Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

Cemara Terkembang

Cemara Terkembang
Oleh: David Sukma

Desingan ombak terpecah kala menabrak tumpukan karang yang menjulang di tepi pantai. Batu-batu itu menyibak keheningan bersama deburan ombak yang mendorongnya hingga menjadi buih-buih putih yang terus berjalan hingga pasir pantai. Semilir angin dingin di bawah terik mentari kian menghasut malam membawaku dalam benak penuh curiga melihat keglamoran ini.
Aku duduk bersandar di kursi pantai, terayomi payung warna belang_melihat sekeliling yang dipenuhi ketakjuban alam. Laut terbentang luas tanpa ujung. Semua biru seperti langit yang kian beralih jingga. Di sana, di ujung sana perahu-perahu mesin para petani ikan tengah mencari nafkah rizki ilahi. Di atas pasir pantai yang abu-abu ini mereka para pengunjung tengah berkisah ria menutup harian dengan kamera yang berulang kali terpercik kilat-kilat putih.
Ayah, ibu, dan adikkku Oncom tengah duduk bersama dengan jagung bakar di tangan yang mereka kunyah tanpa ragu. Uang itu, masih mampukah aku makan untuk memenuhi perut yang keroncongan ini. Di sekolah banyak anak mengeluh dengan biaya sekolah yang semakin tinggi. Mereka sering kali bergunjing dan menyalahkan ayahku yang menetapkan biaya spp melebihi biaya normal. Semua menuding guna dari anggaran besar itu.
Bangunan sekolah sudah bagus dan rapi, fasilitas sekolah telah memadahi, tapi mengapa biaya sekolah selalu naik melebihi sekolah-sekolah bersetandar SSI? Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Aku tahu tak seharusnya aku ikut campur dengan urusan ini. Tapi aku kasihan dengan teman-temanku yang kebanyakan adalah anak para petani ikan itu.
Deru ombak memecah kebrutalan pikiranku. Aku terduduk menikmati siutan angin yang membelai-belai dingin sekujur tubuh. Pihak sekolah pasti punya sistem dan aturan sendiri dalam menentukan kebijakan. Tapi ini keterlaluan. Kulihat sudut pantai dekat tebing batu, seorang gadis berambut hitam tengah berdiri di atas batu besar. Ia mengenakan daster putih sepanjang lutut. Merentangkan tangan, menutup mata, dan menghadap lautan menikmati terpaan angin pantai. Rambut hitam berkibas kala angin melewatinya pergi. Wajahnya putih bersih, ia pun melihat ke arahku. Sepertinya aku tahu siapa anak ini.
Karena penasaran dengannya, aku pun mendekati. “Hei, kau dari SMA Rajawali 07 kan?” tanyaku dibawahnya yang berdiri di atas batu besar. Ia melihatku, tersenyum seketika dan melambaiku. “Sini. Temani aku….”
Aku pun naik ke atas batu ini_langsung duduk di sampingnya. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku memegang tangannya_membantunya duduk di batu yang tidak rata ini.
Ia menatap ke depan. “Langit dan pantai sangat luaskan?” aku mengangguk menjawab kata-katanya.
“Aku pun sama, Man.” Ia menoleh. “Namamu Lukman kan?” sekali lagi aku mengangguk kala ia menatapku.
Aku tak mengerti dengan perkataannya. Ia merapikan rambut hitamnya yang lurus. “Kau sama dengan laut dan langit.”
“Maksudnya?” tanyaku heran bahkan memiringkan kepala dengan ucapannya.
Ia berdiri sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Mimpiku. Kau pun sama tentunya. Punya mimpi yang begitu luas,” ujarnya merentangkan tangan selebar mungkin sambil tersenyum padaku. Manis senyumnya menusuk hatiku semakin tertarik.
Aku tertunduk. “Entahlah.”
Kulihat langit jingga membawa pergi gumpalan awan gelap yang berbondong-bondong mendekati gunung. Gadis ini kembali duduk. Ia menatapku serius. “Kenapa?” tanyanya melengking.
            “Hahaha… aku tak tahu-menahu tentang mimpi dan cita-cita. Aku bahkan bosan dengan kehidupanku.” Aku menghela nafas dengan berlebih.
“Kau kesepian rupanya, kau sudah terlalu termanjakan dengan apa yang kau miliki sekarang, jadi kau tak terlalu memikirkan masa depanmu. Hidup itu panjang dan rumit, Man. Tak sehalus telapak tanganmu ini,” terangnya memegang tanganku dan membelainya. Kurasai tangannya lembut dan hangat. Seperti inikah tangan seorang gadis.
Gadis ini berbeda, ia tak seperti gadis-gadis pada umumnya. Pikirannya unik. “Adu, siapa sih namanya.” Geramku dalam hati. Ia satu sekolahan denganku, bahkan kami juga satu angkatan, tapi aku tak mengenalnya.
            “Mulai besok, saat kau bersantai di pantai ini lagi. Kau akan melihatku turun dari perahu membawa tangkapan laut yang licin-licin,” ujarnya melihat laut biru. Air matanya menetes perlahan, aku di sampingnya mulai merasa kasihan dengannya. Tanpa kuperintah, tanganku ini langsung menghapus air matanya.
“Shuuut… aku tahu kemana arah pembicaraanmu. Bila kau berhenti sekolah, selamanya kau akan seperti ayahmu. Menjadi petani ikan dan kulitmu akan hitam terbakar mentari yang tak kenal kasih. Kau mau seperti itu?!” terangku tegas.
Tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Ia terisak tangis memikirkan nasib dan masa depannya kelak. Gadis ini, haruskah mengalami kesulitan ini? Tanganku merangkulnya, membelai rambutnya yang hitam lebat. Dinginnya angin laut menerpa kami. Tangannya gemetar sedang isaknya tak henti-henti.
Tiba-tiba ia mencium pipiku dan loncat_turun dari batu ini. Aku kaget tak bisa berkata apa-apa. Ia menghapus air matanya dengan cepat dan tersenyum padaku yang masih duduk di atas batu. “Lukman. Pak Darmawan itu ayah kamu kan?” tudingnya ke arah keluargaku yang duduk di pantai.
“Iya..,” jawabku cepat.
Ia pun mendekati mereka, karena penasaran aku pun mengikutinya. Ia berdiri di depan keluargaku yang tengah duduk-duduk. “Pak Darmawan, mulai besok saya akan berhenti sekolah,” ujarnya datar.
Ayahku terkesiap heran. Ibuku pun demikian. “Kenapa Mbak? Kenapa ingin berhenti sekolah? Sekolah itu penting dan wajib,” terang ayahku yang mencoba meluruskan ucapannya.
Gadis ini menunduk kepada ayahku. Entah apa yang sebenarnya ia rencanakan. “Terimakasih atas nasehatnya, pak. Tapi keluarga saya sudah tidak mempu membiayai sekolah yang terlampau tinggi ini. Sekali lagi terimakasih,” ujarnya tetap menunduk enggan menatap mata ayahku. Mungkin ia jijik dengan kebijakan ayah.
Ia pun meninggalkan kami. Berjalan menjauh menapakkan kaki pada pasir-pasir pantai yang enggan menjadi peraduan.
Ayah dan ibuku masih heran. Bahkan berulang-ulang ibuku bertanya kepada ayah. Ini bukan sekedar masalah ekonomi keluarga lagi. Gadis itu, ia muak dengan biaya sekolah yang begitu mahal tanpa memerdulikan rakyat kecil seperti dia.
Dadaku panas, menyeruak api kemerdekaan yang malang melintang berkobar-kobar merah. Aku tak mampu lagi menahan pikiran-pikiranku ini. “Lihat!! Lihat apa yang telah Ayah lakukan. Bila terus dibiarkan, semua anak nelayan di sekolah akan berhenti sekolah dan menjadi nelayan demi memenuhi kebutuhan hidup, Ayah!!” teriakku marah. Ayahku diam, ia ingin mencoba mendengar pendapatku tentang semua ini.
“Lalu ayah harus bagaimana?” tanya ayah datar. Ibu dan Oncom melihat perdebatan kami, mereka tak berkutik karena ini mungkin masalah serius.
“Aku tak tahu, Yah. Yang punya jawabannya adalah ayah, bukan aku,” jelasku kesal langsung berlari mengejar gadis itu. Kulihat wajah ayah yang mendengar ucapanku, ia pucat pasi dengan situasi. Semoga ia menyesali apa yang ia perbuat dan mau bertindak untuk kelangsungan sekolah mereka yang tidak mampu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar