Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Minggu, 01 April 2012

Resensi Film The Reader


The Reader




Judul Film        : The Reader
Produser          : Anthony Minghella, Sydney Pollack, Scott Rudin
Produksi          : The Weinstein Company
Pemain            : Kate Winslet (Hanna Schmitz), David Cross (Michael Berg)

            The Reader adalah sebuah film yang mengangkat sebuah kekuatan drama romantic yang menarik. Dengan cerita cinta yang mengambil waktu pasca perang dunia ke II hingga sekitar tahun 1995.

 Film ini menceritakan tentang seorang remaja (15 tahun) dapat jatuh cinta dengan wanita (30 tahun), dua kalilipat dari umurnya. Paska perang dunia II Michael Berg jatuh sakit dan dirawat oleh Hanna Schmitz. Setelah sembuh, Michael ingin menemui Hanna. Hanna yang selalu meminta dibacakan cerita oleh Michael setelah pulang sekolah, menjadi hubungan yang membuat mereka selalu bertemu. Bahkan Michael mengenal hubungan cinta karena bertemu dan mengenal Hanna. Namun sebelum hubungan itu terjadi, Hanna selalu mewajibkan Michael untuk membacakan cerita, ini karena Hanna tidak mengenal baca tulis.

Suatu kali Michael mencoba menemui Hanna di dalam kereta, dimana Hanna tengah bekerja di sana. Namun sikap Hanna terlihat aneh, ia berpura-pura tak mengenal Michael. Hingga sampai di rumah Michael langsung berbicara empat mata dengan Hanna. Ia mencoba menggali keterangan apa penyebab ia bertingkah seperti itu. Ternyata Hanna belum dapat menerima Michael sebagai kekasihnya yang sebenarnya, padahal mereka telah berhubungan selama empat minggu.

Di siang harinya setelah Michael pulang sekolah, ia mencoba menemui Hanna guna memintamaaf, namun ternyata Hanna telah pergi. Hanna memutuskan untuk pindah pekerjaan dan pergi tanpa berpamit pada Michael. Hingga delapan tahun berlalu Michael kemudian berhubungan dengan seorang gadis yang menjadi teman seperkuliahannya di jurusan hokum. Namun tahun-tahun yang ia lalui ini terasa begitu berat karena ia masih memikirkan Hanna. Namun pada akhirnya mereka pun akhirnya menikah sembari melanjutkan kuliah Hukum.

Suatu ketika professor pengajar seminar di kelasnya mengizinkan mahasiswanya untuk mengikuti sebuah persidangan besar. Persidangan yang menyangkut SS Nazi. Namun tak disangka, di dalam persidangan itu yang menjadi tersangka adalah Hanna, ia yang dituntut sebagai tersangka tewasnya 300 warga yahudi yang terperangkap di dalam sebuah gereja hingga terbakar hangus.

Kini ia harus menghadapi sebuah pengadilan. Ia yang dulu bekerja sebagai seorang penjaga di SS Nazi. Suatu ketika ia dan teman-temannya selaku penjaga para tahanan yahudi membawanya ke sebuah gereka, mereka di kunci di dalam dan dibakar hangaus hingga semuanya mati. Mereka pun telah berkompromi untuk tak melepaskan para tahanan itu. Di dalam persidangan ini, banyak rekan sepekerjaan dengan Hanna mencoba menjadikan Hanna kambing hitam sebagai pelaku utama.

Sebenarnya Hanna memegang kunci agar dirinya tak harus dihukum dan dipenjara. Namun karena ia tak mau mengungkapkannya, akhirnya ia dihukum penjara seumur hidup, sedangkan rekannya hanya di hukum tiga sampai empat tahun. Michael yang mendengar keputusan hakim ini sampai meneteskan air mata.

Kini Michael telah dewasa dan memiliki seorang anak. Ia memutuskan untuk menemui Hanna yang berada di dalam penjara. Pertemuan itu begitu singkat. Hingga beberapa minggu setelahnya, pihak penjaran memutuskan untuk melepaskannya dan mereka menghubungi Michael untuk mengurus kehidupannya. Saat Michael hendak menjemputnya, ternyata Hanna telah mati bunuh diri dan menginggalakan sebuah wasiat kepada Michael untuk menyerahkannya kepada seorang bocah yang dulu sering membacakannya cerita.

Di sini kita dapat menilai bagaimana sebenarnya seorang Hanna Schmitz. Dalam percakapannya terlihat seorang Hanna Schmitz yang begitu polos menggunakan semua pilihannya untuk membiarkan mereka 300 orang yahudi mati terbakar “Bila mereka bergegas keluar. Kami tak bisa membiarkannya kabur. Kami tidak bisa. Kami yang bertanggung jawab atas mereka.” Hanna lebih memilih membiarkan para narapidana ini untuk mati dari pada membiarkannya hidup dan membuat onar. Sebuah keputusan darurat yang ia lakukan bersama-sama dengan temannya. Ini adalah sebuah bukti bahwa tokoh Hanna seorang yang berarah dingin.

Sebuah pesan yang dapat kita petik dimana cinta bisa datang kapan saja dan dimana saja. Bahkan cinta tak melihat setatus usia. Dalam film ini digambarkan bahwa cinta itu merupakan suatu yang sangat membahagiakan walaupun dalam kondisi terburuk sekalipun. Alur yang menarik dengan dialog para tokoh yang penuh dengan konflik yang membuat kita semakin tertarik untuk menyaksikannya.

1 komentar: