamahmu ini cuma bisa  dilawan dengan cara kasar. Jadi kamu nggak usah membela mamahmu!” teriakan ini menghancurkan perasaan Putri. Bahkan dengan kerasnya, tangan Papah mengayun mendorong tubuh  Putri yang dari tadi memegangi tangan kiri Papah.
“Papah. Kamu benar-benar sudah keterlaluan!” Mamah berusaha berdiri dari tekanan tangan papah dan langsung menampar pipi papah.”
“Puaaak.”
Ardit yang merasa bahwa dia harus ikut membela Putri dari tangan kasar Papahnya. Ia langsung berlari dan mencoba melepaskan tangan Papah dari kepala Mamah. Tapi apa yang dilakukan papah?
“Nggak sopan! Siapa kamu? Masuk rumah orang sembarangan. Pakai sepatu lagi. Kamu pikir ini rumahmu, hem? Lihat, lantainya jadi kotor.” Bentak papah yang bahkan mampu menghancurkan botol kaca.
Ardit yang mendengar kata-kata lantang papah. Hanya mampu memperlihatkan wajahnya yang tampak seperti orang sedang memikirkan hal yang begitu rumit. Bahkan ekspresi wajahnya Nampak seperti orang yang keheranan.
“Hah. Lanati, kotor? Om! Seharusnya om itu marah karena aku berusaha ikut campur urusan keluarga om. Tapi kenapa malah membahas lantai? Masalah sopan si oke. Masih bisa aku terima. Tapi…” ucapan radit yang kelur dari perasaan herannya kini membuat Papah bingung.
Papah seperti orang yang terpaku dengan keindahan tubuh wanita namun alisnya ikut mengkerut karena berusaha keras memikirkan kata-katanya yang sepertinya salah terucap. Karena semakin bingung. Papah lalu mendorong Radit hingga terjatuh.
“Kau ini orang luar. Ditambah lagi kau ini anak kecil. Jadi jangan ikut campur urusan keluargaku.”
“Papah. Sudah, cukup! Mamah meronta-ronta berusaha melepaskan diri dengan wajah yang penuh dengan air mata. Sambil memukulkan kedua tangannya ke dada papah, bahkan menampar pipi Papah untuk yang kedua kalinya.
Tidak terima perlakuan Mamah. Papah lalu menampar Mamah hingga terjatuh. Belum sempat bangkit dari duduknya, Papah lalu menarik rambut Mamah kembali. Yang mampu di lakukan Mamah hanyalah menangis kesakitan.
Semua perlakuan ini benar-benar tidak sepantasnya Mamah mendapatkannya. Tanpa berfikir pnjang. Tubuh ini bergerak dengan sendirinya. Emosi yang tertahan sudah tidak mampu aku kendalikan. Aku berdiri dengan kuda-kuda kaki yang kokoh lalu menarik tangan papah kuat-kuat hingga papah terjatuh dan kepalanya membentur tembok. Ulahku ini menyebabkan pendarahan di kepala Papah.
****
Sore ini terlihat jelas langit sedang berduka. Enggan hujan namun mendung merata di seluruh penjuru negeri. Aku yang tengah duduk di samping kasur tidur Papah yang baru saja sadarkan diri dari koma selama satu minggu, tengah bercakap-cakap asik mencoba menghibur Papah.
“Paaaaaaah… Putri minta maaf ya… gara-gara Putri, Papah jadi kayak gini.” Merengek sambil memajukan bibirnya dengan air mata yang perlahan menetes.
“Putri, Papah nggak kenapa napa kok. Papah yang seharusnya minta maaf sama kamu. Kamu ini cuma korban.”
“Korban Pah, korban apa?” Tanyaku heran.
“Kamu ini belum mengenal betul Mamahmu. Tapi pada akhirnya nanti kamu juga pasti akan tahu.”
Ingin aku bertanya lebih jelas lagi untuk menghilangkan rasa penasaranku. Namun pintu masuk kamar rumah sakit ini tiba-tiba berdecit. Ternyata mamah yang masuk.
“Mamah.”
Mamah yang baru datang lalu meletakkan parsel buah-buahan, roti, dan tas di meja bagian samping dekat dengan kepala papah.
“Putri tolong kamu keluar sebentar. Mamah mau bicara dengan Papahmu.”
Tanpa mengatakan apa pun aku lalu keluar dari ruangan ini. Kulihat di depan kamar terdapat bangku panjang yang biasa digunakan oleh para keluarga pasien untuk menunggui keluarganya yang sakit. Aku pun duduk sambil menyangga daguku dan seperti biasa aku memajukan mulutku saat memikirkan sesuatu. Suasana rumah sakit di sore hari sepertinya tidak semenyeramkan saat malam hari.
Suasana ketenangan ini membawaku melayang memikirkan apa yang di katakan Papah. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya ia katakana. Kata-katanya seolah mengandung misteri. Misteri yang menyelimuti polemik dalam keluargaku. Masalah yang sebenarnya selalu mengalir di sekitarku namun tidak pernah ada karena aku tidak sanggup merasakannya. Sebagai seorang anak, aku telah gagal. Seorang anak yang baik akan mengerti masalah-masalah apa yang sebenarnya tengah terbentang dalam keluarganya. Seorang anak yang berbakti tidak akan pernah mampu melawan dan melukai orang tuanya. Seorang anak yang baik akan selalu peduli dengan keluarganya dan berusaha mencari tahu apa sebenarnya tengah menyulut si jago merah.
Lamunan ini membawaku ke alam tanpa dosa yang mampu melayangkan sekujur tubuh ini ke dalam cahaya ranum keraguan tanpa batas. Tatapan kosongku seolah mewujudkan pikiranku yang kurasakan benar-benar kosong. Kosong akan segala masalah yang tidak aku ketahui. Duduk di bangku panjang dengan tangan yang menyangga beratnya beban yang kupikul di dalam dunia kepala ini. Membuatku tak sadar bila mamah telah memanggilku hingga tiga kali.
“Putriiiii………” Mencoba berteriak mengeraskan suara.
“Kamu ini, di panggil orang tua diem aja. Buruan pamit sama papah, udah sore ayo kita pulang.”
“Mah, besokkan hari minggu. Putri pengen tidur di sini, Mah. Putri pengen nungguin Papah. Kan kasian Papah kalau di tinggal sendirian terus dari kemaren.”
“Yaudah kalau memang itu mau kamu. Tapi jangan sampai kamu nggak tidur. Kamu juga harus istirahat.”
“Iya Mah.”
“Yaudah Mamah pulang sekaarang.”
Perasaan ini terasa berat untuk meninggalkan mamah sendirian pulang kerumah. Hatiku pun kurasakan terasa semakin berat dikala aku bersedia menungui Papah yang telah berlaku kasar kepada Mamah.
Di langit-langit vertikal tertunjuk bahwa malam ini tepat pukul Sembilan malam. Rasa lelah dan ngantuk mulai merayu daya tahanku untuk merebahkan diri menikmati malam di samping papah yang terluka karena ulahku.
Badanku yang menghadap kearah papah mulai terasa berat. Ingin rasanya kusandarkan ke kasur yang telah melekat di dadaku. Tangan yang menjaga kepalaku agar tetap tegak menjaga papah kini telah rubuh menjadi pengganti bantal untuk kepalaku yang berat ini. Mata yang selalu jernih dan ceria memandangi realitas dunia ini kini sudah saatnya untuk menutup lembaran memori hari ini.
“Bug…” Suara ini mengagetkanku yang hampir terlelap tidur.
Tangan papah yang berat menindih kepalaku dan mengelus-elus rambutku yang panjang.
“Pturi, lebih baik kamu baca ini.” Mendorongnya mengenai tanganku.
“Papah, inikan buku diary Mamah. Padahal aku ngeliat dikit aja nggak boleh. Dari mana Papah dapet ini buku.”
“Tadi waktu Mamahmu pergi ke kamar mandi. Papah mengambilnya diam-diam. Papah ingin kamu tahu seperti apa sebenarnya masalah yang Papah dan Mamamu alami.”
“Tapi pah.” Mencoba menolak dan enggan karena ini tidak seharusnya dilakukan.
Papah diam tanpa kata. Namun buku ini benar-benar menarik keinginanku untuk membacanya. Ditambah lagi Papah telah mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan buku ini. Perasaan ini semakin mencuat. Lembaran demi lembaran aku buka. Kubaca setiap cairan hitam yang mongering membuatku semakin bingung. Apakah ini benar? Apakah ini yang telah dilakukan mamah selama ini.
“Wanita yg waktu itu ternyarta…! Berbagai keributan yang terjadi pun ternyata…” merasa kaget dan bertanya-tanya. “Benarkah ini terjadi?”
“Dulu papah dan mamah menikah bukan karena cinta, Putri. Tapi karena paksaan dari orang tua. Kakek kamu yang dulu pernah berhutang nyawa kepada ayah dari mamhmu. Telah mengikat janji untuk bersedia menikahkan anaknya dengan anak kakek.”
Mendengar cerita ini membuatku ikut memikirkan sesuatu yang dulu memang terjadi pada Papah.
“Banyak hal dari masalah-masalah itu menjadi dasar kekacauan rumah tangga yang baru kamu sadari akhir-akhir ini. Kekasih Mamah kamu itu sampai sekarang masih belum menikah. Karena cintanya kepada Mamamu membuatnya mampu bertahan tanpa wanita hingga sekarang. Hal inilah yang mungkin menyebabkan Mamamu semakin berani untuk meninggalkan Papah karena ia ingin membalas rasa cinta dari kekasihnya.”
“Sudah cukup, pah. Sudah cukup. Ternyata Mamah memang jahat. Mamah memanfaatkan Putri untuk melukai Papah agar Mamah bisa bersatu dengan mantannya. Ini keterlaluan Pah.”
“Tapi bagaimana pun kamu tidak boleh membenci Mamahmu. Papah harap kamu kuat menerima kenyataan ini. Papah sebenarnya enggan memperlihatkan buku itu. Tapi Papah takut kamu menyesal karena melukai Papah dan akan terus membela Mamahmu.”
“Pah, kurasa itu nggak penting. Yang penting sekarang Putri tahu. Hati Papahku memang yang terbaik.” Aku tersenyum mencoba meyakinkan Papah bahwa sebenarnya aku tidak kecewa berat dengan sifat Mamah selama ini.
****
Terik matahari semakin panas menyilaukan mata ini. Aku berdiri tegak menghadap dinding kaca yang menjadi pelindung dari udara dingin di malam hari. Kamar VIP yang Mamah pesan benar- benar terkesan mewah. Aku yang berdiri dikamar lantai Sembilan ini merasa takjub dengan kecantikan taman di bawah rumah sakit ini.
Namun keindahan itu tak mampu meluluhkan hatiku yang telah membara karena rencana-rencana jahat Mamah. Aku yang anaknya telah dimanfaatkan untuk kepentingannya. Kepentingan jahatnya. Ternyata selama ini aku tidak pernah dianggap sebagai anak oleh Mamah. Aku adalah kecelakaan hasil napsu yang tak diinginkan untuk hidup.
Buku diary ini telah membuka mataku seperti apa sebenarnya Mamhku itu. Selama ini ia hanya berpura-pura menyayangiku. Bahkan ia menangis dan menyesal karena mengandungku.
“Putri kenapa kamu berdiri di sana?” tanya Mamah.
Wajahku yang telah penuh dengan air mata hanya kutolehkan kebelakang sambil mengangkat buku diary merah milik Mamah.
Dengan perasaan yang khawatir. Mamah mencoba membujukku untuk memgembalikan buku ini.
“Putri, itu buku Mamah. Ayo sini kasih kembali ke Mamah. Kamu belum membacanya kan.”
“Kalau aku sudah membaca emang kenapa, Mah!” Tantangku.
Aku lalu keluar dan memanjat setengah dari tinggi balkon di luar kamar VIP ini.
“Putri apa yang kamu lakukan. Kamu… kamu ini kenapa?”
“Mamah nggak usah pura-pura lagi, Mah. Putri tahu semua rencana busuk Mamah. Putri tahu hubungan gelap mamah denga mantan Mamah. Putrid juga tahu Mah…… tahu kalau Putri sebenarnya tidak diinginkan oleh Mamah. Di mata Mamah, Putri hanya anak haram yang bahkan dari hubungan resmi pernikahan.” Sambil menangis aku meremas buku diary ini.
“Putri apa yang kamu lakuakan. Cepat menyingkir dari sana. Kamu jangan konyol begini Putri. Seharusnya papah nggak kasih kamu baca buku busuk itu.”
“Apa? Jadi papah yang sudah mencuri buku Mamah! Dasar laki-laki bodoh.”
Mamah lalu mendekat dan menampar Papah tanpa rasa hormat lagi sebagai seorang istri. Papah yang kepalanya masih diperban, terkena tamparan sekeras itu pasti akan terasa sangat sakit dan pusing.
“Putri ayo kesini, Putri. Buku itu sangat penting buat Mamah. Ayo kesini Putri. Jangan sampai kamu jatuhkan buku itu.’
“Apa! Bahkan Mamah lebih peduli dengan buku ini dari pada peduli dengan Putri.”
Mamah berlari mendekati Putri dan berusaha merebut buku itu. Namun Putri tetap memegangnya dengan erat. Namun tiba-tiba buku itu terlepas dari tangan putri dan Putri tersentak kebelakang karena dorongan Mamah. Terjungkir dari balkon dan terjun bebas ke lantai bawah. Yang mampu Putri lakukan hanyalah melihat wajah Mamah yang merasa menyesal. Tangan mamah yang mengarah kebawah seolah menyesal melakukan hal bodoh ini.
Hatiku yang telah hancur membuatku tidak takut akan kematian. Tubuh ini melayang bebas dengan penuh beban hidup yang akan kubawa mati hari ini. Seperti inikah hidupku? Harus mati setelah mengetahui kenyataan-kenyataan pahit tentang keberadaanku. Mataku yang melelehkan air mata terus menatap keatas dan tubuh ini masih terus terjun kebawah. Tangan yang kuarahkan ke atas yang enggan mati karena cita-cita dan harapanku yang belum terkabul. Selama ini hidupku memang palsu.
Papah dan Mamah hanya mampu melihatku terjatuh. Tangan mereka mengarah ke bawah menggenggam pengharapan akan penyesalan yang telah dirasakan.
Aku sudah tak mampu lagi mendengar teriakan-teriakan mereka. Kesunyian dengan cepat datang menyelimuti dan hening tercipta dalam sekejap. Saat mata kututup perlahan.
“Duggggg!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar