Antara Rasa
dan Keputusan
Oleh:
David Sukma
Semerbak
obat yang beradu rona dengan jenis yang berbeda menyeruak ke segala sudut rumah
sakit. Bunyi roda kasur dorong terdengar mendekat dari belakang, sesekali
terhentak oleh alur-alur lurus beraturan dari keramik putih yang menjadi alas.
Di atas kasur itu terbaring seorang gadis yang wajahnya begitu lusuh, pucat dan
mungkin enggan hidup. Di belakangnya seorang suster mendorongnya melewati kami
sambil membawa infus.
Di
koridor rumah sakit ini para dokter tengah berjalan bersama hendak menghabiskan
waktu makan siang. Dokter muda itu tertawa riang berbicara dengan senior dan
rekan kerja. Sesekali ia mengangguk menjawab nasihat-nasihat dan masukan
bergizi untuk profesionalitas kerja.
Seorang
dokter berkacamata dengan rantai yang mengeliat di telinga, menggodanya.
“Lihat, sebentar lagi akan ada yang menikah. Jadi kalian semua siapkan
sumbangan. Bapak harap pestanya meriah. Hahaha..” terangnya menggoda dokter
muda. Sedangkan dokter-dokter yang lain turut tertawa.
Ia
tersenyum simpul, bibirnya berderai manis rona merah yang mengkilap. “Bapak
ini, masih lama Pak.. tapi di tunggu saja ya..” ia tersenyum dan saat akan
melewati perempatan koridor, ia berpamitan.
“Bapak
dan rekan-rekan, sampai di sini saja saya..”
”Ayo
ikut makan bersama..” bujuk seorang dokter yang lebih senior darinya. Tubuhnya
pendek dan rambutnya sepundak. Senyumnya manis dan ia masih terlihat muda.
“Sudah jangan di ganggu. Dia sudah ada janji makan dengan calon suami. Biarkan
saja..” ujar dokter berkacamata.
Mereka
pun berpisah di perempatan koridor itu. Kelima dokter itu berlalu menuju kantin
dan ia berbelok ke kiri untuk menemui kekasihnya yang mungkin ada di ruang
kerja.
Mendekati
sebuah ruang yang kutuju, di depan pintu itu ada sebuah tulisan menggantung.
Tertulis “Dr. Diva.” Pintu putih itu pun aku buka dan seketika kulihat ia
mengerjakan sesuatu di meja. Sepertinya begitu sibuk hingga ia tak melihatku
yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Aku
pun mendekatinya dari samping dan kemudian berdiri di belakang memeluknya,
merangkulnya. Rambutku terurai sampai bahunya. “Sok sibuk. Sampai aku yang baru
masuk di cuekin.”
Ia
memegang tanganku dan membelai rambutku, menatapku dari samping. “Kau ini, aku
masih sibuk. Pergilah jangan ganggu aku. aku tak akan bisa berkonsentrasi bila
kau di sampingku.” Ia tersenyum simpul dan menjentik jidatku pelan.
“Emmm..jadi
aku mengganggu nih… sekali-kali nggak apa-apa kan. Kau sudah bekerja seharian,
waktunya kita makan siang. Ayuk…” kurangkul tangnnya memaksanya untuk makan
siang. Tapi ia menolak, menghela tanganku pelan dan berdiri memegang sebuah
kertas laporan, menatapnya tajam.
“Aku
sibuk sayang.. kau makanlah dulu.” Ia tak memerdulikanku dan berlalu melewatiku
hendak keluar. Kulihat hanphonnya tertinggal di meja, aku pun mengambilnya.
Namun belum sempat aku membuka kunci otomatisnya, ia sudah merebutnya dari
tanganku.
Ia
menatapku. “Aku sangat butuh hape ini. Kau makan saja dulu. Jangan pedulikan
aku.” ujarnya datar dan langsung pergi meninggalkanku keluar dari ruangan.
Kami
sudah empat bulan berhubungan, namun akhir-akhir ini ia seperti menjauhiku.
Hanphon pun begitu erat ia pegang hingga aku tak pernah diizinkan untuk
menyentuhnya. Aku dan dia sudah sangat serius, bahkan kami telah saling mengenalkan
orang tua masing-masing. Hanya tinggal sebuah kata lamaran dan aku pasti akan
menerimanya.
Dia
memang lebih tua delapan tahun dariku, tapi karena itulah kedewasaannya
memenuhi semua inginku dan aku pun nyaman bersamanya. Tapi benar, akhir-akhir
ini ia selalu menjauh, membuatku ragu dengan perasaannya. Yang bilang sibuk
lah, ini lah, itu lah, hingga tak pernah lagi ada waktu untukku.
Kudekati
pintu, membukanya dan keluar dari ruangan yang membuat rasaku semakin penat dan
letih. Di luar sini angin sepoi menyapaku, melambaiku sebuah keceriaan. Tapi
aku enggan menerimanya, lebih memilih agar ia meninggalkanku dan biarkan aku
tetap sepi untuk menyimpulkan sebuah kesalahan.
“Perasaan
ini sebaiknya kuputuskan bagaimana, dari dasar rasa atau dasar rasional.
Keduanya akan menimbulkan sebuah kesimpulan tentunya.” pikirku.
Guru
BK SMA-ku pernah berkata, setiap keputusan yang kau ambil dengan berdasar
perasaan, hasilnya adalah sebuah kesalahan. Perasaan adalah ego dan napsu,
keduanya sangat kuat di dalam hati. Di tambah lagi saat hatimu sedang kesal
atau pun gundah, akan banyak keputusan irasional yang kau buat. Hal itu sering
terjadi pada setiap orang. Hanya dari mereka yang mampu berpikir tenang dan
jernih yang mampu membuat keputusan rasional dalam setiap situasi yang ia
hadapi. Karena itu aku mencoba untuk berpikir secara rasional.
Sebelum
akhirnya aku membuat keputusan salah, lebih baik aku mencoba mempertimbangkan
perkataan guruku itu. Meski sudah berlalu sembilan tahun, tapi kata-kata itulah
yang masih selalu terngiang padaku. Baik
aku sedang gundah maupun bingung, seolah ia membimbingku dari jauh.
“Ah,
mungkin ia benar-benar sibuk dengan pekerjaannya, karena itu ia tak pernah
punya waktu. Ia lebih dewasa, tentunya ia lebih pandai dalam mengurus hubungan
cinta dan pekerjaan. Yah, kuharap memang seperti itu.”
Tanpa
sadar aku telah berjalan jauh dari koridor ruang kerjanya. Di depan sana ada taman
dan sebuah bangku panjang. Tubuhku pun mengerti bila aku ingin bersandar dan
beristirahat. Ia segera membawaku ke bangku itu, duduk di bangku kayu panjang
dengan alas tanah yang penuh dengan rumput hijau. Taman ini adalah taman rumah
sakit, luas dan terletak di luar gedung. Banyak dari para pasien yang suntuk
sering berjalan-jalan di sini untuk mengisi waktu mereka. Udara di sini memang
segar meski sesekali tercium bau kenalpot dari jalan raya sana.
Aku
duduk di temani sepoi angin yang mensejukkan dan bulir-bulir aroma taman
mengisi relung hatiku yang sepi. Di bawah pohon sana kulihat seorang wanita tua
tengah berjalan mendekati taman bersama seorang pemuda yang membantunya
berjalan, mungkin itu anaknya.
Ada
juga seorang gadis yang duduk di atas kursi roda, tengah menagis meratapi nasip
yang membuatnya kehilangan kedua kakinya. Tapi seorang pria tertunduk di
kakinya, memegang tangannya seolah menyemangati.
Di
tengah taman sana, seorang wanita ditemani beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak,
duduk di atas tebaran rumput mencoba menghiburnya yang tengah layu oleh
penyaki. Keluarga itu benar-benar menyayangi dan peduli dengannya.
“Andaikan
Diva sepeduli mereka...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar