“Buah Simalakama”
Oleh:
David Sukma
Aku
ini hijau tentang rasa. Tak pernah begitu memahami semua yang diinginkan wanita.
Ini sebuah kisahku, kisah malapetaka. Yang tinggal mengalur dalam angan baka. Sampai
pedih yang mengakar di dalam dada. Kini aku kalut terjerembab oleh mimpi-mimpi
lama di dalam penjara.
Bukannya
aku tak punya malu atau apa. Kemarin itu aku datang ke rumahmu dan kau
menghilang entah kemana. Kutanya, yang kau jawab sebuah kepalsuan. Kau bilang
begitu cinta hingga aku selalu memikirkanmu. Kali ini aku terjun dalam deras
hujan rela kedinginan tuk datang ke rumahmu, menjengukmu yang kau bilang sakit.
Tetap, kau juga menghilang. Ada apa ini? Padahal aku begitu berharap denganmu.
Orang tua kita saling mensetujui. Kini tinggal kamu yang putuskan akan kemana
arah tujuanmu nanti.
Sudah
dewasa? Sudah katamu. Tapi kau masih seperti ini. Kau bilang mau serius
denganku. Bahkan ikatan di jemari telah terlihat sejak waktu itu. “Anita, ini
adalah bukti cinta kita. Yang terukir di tangan melalui bilah emas yang
melingkar. Sudikah kau hidup denganku selamanya?” kau menatapku penuh bahagia
hingga aku berseri sebuah masa depan yang indah. Kau mengangguk hingga kedua
orang tua kita saling mengerti betapa besar cinta kita.
“Sayang,
aku juga menginginkanmu. Mari bersama jalani waktu indah tanpa derai munafik
kata.” Ujarmu tersenyum manis di hadapanku. Kini kutahu bagaimana pemikiranmu.
Kau serius, apalagi aku yang sudah mapan ini. Karena itulah aku semakin yakin
dengan hubungan kita berdua.
Umurku
memang jauh sepuluh tahun lebih tua darimu. Kurasakan kedewasaanku memenuhi
semua inginmu. Semerbak wangi tubuh indahmu yang terkulai di pahaku kalai itu, membuatku
semakin cinta padamu. Meski matahari membuat peluh kita mengalir deras, tapi di
bawah pohon rindang itu kita bisa membilas luka bersama, saling mengerti dan
memahami kata. “Aku ingin kita seperti ini terus.” Pintamu lembut. Aku pun
mengiyakan kala itu. Mungkin kau yang masih muda masih butuh kesegaran jiwa.
Tanpa pikir panjang aku seolah tahu maksud kata-katamu.
Pernah
hingga larut malam aku pulang kerja. Lampu rumah gelap sudah. Kau pun tak
menunggu dan menyambutku hangat. Aku berinisiatif melepas pakaian dan langsung
tidur berbaring di sapingmu dalam kasur hangat yang telah kita persiapkan. Tapi
saat kubuka pintu, anganku mulai membayang. Sebuah jahat menghantam bilik
jantung dengan keras. Pikirku pun langsung kencang. Dunia kasur sudah
acak-acakan. Seingatku hanya aku dan kamu yang bisa melakukannya.
Aku
coba berfikir jernih. Dia istriku yang kusayang, begitu pula sebaliknya.
Mungkin dia sedang kesal menungguku tak pulang-pulang. Pikirku pun
menenangkanku. Aku tidur di sampingnya tanpa mencoba membangunkannya. Hingga
pagi hari tiba, dia menyambutku dengan sebuah wedang yang hangatnya hingga ke
pulupuk mata. Kau tersenyum menyambutku, mendekat dan merangkulku dari
belakang. “Mas, jangan punya dulu ya. Aku masih ingin begini.” Pintamu sekali
lagi terlontar. Kuiyakan pula sesuai inginmu. Karena aku juga tidak mau
buru-buru. Meski orang tua sudah minta momongan, karena dia belum mau, maka aku
menurut.
Bulan
berganti musim. Di ujung musim ini aku utarakan inginnya orang tua. Kau tetap
masih menolak untuk punya. Katanya masih ingin begitu. Padahal aku sudah mulai
bosan dengan malam penuh irama dan ingin punya pemeriah keluarga. Bujuk rayu telah
kukerahkan untukmu. Tapi tetap, kau menolak demi karir nyata milikmu itu.
Minggu
ini aku dalam perjalanan luar kota. Selama satu minggu penuh kau kutinggal
dirumah. Hati sakit meninggalkanmu sendirian, tapi kewajiban adalah kewajiban.
Namun satu yang kutakutkan adalah para tetangga sebelah. Aku tak mau ada
gunjingan. “Jaga diri dirumah. Jangan terima tamu malam-malam. Apa lagi bukan
orang yang kau kenal. Aku pamit dulu sayang.” Kau tersenyum memberiku doa agar
selamat di jalan dan hatiku pun tenang karenanya.
Seminggu
berlalu dan ini malam terakhirku di kota asing tetangga. Pernah aku memikirkan
di musim kering itu. Pertengkaran kita selama semalam. Kau ingin aku kembali
pada jalan imanku. Tapi aku menolak enggan kembali pada yang kupercayai. “Kalu
begitu masuklah dalam imanku. Kepercayaanku terbuka sayang.” Pintamu lembut.
Tapi aku sudah kalut dengan semua itu. Karena sebuah masa, keluarga awal yang
kubina lenyap karenanya. Hingga aku ateis tak beriman. Aku sangat marah kau
menyebutku macam-macam. Bahkan kau meramalkan masa depan di nirvana sana.
Kutampar kau tanpa iba, demi harga diriku seorang suami yang perkasa.
Malam
itu pun telah reda. Kini malam aku penuh risau di dada. Esok pagi waktunya aku
kembali ke lingkunganku. Semoga kau baik-baik sayang. Malam semakin larut dan
mataku terkatub bersama mimpi indah yang selalu kudambakan. Kulihat keluarga
kita bahagia, punya seorang anak pintar yang luarbiasa. Tetangga pun memandang
kita dengan hormat. “Betapa lengkapnya jalan hidupku ini.”
Pagi
menjelang, aku berangkat di tengah awan dan langit cerah. Dari jendela kulihat
rajawali yang kunaiki menyibak awan yang begitu dekat dengan matahari. Putih bersih
bergumpal menyilaukan, mataku silau takkuasa melihat sekitar.
Sampai
di rumah kau menyambut dengan bangga. “Kubawakan kau oleh-oleh sayang.”
Setangkai durian montong kulambaikan padamu.
Kau
mencium tangannku dengan sopan, kucim keningmu dengan penuh kasih sayang. Kau
membawaku masuk, berbincang membicarakan semuanya. Hingga malam kita di rumah,
mengisi waktu yang seminggu hilang. Jam dinding melirik tajam, sekarang pukul
sepuluh malam. Sudah penuh rasaku ingin membelaimu. “Kamu lagi capek sayang.
Mending istirahat saja. Bisa di lanjut besokkan?” ujarmu menolak permintaan.
Aku kecewa menahan rasa. Padahal aku sudah sangat merindukanmu.
Pagi
datang menjelang. Lengkingan ayam berkoar kencang. Membangunkan bersama subuh
yang bersenandung. Aku terbangun menyuruhmu membuat kopi hangat. Aku duduk di
ruang keluarga, di samping telepon yang sedang kugenggam. Kutelephon kedua
orang tua kita. Mereka marah dan sudah sangat ingin momongan dari darah daging
anaknya ini. Istriku datang, meletakkan kopi di meja. Ia duduk di sampingku
bersandar pada pundakku. Kubelai pelan ia sambil sayu-sayu mengantuk.
“Sayang,
kita sudah dua tahun menikah. Kenapa kau masih belum ingin punya momongan?”
tanyaku perlahan membuatnya terbelalak. Aku tak pernah menanyakan alasan, kali
ini ia mungkin sadar, betapa inginnya aku mendapat momongan dari orang yang
kusayang. “Aku tak layak sayang.” Jawabmu buram. Aku terhunus belati tajam
mendengar kata-katamu. Pikirku menarawang kealam baka. Sebuah jalan buruk
mungkinkah telah kau buat, hingga enggan dapat anak dariku.
“Aku
ini wanita karir. Tolong mengertilah. Aku begitu cinta dengan pekerjaanku. Dulu
telah kurelakan semua hal untuk mencapainya. Kini bila aku harus hamil, aku
pasti dikeluarkan sayang.” Elakmu takkaruan. Membuatku bungkam tak bisa
melawan. “Tapi dengar. Apa kau tak mau punya anak dariku. Kalau perlu berhentilah.
Aku ini sudah mapan. Pekerjaanku pun bisa menghidupi kita dan keluargamu.
Kenapa kau masih begitu kolot tak mau menuruti orang tuamu bahkan suamimu ini.”
Terangku mencoba menyadarkan.
Kau
membentakku. Menyuruhku diam dan tak perlu dibicarakan. Tapi aku terus
menerjang, memaksamu untuk mengerti dan mau memahami. Malah kau mendorongku,
menjatuhkanku seolah kau jijik denganku. “Kau ini kenapa! Menurutlah denganku.
Jadilah ibu rumah tangga, urus anak, suami, dan rumah. Tapi jika kelak kau
ingin kembali bekerja. Aku mengizinkanmu. Tapi untuk kali ini, cobalah mengerti
dan menurut denganku! Hanya untuk kali ini. Krena aku sudah sangat menginginkan
momongan sayang.” Kau hanya diam, melepas tanganku paksa, melempar semua kata.
Kau
berlari ke dalam kamar, ambil tas, ambil baju semua. Aku bingung dengan pikiranmu.
“Kenapa harus begini? Kau mau kembali ke rumah orang tuamu hanya karena masalah
ini?” ini memalukan. Kau tak bisa diatur. Kubiarkan kau meninggalkan rumah. Tak
sudi lagi berdebat kata. Biarlah dia pergi ke rumah mertua atau orang tua.
Biarlah mereka yang menyadarkanmu, sayang.
Terik
mentari sudah sepenggalah jalah. Panasnya mualai terngiang menyilaukan. Perutku
lapar, mendekati meja, kosong belaka. Kuputuskan untuk makan di warung samping
rumah. Di dalamnya banyak tetangga membeli sayur, beli makan, beli lauk, dan beli
gosip di lingkungan orang.
Aku
duduk dan memesan makanan. Sebuah piring tersandar di atas meja. Kusantap
dengan lahap. Tapi mereka melihatku cepat. Tajam sengit denganku seorang. “Suami
yang tidak bisa menjaga istri…” ujar seseorang. Aku tergelitik dalam dada
mendengar ucapan itu. “Maksudnya apa?” tanyaku serius tajam. “Dia itu tak tahu
diri. Apa kau suaminya tak pernah tahu betapa gilanya istrimu itu. Dia itu
warung. Warung setan!” teriaknya. “Tutup mulutmu tetangga! Bicaralah yang
sopan.” Tudingku.
“Kalau
tidak percaya, tanyakan sama semua orang komplek. Semua tahu. Tiap malam selalu
berganti-ganti. Dia itu terlalu liar untukmu!” ujar beberapa orang mengiyakan
semua benar.
Dadaku
panas. Kepalaku semakin membesar ingin meledak. Meja kayu kugebrak keras-keras.
Semua orang terpaku takut melihatku garang. Aku pulang dengan cepat. Pikirku
risau takkaruan, “Pergi kemana dia?” hingga malam aku tak bisa tenang. Sanak
keluarga kutelephon sudah. “Tidak ada. Memang kenapa?” jawab mereka sama.
Pikiranku semakin melayang tak karuan. “Istriku, apa benar kurangajar?” pikirku
di bawah detak jam bundar. “Jam 11 malam.” Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi
kencang. Tanpa ragu aku kedepan.
Kubuka
pintu, kulihat dia menangis deras. Langsung bersujud di kakiku yang telanjang.
Karena sayang, kubawa dia masuk ke dalam, kutanyai dengan seksama. “Aku sadar,
aku salah sayang. Aku tak menurutimu. Sekarang aku mau punya anak, sayang.”
Terangnya tersedu sedan. Aku memeluknya hangat, mungkin dia benar-benar sudah
sadar dan mau menuruti pintaku dan kedua orang tua.
Sembilan
bulan berlalu, waktunya melahirkan telah tiba. Kubawa dia ke rumah sakit
terdekat. Di dalam kamar itu ia berteriak-teriak. Kugenggam tangannya kuat. “Semoga
keduanya selamat.” Kini meletus sudah. Bayi yang kuidam-idamkan telah keluar.
Para orang tua tersenyum senang panjatkan doa kepada yang-ESA.
Dokter
datang mendekat, membawa bayi yang telah bersih dari darah. “Bayi anda terlahir
cacat. Satu kaki, satu tangan, satu mata, dan cacat mental. Ini sungguh tak bisa
di percaya. Kami ikut berduka.” Ujarnya remang. Turut pilu melihat nasip orang.
Aku
tak percaya, tubuhku dingin otakku berhenti bekerja. Kedua mertuaku mendekat
menepuk punggungku iba. Kudekati bayi itu, tiba-tiba aku pingsan tak mampu
menguatkan raga. Semua yang kuimpikan, semua yang kubayangkan tuk hidup indah.
Kini berlalu sudah.
Dalam
ketidak sadaran aku menerawang masa. Suara-suara tetangga itu kembali
terdengar. Apa yang mereka bilang waktu itu apa benar? Apa ini karma dari yang
telah di perbuat istriku? Apa ini akibat dari aku yang melupakan Tuhan? Apa ini
hukuman?
Bulan
berganti tahun, kini ia sudah berumur tiga tahun. Para tetangga memandang sinis
tanpa iba. “Itu akibatnya kalau istrimu bejat!” Tuding mereka. Ini mungkin
bukan karena ulah istriku seorang, aku pun turut ikut ambil andil. Aku yang tak
pernah lagi mau berdoa, kini dengan paksa harus mengambil hikmah dari limbah
yang diratapi orang.
Kala
itu hampir petang, bocah itu bermain sendirian. Berjalan di tepi jalan dan
tiba-tiba semua hal berada di rumah sakit. Darah segar berkucuran. “Dia
kehabisan darah. Kami harap anda dari pihak keluarga bersedia mendonorkan
darah, karena darah milik anak anda langka, pasti dari keluarga ada persamaan.”
kembali bertemu dengannya. Kami pun telah sepakat. Saat uji laboratorium tiba,
tak ada yang positif. Aku tertunduk lemas. Dokter mengambil inisiativ lain.
Hari
berganti bulan. Belum kutanyakan perihal semua ini. Aku pergi ke rumah sakit.
Tes DNA kujalani tuk buktikan kebenaran remang ini. Hasil keluar dan ternyata
memang benar. Aku pun pulang penuh dendam. Panas membara di dalam dada
menyeruak hingga ke otak. Mata merah penuh setan mengibliskan diri. Kubuka
pintu dengan mendobrak. Ia kaget luarbiasa, melihatku kalap di lahap setan. Dan
semuanya hilang…
Orang tua kita pun saling mensetujui -> bukannya menyetujui? :/
BalasHapusterus ada beberapa typo kayak "...terkulai di pahaku kalai itu" maksudnya kala kali ya? atau emang begitu? Terus sampingmu jadi sapingmu.Kalau jadi kalu. Kucium jadi kucim.
terus soal eyd, bukannya biasanya "Aku ingin kita seperti ini terus," pintamu lembut. Kalau di situ, "Aku ingin kita seperti ini terus." Pintamu lembut. Tapi sih aku kurang tahu detailnya, tapi setahuku sih seperti itu :)
terus,kalau di bahasa indonesia, nirvana itu nirwana kan ya? atau nirvana juga bisa dipakai?
terus itu ada kata terkatub, bukannya harusnya terkatup?
terus juga ada kata kutelephon, padahal harusnya kutelepon.
ada kata "besokkan?" itu kan seharusnya dipisah? jadi "bisa dilanjut besok kan?"
ada juga "kealam" padahal harusnya dispasi jadi ke alam.
ada juga kata "menarawang" padahal harusnya menerawang.
takkaruan juga mestinya dispasi jadi tak karuan.
kurangajar juga harusnya kurang ajar kan?
ada kata "nasip" juga, padahal harusnya nasib.
dan juga ada kata "inisiativ" padahal harusnya inisiatif.
tuk itu biasanya disertai tanda petik kalau disingkat dari untuk, jadi 'tuk
terus luarbiasa juga lupa dispasi, harusnya luarbiasa.
maaf bawel, tapi semoga berguna :)
tapi secara keseluruhan, bravo! bagus sekali. bahasanya benar-benar memukau. :) salut untuk mas david.
BalasHapusWuah.....luarbiasa komentarmu. wah suka deh aku kalo de komentar kaya gini. ok sip2, ini adalah masukan yang "LUARBIASA".
BalasHapustapi walau pun bahasanya kaya gitu, udah kukirim ke media cetak masih belum ada tanggapan.
hei...cocok deh kalo kamu jadi editor. Josie
Bener typo yang dikatakan Josie, tapi masih ada lagi david~~
BalasHapustypo tanda baca, n beberapa diksi yg kurang tepat.
ingat juga, konjungsi "yang" ga bisa di depan kalimat, dan banyak di cerpenmu ini. Lebih baik dikasih tanda koma aja jangan titik.
trus setelah kalimat langsung. "Aku tak layak sayang." Jawabmu muram. itu benernya "Aku tak layak sayang," jawabmu muram.
>>Gunakan tanda koma (,) diakhir dialog, bila disambung dgn kata teriak, ucap, ujar, bisik, kekeh, timpal, dsb.
>>Tapi gunakan tanda titik (.) bila disambung dgn kata tempat/ nama, dll, seperti; saking, tiba2, Aku, Dia, dll.
>>Perhatikan kapitalisasi juga.
selebihnya nice.... :D
Lanjutkan~~~
emmmmmmmmmmmmm.....
Hapusdalam menulis emang aku nggak pernah memerhatikan hal seperti itu herning. hehe...apa yang ingin kutulis, apa yang terlintas di benakku langsung aja kutulis. jadi ya begitulah hasilnya.
wah, kritikmu ini sangat membantuku untuk mengerti dimana letak kesalahanku.
lalu aku mau tanya keterkaitan judul dengan isi >,<
BalasHapusfilosofimu untk judul ini apa?? aku ingin tau asumsimu dulu~ baru kujelaskan asumsiku setelahnya~ :D
Buah Simalakama_ seolah ibas balik dari apa yang telah diperbuat.
BalasHapusbisa di bilang kisah ini berwarna konflik sebuah pengacuhan terhadap Tuhan yang membuatnya jadi seorang ateis.
dulu si laki-laki ini pernah membina sebuah keluarga, namun karen asebuah musibah yang menewaskan semua keluarga yang telah ia bina. ia pun berpaling dari jalan agama.
kini ia ingin mencoba mengembalikan hidupnya yang dulu dengan membina keluarga bersama seorang wanita karir yang masih muda.
T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>T>>>T>T>T>T>>T>bla bla bla bla.....
karena berbagai masalah yang timbul dari kelakuan si wanita. keluarga yang ia bina kembali dalam bencana (dalam artian, istrinya kurang ajar, dan anak yang dilahirkan dari istri tersebut ternyata bukan anaknya, malah terlahir cacat juga)
emang sih di ceritanya mungkin cuma sepintas-sepintas keluar. tapi bisa dibilang ini sebuah kisah dimana ia mendapat timbal balik dari apa yang pernah ia lakukan dimasalalunya.