Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

Antara Rasa dan Keputusan



Antara Rasa dan Keputusan
Oleh: David Sukma

Semerbak obat yang beradu rona dengan jenis yang berbeda menyeruak ke segala sudut rumah sakit. Bunyi roda kasur dorong terdengar mendekat dari belakang, sesekali terhentak oleh alur-alur lurus beraturan dari keramik putih yang menjadi alas. Di atas kasur itu terbaring seorang gadis yang wajahnya begitu lusuh, pucat dan mungkin enggan hidup. Di belakangnya seorang suster mendorongnya melewati kami sambil membawa infus.
Di koridor rumah sakit ini para dokter tengah berjalan bersama hendak menghabiskan waktu makan siang. Dokter muda itu tertawa riang berbicara dengan senior dan rekan kerja. Sesekali ia mengangguk menjawab nasihat-nasihat dan masukan bergizi untuk profesionalitas kerja.
Seorang dokter berkacamata dengan rantai yang mengeliat di telinga, menggodanya. “Lihat, sebentar lagi akan ada yang menikah. Jadi kalian semua siapkan sumbangan. Bapak harap pestanya meriah. Hahaha..” terangnya menggoda dokter muda. Sedangkan dokter-dokter yang lain turut tertawa.
Ia tersenyum simpul, bibirnya berderai manis rona merah yang mengkilap. “Bapak ini, masih lama Pak.. tapi di tunggu saja ya..” ia tersenyum dan saat akan melewati perempatan koridor, ia berpamitan.
“Bapak dan rekan-rekan, sampai di sini saja saya..”
”Ayo ikut makan bersama..” bujuk seorang dokter yang lebih senior darinya. Tubuhnya pendek dan rambutnya sepundak. Senyumnya manis dan ia masih terlihat muda. “Sudah jangan di ganggu. Dia sudah ada janji makan dengan calon suami. Biarkan saja..” ujar dokter berkacamata.
Mereka pun berpisah di perempatan koridor itu. Kelima dokter itu berlalu menuju kantin dan ia berbelok ke kiri untuk menemui kekasihnya yang mungkin ada di ruang kerja.
Mendekati sebuah ruang yang kutuju, di depan pintu itu ada sebuah tulisan menggantung. Tertulis “Dr. Diva.” Pintu putih itu pun aku buka dan seketika kulihat ia mengerjakan sesuatu di meja. Sepertinya begitu sibuk hingga ia tak melihatku yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Aku pun mendekatinya dari samping dan kemudian berdiri di belakang memeluknya, merangkulnya. Rambutku terurai sampai bahunya. “Sok sibuk. Sampai aku yang baru masuk di cuekin.”
Ia memegang tanganku dan membelai rambutku, menatapku dari samping. “Kau ini, aku masih sibuk. Pergilah jangan ganggu aku. aku tak akan bisa berkonsentrasi bila kau di sampingku.” Ia tersenyum simpul dan menjentik jidatku pelan.
“Emmm..jadi aku mengganggu nih… sekali-kali nggak apa-apa kan. Kau sudah bekerja seharian, waktunya kita makan siang. Ayuk…” kurangkul tangnnya memaksanya untuk makan siang. Tapi ia menolak, menghela tanganku pelan dan berdiri memegang sebuah kertas laporan, menatapnya tajam.
“Aku sibuk sayang.. kau makanlah dulu.” Ia tak memerdulikanku dan berlalu melewatiku hendak keluar. Kulihat hanphonnya tertinggal di meja, aku pun mengambilnya. Namun belum sempat aku membuka kunci otomatisnya, ia sudah merebutnya dari tanganku.
Ia menatapku. “Aku sangat butuh hape ini. Kau makan saja dulu. Jangan pedulikan aku.” ujarnya datar dan langsung pergi meninggalkanku keluar dari ruangan.
Kami sudah empat bulan berhubungan, namun akhir-akhir ini ia seperti menjauhiku. Hanphon pun begitu erat ia pegang hingga aku tak pernah diizinkan untuk menyentuhnya. Aku dan dia sudah sangat serius, bahkan kami telah saling mengenalkan orang tua masing-masing. Hanya tinggal sebuah kata lamaran dan aku pasti akan menerimanya.
Dia memang lebih tua delapan tahun dariku, tapi karena itulah kedewasaannya memenuhi semua inginku dan aku pun nyaman bersamanya. Tapi benar, akhir-akhir ini ia selalu menjauh, membuatku ragu dengan perasaannya. Yang bilang sibuk lah, ini lah, itu lah, hingga tak pernah lagi ada waktu untukku.
Kudekati pintu, membukanya dan keluar dari ruangan yang membuat rasaku semakin penat dan letih. Di luar sini angin sepoi menyapaku, melambaiku sebuah keceriaan. Tapi aku enggan menerimanya, lebih memilih agar ia meninggalkanku dan biarkan aku tetap sepi untuk menyimpulkan sebuah kesalahan.
“Perasaan ini sebaiknya kuputuskan bagaimana, dari dasar rasa atau dasar rasional. Keduanya akan menimbulkan sebuah kesimpulan tentunya.” pikirku.
Guru BK SMA-ku pernah berkata, setiap keputusan yang kau ambil dengan berdasar perasaan, hasilnya adalah sebuah kesalahan. Perasaan adalah ego dan napsu, keduanya sangat kuat di dalam hati. Di tambah lagi saat hatimu sedang kesal atau pun gundah, akan banyak keputusan irasional yang kau buat. Hal itu sering terjadi pada setiap orang. Hanya dari mereka yang mampu berpikir tenang dan jernih yang mampu membuat keputusan rasional dalam setiap situasi yang ia hadapi. Karena itu aku mencoba untuk berpikir secara rasional.
Sebelum akhirnya aku membuat keputusan salah, lebih baik aku mencoba mempertimbangkan perkataan guruku itu. Meski sudah berlalu sembilan tahun, tapi kata-kata itulah yang masih selalu terngiang padaku.  Baik aku sedang gundah maupun bingung, seolah ia membimbingku dari jauh.
“Ah, mungkin ia benar-benar sibuk dengan pekerjaannya, karena itu ia tak pernah punya waktu. Ia lebih dewasa, tentunya ia lebih pandai dalam mengurus hubungan cinta dan pekerjaan. Yah, kuharap memang seperti itu.”
Tanpa sadar aku telah berjalan jauh dari koridor ruang kerjanya. Di depan sana ada taman dan sebuah bangku panjang. Tubuhku pun mengerti bila aku ingin bersandar dan beristirahat. Ia segera membawaku ke bangku itu, duduk di bangku kayu panjang dengan alas tanah yang penuh dengan rumput hijau. Taman ini adalah taman rumah sakit, luas dan terletak di luar gedung. Banyak dari para pasien yang suntuk sering berjalan-jalan di sini untuk mengisi waktu mereka. Udara di sini memang segar meski sesekali tercium bau kenalpot dari jalan raya sana.
Aku duduk di temani sepoi angin yang mensejukkan dan bulir-bulir aroma taman mengisi relung hatiku yang sepi. Di bawah pohon sana kulihat seorang wanita tua tengah berjalan mendekati taman bersama seorang pemuda yang membantunya berjalan, mungkin itu anaknya.
Ada juga seorang gadis yang duduk di atas kursi roda, tengah menagis meratapi nasip yang membuatnya kehilangan kedua kakinya. Tapi seorang pria tertunduk di kakinya, memegang tangannya seolah menyemangati.
Di tengah taman sana, seorang wanita ditemani beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak, duduk di atas tebaran rumput mencoba menghiburnya yang tengah layu oleh penyaki. Keluarga itu benar-benar menyayangi dan peduli dengannya.
“Andaikan Diva sepeduli mereka...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar