Sedikit bocoran dari Para Titisan, Novel garapanku yang masih dalam proses
Pasang
Surut (Bab 23)
Di
keheningan pagi di satu kamar itu masih tak terganggu. Masih tenang tanpa
rayuan. Ruang di sampingnya dan di bawah telah ramai dan penuh udik orang-orang
yang telah bersiap. Bulatan luar biasa di sudut angkasa yang berbinar begitu
terang dan menyilaukan tiap kelopak mata yang penasaran, telah bergema,
sinarnya bergema ke berbagai sudut ruang di daratan bumi. Menelisip ke berbagai
pelosok sudut. Menembus berbagai benda. Membawa kehidupan baru di tiap
pertemuannya.
Di
samping rumah, kolam ikan bergenang air bergolak pelan dan kadang tersibak oleh
polah ikan yang bergelimpangan penuh elok di dalamnya. Besutan sinar mentari
menerjang masuk. Membilah pori-pori air yang rata lembut tanpa gelombang. Tersirat masuk menerangi dalam kolam.
Seberkah cahaya terang memberi pewarna alami yang kaya manfaat.
Ada
gadis di tepian kolam ini. Senyum mudanya memberi harapan pada kehidupan di
dalam kolam. Ikan-ikan koi menengadah padanya. Berkecamuk berebut cuilan roti
yang dilemparkan olehnya. Ia tersenyum
melihat mereka. Ia jongkok menghadap kolam dengan seragan SMP. Roti tawar di
tangan kanannya ia gigit, mulutnya berdebam-debam. Sesekali ia kembali
melempari sebagian dari roti itu ke kolam. Tanpa ragu ikan-ikan yang lapar itu
langsung menyambarnya. Berebut secuil roti yang mengapung di air. Elok warna
merah dan putihnya yang berbaur menjadi satu. Kini terpoles oleh sinar mentari
pagi yang menyambutnya. Mereka terlihat mengkilap indah penuh gaya.
Gadis
itu berdiri. Mencuili-cuil roti itu dan melemparkannya ke dalam kolam. Roti
yang tinggal separuh itu ia gigit sekali dan langsung ia lemparkan ke kolam.
Mereka pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Langsung berebut, bergerombol,
dan saling senggol. Sibak air pun tak terhentikan.
Gadis
itu berlari lentik meninggalkan kolam. Rambutnya terurai panjang di bawah sinar
mentari pagi. Senyumnya terurai murni tanpa luka di hati. Di bawah altar langit
ini, terik mentari menghangatkannya sejenak. Rambutnya yang hitam lebat
terkilap oleh sang surya. Melihat wajah polosnya yang manis, rona pagi pun
tersenyum padanya.
Ia
masuk ke dalam rumah, berlari-lari seperti anak kecil. Lakunya lentik
memanjakan tubunya seperti bidadari muda yang berseri-seri melihat pelangi sore
di atas danau. Ia berlari ke meja makan, melihat ayahnya yang berdiri usai
makan hendak mengambil sepatu. Kepalanya mengarah pada ibunya yang berada di
pintu dapur membawa segelas susu. Mereka saling tatap. Ibunya tersenyum melihat
anak gadisnya pagi ini bersemangat untuk beraktivitas.
“Mah, Kak Bumi masih belum
bangun…?”
Ibunya
mengangguk berjalan mendekatinya, melewatinya, dan Gadis ini bermain-main
dengan pundak ibunya. Berjalan bersama dengan canda dan goda. Ia beranjak berlari
mendekati tangga dan menaikinya. Kakinya yang di balut kaus kaki membuat
langkahnya tak beririama. Lembut bagai kulit bidadari desa. Ia menuju kamar
dengan pintu yang bergelantungan seekor tarzan. Langsung membukanya, masuk dan
berhenti. Melihat Kakaknya yang masih tenang di atas kasur, ia menggigit bibir.
Melipat tangan ke dada memikirkan sesuatu. Dirasainya suasana kamar masih
kelam. Dingin masih bernaung di sini. Ia pun bergegas menuju jendela. Dengan
cepat membuka gordin dan jendelanya. Pintu balkon pun turut ia buka. Semerbak
harum aroma kesejukan pagi langsung ia rasakan. Ia berjalan ke pagaran balkon.
Tangannya menengadah ke samping. Wajahnya melihat angkasa. Rambut panjangnya
terjatuh lurus dan bergoyang tertiup angin. Menghirup udara pagi yang masih
begitu segar, membawa senyumnya dalam uraiaan rasa yang turut tersenyum di
dalamnya. Sorot mentari memendarkan baju OSISnya.
Berlari
mendekati kasur, duduk di sana memandang kakaknya. Ia terkejut, suasana hatinya
langsung berubah. Di sentuhnya warna merah di dekat bibir kakanya. Sudah kering
dan kasar. Ia pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya.
“Kakak…kak bangun kak…kamu nggak
apa-apakan…? Kakak.” Teriaknya khawatir menggoyangkan tubuh kakaknya agar
bangun.
Mata
kakaknya pun terbuka. Masih sayup-sayup bersama guncangan kuat dari adiknya. Ia
bangkit dan duduk. “Bungaaaa….ada apa si pagi-pagi teriak-teriak…” Ujarnya
pelan malas ditemani ia menguap dari mulutnya lebar.
“Kakak!! Bajumu banyak darahnya.
Kotor, wajahmu juga kak…kakak kok bisa sih.” Teriaknya heran dan penasaran
dengan meraba-raba pakaian kakaknya.
Bumi
melihat pakaiannya. Ia tersentak sadar. Pikirannya langsung tertuju pada
kejadian tadi malam. Ia memegang dadanya, memegang wajahnya, ia memegang semua
bagian tubuhnya yang terasa penuh luka. Namun semua yang dirasanya terluka
sepertinya telah menghilang. Dan sekarang ia bingung kenapa ada di dalam kamar.
Ia pun langsung terfikir tentang Nanda.
“Kakak jawab dong…bajumu ini
kena darah kan?” Tanya Bunga memaksa.
Bumi
menyentuh kancing bajunya, membukanya dengan cepat. Bunga hanya terdiam
penasaran melihat kakaknya. Bumi beranjak dari kasur, ia jongkok di samping
kasur dan melemparkannya ke bawah ranjang. Ia berjalan cepat masuk ke dalam
kamar mandi. Bunga mengikutinya. Ia membasuh mukanya dengan air berkali-kali.
Menggosoknya hingga noda kotor di muka menghilang. Ia juga membasuk ke dua
tangannya. Usai itu ia langsung mendekati cermin. Melihat tubuhnya. Ia memegang
dadanya yang semalam terasa sangat sakit. Menyentuh wajahnya yang seharusnya
bengkak dan memar. Tapi sekarang semuanya terlihat normal.
Bunga
di belakangnya masih melihatnya heran. “Kakak, jawab Bunga dong, Kak?” Pintanya
merengek penasaran.
Bumi
berbalik mendengar ucapan adiknya. Mendekatinya, kedua tangannya menyentuh
pundak Bunga. “Bunga, itu semua kena cat air. Semalem Kakak mainan cat air.
Jadi jangan bilang Mamah ya. Baju Kakak sampai kotor kayak gitu nanti Kakak
kena marah.” Terangnya langsung mencium pipi adiknya.
“Eh.” Sahutnya sambil memegang
pipi yang baru di kecup Kakaknya. Ia terpaku melihat punggung kakaknya berlari
keluar kamar dengan sebuah kemeja yang ia ambil. Bunga berjalan keluar dari
kamar. Melihat Kakaknya berlari tergesa-gesa.
Bumi
berlari cepat melewati ayahnya yang sedang duduk meminum susu pemberian ibunya.
Mereka duduk di teras depan.
“Eh, Bumi….” Tukas ibunya.
Ayahnya
yang baru meneguk susu pun langsung menelannya cepat. “Hei, Bumi mau kemana?”
Teriak Ayahnya keras.
Bumi
tak menjawab, masih terus berlari melewati
halaman rumah. Sampai di pintu gerbang, ia membukanya cepat. Tanpa menutupnya
dan terus berlari kencang menuju rumah Nanda. Beberapa meter berlalu, di tengah
jalan ia menginjak batu. Karena kesakitan, saat berlari ia langsung
terlompat-lompat cepat dengan satu kaki dan kaki satunya ia angkat, ia lihat
dan ia sentuh-sentuh. Namun secepat itu pula karena ia melihat kakinya yang
terasa sakit, ia tak melihat batu bundar yang lumayan besar di depannya. Ia
yang terlompat-lompat cepat tanpa sengaja menginjaknya dan terpeleset
jatuh.
Tanpa
keluh ia mencoba berdiri, bangkit, dan kembali berlari sambil memegangi pinggul
dan tangannya yang sakit karena jatuh. Terus berlari hingga akhirnya tiba di
depan pagar rumah Nanda. Ia berlari masuk, dilihatnya Kakek Nanda tengah duduk
di depan membaca Koran sambil minum secangkir kopi. Sampai di depan Kakek itu,
“Kakek! Nanda…Nanda ada di rumahkan?” Bentaknya bertanya khawatir berdiri
dengan kaki yang masih berlari-lari.
“Ada di dalam…” Jawabnya heran
melihat Bumi yang terburu-buru.
Langsung
bumi berlari mendekati pintu masuk dan masuk dengan cepat namun ia langsung
terjatuh karena lantainya yang licin sehabis dipell oleh Bibik.
“Adoooooooh…pinggangku…” Ujarnya
menggeliat kesakitan di lantai.
Nanda
di dalam kamar telah mengenakan tas punggungnya. Mendengar suara Bumi ia
langsung keluar dari kamar. Bumi mencoba bangkit meski pinggangnya terasa
sakit. Pelan-pelan ia berjalan di atas lantai licin itu.
“Nanda…” Ujarnya sambil berjalan
cepat mendekatinya dan langsung memeluknya. Nanda terkejut dalam pelukan. Kakek
Nanda di luar mencoba bangkit karena tadi dia mendengar suara Bumi yang jatuh.
“Nanda, kamu…kamu nggak
apa-apakan. Kamu nggak di apa-apainkan?” Tanyanya khawatir menelisik.
“Aku nggak apa-apa. Harusnya aku
yang bertanya seperti itu.” Ujarnya tersenyum.
“Syukurlah.
Aku sangat khawatir.” Ujarnya langsung memeluk Nanda kembali. Dalam pelukan itu
Nanda pun ikut memeluknya. Ia tersenyum bahagia karena ternyata Bumi
benar-benar peduli padanya.
Di
depan pintu, Kakek Nanda melihatnya. Ia langsung berjalan mendekat sambil
menggulung Koran di tangannya. “Dasar Bocah gemblung.” Teriaknya sambil memukul
kepala Bumi dengan Koran.
“Aduh!! Kakek. Sakit Kek” Teriak
Bumi.
“Kapok!”
“What?” Bumi bingung.
Kembali
kakek memukul kepala Bumi sekali lagi. “Bocah edan. Pulang sana. Pagi-pagi main
peluk cucu orang. Nggak sopan!” Teriak Kakek.
“Hehehehe…maaf Kek.” Ujarnya malu
mengusap-usap kepala bagian belakang.
“Kangen ya kangen….! Tapi kamu
mandi dulu…sudah hampir jam 7. Lihat tuh lantai rumah Kakek jadi kotor bekas
cap kaki kamu!!” Ujarnya sambil mengarahkan jarinya ke lantai.
“Heheheh..iya iya maaf Kek.”
“Sana pulang, pulang, pulang
dulu.” Sambil memukul-mukulkan Koran ke Bumi. Bumi menahannya dengan kedua
tangan.
“Aduh…aduh…iya Kek, iya aku
pulang!!” Bumi pun berlari keluar dari rumah.
“Dasar, mentang-mentang sudah
dapet izin dari Kakek.” Gerutu Kakek.
“Apa Kek?” Tanya Nanda di
belakangnya.
“Huh…?” ujarnya kaget.
Tiba-tiba
kepala Bumi muncul lagi dari pintu.
“Apa lagi sekarang?” Teriak
Kakek.
“Heheheh…Nanda jangan berangkat
dulu, nanti biar aku jemput.” Teriak Bumi langsung kabur berlari meninggalkan
rumah itu
****
Bumi
berjalan cepat mendekati teras rumahnya. Melangkahkan kaki dan masuk ke dalam
rumah. Di dalam rumah, ibunya melihatnya berjalan melewatinya yang sedang
menonoton televise. “Bumi, dari mana kamu?” Tanyanya meletakkan remot TV dan
duduk menyilangkan kaki layaknya seorang wanita.
“Bumi dari rumah Nanda, Mah.”
melanjutkan jalan.
“Nanda, siapa?” Tanyanya heran
memiringkan kepala, jidatnya mengkerut.
“Temen, Mah…besok kapan-kapan
kuajak ke sini. Rumahnya deket sini kok…” Ujarnya sambil melangkah menaiki
beberapa anak tangga.
“Oh Nanda cucunya kakek Supomo
itu?” Ujarnya terkejut mengenalnya.
“Wah…Mamah tahu, Mah?” Tanya
Bumi penasaran dan berbalik turun dari tangga ingin mendekati ibunya.
“Udah sana mandi. Udah hampir
jam tujuh. Ceritanya besok aja.”
“Hahaha…Ok Mah…” tertawa kecil
langsung berlari menaiki tangga.
Ibunya
yang masih duduk melihat punggung Bumi berlari menjauh. Kini kembali
membenarkan duduknya. Menghadap televise, memegang janggutnya, memikirkan
sesuatu. Pikirannya terbawa pada ingatannya dulu. Sempat ia mengingat tentang
tragedy kecelakaan di bangjo itu. Kecelakaan yang merengut banyak korban.
Brutal dan mengenaskan. Dia kini teringat oleh sebuah nama, “Itu Nanda anak Bu
Aisyah. Si gadis kecil manis yang bermata bundar berkulit putih bersih seperti
orang keturunan Cina. Ternyata gadis itu.” Pikirnya. Kecelakan itu menewaskan
semua anggota keluarganya. Beruntung hanya gadis kecil itulah yang selamat dan
kini di rawat oleh Kakeknya. Saat pemakaman, semua warga sini menghadirinya,
termasuk warga perumahan ini karena sebagian ada warga dari sini juga yang ikut
terlindas truk itu.

david~~ seharusnya pakai preview gitu mana aja kalimat utama >,<
BalasHapustapi ini juga boleh... lanjutannya yah??
maksudnya pakai preview kalimat utama tu yg gemana ya....? q bingung herning.
Hapusudah kan kmrin kujelasin di kelas XD
Hapusbtw,,,, covernya baguss :D
desainmu david?
tapi kalau ditambah unsur hitam mungkin bagus?? dikasih bingkai gitu pinggirnya~ hanya saran~