Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Kamis, 08 Maret 2012

Black & White


“Black & White”
Oleh: David Sukm

“Lihat kelakuan manusia-manusia itu. Mereka membunuh, mencuri, menipu, memperkosa, berperang, menganiaya sesamanya, dan merusak bumi yang kusayangi. Lihat itu! Apa-apaan itu. Dasar manusia-manusia tak tahu diri. Aku muak dengan tingkah polah mereka, White!” mencoba menjelaskan perkataannya dengan menudingkan jarinya kea rah bumi.
“Sudahlah Black, kau ini terlalu ambil pusing. Semua itu adalah urusan mereka. Tugas kita hanya mengamati.”
“Mengamati kau bilang? Lihat dirimu! Kau hanya tidur-tiduran di awan seperti kerbau dengan mengupil di hadapanku. Apa-apaan itu?” Sambil menendang pantat White.
White memegang pantatnya karena merasa sakit terkena tendangan Black. Dia pun menghentikan kegiatan mengupilnya. Ia lalu berdiri dan merangkul Black menggunakan tangan kirinya.
            “Yang kau lihat ini memang kenyataan, Black. Bumi yang selama ini kita jaga, kita sayangi karena keindahannya. Kini berwarna kelam. Lautan yang biru berubah menjadi hitam. Aku sendiri tak peduli lagi dengan para manusianya. Terserah mereka mau mati atau hidup aku tak peduli. Tapi mereka telah menghancurkan bumi yang teramat indah bagiku. Aku sendiri tak terima dengan semua ini, Black. Pernah dalam hati aku mengecam manusia bahwa suatu saat kalian akan kuhabisi dengan kedua tanganku ini. Tapi aku masih tahu apa tugasku, Black. Aku…” belum selesai White mengatakan keinginannya tiba-tiba Black menghentikannya.
            “Tutup mulutmu White! Ikutlah denganku. Takkan kubiarkan bumi hancur lebih dari ini. Akan kubantai seluruh manusia dengan kekuatanku. Tak peduli aku akan terbunuh ataupun Sang Maha Kuasa akan menjebloskanku ke dalam limbah neraka terdalam dan paling menyakitkan. Aku tak peduli! Yang penting bumiku selamat!” Menegaskan ucapannya.
Kulihat tangan Black menggenggam kuat, aku tahu bahwa dia muak dengan ulah manusia. Aku tahu bahwa dia kecewa pada manusia yang dulu sempat ia banggakan dan ia bela di hadapan Sang Maha Kuasa dan para Iblis bahwa manusia akan membawa kedamaian di bumi. Tapi apa jadinya sekarang. Mereka telah berbuat kehancuran pada bumi.
Kulihat Black berjalan menepi ke tepian awan. Aku yang tengah berdiri hanya mampu melihat punggung Black dari belakang. Apa yang sedang dipikirkannya? Apa dia benar-benar akan membantai para manusia. Awan yang kuinjak semakin lama berubah menjadi gelap seperti awan mendung. Kegelapan menjalar dengan cepat keseluruh permukaan awan yang menyelimuti bumi. Kemarahan Black pasti telah mempengaruhi warna awan. Aku lalu berlari mengejar Black yang masih berdiri di tepi awan. Ia pasti tengah menetapkan hati untuk segera membantai umat manusia. Kujulurkan tanganku. Lalu kupegang pundaknya mencoba menghentikan keinginannya.
            “Hentikan Black. Ini bukan lagi urusan kita. Kita tak bisa ikut campur urusan hidup dan mati manusia atau kita bisa masuk ke neraka paling dasar!” mencoba meyekinkan Black.
            “White, kalau kau takut maka tetaplah berada disini. Dan saksikan manusia-manusia itu perlahan-lahan menghancurkan bumi! Perang nuklir, bom atom, dan senjata otomatis saja telah menewaskan lebih dari setengah jumlah mereka. Tapi mereka tetap tidak kapok! Bila terus dilanjutkan, bumiku bisa hancur. Aku takkan pernah lagi bisa menikmati keindahannya! Selama ini yang mampu membuatku senang dengan pekerjaan ini karena aku selalu ditemani oleh keindahan alami dari bumi. Tapi kini… kini… kini kau lihat sendiri! Bumi seperti samapah! Aku tak tahan lagi.”
Ia merentangkan kedua sayap hitamnya. Aku yang berada dibelakangnya merasa terpana dengan sayap kuat tersebut. Sudah sangat lama semenjak kami tak pernah ikut campur urusan manusia, kami tak pernah lagi mengepakkan kedua sayap kami yang indah. Ia mulai melangkahkan kakinya. Tapi aku menghentikannya dengan menariknya ke dalam.
            “Cukup, Black. Bumi ini bukan milikmu. Kau terlalu memiliki. Kita hanya bertugas menjaganya!” Mencoba kembali meyakinkan Black.
            “Karena itulah aku akan menjaganya dari tangan-tangan bangsat para manusia! Dumsh…” ia berteriak sambil memukulku hingga aku terpental jauh ke belakang.
            “Kau lihat saja apa yang akan kulakukan. Bila kau mencoba menghentikanku. Aku pun akan membunuhmu, White!”
Ia lalu melangkahkan kakinya keluar dari awan. Ia menukik tajam menuju bumi. Dari awan aku hanya mampu melihat kedua punggungnya yang berulangkali mengepakkan sayapnya. Dengan penuh keyakinan ia terjun ke bumi. Merelakan hidup dan matinya hanya untuk manusia yang telah berbuat kehancuran.
****
Suara baling-baling helicopter yang baru turun masih terdengar keras sebelum akhirnya terbang kembali setelah menurunkan seorang Jendral besar angkatan daratnya.
Para pejuang yang kalah perang kini berbaris rapi tanpa pakaian. Mereka tertunduk lelah dan takut akan penantian seorang penyelamat yang mereka harapkan. Seluruh barisan tentara pemenang perang menyambut gembira kedatangan Jendral besar mereka. Sang Jendral melangkahkan kainya menuju podium namun saat sampai di barisan paling depan seorang kolonel menyapanya.
            “Jendral, kami belum belum berhasil menemukan pemimpin mereka!” dengan hormat dan tubuh yang ia busungkan melaporkan informasi yang ia dapatkan.
            “Kolonel, kalau begitu bunuh mereka semua hingga ada yang mau berbicara!” Sang Jendral pun lalu melanjutkan langkah kakinya menuju podium.
            “Dengarkan aku wahai tentara dan para pejuang busuk. Tanah kalian telah kami duduki. Lebih baik kalian segera serahkan pemimpin kalian. Atau kalian semua akan kutembak mati tanpa sisa hahahaha…”
            “Dasar Jendral bangsat. Belum puas kau menghancurkan tanah kami, sekarang kau mau membantai kami semua! Hah… kau pikir dengan kau membunuh kami, kau akan mendapat keterangan dimana pemimpin kami berada? Hem! Kau sa….” Belum selesai pejuang itu berkata. Ia telah terkena tembak dari peluru sang Jendral.
            “Duarrrr.”
            “Sekarang siapa lagi yang mau bernasip sama sepertinya. Kolonel, bunuh saja mereka semua. Dasar manusia-manusia busk!” perintah Jendral sambil mengumpat para pejuang.
            “Kalian semualah yang busuk!”
Dari arah barisan paling belakang, terlihat di udara malaikat bersayap hitam terbang meluncur menuju podium. Semua mata melihatnya. Semua mulut terbuka karena kagum dan heran. Lalu sang malaikat terbang mengitari seluruh barisan itu.
            “Kolonel, tembak dia!” perintah Jendral.
Lalu sebuah tank mengarahkan tembakannya ke malaikat tersebut. “Dungmm…” Namun sang malaikat mampu menghindar. Kini sang malaikat berada tepat beberapa puluh meter di atas sang Jendaral. Lalu ia terjun menukik dengn cepat dan,
            “Duarrrrrrrrrrrrr….” Sang malaikat menjatuhkan diri tepat mengenai Jendral. Podium pun hancur karena kekuatannya.
Debu-debu beterbangan menyelimuti podium. Sosok sang malaikat ternya menghantam tepat mengenai sang Jendral. Ia terkapar tanpa nafas. Mulutnya menganga memuntahkan darah. Seluruh pasukan dan pejuang bugil terpana melihat aksi tersebut. Mereka terpaku dan terdiam sejenak.
Tiba-tiba sang malaikat melompat dari kepulan debu itu. Ia lalu berjalan mendekati sang Kolonel.
            “Si…si…siapa kau sebenarnya? Duarrr…” gemetaran dan menarik pelatuk pistolnya.           
Peluru tepat mengenai tubuh sang malaikat. Namun sedikit pun ia tak terluka. Lalu sang malaikat memukul kolonel hingga terpental berpuluh-puluh meter. Pukulannya menimbulkan sebuah gelombang angin yang dapat menghempas orang-orang di sekitarnya. Para tentara yang melihat Kolonelnya di habisi oleh sang malaikat merasa marah dan langsung menembakkan ribuan peluru ke arah malaikat tersebut. Ketiga tank yang berada di sana pun ikut menembakinya. Kini yang terdengar hanya suara ledakan pada satu pusat pengelihatan. Ribuan peluru tepat mengenai sang malaikat. Namun apa? Ia tetap kokoh berdiri tanpa terluka sedikit pun. Semua mata yang melihatnya merasa semakin ketakutan.
            “Wahai malaikat bersayap hitam terimakasih kau telah datang untuk menolong kami. Apa yang kau tunggu? Lebih baik kau bunuh mereka semua sebelum mereka kembali menembakkan peluru-pelurunya kemari!” perintah seorang pejuang yang berjalan bugil mendekati sang malaikat bersayap hitam.
            “Sruuuuut. Owakhhhh…” terdengar dari mulut pejuang tersebut.
Dadanya tembus oleh tangan kanan sang malaikat. Kini matanya berubah menjadi hitam, sayap hitamnya ia kembangkan selebar mungkin lalu ia kepakkan beberapa kali hingga menimbulkan angin kencang yang benar-benar dahsyat. Seluruh manusia yang berada di dekatnya tadi telah terpental jauh dengan sayatan-sayatan dalam di sekujur tubuh mereka. Ternyata angin yang diciptakan oleh malaikat mampu menyayat-nyayat benda apapun yang terlintasi olehnya.
Terlihat seorang pejuang masih hidup dan terkapar di tanah. Ia masih berjuang untuk hidup meskipun sekujur tubuhnya penuh dengan luka sayatan. Mulutnya berulang kali memuntahkan darah. Sang malaikat lalu mendekatinya dan memandangnya hina lalu menginjak dadanya.
            “Sekarang apa maumu manusia? Kau telah membuat kehancuran di bumiku tercinta. Sekarang katakanlah apa maumu?” sambil menatapnya hina.
            “Tolong….tolong lepaskan aku. tolong biarkan aku hidup. Aku tak ingin mati. Ehoaakct…” ia katakan dengan penuh ketakutan dan sesekali memuntahkan darah.
            “Baiklah, permintaanmu terkabul. Srhuuuut…” sang malaikat menusukkan tangannya ke dada pejuang tersebut.
            “bukankah aku sudah memohon kepadamu agar kau melepaskanku.” Katanya sambil memegang tangan sang malaikat.
            “Tapi aku tak mengatakan akan mengabulkannya bukan?” sambil tersenyum sinis dan menarik tangannya dari dada pejuang.
Kini di hamparan tanah kering ini hanya terlihat onggokan mesin-mesin tempur yang hancur berantakan. Kumpulan orang-orang terluka dan merintih kesakitan karena kepakan kekuatan sang malaikat.
Masih ada sekitar tiga ratus tentara dan delapan puluh Sembilan pejuang hidup namun tubuhnya terluka parah. Mereka menyudutkan matanya menatap sang malaikat yang masih dengan gagahnya berjalan perlahan mendekati mereka. Para tentara yang masih memiliki sedikit tenaga berusaha mengerahkan tenaganya sekuat mungkin untuk merangkak menjauh dari sang malaikat.
Namun tiba-tiba dari langit berubah menjadi cerah dan terlihat lagi satu malaikat yang terbang mengitari mereka.
            “White untuk apa kau kemari!” Menengadah dan melihat malaikat bersayap putih terbang. Ia kerutkan muka dan menajamkan matanya kepada si malaikat itu.
            “Dum.” Suara hentakan kaki sang malaikat putih yang menjatuhkan diri ke tanah.
            “Apa maumu, White? Jangan katakana kalau kau akan menghentikanku.” Berjalan mengitari White.
            “Hentikan Black. Kalau kau masih akan melanjutkan niatmu, maka aku akan menghentikanmu!” menjawabnya sambil mengarahkan muka mengikuti gerak Black yang berjalan mengitarinya.
            “Apa yang kau katakan? Kapan kau berhasil mengalahkanku, White! Kau sendiri tahu bahwa aku jauh lebih kuat darimu. Sebaiknya kau mundur sekarang atau aku akan membunuhmu jika kau menghalangiku.” Menhentikan langkahnya dan menatap White tajam.
            “Aku pasti menghentikanmu, Black.” Ia berlari dan meloncat tajam hingga memukul tubuh Black.
Black terpental jauh. Namun ia langsung berdiri dan langsung memukul White. Tapi White mampu menangkisnya. Mereka saling pukul. Berung kali suara pukulan mereka terdengar kerasa dan gelombang-gelombang udara yang dimunculan dari pukulan itu menimbulkan angin yang mampu menerpa kuat benda apa pun si sekitarnya. Para pejuang dan tentara yang menyaksikan hebatnya pertarungan mereka, tak mampu mengedipkan matanya karena kagum.
            “Apa-apaan ini? Aku yakin bila malaikat itu memang ada! Tapi mereka tak mungkinkan menampakkan wujudnya pada maenusia?” kata seorang pejuang heran.
            “Dummm.” Pukulan malaikat bersayap hitam menimbulkan gelombang angin dan si malaikat bersayap putih terlempar tajam hingga menatap tank yang masih berdiri tegak.
            “Sreseseseset.” Sang malaikat bersayap hitam berlari dengan kecepatan kilat.
Lalu ia memukul berulang-ulang tubuh malaikat bersayap putih. “Dumn…Dumnn… Dumn… Dumnn…” ia tak sanggup lagi melawan. Black lalu mengepalkan sebuah kepalan kuat yang akan ia arahkan pada White. Tapi tiba-tiba Black menundukkan kepalanya.
            “Aku tak mampu membunuhmu saudaraku.” kata Black perlahan.
Mendengar ucapan Black, White tersenyum tipis ia lalu memegang pundak Black.
            “Black ayo kita kembali. Biarlah para manusia yang mengatur hidup mereka sendiri.” ajak White lembut kepada Black.
            “Ayo.” Katanya sambil merangkul White dan membawanya melompat tinggi ke udara sebelum akhirnya ia mengepakkan sayapnya untuk terbang mencapai awan.
Para tentara itu melihat kepergian dengan menengadahkan kepalanya keatas.
            “Hei, apa yang kalian lihat. Mereka hanya mengacaukan kita. Ayo kita lanjutkan pertempuran ini. Tanah ini hampir menjadi milik kita. Pasukanku ayo semuanya bangun! Setelah ini kalian akan menikmati hidup penuh kejayaan bila mengikutiku.” Kata seorang kapten yang masih hidup dan berusaha memimpin pasukan yang terluka.
            “Duarrrr…” Suara peluru menembus perut sang kapten.
Ternyata seorang pejuang yang masih hidup yang menembaknya. Kini seluruh pejuang pun berdiri dan mengambil berbagai senjata yang berserakan di tanah. Para tentara yang melihat kejadian ini merasa tidak terima dan mereka yang masih memiliki tenaga mencoba berdiri dan mengambil senjata. Semuanya salaing mengarahkan senjata untuk melindungi diri.
****
Dari tepi awan kedua malaikat tadi menyaksikan apa yang akan diperbuat oleh para manusia.
            “Kau lihat itu, White? Mereka takkan pernah berubah. Aku memang menghentikan tindakanku. Tapi aku memiliki satu rencana untuk mereka. Biarkan tangan orang lain yang menghancurkan mereka. Hahaha…” tawanya licik dengan muka dan senyum sinisnya.
            “Apa maksudmu Black?” tanya White penasaran.
Lalu Black berjalan kebelakang dan merobek langit menggunakan tangannya hingga tercipta sebuah garis hitam yang semakin lama semakin membesar.
            “Hentikan Black! Kau telah membuka gerbang neraka. Bila kau lanjutkan, para iblis akan keluar dari celah tersebut. Bumi pasti akan lebih hancur dari ini. Kau takkan bisa lagi melihat keindahan bumi lagi!” teriak White.
            “Kau bilang indah. Bumi takkan mampu terlihat indah lagi. bila sudah hancur, maka biarkanlah semakin hancur! Hahahahahaha…..” tawanya jahat.
            “Hentikan Black, Black…. Black…” teriaknya.
            “Blaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaack………” teriaknya sangat kencang. Lalu ia terbangun dari tidurnya.
            “Huh…. Huh… huh…” nafasnya terengah-engah.
            “Halah… asem ik! Cuma mimpi to. Hahahaha…” tawanya setelah merasa mimpinya ini konyol.
            “Klutaaaak…”
            “Auuuw!” teriaknya sakit sambil memegang kepalanya.
            “Hei, buruan mandi. Lihat itu jam berapa? Hampir jam tujuh dan kamu belum mandi juga.” Bentak mamah marah.
            “Dasar bocah gendheng! Teriak-teriak lalu ketawa sendiri. Mamah tadi buru-buru lari ke kamarmu gara-gara kamu teriak-teriak tau!” tukasnya gemas.
            “Adu mamah, ini kepala anakmu mah. Tega-teganya dilempari ciduk kamar mandi. Adu…adu…sakitnya…!” sambil mengusap-usap kepalanya.
            “Candil, sudah sana buruan mandi. Sudah SMA tapi masih saja nggak tahu aturan! Pagi-pagi ngimpi lagi… dasar! Ayo buruan mandi.” Perintahnya sambil melamabaikan tangan.
            “Hehehehe….”

3 komentar:

  1. waaa.a.. ini kayak dramamu itu ya david >,<
    pas bagian najib kebangun itu jga ada~
    but.. this is good story, like like XD

    BalasHapus
  2. hahahaha...sebenernya ini cerpen mau q buat total fantasy. tapi pas bagian ending kok keinget ttg drama. hahaha.. ya udah deh. bagian najib masuk ke dalemnya. hahahaha....

    BalasHapus
  3. Herning, Makasih ud baca salah satu isi d blog q.

    BalasHapus