Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

Kesurupan



Oleh: David Sukma Putra           
 Rumput-rumput kering tampak jingga di lapang sekolah, telah kering oleh musim dan terik yang menyengat. Semua siswa berhambur di lapangan, duduk mengepung pada sebuah titik merah keramaian. Dengan tubuh besar maupun kecil semua terlihat sama. Tinggi dan rendah pun telah terhapuskan. Derajat si kaya dan si miskin di antara mereka melebur dan memudar. Dalam kumpulan inilah semua sama dan tak ada yang membeda-bedakan. Hanya saja status senior dan dewan pembimbing yang menjadi faktor penghormatan pembeda. Namun datangnya malam, ia telah berusaha menyamarkan.
Semula kita sanggup berdiri tegak membusungkan dada dan menyombongkan jidat menyambut istimewanya kebersamaan. Namun semakin mentari menyusup menyembunyikan terang, kegelapan mulai merangsek bersama udara yang kian menusuk tulang. Kini kami hanya mampu meringkuk riang diantara jago merah yang berkibar perkasa di tengah lapang dan semilir angin yang menyayati.
Layaknya serpihan emas yang berhambur di pelataran lapang, rumput-rumput kering pun harus turut serta mengibarkan kesepian. Tapi untuk mereka teman-temanku, hal ini terasa biasa karena tawa dan latah mereka telah mengalahkan senyap dan sunyinya kegelapan yang berkubang. Apalagi untuk aku yang terkenal sebagai cewek tomboy.
“Huft… setan-setan malam pun akan kukencingi sambil berlari bila sampai berani menunjukkan batang hidungnya kepada si jagoan karate ini.”  
Dalam rangkulan malam yang terasa mencekam, terlihat wajah riang anak-anak SMA 1 Jogja yang menghangatkan diri dalam acara api unggun pada malam terakhir kegiatan Persami. Mereka melepas letih bersama setelah kegiatan outbond yang benar-benar melelahkan.
            Dita mendekat. Langsung bersila dan berbisik di telingaku. “Debby, masih lama nggak sih ni api unggun. Aduuu…kebelet niii.”
Tanpa di perintah, Desya bergabung dan melempar salam. “Kenapa, Dit? Kalo kebelet ya sana pipis sendiri. Hahahaha….” Desya tertawa seakan itu sebuah lelucon. Dita meliriknya sinis. “Dasar kamu nggak setia kawan!”
            “Debby, ayoooo… udah nggak tahan niii..” tambahnya. “Hih, kamu tuh! Kamu nggak lhiat apa? Bentar lagi laaa… tuh si Radit di suruh ngungkapin cinta sama si Dian, pasti si Dian bakal malu-malu kucing nih. Iya kan Sya… Si  Dian kan orangnya gampang banget malu.” Desya geli dengan adegan romance di depan sana.
            Dengan cepat Desya mengiyakan kata-kataku. “Iya Deb. Adu… jadi pengeeen…”
            Meliha Desya dan aku keasyikan sendiri dan tidak memerdulikannya. Dita pun geram sampai memukul kepalaku dan Desya. “Tuk…tukk..”
Aku menoleh diikuti dan Desya dengan tatapan tajam dan gigi yang menyeringai. Membuat Dita takut dan merasa bersalah.
Dita menghembus nafas dengan berlebih. “Ih! Padahalkan aku yang seharusnya marah.. Kok malah kalian si yang marah… Aku kan cuma minta ditemenin...”
Dengan sigap Debby lalu berjalan mendekati kak Davin selaku salah satu Bantara yang memimpin acara ini.
            “Kak Davin. Aku minta izin mau ke kamar kecil.”
            Ia mengangguk. “Mm. Ya udah, ayok.” Kak Davin lalu berdiri untuk mengawal Debby.
            Namun Debby terhenti. Ia bingung melihat kak Davin yang ingin mengantarkannya. Karena bingung ia pun garuk-garuk kepala. “Eh, bentar-bentar. Kak Davin mau ke mana?”
            “Lhooo.., ya ngawal kalian lah! Ntar kalau terjadi apa-apa sama kalian gimana cobaaa? Hem!”
            Debby bersungut-sungut sambil manyun. “Iiiih… masak cowok yang ngawal si... Kita kan mau ke kamar mandi cewek. Lagian ini kan di sekolah. Nggak bakal terjadi apa-apa lah. Kak Davin tu terlalu khawatir sama Debby ah…ah..ah.. hahaha.” Namun kali ini Debby malah berlebihan melihat sikap kak Davin yang dimatanya terasa super ganteng.
            Kak Davin memegang peluitnya dan mendekat. “Cetuk! Mulutmu tuh bikin merinding.”
Sekali lagi kepala debby terkena pukulan. Kali ini debby di pukul oleh kak Davin menggunakan peluit pramuka yang dari tadi bergelantungan kesana-kemari mengikuti tingkah laku kak Davin.
            “Aduh!! Kak Davin!!!” teriak Debby keras.
Mendengar suara Debby yang berteriak kesakitan hanya karena hal kecil. Semua peserta api unggun langsung terdiam. Mereka yang tadinya tengah tertawa-tawa melihat temannya di depan dirayu oleh salah seorang temannya. Kini menolehkan  ke arah Debby.
            Citra yang berdiri bersama para bantara, meliriknya. “Davin! Ini kan malam terakhir. Kamu tuh jangan terlalu kasar sama adek kelas! Ini kan malam santai…”
            Segera Davin berkoar tak mau salah. “Citra, yang kasar tu siapa…? Ini si Deby aja yang nyolot dari tadi.”
Salah seorang peserta tiba-tiba ada yang bersorak,  “Huuuu, kak Davin nakal…” tiba-tiba tanpa dikomandoi lagi, seluruh peserta langsung menghujam kak Davin secara bersamaan.
            “Huuuuuuuu… Kak Davin nakaaaal… huuuuu… hahaha.” Seluruh peserta malah menjadikannya sebagai bahan candaan. Sebenarnya bukan hanya peserta tapi para Bantara pun ikut menertawainya.
Tapi apa respon kak Davin?
            “Hei!! Apa yang lucu?! Ayo ketawa lagi! Ayo! Kenapa pada diem! Yang lucu tadi manaaaa… ayo diketawain lagi! Kalian mau pada jadi jagoan apa?! Gimana coba… silahkan kalian ketawa. Hei! Malah pada melototin aku. Lanjutin acara.” tunjuknya pada dua orang teatrikar perayu di dekat api unggun.
            Namun tiba-tiba. “Plugh…plugh.”
            Tanpa aba-aba, kak Davin langsung kembali berkoar keras. “Aduh… Hei! Siap… aaa…” suaranya melengking hingga mendesis dan akhirnya hilang.
 Kak Davin berteriak marah karena ada yang memukulnya. Namun saat menengok kebelakang ternyata pak Minto yang memukulnya. Jelas saja ini membuatnya kaget, di tambah lagi dia telah marah-marah tadi. Hauft merepotkan.
            “Eeeeeiiiiit… Bapak, maap, pak map ya. Gak sengaja… Kirain tadi siapa? Hehehe...” ia cengengesan sambil mengusap-ngusap kepala karena malu.
            “Huwakakakakaka….” Kembali seluruh peserta meledakkan tawa melihat tingkah konyol kak Davin yang tadi sempat marah-marah.
            “Davin… Davin… kamu tuh…” seru Citra sambil tersenyum manis kepada kak Davin.
            “Citra, malah ketawa si…” sahutnya cepat.
Kak Davin yang masih berdiri dan menjadi sorotan para peserta persami seperti tidak menyadari kalau temanku si Dita ini benar-benar sudah tidak tahan ingin ke kamar kecil.
            “Pak Minto... ini lho… kasihan Dita yang udah kebelet.” rengek Debby.
Pak Minto lalu memukul pantan kak davin sekali lagi dengan tongkat pramuka yang sejak pagi ia bawa-bawa.
            “Plugh..” lalu menuding-nudingkannya ke arah kamar mandi tanpa mengatakan sepeser kata pun. Dengan wajah yang mengkerut sambil sedikit tersenyum saat berhadapan dengan kak Davin. Ekspresi seperti ini merupakan kebiasaan pak Minto yang ramah dan tidak pernah marah kepada anak didiknya. Gayanya yang perlente dengan kacamata hitam yang tak pernah luput dari tampang tirusnya dan rambut klimisnya yang lebat. Begitulah pembina pramuka kami.
            “Iya pak, iayaaaa….” Lalu kak Davin berjalan di depan_mengawal kami yang ingin ke kamar kecil.
Kamar kecil yang berada di sudut sekolah merupakan suasana mencekam kedua setelah ruang OSIS yang kabarnya sering ada anak yang kesurupan. Bahkan mitos-mitos tentang kedua lokasi itu telah menjadi sarapan berhari-hari oleh para siswa-siswi SMA ini.
Kamar kecil di sudut sekolah ini hanya memiliki dua buah lampu penerang berwarna kuning di sudutnya. Membuat suasana malam semakin menakutkan. Kami berempat berjalan semakin mendekat dan suasana kelam pun seperti mulai menarik kami yang semakin mendekat pada satu tujuan yang sama.
Aku yang tomboy ini pun kini merasa takut dengan suasana kamar kecil ini. Baru kali ini aku kemari saat malam hari, sepertinya wajar bila perasaanku tidak enak. Bulu kuduk ini sekarang terasa tegang. Sepertinya mereka takut akan sesuatu lain yang datang. Haduuu…  hatiku semakin kacau memikirkan hal ini.
            “Debb… Debby. Debby…Hei. Jangan bengong. Kalian semua tolong jangan bengong. Jaga agar pikiran kalian tidak kosong. Semuanya tolong baca basmalah dalam hati. Kalian semua tahu kan gosip tentang tempat ini. Jadi tolong jangan diremehkan. Ditta, buruan kamu pipisnya.” Seru kak Davin yang khawatir kepada kami bertiga.
Tapi perasaanku benar-benar tidak enak. Seluruh bulu kudukku sepertinya ingin kabur dan lepas dari kulitku. Uuuu…. Kuharap tidak terjadi sesuatu di tempat ini. Setan-setan tolong pergi jangan ganggu kami.
Kulihat kak Davin yang sedang asik bercanda dengan Desya tidak merasa takut sedikit pun dengan suasana di tempat ini. Lalu apa hanya aku yang merasa tidak enak. Badanku pun sepertinya semakin berat, seolah ada sesuatu yang mendekat dan memelukku. Bulu kuduk pada bagian tertentu sepertinya berdiri tegap karena ketakutan. Rasa takut ini semakin lama semakin kuat dan mulai menguasai tubuh ini.
Pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Ditta yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya. Ia keluar menghampiri kami dan mengajak untuk kembali ke acara api unggun bersama yang lainnya.
            “Kak Davin, udah ni. Yuk balik.” Pinta Ditta lembut.
Kak Davin hanya meresponnya dengan senyum dan anggukan lalu mambalikkan badan dan meninggalkan tempat ini. Namun baru dua meter aku melangkah. Sepertinya badan ini semakin berat dan enggan untuk berjalan. Bahkan sudah kupaksakan untuk melangkah sepertinya masih tetap benar-benar berat. Kepalaku tiba-tiba pusing. Tanah yang kuinjak sepertinya bergelimpangan membuat tubuhku tidak setabil dan akhirnya aku rubuh.
Saat aku tebangun kembali. Aku berada di ruangan guru yang dikelilingi kakak-kakak Bantara dan masih ditemani kedua temanku. Badanku terasa sakit semua. Kepalaku juga terasa benar-benar berat. Aku tidak tahu sebenarnya aku kenapa? 
Ditta yang duduk di samping kasurnya mulai melihat Debby membuka mata. “Debby, kamu sudah sadar? Pak Minto, debby sudah sadar ni,” teriak Ditta pelan.
Saat pak Minto akan mendekat tiba-tiba tangan Debby mencengkeram tangan Dita dengan kuat. Matanya berlarian kesana-kemari melihat sesuatu yang entah diarahkan ke mana. Tatapannya tajam dan kuat, namun tatapan itu kosong.
Dita yang khawatir lalu memegang kedua pipi Debby. “Debby… Debby. Kamu ngeliat apa, Debb? Debby tolong fokus Debb. Kamu ini kenapa?”
Kasur kecil itu sekarang bergetar karena tubuh Debby mulai kejang-kejang. Bahkan Debby mulai berteriak-teriak kacau. Matanya terus melotot dan berlarian kesan-kemari akan tujuan yang tak pasti. Kak Davin, Ditta, dan pak Minto lalu mendekat memegangi kaki dan tangan Debby.
            Kak Davin melirik pak Minto. Ia begitu khawatir dan takut dengan tingkah Debby. “Pak Minto, sepertinya Debby kesurupan Pak.”
Pak Minto mendekat langsung memegang rahang bawah Debby dan mulai membacakan basmalah dan ayat-ayat Al’Quran lainnya. Tubuh Debby yang tadinya kejang-kejang tiba-tiba berhenti. Sepertinya Debby pingsan…
Tepat pukul satu malam kejadian ini berhenti. Tubuh debby terlihat benar-benar lemas. “Pak minto, apa debby nggak apa-apa? Yang kutahu, orang kesurupan itu tubuhnya pasti sakit semua.”
            Ditta menatap kasihan melihat teman dekatnya terkapar. “Kak Davin, ini pasti gara-gara aku yang ngajak Debby ke kamar kecil. Dia pasti nggak ikhlas dengan ajakanku. Makannya dia marah sampe setan masuk ke badannya.”
Pak Minto sepertinya tersenyum lebar mendengar kata-kata Ditta. Pak Minto yang tengah duduk santai di kursi guru langsung berkumandang mengomentari perkataan Ditta.
            “Ditta, orang kesurupan itu ada alasannya. Pertama karena orang itu kotor, mungkin Debby lagi menstruasi. Kedua karena pikirannya yang kosong. Jadi mudah banget buat di masuki setan. Ketiga karena Debby mungkin berbuat sesuatu yang tidak baik, dalam artian dia telah mengusik keberadaan setan itu. Tapi bisa juga orang lain yang berbuat buruk, namun Karena tubuhnya kuat dan bersih maka ia tidak kesurupan. Dan si setan akhirnya mencari tubuh yang mudah untuk dimasuki. Terutama si Debby ini.” Jelas bos Minto panjang lebar.
            “Mmmmm…. Tapi kasian Debby, pak. Pak, Debby bangun tuh.” Kata Desya menunjuk Debby dengan dagu.
Debby yang merasa bingung dengan apa yang terjadi, ia merengek ketakutan. “Pak, Debby takuuuut…”
            Pak Minto mendekat dan membelai rambut Debby. “Jangan takut Debby. Kamu di sini sama teman-teman. Semuanya di sini buat kamu.”
Kini mata Debby kembali berputar-putar kacau mengarah ke berbagai penjuru ruangan. Pak Minto yang sigap lalu menampar-nampar pipi Debby. “Debby, sadar Debby. Sadar.. Debby. Baca asma Allah, jangan takut. Kamu harus kuat.” Sekali lagi pak Minto menampar-nampar pipi Debby.
            “Arghhhh…. Sakit pak… badan Debby semuanya sakit. Aduh, tanganku, tanganku ditarik ini… tanganku adu adu.. sakiiiit…”
            “Debby, kamu harus kuat Debby. Ayo ikuti bapak baca asma Allah. Ashadu alla ila haillallah…” Pak Minto membantu Debby berkata.
Asma Allah yang diucapkan pak Minto sepertinya tidak berpengaruh terhadap Debby. Mungkin karena Debby tidak bisa ikut mengucapkannya. Tubuh Debby kini kembali kejang-kejang. Semua orang yang berada di ruang UKS itu langsung mendekat dan memegang tangan dan kaki Debby dengan kuat. Kini Debby kembali berteriak-teriak kacau. Entah apa yang ia takutkan. Matanya berulangkali berlarian kesana kemari. Lalu pak Minto mengambil sebuah inisiatif.
            “Ayo semuanya, lepasin, lepasin tangan kalian.” Perintah pak Minto.
            “Tapi pak, nanti Debby gimana…” kata kak Davin khawatir.
            “Sudah, turuti saja perkataan bapak. Ini mahluk tidak mau keluar dari tubuh Debby. Biasanya cara lain untuk menangani kasus seperti ini, biarkan saja dia teriak-teriak. Biarkan  mahluk ini merasuk total ke tubuh  Debby. Setelah itu kita turuti semua permintaannya.”
“Pancal juga boleh pak..” Sahut kak Davin kesal yang sedikitpun malah tak membantu.
“Cuma itu jalan satu-satnya agar mahluk ini mau keluar dari badan Debby.” Jelas pak Minto.
Semua tangan yang tadi memegangi Debby kini mulai melarikan diri untuk melepas tubuh Debby. Debby yang kejang-kejang di atas kasur UKS kini mulai tenang. Namun tubuhnya merangkak ingin turun dari kasur. Lalu pak Minto mendekat dan memegang tubuh Debby agar tidak ke mana-mana.
            “Davin, pengang kaki Debby dengan kuat.” Perintah Pak Minto.
Tanpa mengatakan apapun lalu kak Davin memegang kaki Debby.
            “Hei, kamu siapa? Maumu apa? Kenapa kamu masuk ke tubuh anak ini?” tanya pak minto kepada Debby yang tengah kesurupan sambil melet-melet.
            “Aku Singo Dimejo, aku haus, aku mau minum.” Jawab Debby sambil menggeram-geram.
            “Desya, ambilkan minum.” Perintah pak Minto.
            “Sudah minum kan? Sekarang ayo keluar. Ini bukan tubuhmu!” bentak Pak Minto.
            “Cerewet, aku lagi betah ni. Asal kamu tahu, gara-gara kalian ini pacarku jadi kabur .” geram Debby.
Pak Minto yang keheranan mendengar jawaban debby. Lalu kembali bertanya. Tapi didahului oleh kak Davin.
            “Pacar? Yang bener aja!! Heh, kamu itu setan! Mana ada setan pacaran! Buruan keluar! Keluar dari tubuh pacarku!” bentak kak Davin sambil memelototi mata Debby.
            “Dasar cerewet, setan juga punya perasaan, bego!” geram Debby semakin kuat.
            “Heh, mau kamu apa lagi. Kalau kamu nggak segera keluar dari tubuh anak ini. Nanti akan kupaksa kamu untuk keluar dan itu pasti akan membuatmu sakit.” Sekali lagi pak minto membentak Debby.
            “Aku mau pulang.” Jawab Debby sambil tertawa.
            “Bagus, kalau kamu mau pulang. Ya sudah sana pulang dan keluarlah dari tubuh anak ini.” Kata pak Minto.
            “Anterin.” Sahut Debby cepat.
            “What!! Setan pulang minta di anter. Yang bener  aja. Kamu itu setan. Dateng nggak ada yang minta, pulang minta dianter. Sopan donk! Kalu bikin aku kesel, kupancal juga malah lama-lama. Setan nggak beres.” bentak kak Davin yang heran dengan Debby.
Pak Minto yang mendengar ucapan kak Davin yang semakin lama semakin terasa seenaknya saja, sekarang mulai kesal dengannya.
“Plugh!” Pak minto memukul pundak kak Davin dan menuding ke arah wajah kak Davin.
            “Hehe, sory Pak. Abis ni setan lama-lama ngelunjak pak…”
            “Ok, di mana rumahmu? Akan kami antar, tapi setelah itu kamu harus keluar!” bentak pak Minto untuk yang berulang kalinya.
            “Di pojok kamar mandi tadi.” Jawab Debby.
Minggu sore diterpa angin nakal aku bergoyang ria bersama teman-teman. Sore ini adalah hari perpisahan persami yang telah selesai kami laksanakan. Seluruh peserta baik kakak-kakak Bantara mau pun Laksana, tengah bergembira ria dengan lagu dangdut yang tengah di suarakan di tanah lapang.
Kami yang telah merapikan diri untuk segera meninggalkan sekolah, telah berdiri di lapangan sekolah yang sebelumnya didirikan puluhan tenda untuk tempat kami menginap. Aku yang telah sembuh dari kesurupan kini menjadi bahan ejekan teman-teman.
Dan di depan sana datanglah seorang bijak yang tengah berdiri tegap menghadap ke arah kami. Dialah pak Minto dengan kaca mata hitamnya yang selalu ia banggakan. Ia mengumandangkan bait-bait penutupan. Seusai pidatonya ia persilahkan kami semua untuk pulang ke rumah masing-masing.
Namun sebelum meninggalkan sekolahan, aku Dita, dan Desya menemui kak Davin untuk berpamitan. Ternyata kak Davin tengah duduk bersam pak Minto di  beranda sekolah. Kami pun langsung menghampiri mereka.
            “Kak Davin…, pak Minto…” teriak Desya genit.
            “Hei, sini. Duduk dulu laaa… nyantai aja pulangnya. Rumah kalian deket kan? Ngobrol-ngobrol dulu dah.”
Kita bertiga pun menuruti keinginan kak Davin. Ditambah lagi kak Davin orangnya ganteng dan keren. Ini tentu menambah semangat kami untuk semakin dekat dengannya.
            “Cie cieeeeee… yang baru kesurupan. Hahaha…” goda kak Davin.
            “Iiiih… apaan si kak Davin!” sambil menggembungkan kedua pipinya.
            “Debby tambah cantik deh kalo ngambek gitu…” rayu kak Davin mantap.
            “Cinlok niyeeee…” kata Desya.
            “Cinlok ama setannya apa ama Debbynya niiih.. hahahaha…” sahut Dita.
Mereka berempat tertawa ria menggodaku yang tengah kesal dengan masalah kesurupan tadi malam.
            “Iiiih, emang aku kesurupannya gimana sih? Ceritain donk...” Pinta Debby manja.
            “Eh kamu tu kesurupan tapi malah ngerepotin, tau nggak.” ujar kak Davin nyolot.
            “Hahaha… iya bener banget kak. Debby, tu setan tu minta minum segala tau gak siii…” kata Dita lebay.
            “Eh Dit, minta minum si masih mending. Tapi masak sih setan pulang minta di anter? Aneh kan, setan pulang minta di anter…. Dia pikir dia siapa coba…. Terus kalok tu setan gak mau pulang, ntar Debby gimana coba…hahahaha”  goda kak Davin girang.
            “Iya Deb, waktu kamu pingsan setelah kesurupan itu kita pada ketawa-ketawa karena nyeritain ulah kamu waktu kesurupan tau gak…” kata Ditta.
            “Terus tu setan juga bilang kalok pacarnya tu kabur gara-gara kitaaaa… hahaha, setan juga pacaran cobaaa…” goda Desya.
            “Nha, pas tu setan bilang gitu… Kak Davin langsung bilang. Heh keluar dari tubuh pacarku! Cie cie… kak Davin, cie cie… cinlok nih.” Goda Desya.
            Pak Minto menghela nafas dengen berlebih. “Pak Minto kayaknya cuma jadi patung ni disini. Dah mendingan pak Minto pulang duluan.”
            “Oke, pak.” Seru Dita.
Desya kini menggodaku dengan menggelitiki pinggangku. Rasanya aku ingin marah karena mereka terus saja menggodaku. Dari yang kesurupan sampai yang cinlok, semuanya ditujukan padaku. Ditambah lagi tatapan mata dan senyuman kak Davin yang membuatku benar-benar tersipu malu. Bahkan membuatku jadi salah tingakah.
            “Sialan ni setan. Gara-gara dia aku jadi bahan ledekan kalian. Dasar setan kurang ajar!” bentak Debby sambil menggembungkan kedua pipinya kembali.
            “Ala.., seharusnya kamu bersyukur karena kesurupan. Kalo nggak kamu nggak bakal jadian ama kak Davin. Ckckck…” goda Desya.
Tiba-tiba perasaan semalam kembali muncul dan perlahan tapi pasti, mulai mendekapku dalam kegelapan. Bisikan-bisikan aneh mulai terdengar dan sepertinya hanya aku yang mendengarnya. Sebenarnya ada apa ini. Apa si setan belum pergi? Padahal ini kan masih sore.
Kepalaku kembali terasa penat, pusing, dan dunia serasa berputar-putar. Aku pun kembali terjatuh dan pingsan di pangkuan Desya.
Desya lalu membelai rambutku. “Debby, kalo mau tidur mendingan kita pulang sekarang deh. Debby, Deb… Debby! Pak Mintooooo…….” Teriak Desya kuat-kuat.
Desya yang panik langsung berteriak memanggil Pak Minto. Dalam pikirnya mungkin Debby kembali kesurupan dikarenakan kata-katanya yang kasar tadi.
Mereka bertiga hanya terkaget dan terbengong melihatku kembali pingsan. Bahkan mereka bertatap-tatapan mata karena takut aku kesurupan lagi.
            “jangan-jangan!” seru Dita.
            “Pak Minto. Buruan…” teriak Desya untuk yang kedua kalinya.
Beruntung pak Minto belum jauh meninggalkan kami.
            Dengan sekali sentakan mendadak, Debby kembali duduk. Mata merah menyala-nyala. Berlarian kesana-kemari. Ditta, Desya, dan kak Davin terpaku dengan kekhawatiran yang luarbiasa hebat.
“Oh, shit!” keluh kak Davin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar