Oleh: David Sukma Putra
Rumput-rumput kering tampak jingga
di lapang sekolah, telah kering oleh musim dan terik yang menyengat. Semua
siswa berhambur di lapangan, duduk mengepung pada sebuah titik merah keramaian.
Dengan tubuh besar maupun kecil semua terlihat sama. Tinggi dan rendah pun
telah terhapuskan. Derajat si kaya dan si miskin di antara mereka melebur dan
memudar. Dalam kumpulan inilah semua sama dan tak ada yang membeda-bedakan. Hanya
saja status senior dan dewan pembimbing yang menjadi faktor penghormatan
pembeda. Namun datangnya malam, ia telah berusaha menyamarkan.
Semula
kita sanggup berdiri tegak membusungkan dada dan menyombongkan jidat menyambut
istimewanya kebersamaan. Namun semakin mentari menyusup menyembunyikan terang,
kegelapan mulai merangsek bersama udara yang kian menusuk tulang. Kini kami
hanya mampu meringkuk riang diantara jago merah yang berkibar perkasa di tengah
lapang dan semilir angin yang menyayati.
Layaknya
serpihan emas yang berhambur di pelataran lapang, rumput-rumput kering pun harus
turut serta mengibarkan kesepian. Tapi untuk mereka teman-temanku, hal ini
terasa biasa karena tawa dan latah mereka telah mengalahkan senyap dan sunyinya
kegelapan yang berkubang. Apalagi untuk aku yang terkenal sebagai cewek tomboy.
“Huft…
setan-setan malam pun akan kukencingi sambil berlari bila sampai berani
menunjukkan batang hidungnya kepada si jagoan karate ini.”
Dalam
rangkulan malam yang terasa mencekam, terlihat wajah riang anak-anak SMA 1
Jogja yang menghangatkan diri dalam acara api unggun pada malam terakhir
kegiatan Persami. Mereka melepas letih bersama setelah kegiatan outbond yang
benar-benar melelahkan.
Dita mendekat. Langsung bersila dan
berbisik di telingaku. “Debby, masih lama nggak sih ni api unggun.
Aduuu…kebelet niii.”
Tanpa
di perintah, Desya bergabung dan melempar salam. “Kenapa, Dit? Kalo kebelet ya
sana pipis sendiri. Hahahaha….” Desya tertawa seakan itu sebuah lelucon. Dita
meliriknya sinis. “Dasar kamu nggak setia kawan!”
“Debby, ayoooo… udah nggak tahan
niii..” tambahnya. “Hih, kamu tuh! Kamu nggak lhiat apa? Bentar lagi laaa… tuh
si Radit di suruh ngungkapin cinta sama si Dian, pasti si Dian bakal malu-malu
kucing nih. Iya kan Sya… Si Dian kan
orangnya gampang banget malu.” Desya geli dengan adegan romance di depan sana.
Dengan cepat Desya mengiyakan kata-kataku.
“Iya Deb. Adu… jadi pengeeen…”
Meliha Desya dan aku keasyikan
sendiri dan tidak memerdulikannya. Dita pun geram sampai memukul kepalaku dan Desya.
“Tuk…tukk..”
Aku
menoleh diikuti dan Desya dengan tatapan tajam dan gigi yang menyeringai. Membuat
Dita takut dan merasa bersalah.
Dita
menghembus nafas dengan berlebih. “Ih! Padahalkan aku yang seharusnya marah.. Kok
malah kalian si yang marah… Aku kan cuma minta ditemenin...”
Dengan
sigap Debby lalu berjalan mendekati kak Davin selaku salah satu Bantara yang
memimpin acara ini.
“Kak Davin. Aku minta izin mau ke
kamar kecil.”
Ia mengangguk. “Mm. Ya udah, ayok.”
Kak Davin lalu berdiri untuk mengawal Debby.
Namun Debby terhenti. Ia bingung
melihat kak Davin yang ingin mengantarkannya. Karena bingung ia pun garuk-garuk
kepala. “Eh, bentar-bentar. Kak Davin mau ke mana?”
“Lhooo.., ya ngawal kalian lah! Ntar
kalau terjadi apa-apa sama kalian gimana cobaaa? Hem!”
Debby bersungut-sungut sambil
manyun. “Iiiih… masak cowok yang ngawal si... Kita kan mau ke kamar mandi
cewek. Lagian ini kan di sekolah. Nggak bakal terjadi apa-apa lah. Kak Davin tu
terlalu khawatir sama Debby ah…ah..ah.. hahaha.” Namun kali ini Debby malah
berlebihan melihat sikap kak Davin yang dimatanya terasa super ganteng.
Kak Davin memegang peluitnya dan
mendekat. “Cetuk! Mulutmu tuh bikin merinding.”
Sekali
lagi kepala debby terkena pukulan. Kali ini debby di pukul oleh kak Davin
menggunakan peluit pramuka yang dari tadi bergelantungan kesana-kemari
mengikuti tingkah laku kak Davin.
“Aduh!! Kak Davin!!!” teriak Debby
keras.
Mendengar
suara Debby yang berteriak kesakitan hanya karena hal kecil. Semua peserta api
unggun langsung terdiam. Mereka yang tadinya tengah tertawa-tawa melihat
temannya di depan dirayu oleh salah seorang temannya. Kini menolehkan ke arah Debby.
Citra yang berdiri bersama para
bantara, meliriknya. “Davin! Ini kan malam terakhir. Kamu tuh jangan terlalu kasar
sama adek kelas! Ini kan malam santai…”
Segera Davin berkoar tak mau salah. “Citra,
yang kasar tu siapa…? Ini si Deby aja yang nyolot dari tadi.”
Salah
seorang peserta tiba-tiba ada yang bersorak, “Huuuu, kak Davin nakal…” tiba-tiba tanpa
dikomandoi lagi, seluruh peserta langsung menghujam kak Davin secara bersamaan.
“Huuuuuuuu… Kak Davin nakaaaal… huuuuu…
hahaha.” Seluruh peserta malah menjadikannya sebagai bahan candaan. Sebenarnya
bukan hanya peserta tapi para Bantara pun ikut menertawainya.
Tapi
apa respon kak Davin?
“Hei!! Apa yang lucu?! Ayo ketawa
lagi! Ayo! Kenapa pada diem! Yang lucu tadi manaaaa… ayo diketawain lagi! Kalian
mau pada jadi jagoan apa?! Gimana coba… silahkan kalian ketawa. Hei! Malah pada
melototin aku. Lanjutin acara.” tunjuknya pada dua orang teatrikar perayu di
dekat api unggun.
Namun tiba-tiba. “Plugh…plugh.”
Tanpa aba-aba, kak Davin langsung
kembali berkoar keras. “Aduh… Hei! Siap… aaa…” suaranya melengking hingga
mendesis dan akhirnya hilang.
Kak Davin berteriak marah karena ada yang
memukulnya. Namun saat menengok kebelakang ternyata pak Minto yang memukulnya.
Jelas saja ini membuatnya kaget, di tambah lagi dia telah marah-marah tadi.
Hauft merepotkan.
“Eeeeeiiiiit… Bapak, maap, pak map
ya. Gak sengaja… Kirain tadi siapa? Hehehe...” ia cengengesan sambil mengusap-ngusap
kepala karena malu.
“Huwakakakakaka….” Kembali seluruh
peserta meledakkan tawa melihat tingkah konyol kak Davin yang tadi sempat
marah-marah.
“Davin… Davin… kamu tuh…” seru Citra
sambil tersenyum manis kepada kak Davin.
“Citra, malah ketawa si…” sahutnya
cepat.
Kak
Davin yang masih berdiri dan menjadi sorotan para peserta persami seperti tidak
menyadari kalau temanku si Dita ini benar-benar sudah tidak tahan ingin ke
kamar kecil.
“Pak Minto... ini lho… kasihan Dita
yang udah kebelet.” rengek Debby.
Pak
Minto lalu memukul pantan kak davin sekali lagi dengan tongkat pramuka yang
sejak pagi ia bawa-bawa.
“Plugh..” lalu menuding-nudingkannya
ke arah kamar mandi tanpa mengatakan sepeser kata pun. Dengan wajah yang
mengkerut sambil sedikit tersenyum saat berhadapan dengan kak Davin. Ekspresi
seperti ini merupakan kebiasaan pak Minto yang ramah dan tidak pernah marah
kepada anak didiknya. Gayanya yang perlente dengan kacamata hitam yang tak
pernah luput dari tampang tirusnya dan rambut klimisnya yang lebat. Begitulah
pembina pramuka kami.
“Iya pak, iayaaaa….” Lalu kak Davin
berjalan di depan_mengawal kami yang ingin ke kamar kecil.
Kamar
kecil yang berada di sudut sekolah merupakan suasana mencekam kedua setelah
ruang OSIS yang kabarnya sering ada anak yang kesurupan. Bahkan mitos-mitos
tentang kedua lokasi itu telah menjadi sarapan berhari-hari oleh para
siswa-siswi SMA ini.
Kamar
kecil di sudut sekolah ini hanya memiliki dua buah lampu penerang berwarna
kuning di sudutnya. Membuat suasana malam semakin menakutkan. Kami berempat
berjalan semakin mendekat dan suasana kelam pun seperti mulai menarik kami yang
semakin mendekat pada satu tujuan yang sama.
Aku
yang tomboy ini pun kini merasa takut dengan suasana kamar kecil ini. Baru kali
ini aku kemari saat malam hari, sepertinya wajar bila perasaanku tidak enak.
Bulu kuduk ini sekarang terasa tegang. Sepertinya mereka takut akan sesuatu
lain yang datang. Haduuu… hatiku semakin
kacau memikirkan hal ini.
“Debb… Debby. Debby…Hei. Jangan bengong.
Kalian semua tolong jangan bengong. Jaga agar pikiran kalian tidak kosong.
Semuanya tolong baca basmalah dalam hati. Kalian semua tahu kan gosip tentang
tempat ini. Jadi tolong jangan diremehkan. Ditta, buruan kamu pipisnya.” Seru
kak Davin yang khawatir kepada kami bertiga.
Tapi
perasaanku benar-benar tidak enak. Seluruh bulu kudukku sepertinya ingin kabur
dan lepas dari kulitku. Uuuu…. Kuharap tidak terjadi sesuatu di tempat ini.
Setan-setan tolong pergi jangan ganggu kami.
Kulihat
kak Davin yang sedang asik bercanda dengan Desya tidak merasa takut sedikit pun
dengan suasana di tempat ini. Lalu apa hanya aku yang merasa tidak enak.
Badanku pun sepertinya semakin berat, seolah ada sesuatu yang mendekat dan
memelukku. Bulu kuduk pada bagian tertentu sepertinya berdiri tegap karena
ketakutan. Rasa takut ini semakin lama semakin kuat dan mulai menguasai tubuh
ini.
Pintu
kamar mandi terbuka. Terlihat Ditta yang sepertinya sudah selesai dengan
urusannya. Ia keluar menghampiri kami dan mengajak untuk kembali ke acara api
unggun bersama yang lainnya.
“Kak Davin, udah ni. Yuk balik.”
Pinta Ditta lembut.
Kak
Davin hanya meresponnya dengan senyum dan anggukan lalu mambalikkan badan dan
meninggalkan tempat ini. Namun baru dua meter aku melangkah. Sepertinya badan
ini semakin berat dan enggan untuk berjalan. Bahkan sudah kupaksakan untuk
melangkah sepertinya masih tetap benar-benar berat. Kepalaku tiba-tiba pusing.
Tanah yang kuinjak sepertinya bergelimpangan membuat tubuhku tidak setabil dan
akhirnya aku rubuh.
Saat
aku tebangun kembali. Aku berada di ruangan guru yang dikelilingi kakak-kakak Bantara
dan masih ditemani kedua temanku. Badanku terasa sakit semua. Kepalaku juga
terasa benar-benar berat. Aku tidak tahu sebenarnya aku kenapa?
Ditta
yang duduk di samping kasurnya mulai melihat Debby membuka mata. “Debby, kamu
sudah sadar? Pak Minto, debby sudah sadar ni,” teriak Ditta pelan.
Saat
pak Minto akan mendekat tiba-tiba tangan Debby mencengkeram tangan Dita dengan
kuat. Matanya berlarian kesana-kemari melihat sesuatu yang entah diarahkan ke mana.
Tatapannya tajam dan kuat, namun tatapan itu kosong.
Dita
yang khawatir lalu memegang kedua pipi Debby. “Debby… Debby. Kamu ngeliat apa,
Debb? Debby tolong fokus Debb. Kamu ini kenapa?”
Kasur
kecil itu sekarang bergetar karena tubuh Debby mulai kejang-kejang. Bahkan Debby
mulai berteriak-teriak kacau. Matanya terus melotot dan berlarian kesan-kemari
akan tujuan yang tak pasti. Kak Davin, Ditta, dan pak Minto lalu mendekat
memegangi kaki dan tangan Debby.
Kak Davin melirik pak Minto. Ia
begitu khawatir dan takut dengan tingkah Debby. “Pak Minto, sepertinya Debby
kesurupan Pak.”
Pak
Minto mendekat langsung memegang rahang bawah Debby dan mulai membacakan
basmalah dan ayat-ayat Al’Quran lainnya. Tubuh Debby yang tadinya kejang-kejang
tiba-tiba berhenti. Sepertinya Debby pingsan…
Tepat
pukul satu malam kejadian ini berhenti. Tubuh debby terlihat benar-benar lemas.
“Pak minto, apa debby nggak apa-apa? Yang kutahu, orang kesurupan itu tubuhnya
pasti sakit semua.”
Ditta menatap kasihan melihat teman
dekatnya terkapar. “Kak Davin, ini pasti gara-gara aku yang ngajak Debby ke
kamar kecil. Dia pasti nggak ikhlas dengan ajakanku. Makannya dia marah sampe
setan masuk ke badannya.”
Pak
Minto sepertinya tersenyum lebar mendengar kata-kata Ditta. Pak Minto yang
tengah duduk santai di kursi guru langsung berkumandang mengomentari perkataan
Ditta.
“Ditta, orang kesurupan itu ada
alasannya. Pertama karena orang itu kotor, mungkin Debby lagi menstruasi. Kedua
karena pikirannya yang kosong. Jadi mudah banget buat di masuki setan. Ketiga
karena Debby mungkin berbuat sesuatu yang tidak baik, dalam artian dia telah
mengusik keberadaan setan itu. Tapi bisa juga orang lain yang berbuat buruk,
namun Karena tubuhnya kuat dan bersih maka ia tidak kesurupan. Dan si setan
akhirnya mencari tubuh yang mudah untuk dimasuki. Terutama si Debby ini.” Jelas
bos Minto panjang lebar.
“Mmmmm…. Tapi kasian Debby, pak. Pak,
Debby bangun tuh.” Kata Desya menunjuk Debby dengan dagu.
Debby
yang merasa bingung dengan apa yang terjadi, ia merengek ketakutan. “Pak, Debby
takuuuut…”
Pak Minto mendekat dan membelai
rambut Debby. “Jangan takut Debby. Kamu di sini sama teman-teman. Semuanya di sini
buat kamu.”
Kini
mata Debby kembali berputar-putar kacau mengarah ke berbagai penjuru ruangan.
Pak Minto yang sigap lalu menampar-nampar pipi Debby. “Debby, sadar Debby. Sadar..
Debby. Baca asma Allah, jangan takut. Kamu harus kuat.” Sekali lagi pak Minto
menampar-nampar pipi Debby.
“Arghhhh…. Sakit pak… badan Debby
semuanya sakit. Aduh, tanganku, tanganku ditarik ini… tanganku adu adu..
sakiiiit…”
“Debby, kamu harus kuat Debby. Ayo
ikuti bapak baca asma Allah. Ashadu alla ila haillallah…” Pak Minto membantu Debby
berkata.
Asma
Allah yang diucapkan pak Minto sepertinya tidak berpengaruh terhadap Debby.
Mungkin karena Debby tidak bisa ikut mengucapkannya. Tubuh Debby kini kembali
kejang-kejang. Semua orang yang berada di ruang UKS itu langsung mendekat dan
memegang tangan dan kaki Debby dengan kuat. Kini Debby kembali berteriak-teriak
kacau. Entah apa yang ia takutkan. Matanya berulangkali berlarian kesana
kemari. Lalu pak Minto mengambil sebuah inisiatif.
“Ayo semuanya, lepasin, lepasin
tangan kalian.” Perintah pak Minto.
“Tapi pak, nanti Debby gimana…” kata
kak Davin khawatir.
“Sudah, turuti saja perkataan bapak.
Ini mahluk tidak mau keluar dari tubuh Debby. Biasanya cara lain untuk
menangani kasus seperti ini, biarkan saja dia teriak-teriak. Biarkan mahluk ini merasuk total ke tubuh Debby. Setelah itu kita turuti semua
permintaannya.”
“Pancal
juga boleh pak..” Sahut kak Davin kesal yang sedikitpun malah tak membantu.
“Cuma
itu jalan satu-satnya agar mahluk ini mau keluar dari badan Debby.” Jelas pak
Minto.
Semua
tangan yang tadi memegangi Debby kini mulai melarikan diri untuk melepas tubuh
Debby. Debby yang kejang-kejang di atas kasur UKS kini mulai tenang. Namun
tubuhnya merangkak ingin turun dari kasur. Lalu pak Minto mendekat dan memegang
tubuh Debby agar tidak ke mana-mana.
“Davin, pengang kaki Debby dengan kuat.”
Perintah Pak Minto.
Tanpa
mengatakan apapun lalu kak Davin memegang kaki Debby.
“Hei, kamu siapa? Maumu apa? Kenapa
kamu masuk ke tubuh anak ini?” tanya pak minto kepada Debby yang tengah
kesurupan sambil melet-melet.
“Aku Singo Dimejo, aku haus, aku mau
minum.” Jawab Debby sambil menggeram-geram.
“Desya, ambilkan minum.” Perintah
pak Minto.
“Sudah minum kan? Sekarang ayo
keluar. Ini bukan tubuhmu!” bentak Pak Minto.
“Cerewet, aku lagi betah ni. Asal
kamu tahu, gara-gara kalian ini pacarku jadi kabur .” geram Debby.
Pak
Minto yang keheranan mendengar jawaban debby. Lalu kembali bertanya. Tapi
didahului oleh kak Davin.
“Pacar? Yang bener aja!! Heh, kamu itu
setan! Mana ada setan pacaran! Buruan keluar! Keluar dari tubuh pacarku!”
bentak kak Davin sambil memelototi mata Debby.
“Dasar cerewet, setan juga punya
perasaan, bego!” geram Debby semakin kuat.
“Heh, mau kamu apa lagi. Kalau kamu
nggak segera keluar dari tubuh anak ini. Nanti akan kupaksa kamu untuk keluar
dan itu pasti akan membuatmu sakit.” Sekali lagi pak minto membentak Debby.
“Aku mau pulang.” Jawab Debby sambil
tertawa.
“Bagus, kalau kamu mau pulang. Ya
sudah sana pulang dan keluarlah dari tubuh anak ini.” Kata pak Minto.
“Anterin.” Sahut Debby cepat.
“What!! Setan pulang minta di anter.
Yang bener aja. Kamu itu setan. Dateng
nggak ada yang minta, pulang minta dianter. Sopan donk! Kalu bikin aku kesel, kupancal
juga malah lama-lama. Setan nggak beres.” bentak kak Davin yang heran dengan Debby.
Pak
Minto yang mendengar ucapan kak Davin yang semakin lama semakin terasa
seenaknya saja, sekarang mulai kesal dengannya.
“Plugh!”
Pak minto memukul pundak kak Davin dan menuding ke arah wajah kak Davin.
“Hehe, sory Pak. Abis ni setan lama-lama
ngelunjak pak…”
“Ok, di mana rumahmu? Akan kami
antar, tapi setelah itu kamu harus keluar!” bentak pak Minto untuk yang
berulang kalinya.
“Di pojok kamar mandi tadi.” Jawab Debby.
…
Minggu
sore diterpa angin nakal aku bergoyang ria bersama teman-teman. Sore ini adalah
hari perpisahan persami yang telah selesai kami laksanakan. Seluruh peserta baik
kakak-kakak Bantara mau pun Laksana, tengah bergembira ria dengan lagu dangdut
yang tengah di suarakan di tanah lapang.
Kami
yang telah merapikan diri untuk segera meninggalkan sekolah, telah berdiri di
lapangan sekolah yang sebelumnya didirikan puluhan tenda untuk tempat kami
menginap. Aku yang telah sembuh dari kesurupan kini menjadi bahan ejekan
teman-teman.
Dan
di depan sana datanglah seorang bijak yang tengah berdiri tegap menghadap ke
arah kami. Dialah pak Minto dengan kaca mata hitamnya yang selalu ia banggakan.
Ia mengumandangkan bait-bait penutupan. Seusai pidatonya ia persilahkan kami
semua untuk pulang ke rumah masing-masing.
Namun
sebelum meninggalkan sekolahan, aku Dita, dan Desya menemui kak Davin untuk
berpamitan. Ternyata kak Davin tengah duduk bersam pak Minto di beranda sekolah. Kami pun langsung
menghampiri mereka.
“Kak Davin…, pak Minto…” teriak
Desya genit.
“Hei, sini. Duduk dulu laaa… nyantai
aja pulangnya. Rumah kalian deket kan? Ngobrol-ngobrol dulu dah.”
Kita
bertiga pun menuruti keinginan kak Davin. Ditambah lagi kak Davin orangnya
ganteng dan keren. Ini tentu menambah semangat kami untuk semakin dekat
dengannya.
“Cie cieeeeee… yang baru kesurupan.
Hahaha…” goda kak Davin.
“Iiiih… apaan si kak Davin!” sambil
menggembungkan kedua pipinya.
“Debby tambah cantik deh kalo
ngambek gitu…” rayu kak Davin mantap.
“Cinlok niyeeee…” kata Desya.
“Cinlok ama setannya apa ama Debbynya
niiih.. hahahaha…” sahut Dita.
Mereka
berempat tertawa ria menggodaku yang tengah kesal dengan masalah kesurupan tadi
malam.
“Iiiih, emang aku kesurupannya
gimana sih? Ceritain donk...” Pinta Debby manja.
“Eh kamu tu kesurupan tapi malah
ngerepotin, tau nggak.” ujar kak Davin nyolot.
“Hahaha… iya bener banget kak.
Debby, tu setan tu minta minum segala tau gak siii…” kata Dita lebay.
“Eh Dit, minta minum si masih
mending. Tapi masak sih setan pulang minta di anter? Aneh kan, setan pulang
minta di anter…. Dia pikir dia siapa coba…. Terus kalok tu setan gak mau
pulang, ntar Debby gimana coba…hahahaha”
goda kak Davin girang.
“Iya Deb, waktu kamu pingsan setelah
kesurupan itu kita pada ketawa-ketawa karena nyeritain ulah kamu waktu
kesurupan tau gak…” kata Ditta.
“Terus tu setan juga bilang kalok
pacarnya tu kabur gara-gara kitaaaa… hahaha, setan juga pacaran cobaaa…” goda Desya.
“Nha, pas tu setan bilang gitu… Kak
Davin langsung bilang. Heh keluar dari
tubuh pacarku! Cie cie… kak Davin, cie cie… cinlok nih.” Goda Desya.
Pak Minto menghela nafas dengen
berlebih. “Pak Minto kayaknya cuma jadi patung ni disini. Dah mendingan pak
Minto pulang duluan.”
“Oke, pak.” Seru Dita.
Desya
kini menggodaku dengan menggelitiki pinggangku. Rasanya aku ingin marah karena
mereka terus saja menggodaku. Dari yang kesurupan sampai yang cinlok, semuanya
ditujukan padaku. Ditambah lagi tatapan mata dan senyuman kak Davin yang
membuatku benar-benar tersipu malu. Bahkan membuatku jadi salah tingakah.
“Sialan ni setan. Gara-gara dia aku
jadi bahan ledekan kalian. Dasar setan kurang ajar!” bentak Debby sambil
menggembungkan kedua pipinya kembali.
“Ala.., seharusnya kamu bersyukur
karena kesurupan. Kalo nggak kamu nggak bakal jadian ama kak Davin. Ckckck…”
goda Desya.
Tiba-tiba
perasaan semalam kembali muncul dan perlahan tapi pasti, mulai mendekapku dalam
kegelapan. Bisikan-bisikan aneh mulai terdengar dan sepertinya hanya aku yang
mendengarnya. Sebenarnya ada apa ini. Apa si setan belum pergi? Padahal ini kan
masih sore.
Kepalaku
kembali terasa penat, pusing, dan dunia serasa berputar-putar. Aku pun kembali
terjatuh dan pingsan di pangkuan Desya.
Desya
lalu membelai rambutku. “Debby, kalo mau tidur mendingan kita pulang sekarang
deh. Debby, Deb… Debby! Pak Mintooooo…….” Teriak Desya kuat-kuat.
Desya
yang panik langsung berteriak memanggil Pak Minto. Dalam pikirnya mungkin Debby
kembali kesurupan dikarenakan kata-katanya yang kasar tadi.
Mereka
bertiga hanya terkaget dan terbengong melihatku kembali pingsan. Bahkan mereka
bertatap-tatapan mata karena takut aku kesurupan lagi.
“jangan-jangan!” seru Dita.
“Pak Minto. Buruan…” teriak Desya
untuk yang kedua kalinya.
Beruntung
pak Minto belum jauh meninggalkan kami.
Dengan sekali sentakan mendadak,
Debby kembali duduk. Mata merah menyala-nyala. Berlarian kesana-kemari. Ditta,
Desya, dan kak Davin terpaku dengan kekhawatiran yang luarbiasa hebat.
“Oh,
shit!” keluh kak Davin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar