Cemara Terkembang
Oleh: David Sukma
Desingan ombak
terpecah kala menabrak tumpukan karang yang menjulang di tepi pantai. Batu-batu
itu menyibak keheningan bersama deburan ombak yang mendorongnya hingga menjadi
buih-buih putih yang terus berjalan hingga pasir pantai. Semilir angin dingin
di bawah terik mentari kian menghasut malam membawaku dalam benak penuh curiga
melihat keglamoran ini.
Aku duduk bersandar
di kursi pantai, terayomi payung warna belang_melihat sekeliling yang dipenuhi
ketakjuban alam. Laut terbentang luas tanpa ujung. Semua biru seperti langit
yang kian beralih jingga. Di sana, di ujung sana perahu-perahu mesin para
petani ikan tengah mencari nafkah rizki ilahi. Di atas pasir pantai yang abu-abu
ini mereka para pengunjung tengah berkisah ria menutup harian dengan kamera
yang berulang kali terpercik kilat-kilat putih.
Ayah, ibu, dan
adikkku Oncom tengah duduk bersama dengan jagung bakar di tangan yang mereka
kunyah tanpa ragu. Uang itu, masih mampukah aku makan untuk memenuhi perut yang
keroncongan ini. Di sekolah banyak anak mengeluh dengan biaya sekolah yang
semakin tinggi. Mereka sering kali bergunjing dan menyalahkan ayahku yang menetapkan
biaya spp melebihi biaya normal. Semua menuding guna dari anggaran besar itu.
Bangunan sekolah
sudah bagus dan rapi, fasilitas sekolah telah memadahi, tapi mengapa biaya
sekolah selalu naik melebihi sekolah-sekolah bersetandar SSI? Ayah, sebenarnya
apa yang terjadi? Aku tahu tak seharusnya aku ikut campur dengan urusan ini. Tapi
aku kasihan dengan teman-temanku yang kebanyakan adalah anak para petani ikan
itu.
Deru ombak memecah
kebrutalan pikiranku. Aku terduduk menikmati siutan angin yang membelai-belai
dingin sekujur tubuh. Pihak sekolah pasti punya sistem dan aturan sendiri dalam
menentukan kebijakan. Tapi ini keterlaluan. Kulihat sudut pantai dekat tebing
batu, seorang gadis berambut hitam tengah berdiri di atas batu besar. Ia
mengenakan daster putih sepanjang lutut. Merentangkan tangan, menutup mata, dan
menghadap lautan menikmati terpaan angin pantai. Rambut hitam berkibas kala
angin melewatinya pergi. Wajahnya putih bersih, ia pun melihat ke arahku.
Sepertinya aku tahu siapa anak ini.
Karena penasaran
dengannya, aku pun mendekati. “Hei, kau dari SMA Rajawali 07 kan?” tanyaku dibawahnya
yang berdiri di atas batu besar. Ia melihatku, tersenyum seketika dan
melambaiku. “Sini. Temani aku….”
Aku pun naik ke atas
batu ini_langsung duduk di sampingnya. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku memegang
tangannya_membantunya duduk di batu yang tidak rata ini.
Ia menatap ke
depan. “Langit dan pantai sangat luaskan?” aku mengangguk menjawab
kata-katanya.
“Aku pun sama, Man.”
Ia menoleh. “Namamu Lukman kan?” sekali lagi aku mengangguk kala ia menatapku.
Aku tak mengerti dengan
perkataannya. Ia merapikan rambut hitamnya yang lurus. “Kau sama dengan laut
dan langit.”
“Maksudnya?”
tanyaku heran bahkan memiringkan kepala dengan ucapannya.
Ia berdiri sebelum
akhirnya menjawab pertanyaanku. “Mimpiku. Kau pun sama tentunya. Punya mimpi
yang begitu luas,” ujarnya merentangkan tangan selebar mungkin sambil tersenyum
padaku. Manis senyumnya menusuk hatiku semakin tertarik.
Aku tertunduk. “Entahlah.”
Kulihat langit
jingga membawa pergi gumpalan awan gelap yang berbondong-bondong mendekati
gunung. Gadis ini kembali duduk. Ia menatapku serius. “Kenapa?” tanyanya
melengking.
“Hahaha… aku tak tahu-menahu tentang
mimpi dan cita-cita. Aku bahkan bosan dengan kehidupanku.” Aku menghela nafas
dengan berlebih.
“Kau kesepian
rupanya, kau sudah terlalu termanjakan dengan apa yang kau miliki sekarang,
jadi kau tak terlalu memikirkan masa depanmu. Hidup itu panjang dan rumit, Man.
Tak sehalus telapak tanganmu ini,” terangnya memegang tanganku dan membelainya.
Kurasai tangannya lembut dan hangat. Seperti inikah tangan seorang gadis.
Gadis ini berbeda,
ia tak seperti gadis-gadis pada umumnya. Pikirannya unik. “Adu, siapa sih
namanya.” Geramku dalam hati. Ia satu sekolahan denganku, bahkan kami juga satu
angkatan, tapi aku tak mengenalnya.
“Mulai besok, saat kau bersantai di
pantai ini lagi. Kau akan melihatku turun dari perahu membawa tangkapan laut
yang licin-licin,” ujarnya melihat laut biru. Air matanya menetes perlahan, aku
di sampingnya mulai merasa kasihan dengannya. Tanpa kuperintah, tanganku ini
langsung menghapus air matanya.
“Shuuut… aku tahu
kemana arah pembicaraanmu. Bila kau berhenti sekolah, selamanya kau akan
seperti ayahmu. Menjadi petani ikan dan kulitmu akan hitam terbakar mentari
yang tak kenal kasih. Kau mau seperti itu?!” terangku tegas.
Tiba-tiba ia
menyandarkan kepalanya ke bahuku. Ia terisak tangis memikirkan nasib dan masa depannya
kelak. Gadis ini, haruskah mengalami kesulitan ini? Tanganku merangkulnya,
membelai rambutnya yang hitam lebat. Dinginnya angin laut menerpa kami.
Tangannya gemetar sedang isaknya tak henti-henti.
Tiba-tiba ia
mencium pipiku dan loncat_turun dari batu ini. Aku kaget tak bisa berkata
apa-apa. Ia menghapus air matanya dengan cepat dan tersenyum padaku yang masih
duduk di atas batu. “Lukman. Pak Darmawan itu ayah kamu kan?” tudingnya ke arah
keluargaku yang duduk di pantai.
“Iya..,” jawabku
cepat.
Ia pun mendekati
mereka, karena penasaran aku pun mengikutinya. Ia berdiri di depan keluargaku
yang tengah duduk-duduk. “Pak Darmawan, mulai besok saya akan berhenti
sekolah,” ujarnya datar.
Ayahku terkesiap
heran. Ibuku pun demikian. “Kenapa Mbak? Kenapa ingin berhenti sekolah? Sekolah
itu penting dan wajib,” terang ayahku yang mencoba meluruskan ucapannya.
Gadis ini menunduk
kepada ayahku. Entah apa yang sebenarnya ia rencanakan. “Terimakasih atas
nasehatnya, pak. Tapi keluarga saya sudah tidak mempu membiayai sekolah yang
terlampau tinggi ini. Sekali lagi terimakasih,” ujarnya tetap menunduk enggan
menatap mata ayahku. Mungkin ia jijik dengan kebijakan ayah.
Ia pun meninggalkan
kami. Berjalan menjauh menapakkan kaki pada pasir-pasir pantai yang enggan
menjadi peraduan.
Ayah dan ibuku
masih heran. Bahkan berulang-ulang ibuku bertanya kepada ayah. Ini bukan
sekedar masalah ekonomi keluarga lagi. Gadis itu, ia muak dengan biaya sekolah
yang begitu mahal tanpa memerdulikan rakyat kecil seperti dia.
Dadaku panas,
menyeruak api kemerdekaan yang malang melintang berkobar-kobar merah. Aku tak
mampu lagi menahan pikiran-pikiranku ini. “Lihat!! Lihat apa yang telah Ayah
lakukan. Bila terus dibiarkan, semua anak nelayan di sekolah akan berhenti
sekolah dan menjadi nelayan demi memenuhi kebutuhan hidup, Ayah!!” teriakku
marah. Ayahku diam, ia ingin mencoba mendengar pendapatku tentang semua ini.
“Lalu ayah harus bagaimana?”
tanya ayah datar. Ibu dan Oncom melihat perdebatan kami, mereka tak berkutik
karena ini mungkin masalah serius.
“Aku tak tahu, Yah.
Yang punya jawabannya adalah ayah, bukan aku,” jelasku kesal langsung berlari
mengejar gadis itu. Kulihat wajah ayah yang mendengar ucapanku, ia pucat pasi
dengan situasi. Semoga ia menyesali apa yang ia perbuat dan mau bertindak untuk
kelangsungan sekolah mereka yang tidak mampu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar