Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Senin, 09 April 2012

Sedikit bocoran tentang Para Titisan

Sedikit bocoran dari Para Titisan, Novel garapanku yang masih dalam proses




Pasang Surut (Bab 23)

Di keheningan pagi di satu kamar itu masih tak terganggu. Masih tenang tanpa rayuan. Ruang di sampingnya dan di bawah telah ramai dan penuh udik orang-orang yang telah bersiap. Bulatan luar biasa di sudut angkasa yang berbinar begitu terang dan menyilaukan tiap kelopak mata yang penasaran, telah bergema, sinarnya bergema ke berbagai sudut ruang di daratan bumi. Menelisip ke berbagai pelosok sudut. Menembus berbagai benda. Membawa kehidupan baru di tiap pertemuannya.
Di samping rumah, kolam ikan bergenang air bergolak pelan dan kadang tersibak oleh polah ikan yang bergelimpangan penuh elok di dalamnya. Besutan sinar mentari menerjang masuk. Membilah pori-pori air yang rata lembut tanpa gelombang.  Tersirat masuk menerangi dalam kolam. Seberkah cahaya terang memberi pewarna alami yang kaya manfaat.
Ada gadis di tepian kolam ini. Senyum mudanya memberi harapan pada kehidupan di dalam kolam. Ikan-ikan koi menengadah padanya. Berkecamuk berebut cuilan roti yang dilemparkan olehnya.  Ia tersenyum melihat mereka. Ia jongkok menghadap kolam dengan seragan SMP. Roti tawar di tangan kanannya ia gigit, mulutnya berdebam-debam. Sesekali ia kembali melempari sebagian dari roti itu ke kolam. Tanpa ragu ikan-ikan yang lapar itu langsung menyambarnya. Berebut secuil roti yang mengapung di air. Elok warna merah dan putihnya yang berbaur menjadi satu. Kini terpoles oleh sinar mentari pagi yang menyambutnya. Mereka terlihat mengkilap indah penuh gaya.
Gadis itu berdiri. Mencuili-cuil roti itu dan melemparkannya ke dalam kolam. Roti yang tinggal separuh itu ia gigit sekali dan langsung ia lemparkan ke kolam. Mereka pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Langsung berebut, bergerombol, dan saling senggol. Sibak air pun tak terhentikan.
Gadis itu berlari lentik meninggalkan kolam. Rambutnya terurai panjang di bawah sinar mentari pagi. Senyumnya terurai murni tanpa luka di hati. Di bawah altar langit ini, terik mentari menghangatkannya sejenak. Rambutnya yang hitam lebat terkilap oleh sang surya. Melihat wajah polosnya yang manis, rona pagi pun tersenyum padanya.
Ia masuk ke dalam rumah, berlari-lari seperti anak kecil. Lakunya lentik memanjakan tubunya seperti bidadari muda yang berseri-seri melihat pelangi sore di atas danau. Ia berlari ke meja makan, melihat ayahnya yang berdiri usai makan hendak mengambil sepatu. Kepalanya mengarah pada ibunya yang berada di pintu dapur membawa segelas susu. Mereka saling tatap. Ibunya tersenyum melihat anak gadisnya pagi ini bersemangat untuk beraktivitas.
                “Mah, Kak Bumi masih belum bangun…?”
Ibunya mengangguk berjalan mendekatinya, melewatinya, dan Gadis ini bermain-main dengan pundak ibunya. Berjalan bersama dengan canda dan goda. Ia beranjak berlari mendekati tangga dan menaikinya. Kakinya yang di balut kaus kaki membuat langkahnya tak beririama. Lembut bagai kulit bidadari desa. Ia menuju kamar dengan pintu yang bergelantungan seekor tarzan. Langsung membukanya, masuk dan berhenti. Melihat Kakaknya yang masih tenang di atas kasur, ia menggigit bibir. Melipat tangan ke dada memikirkan sesuatu. Dirasainya suasana kamar masih kelam. Dingin masih bernaung di sini. Ia pun bergegas menuju jendela. Dengan cepat membuka gordin dan jendelanya. Pintu balkon pun turut ia buka. Semerbak harum aroma kesejukan pagi langsung ia rasakan. Ia berjalan ke pagaran balkon. Tangannya menengadah ke samping. Wajahnya melihat angkasa. Rambut panjangnya terjatuh lurus dan bergoyang tertiup angin. Menghirup udara pagi yang masih begitu segar, membawa senyumnya dalam uraiaan rasa yang turut tersenyum di dalamnya. Sorot mentari memendarkan baju OSISnya.
Berlari mendekati kasur, duduk di sana memandang kakaknya. Ia terkejut, suasana hatinya langsung berubah. Di sentuhnya warna merah di dekat bibir kakanya. Sudah kering dan kasar. Ia pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya.
                “Kakak…kak bangun kak…kamu nggak apa-apakan…? Kakak.” Teriaknya khawatir menggoyangkan tubuh kakaknya agar bangun.
Mata kakaknya pun terbuka. Masih sayup-sayup bersama guncangan kuat dari adiknya. Ia bangkit dan duduk. “Bungaaaa….ada apa si pagi-pagi teriak-teriak…” Ujarnya pelan malas ditemani ia menguap dari mulutnya lebar.
                “Kakak!! Bajumu banyak darahnya. Kotor, wajahmu juga kak…kakak kok bisa sih.” Teriaknya heran dan penasaran dengan meraba-raba pakaian kakaknya.
Bumi melihat pakaiannya. Ia tersentak sadar. Pikirannya langsung tertuju pada kejadian tadi malam. Ia memegang dadanya, memegang wajahnya, ia memegang semua bagian tubuhnya yang terasa penuh luka. Namun semua yang dirasanya terluka sepertinya telah menghilang. Dan sekarang ia bingung kenapa ada di dalam kamar. Ia pun langsung terfikir tentang Nanda.
                “Kakak jawab dong…bajumu ini kena darah kan?” Tanya Bunga memaksa.
Bumi menyentuh kancing bajunya, membukanya dengan cepat. Bunga hanya terdiam penasaran melihat kakaknya. Bumi beranjak dari kasur, ia jongkok di samping kasur dan melemparkannya ke bawah ranjang. Ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Bunga mengikutinya. Ia membasuh mukanya dengan air berkali-kali. Menggosoknya hingga noda kotor di muka menghilang. Ia juga membasuk ke dua tangannya. Usai itu ia langsung mendekati cermin. Melihat tubuhnya. Ia memegang dadanya yang semalam terasa sangat sakit. Menyentuh wajahnya yang seharusnya bengkak dan memar. Tapi sekarang semuanya terlihat normal.
Bunga di belakangnya masih melihatnya heran. “Kakak, jawab Bunga dong, Kak?” Pintanya merengek penasaran.
Bumi berbalik mendengar ucapan adiknya. Mendekatinya, kedua tangannya menyentuh pundak Bunga. “Bunga, itu semua kena cat air. Semalem Kakak mainan cat air. Jadi jangan bilang Mamah ya. Baju Kakak sampai kotor kayak gitu nanti Kakak kena marah.” Terangnya langsung mencium pipi adiknya.
                “Eh.” Sahutnya sambil memegang pipi yang baru di kecup Kakaknya. Ia terpaku melihat punggung kakaknya berlari keluar kamar dengan sebuah kemeja yang ia ambil. Bunga berjalan keluar dari kamar. Melihat Kakaknya berlari tergesa-gesa.     
Bumi berlari cepat melewati ayahnya yang sedang duduk meminum susu pemberian ibunya. Mereka duduk di teras depan.
                “Eh, Bumi….” Tukas ibunya.
Ayahnya yang baru meneguk susu pun langsung menelannya cepat. “Hei, Bumi mau kemana?” Teriak Ayahnya keras.
Bumi tak menjawab,  masih terus berlari melewati halaman rumah. Sampai di pintu gerbang, ia membukanya cepat. Tanpa menutupnya dan terus berlari kencang menuju rumah Nanda. Beberapa meter berlalu, di tengah jalan ia menginjak batu. Karena kesakitan, saat berlari ia langsung terlompat-lompat cepat dengan satu kaki dan kaki satunya ia angkat, ia lihat dan ia sentuh-sentuh. Namun secepat itu pula karena ia melihat kakinya yang terasa sakit, ia tak melihat batu bundar yang lumayan besar di depannya. Ia yang terlompat-lompat cepat tanpa sengaja menginjaknya dan terpeleset jatuh. 
Tanpa keluh ia mencoba berdiri, bangkit, dan kembali berlari sambil memegangi pinggul dan tangannya yang sakit karena jatuh. Terus berlari hingga akhirnya tiba di depan pagar rumah Nanda. Ia berlari masuk, dilihatnya Kakek Nanda tengah duduk di depan membaca Koran sambil minum secangkir kopi. Sampai di depan Kakek itu, “Kakek! Nanda…Nanda ada di rumahkan?” Bentaknya bertanya khawatir berdiri dengan kaki yang masih berlari-lari.
                “Ada di dalam…” Jawabnya heran melihat Bumi yang terburu-buru.
Langsung bumi berlari mendekati pintu masuk dan masuk dengan cepat namun ia langsung terjatuh karena lantainya yang licin sehabis dipell oleh Bibik.
                “Adoooooooh…pinggangku…” Ujarnya menggeliat kesakitan di lantai.
Nanda di dalam kamar telah mengenakan tas punggungnya. Mendengar suara Bumi ia langsung keluar dari kamar. Bumi mencoba bangkit meski pinggangnya terasa sakit. Pelan-pelan ia berjalan di atas lantai licin itu.
                “Nanda…” Ujarnya sambil berjalan cepat mendekatinya dan langsung memeluknya. Nanda terkejut dalam pelukan. Kakek Nanda di luar mencoba bangkit karena tadi dia mendengar suara Bumi yang jatuh.
                “Nanda, kamu…kamu nggak apa-apakan. Kamu nggak di apa-apainkan?” Tanyanya khawatir menelisik.
                “Aku nggak apa-apa. Harusnya aku yang bertanya seperti itu.” Ujarnya tersenyum.
“Syukurlah. Aku sangat khawatir.” Ujarnya langsung memeluk Nanda kembali. Dalam pelukan itu Nanda pun ikut memeluknya. Ia tersenyum bahagia karena ternyata Bumi benar-benar peduli padanya.
Di depan pintu, Kakek Nanda melihatnya. Ia langsung berjalan mendekat sambil menggulung Koran di tangannya. “Dasar Bocah gemblung.” Teriaknya sambil memukul kepala Bumi dengan Koran.
                “Aduh!! Kakek. Sakit Kek” Teriak Bumi.
                “Kapok!”
                “What?” Bumi bingung.
Kembali kakek memukul kepala Bumi sekali lagi. “Bocah edan. Pulang sana. Pagi-pagi main peluk cucu orang. Nggak sopan!” Teriak Kakek.
                “Hehehehe…maaf Kek.” Ujarnya malu mengusap-usap kepala bagian belakang.
                “Kangen ya kangen….! Tapi kamu mandi dulu…sudah hampir jam 7. Lihat tuh lantai rumah Kakek jadi kotor bekas cap kaki kamu!!” Ujarnya sambil mengarahkan jarinya ke lantai.
                “Heheheh..iya iya maaf Kek.”
                “Sana pulang, pulang, pulang dulu.” Sambil memukul-mukulkan Koran ke Bumi. Bumi menahannya dengan kedua tangan.
                “Aduh…aduh…iya Kek, iya aku pulang!!” Bumi pun berlari keluar dari rumah.
                “Dasar, mentang-mentang sudah dapet izin dari Kakek.” Gerutu Kakek.
                “Apa Kek?” Tanya Nanda di belakangnya.
                “Huh…?” ujarnya kaget.
Tiba-tiba kepala Bumi muncul lagi dari pintu.
                “Apa lagi sekarang?” Teriak Kakek.
                “Heheheh…Nanda jangan berangkat dulu, nanti biar aku jemput.” Teriak Bumi langsung kabur berlari meninggalkan rumah itu
****
Bumi berjalan cepat mendekati teras rumahnya. Melangkahkan kaki dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, ibunya melihatnya berjalan melewatinya yang sedang menonoton televise. “Bumi, dari mana kamu?” Tanyanya meletakkan remot TV dan duduk menyilangkan kaki layaknya seorang wanita.
                “Bumi dari rumah Nanda, Mah.” melanjutkan jalan.
                “Nanda, siapa?” Tanyanya heran memiringkan kepala, jidatnya mengkerut.
                “Temen, Mah…besok kapan-kapan kuajak ke sini. Rumahnya deket sini kok…” Ujarnya sambil melangkah menaiki beberapa anak tangga.
                “Oh Nanda cucunya kakek Supomo itu?” Ujarnya terkejut mengenalnya.
                “Wah…Mamah tahu, Mah?” Tanya Bumi penasaran dan berbalik turun dari tangga ingin mendekati ibunya.
                “Udah sana mandi. Udah hampir jam tujuh. Ceritanya besok aja.”
                “Hahaha…Ok Mah…” tertawa kecil langsung berlari menaiki tangga.
Ibunya yang masih duduk melihat punggung Bumi berlari menjauh. Kini kembali membenarkan duduknya. Menghadap televise, memegang janggutnya, memikirkan sesuatu. Pikirannya terbawa pada ingatannya dulu. Sempat ia mengingat tentang tragedy kecelakaan di bangjo itu. Kecelakaan yang merengut banyak korban. Brutal dan mengenaskan. Dia kini teringat oleh sebuah nama, “Itu Nanda anak Bu Aisyah. Si gadis kecil manis yang bermata bundar berkulit putih bersih seperti orang keturunan Cina. Ternyata gadis itu.” Pikirnya. Kecelakan itu menewaskan semua anggota keluarganya. Beruntung hanya gadis kecil itulah yang selamat dan kini di rawat oleh Kakeknya. Saat pemakaman, semua warga sini menghadirinya, termasuk warga perumahan ini karena sebagian ada warga dari sini juga yang ikut terlindas truk itu.

3 komentar:

  1. david~~ seharusnya pakai preview gitu mana aja kalimat utama >,<
    tapi ini juga boleh... lanjutannya yah??

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksudnya pakai preview kalimat utama tu yg gemana ya....? q bingung herning.

      Hapus
    2. udah kan kmrin kujelasin di kelas XD
      btw,,,, covernya baguss :D
      desainmu david?
      tapi kalau ditambah unsur hitam mungkin bagus?? dikasih bingkai gitu pinggirnya~ hanya saran~

      Hapus