Altar langit
merekah jingga bertabur gumpalan awan kelam yang teriris kilat berjalan
mendekat. Diujung sana sang mentari tengah barjingkrak hendak menutup harian.
Siutan angin gemerisik membelai ujung-ujung hijau padi. Bulir-bulir
kesejahteraan merunduk diujungnya yang sebulan lagi siap panen. Auman kerbau di
sungai membawanya bangkit dari alam air dan mendekati rerumputan untuk
memuaskan kehendak perut yang keroncongan.
Hamparan
padi di tepi sungai menemaniku memandikan kerbau. Desa ini masih tentram dan
damai oleh suasana alam yang terbuai masa jauh dari jangkauan orang-orang
rakus. Ditepi jalan ada sebongkah pohon besar yang disekitarnya berserakan
tanaman padi yang tumbuh subur. Kulihat seseorang di bawah pohon itu melambaikan
tangan padaku. Wajah itu, kulit putih itu, apa itu Ardan si bocah kota? Aku pun
berjalan mendekat. Aku tahu bahwa desa ini memberinya kenangan buruk.
“Agus…,”
ujarnya saat aku semakin dekat. “Duduk, temani gue,” pintanya lesu. Aku pun
duduk disampingnya turut bersandar pada pohon rindang ini. Ransel yang
tersandar di pohon penuh sesak oleh semua perlengkapan pribadi. “Jadi kamu
sudah mau kembali ke Jakarta to, Ardan?” tanyaku ragu. Ardan mengangguk,
memegangi kepala yang katanya sudah sakit sejak sebulan yang lalu. Kulihat
layar hanphone yang ia pegang berulang kali berganti-ganti gambar, dialah si
gadis desa pujaan Ardan. Foto-foto Yanti pasti menjadai sebuah kenangan yang tidak
akan pernah ia lupakan. Gadis desa pertama yang memberinya sebuah kedamaian.
“Ini semua
salah gue, Gus. Andaikan Yanti nggak mengenal gue, mungkin Yanti bakal menikah
sama elu dan hidup bahagia sampai punya banyak anak dan mungkin elu kelak bakal
mandiin kebo lu itu bareng anak-anak lu
dan Yanti,” ujarnya miris menatap langit muram. “Sudahlah, Ardan. Yang lalu
biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang, lupakan desa ini. Jadilah orang besar
dan kamu bisa punya banyak kebo di kota sana,” ledekku mencoba mencairkan pikirannya.
“Hahaha...kebo? Kebo di Jakarta itu bentuknya batangan. Tinggal makan, Gus.
Hahahaha…punya banyak kebo lu bilang. Hahaha…” kulihat Ardan tertawa-tawa geli menggelengkan
kepala. Ia memegang perut dan masih memegang kepalanya besama hanphone.
“Gue pikir
semuanya bakal berjalan lancar, Gus. Tapi semua usaha keras gue bakal gue
hentikan sampai di sini.” Kucoba diam mendengar semua perkataan Ardan, sebulan
yang lalu dia adalah bocah kota yang aku benci, tapi seiring berjalannya waktu,
aku mulai memaklumi keberadaannya. “Cerita saja kalau kamu masih punya beban.
Jadi kamu bisa pergi dari desa ini tanpa pikiran yang membebani kamu…” ardan
melihat kearahku, ia menarik nafas panjang seolah mengiyakan kata-kataku.
Dulu gue
kesini dengan satu tujuan, selesaikan semua ini dan wisuda dengan cepat. Jadi
gue bisa nggantiin bokap gue di perusahaan. Pertama gue datang ke desa ini yang
gue liat adalah Yanti, dia bermain air dengan kebomu itu di sana. Gue potret
dia diam-dam. Dan malam harinya ternyta dia adalah putri dari pak kepala desa
tempat gue menginap. Beberapa hari gue di sana, setiap selesai mencari data,
gue selalu mencoba mendekati Yanti yang tiap sore selalu menyirami bunga mawar
putih yang tumbuh cantik di dalam pagar di depan emperan rumah.
Ardan mulai
memutar otak melihat nosatalgia benak. Kakinya lurus dan tangan memegang
hanphone melihat-lihat gambar Yanti yang tersenyum manis. Entah kenapa gue bisa
suka sama dia, Gus. Tiap sore gue duduk di emperan rumah untuk menulis laporan
observasi yang gue cari dari mulut-mulut warga. Diterpa semilir angin bersama
bulir-bulir serbuk sari yang terhempas ke udara. Tiap sore itu pula harum tubuh
Yanti mengelilingi gue. Rambutnya yang hitam pekat, panjang sepinggang.
Badannya yang semampai ditemani kulit kuning lansat. Wajahnya catik dan
senyumnya adu bidadari. Benar-benar tepat bila dia disebuat bunga desa.
Tapi saat
gue tahu elu adalah calon suami Yanti, dada gue mulai membengkak oleh setan
yang menyeruak bersama bilah pisau neraka yang menyusupkan kekecewaan. Semakin
gue memikirkan itu, semakin tubuh gue mulai mengambil inisiatif. Sore itu gue
ngobrol sampai malam, dia tertawa-tawa riang dengan semua candaan kota yang gue
lantunkan. Dia pun menanggapi semua yang gue katakan, seolah dia memang ingin
dekat. Tapa menunggu lama saat ia bicara tanpa memandang gue, langsung gue cium
pipinya. Yanti terperangah kaget dan menyentuh pipi. Wajahnya merona merah, gue
pun merasa seperti ada yang menggelitik di hati. Gue tersenyum menatapnya, tapi
Yanti langsung berlari masuk ke dalam rumah. Haha..malam itu adalah amalm yang lucu.
Aku geram
mendengarkannya. Lucu kau bilang, kau meracuni perasaan Yanti yang sudah
kupelihara sejak lama. Kau membuatnya bimbang dengan perasaannya. Gemerisik
ranting pohon yang bergoyang diterpa angin sore menutupi panasnya dadaku yang
mendengar cerita Ardan. Parang yang tergeletak disampingku berulang kali
kulihat. Ujungnya mengkilap meski langit senja membisikkan kesabaran.
Suatu malam
aku mendatangai rumah Yanti, sungkem kepada kedua orang tuanya yang memang
sudah merestui hubungan kami. Kami ngobrol sejenak di ruang tamu sampai
akhirnya Yanti menemuiku. Kami pun duduk berdampingan membicarakan banyak
renungan dan sesekali menggodanya. Namun dari dalam rumah seseorang keluar dari
salah satu kamar menuju ruang tamu dan menyapa kami dengan santainya. Saat
melihatnya rasa khawatir langsung menyerbu batinku, membawaku pada
pikiran-pikiran buruk.
“Yanti,
siapa orang itu?” dia tersenyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Dia
mas Ardan. Orang kota yang datang kemari untuk menulis sekripsi.” Tanganku
mengepal keras, otot-otot tangan menguat padat. Keberadaannya disini akan
mengganggu hubungan kami pastinya. Semua pikiran negateif terbayang dibenakku,
hatiku pun turut merasakan pemikiran-pemikiran kacau ini. Namun akal sehatku
bergmam, “Sabar, orang itu hanya numpang lewat di rumah ini. Ingat Gusti,
wanita ini belum sepenuhnya jadi milikmu. Dia masih punya hak untuk menentukan
pilihannya. Bila kamu ingin memilikinya, secepatnya kamu harus membuat
keputusan. Lamar dia.”
Rasa sesak
di rongga dada seketika menghilang, senyum menilik masa menemaniku untuk
semakin optimis dengan Yanti. Hubungan ini sudah lama kami bina, orang tua kami
pun sudah saling menyetujui. Hanya tinggal selontar kata yang akan membawa kami
dalam pinangan.
Malam semakin
larut terbirit waktu. Siutan angin malam menggoda rinai bulu di leher. Di depan
pintu rumah, Yanti melepas kepulanganku. Namun saat sampai di pertengahan
jalan, kulihat Ardan berdiri di tepi sambil memutar-mutar hanphone_nya. “Kalau
nggak salah namamu agus. Jauhi Yanti,” tegasnya langsung berjalan melewatiku.
Ini seperti sebuah peringatan dari seorang pendatang yang tak tahu diri.
“Hei,
berhenti kamu. Saya ini calon suami Yanti. Seharusnya saya yang bilang seperti
itu. lebih baik kamu pergi dari desa ini. lagi pula tidak seharusnya kamu ada
di sini,” teriakku. Tapi ia tetap berjalan meninggalkanku. Dadaku penuh geram
melihat punggungnya menjauh dari pandanganku, namun tiba-tiba tubuhnya berjalan
gontai dan akhirnya rubuh. Seketika itu aku mendekat. Darah mengalir di hidung,
kesadarannya lenyap entah kemana. Tanpa pikir panjang aku langsung
menggendongnya kembali ke rumah Yanti.
Auman
kerbau membangkitkan kami dari lamunan.
“Hahahaha…dasar kebo,” ujar Ardan. “Agus kau masih ingat malam itu?” kulihat ia
mengambil sebendel kertas dari dalam tas dan membukanya. Semilir angin
membawaku memerhatikan mulutnya bergumam menceritakan kejadian itu.
Waktu itu
sore seperti ini, tapi lolongan corong masjid sudah berkumandang di kedua desa
yang saling berbatasan sawah. Aku dan Yanti tengah berjalan pulang membawa
kerbau dari sungai. Di jalan berbatu itu kami dihadang empat orang pemuda desa
sebelah. Mereka adalah orang-orang yang juga menyukai Yanti, namun tanpa banyak
bicara salah seorang mendekat dan langsung memukulku hingga aku terjerembab
jatuh dan punggungku terbentur batu jalan. Yanti sontak berteriak. Namun
tiba-tiba dari belakang mereka Ardan berlari dan langsung memukuli mereka
berempat. Entah bagaimana ia bisa ada di jalan ini, mungkin ia baru selesai
mewawancarai penduduk setempat.
“Agus, bawa
Yanti pergi dari sini. Serahkan saja mereka padaku,” teriaknya setelah memukul
jatuh seorang berkulit coklat gelap. Aku pun bergegas bangkit dan menarik
tangan Yanti membawanya berlari bersama kerbau yang begitu malas berjalan.
Malam tiba,
purnama bertengger cantik di altar langit. Ditemani jutaan bintang yang meretas
ditiap malamnya, mereka berpendar-pendar menyebarkan panji-panji kehidupan. Di
ruang tamu, aku bersama keluarga Yanti menunggu kepulangan Ardan. Sudah jam
tujuh dan Ardan masih belum terlihat.
Dari pintu depan sebuah tangan
terjulur masuk diikuti tubuh Ardan yang mukanya penuh lebam dan tertutup merah
darah. Seketika aku berlari menyongsongnya yang langsung terjatuh sebelum
memasuki rumah.
Larut sudah malam ini, berulang kali
Yanti mengkompres kepala Ardan yang lebam. Tubuhnya yang kotor telah dibasuh
air hangat. Kulihat matanya perlahan-lahan terbuka, ia pun segera memegang
kepalanya dan duduk di atas kasur tidurnya.
“Agus, Yanti, pak Kepala desa,”
ujarnya melihat sekeliling. “Mas, kepala kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya
Yanti sambil memeras kain kompres. “Lu nggak perlu khawatir, Yanti. kepalaku
memang sepertinya sudah bermasalah sebelum aku sampai di desa ini. mungkin
sudah dangkal umurku. Hahaha…,” ujarnya santai.
Aku dan pak
kepala desa saling memandang seolah tahu ada sesuatu dikepalanya. Memang seblum
ini aku juga melihatnya memegangi kepala. Apa mungkin ia punya penyakit di
sana?
Sekali lagi
auman kerbau terdengar dan Ardan langsung melihat kearahnya. “Gus, sudah
semakin sore. Kebo lu itu mungkin sudah ingin pulang. hahaha…” ia tertawa lebar
sambil mengusap-usap rambut belakang kepalanya. “Ah, ngomong apa to kamu, biar
saja keboku itu. Aku temani kamu nunggu bis sampai…”
“Ah, ada
sms Gus,” ujarnya memotong perkataanku. Kulihat raut wajahnya cemas membaca sms
itu. Bahkan ia kesal sampai memukul-mukul tanah. “Ardan…”
“Ah…mungkin
ini moment paling berharga yang gue dapatkan di desa ini.” ia menyeka air
matanya yang perlahan merembas keluar. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan. “Berharga?
Aku pikir kamu itu nggak ngapa-ngapain, Ardan?” tanyaku ragu. “Hus!
Sembarangan…selama ini gue nggak pernah ngelakuin banyak hal seperti ini, Gus.
Apa lagi berusaha sendiri mencari data demi kelulusan gue. Dan bahkan disini
gue mendapat teman dan keluarga baru yang ternyata lebih peduli dari pada
keluarga gue yang di Jakarta. Thaks bro…” ujarnya melempar tangan ke pundakku.
“Doakan
tahun depan gue masih idup. Hahaha…” ujarnya sepele. Jidatku mengkerut mendengarkan
perkataannya. “Ardan, kamu ngomong apa to? Kamu kan masih muda, tentu umurmu
msaih panjang. Pasti tahun depan kamu bisa main ke sini lagi,” terangku
menguatkannya.
“Entahlah,
Gus. Ada sesuatu di kepala gue yang membuat gue risau. Ini seperti bom waktu,
Gus. Hahaha…” sekali lagi ia tertawa sepele. Aku tahu ia tengah sedih dengan
penyakit yang ia derita.
“Huwaaa…bis
gue udah datang, Gus.” Ia berdiri, mengambil tas punggungnya dan ia kenakan. Bis
kota di ujung jalan itu masih lumayan jauh.
Kami saling
berhadap-hadapan, wajahnya lega dari penantian lama untuk menunggu datangnya
bis kota ini. Ia menjulurkan tangan, kami pun saling berjabat bahkan ia
langsung memlukku erat. “Thank you Bro…lu udah gue anggep seperti saudara
sendiri.” Ia menjabat tanganku erat. Entah apa yang ia katakan, aku tak tahu
maksud dari ucapannya. Kedekatan kami hanya sebatas itu, tapi ia sudah
menganggapku seperti saudara. Apa dia menemukan jati dirinya di desa ini?
Suara laju
bis menderu semakin dekat. Matanya terlihat tajam mengamati bis kota. “Ok,
sampai ketemu lagi,” ujarnya sambil berlari, namun tiba-tiba ia menghentikan
langkahnya dan berlari kembali mendekatiku. Ia meraih tas punggung dan
membukanya, mengelurkan sebendel kertas putih. “Ini bro, sekirpsi gue. Baca di
rumah,” ujarnya tersenyum lebar. Ia berlari mendekati jalan hendak
mengehentikan bis. Saat bis itu berhenti di hadapannya, ia menoleh melihatku,
melambaikan tangan dan tersenyum lega sebelum akhirnya masuk ke dalam bis dan
pintu pun tertutup membawanya pergi menjauh dari lingkungan desa ini.
Bis kota
semakin berpaling dan menghilang di ujung jalan yang menurun. Bendel kertas ini
tak begitu tebal. Bukankah ini hasil pekerjaannya selama ini, kenapa ia
serahkan ke padaku? Seruan adzan terdengan dari desaku, langit jingga pun telah
muram penuh dengan mendung kelam. Angin sawah yang dingin menerpa tubuhku yang
berjalan mendekati kerbau di atas ladang rumput.
Sambil
berjalan, kubuka lebar pertama dari sekripsi ini. “Bom Waktu.” Tertulis besar
di cover awalnya. Kubuka lagi lembar kedua, kulihat darfat isi yang sampi 37
bab. Semuanya memiliki judul dari masing-masing bab ini. Kubuka lagi lembar
ketiga, kubaca tulisan kata pengantar. “Untuk desa sepi yang damai oleh masa.”
Kepalaku miring ketika membacanya, rasa heran membelenggu pikiranku ingin
semakin membuka di tiap lembarnya.
Kubuka lagi
beberapa lembar. “Apa seperti ini yang namanya sekripsi? Kenapa seperti
cerita?” pikirku setelah membaca beberapa lembar lanjutan. Kubalik lagi untuk
melihat lembar kata pengantar.
Kerbau di
depanku mengaum ketika aku semakin dekat. Kutepuk-tepuk punggungnya yang penuh
lemak dan aku pun lompat ke punggungnya. Sambil berjalan kurasakan
tulang-tulang kerbau menusuk-nusuk pantatku, berlenggang kekanan dan kekiri
mengikuti irama kaki kerbau.
Semakin
kubaca kata pengantar ini semakin kumengerti maksud tulisan Ardan. Maka
kusimpulakan untuk mengkopinya dan akan kuserahkan ke perpustakan SD dan kantor
kepala desa besok pagi. Ardan ternyata seperti inilah hasil observasimu selama
ini_kau mengambil makna yang begitu dalam hingga aku bingung dengan pikiranmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar