ANALISIS TOKOH LASI
DALAM NOVEL
BEKISAR MERAH
A. Pembedaan Tokoh
1. Tokoh
Utama
Tokoh Lasi dalam
novel yang berjudul “Bekisar Merah”
merupakan satu-satunya tokoh yang dapat disebut sebagai tokoh utama.
Karena dari dari awal novel hingga akhir, tokoh yang menjadi patokan
berjalannya cerita ini adalah sosok seorang Lasi, apabila tokoh Lasi ini
dihilangkan, maka alur kisah novel ini sedikit pun tidak menarik untuk di baca.
Tokoh Lasi
menjadi fokus utama berbagai kejadian dan perkara dalam perjalan kisah hidup
tokoh-tokoh dalam novel ini. Maka hanya Lasi lah yang tepat untuk dapat
dikatakan sebagai tokoh utama.
2. Tokoh
Protagonis
Tokoh Lasi tepat
disebut sebagai tokoh protagonis. Tokoh protagonis ialah tokoh yang mendapat
perhatian dan simpati dari pembaca. Kita kagumi atas perjuangan hidup dalam
menghadapi segala permasalahan yang ia alami.
Lasi
yang hanya seorang istri penderes nira yang telah mengalami krisis hidup
berumah tangga yang menyebabkan ia harus meninggalkan kampung dan hidup di
Jakarta seorang diri. Menjalani lingkungan kehidupan yang benar-benar berbeda
dari lengkungannya di desa.
Usahanya dalam
menghadapi godaan dan rayuan orang-orang yang akhirnya memanfaatkan Lasi untuk
kepentingan sendiri. Ia hadapi dengan mengikuti arus perjalanan hidupnya tanpa
sedikit pun berusa menyangkal dan menghindarinya. Hal ini menjadikan Lasi
mengerti dan memahami segala tingkah pola hidup orang-orang kaya di Jakarta,
memberinya pengalaman hidup yang nyata dan memberinya kedewasaan berfikir dan
mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri.
3. Tokoh
Bulat
Lasi dapat
disebut sebagai tokoh bulat atau round carackter yang memiliki beberapa
kualitas pribadi. Hal ini terbukti dari kehidupan, pola pikir dan sifatnya yang
polos berubah menjadi seorang wanita yang memiliki pemikiran akan banyak hal
yang memberinya motivasi untuk berubah menjadi seorang wanita yang berhak untuk
dihargai dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Seorang wanita
miskin yang hanya mengenal lingkungan hidup pedesaannya. Kini menjadi Lasi yang
kaya raya dan mengerti lingkungan luas kehidupan di Jakarta.
4. Tokoh
Berkembang
Tokoh Lasi
mengalami berbagai konflik hidup dan perkara dalam lingkungannya. Memberinya interaksi dengan tokoh-tokoh lain
yang menyebabkan berkembangnya alur peristiwa dalam novel ini.
Mengalami
perkembangan hidup, fisik, pola pikir, dan perkembangan konflik hidup dengan
berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang berbeda.
Alasan
diatas yang menyebabkan tokoh Lasi disebut sebagai tokoh berkembang yang
mengalami perkembangan atas apa yang terjadi.
5. Tokoh
Netral
Tokoh Lasi
merupakan tokoh yang paling berpengaruh dan aktif dikisahkan, karena Lasi
merupakan tokoh yang bereksistensi demi jalannya cerita dalam novel ini.
B. Pelukisan Tokoh
Teknik
pelukisan tokoh seorang Lasi pada novel yang berjudul “Bekisar Merah,”
menggunakan tehnik pelukisan Ekspositoris atau Analitik. Hal ini terbukti dari
pelukisan keadaan fisikn secara langsung oleh para tokoh dalam novel tersebut.
Beberapa
petikan dibawah ini membuktikan bahwa tokoh Lasi menggunakan tehnik pelukisan
Ekspositoris, diantaranya:
a. Lasi
selesai mandi. Rambutnya basah tergerai, terjun ke belakang telinga kanan,
melintir ke depan dan terjumbai di dada.
b. Dan
karena Lisi berdiri membelakang, Darsa dapat melihat punggung istrinya yang
terbuka. Juga tengkuknya. Ada daya tarik yang aneh pada kontras warna rambut
yang pekat dengan kulit tengkuk Lasi yang putih, lebih putih dari tengkuk
perempuan mana pun yang pernah dilihat oleh Darsa. Penyadap
muda itu tak habis merasa beruntung punya istri dengan kulit sangat putih dan
memberi keindahan khas terutama pada bagian yang berbatasan dengan rambut
seperti tengkuk dan pipi.
c. Keraguan
Darsa datang karena banyak celoteh mengatakan bahwa Lasi yang berkulit putih
dengan mata dan lekuk pipi yang khas itu sesungguhnya lebih pantas menjadi
istri lurah daripada menjadi istri seorang penyadap.
d. "Nah,
apa kubilang. Kamu sangat cantik, bukan? Kamu bukan anak kampung lagi. Dasar ayahmu
Jepang, nah, kamu sekarang kelihatan aslinya, gadis Jepang yang cantik,"
kata Bu Lanting.
e. "Las,
maksudku begini. Karena masih muda dan menarik, bagaimana bila suatu saat kelak
ada lelaki menginginkan kamu? Atau, apakah kamu masih ingin kembali kepada
suamimu
C. Penokohan
Dalam
novel yang berjudul “Bekisar Merah” tokoh yang bernama Lasi memiliki
sifat-sifat, diantaranya:
1. Tanggap
Bukti
bahwa Lasi memiliki sifat tanggap, diantaranya:
a. Lasi pun mengerti, suaminya terpanggil oleh
pekerjaannya, oleh semangat hidupnya. Penderes mana saja akan segera pergi
mengangkat pongkor pada kesempatan pertama. Sementara Darsa pergi ke sumur
untuk mengguyur seluruh tubuhnya, Lasi menyiapkan perkakas suaminya; arit
penyadap, pongkor-pongkor dan pikulannya, serta caping bamboo.
Pembuktian
di atas jelas membuktikan bahwa Lasi merupakan seorang tokoh istri yang tanggap
terhadap situasi, terutama terhadap keperluan suaminya.
b. Ketika
yang pertama terlihat adalah lampu minyak tercantel pada tiang, Lasi sadar
bahwa yang harus dilakukannya adalah menyalakan lampu.
Sosok
Lasi secara sepontan tersadar akan apa yang harus ia lakukan, karena saat itu
ia tidak percaya akan apa yang telah menimpa Darsa.
2. Rajin
Bukti
bahwa Lasi memiliki sifat Rajin,
Di rumah, Lasi menyiapkan tungku dan kawah untuk
mengolah nira yang sedang diambil suaminya. Senja mulai meremang. Setumpuk kayu
bakar diambilnya dari tempat penyimpanan di belakang tungku. Sebuah ayakan
bambu disiapkan untuk menyaring nira.
Keterangan
di atas telah membuktikan bahwa Lasi ialah seorang yang rajin dalam
kesehariannya sebagai istri seorang penyadap nira.
3. Rela
berkorban
Bukti
bahwa Lasi bersifat rela berkorban,
a. Pernah,
karena ketiadaan kayu kering dan kebutuhan sangat tanggung, Lasi harus
merelakan pelupuh tempat tidurnya masuk tungku. Tanggung, karena sedikit waktu
lagi nira akan mengental jadi tengguli.
Lasi
tanpa berpikir panjang langsung mengambil pelepuh tempat tidurnya. Petikan
diatas jelas membuktikan bahwa Lasi merupakan sosok yang rela berkorban.
b. "Mak,
tapi kasihan Kang Darsa," sela Lasi. "Saya ingin dia dirawat sampai
sembuh. Untuk Kang Darsa, apakah kebun kelapa saya tidak bisa dijual?"
Gagasan
Lasi yang ia ucapkan tanpa berpikir panjang akan kelangsungan hidupnya kelak,
sangat membuktikan bahwa Lasi merupakan wanita yang rela berkorban.
4. Pintar
merayu
Bukti
bahwa Lasi bersifat pintar merayu,
Meskipun
begitu tak urung Lasi ketakutan, khawatir akan kena marah suaminya karena telah
merusak tempat tidur mereka satu-satunya. Untung, untuk kesulitan semacam ini
emak Lasi mempunyai nasihat yang jitu: segeralah mandi, menyisir rambut, dan
merahkan bibir dengan mengunyah sirih. Kenakan kain kebaya yang terbaik lalu
sambutlah suami di pintu dengan senyum.
Sebagai
seorang wanita, merayu merupakan hal yang mudah dilakukan. Terutama kepada
suaminya. Hal ini dilakukan pula oleh Lasi, ia
melakukannya agar suaminya tidak marah.
5. Pemarah
Bukti
bahwa Lasi bersifat pemarah,
a. Dan
Lasi mencabut kayu penggaris dari ketiaknya, lari menyeberang titian dan siap
melampiaskan kemarahan kepada para penggoda. Ia takkan segan menggunting hingga
putus leher ketiga anik lelaki itu. Tetapi yang ada bukan tangan penjepit melainkan
kayu penggaris. Dua penggoda lari dan seorang lagi tetap tinggal, bahkan
membiarkan punggungnya dipukul Lasi dengan kayu penggaris.
"Anak-anak
mengganggumu lagi?"
"Selalu!"
Jawab Lasi tajam. Sinar kemarahan masih
terpancar dari matanya. Terasa ada tuntutan yang runcing dan menusuk diajukan
oleh Lasi; mengapa dia harus menghadapi ejekan dan celoteh orang setiap hari.
Sikapnya
kepada teman-temannya membuktikan bahwa Lasi merupakan sosok yang pemarah.
Hanya karena olok-olok yang sepele dari teman-temannya, ia memukulnya.
Kemarahannya terlihat pula saat ia meminta penjelasan kepada ibunya.
6. Ingin
tahu
Bukti
bahwa Lasi bersifat igin tahu,
a. “Ya,
Las. Dia bukan ayah kandungmu," jawab Mbok Wiryaji agak terbata.
a. "Jadi
siapa ayah saya yang sebenarnya? Orang Jepang?"
a. "Ya."
a. Mbok
Wiryaji menelan ludah.
a. "Kok
bisa begitu?"
a. "Dulu
di sini banyak orang Jepang. Mereka tentara."
a. "Kata
orang, Emak diperkosa orang Jepang. Diperkosa itu bagaimana?"
Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan Lasi kepada ibunya, membuktikan bahwa Lasi merupakan sosok yang
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
7. Perhatian
dan kepedulian
Bukti
bahwa Lasi memiliki sifat perhatian dan peduli,
a. Pagi
ini Lasi berangkat hendak menjenguk Darsa di rumah sakit kecil di kota
kewedanan itu.
b. "Sudahlah,
Mak. Emak memang tidak minta. Tapi saya sendiri melihat rumah ini sudah terlalu
tua. Saya sendiri yang menghendaki rumah ini dibangun kembali dan Emak tinggal
tahu beres. Mak, Saya tidak ingin Mas Han kebocoran bila suatu saat kelak
suamiku itu menginap di sini."
Kedua
petikan diatas membuktikan bahwa ia merupakan sosok yang memiliki rasa
perhatian dan perhatian tinggi terhadap orang-orang yang ia sayangi.
8. Hawatir
Bukti
seorang Lasi memiliki rasa kekhawatiran,
a. Mungkin
ia akan tetap menyadap nira apabila nyawanya tak melayang. Meskipun begitu
kemarin Lasi berdiri lama di depan pintu ketika melepas Darsa pergi menyadap.
Mulut Lasi komat-kamit. Mangkat slamet, bali slamet, bisik Lisi. Amit-amit
jangan seperti dulu, mangkat slamet, kembali sudah terkulai dalam gendongan
Mukri.
Kalimat
petikan diatas, menunjukkan seorang Lasi ialah sosok yang memiliki perasaan
khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan.
9. Bimbang
Bukti
bahwa Lasi memiliki sifat bimbang,
a. Lasi
kadang merasa ragu dan takut. Namun rasa sakit karena perbuatan Darsa dan
lebih-lebih sakit karena merasa dirinya tidak lagi berharga untuk seorang
suami, membuat tekadnya lebih pekat.
b. Lasi
terbelalak. Sejenak terpana dan tiba-tiba sulit bernapas. Wajahnya pucat oleh
guncangan yang mendadak menggoyang jiwanya. Sepasang alisnya merapat. Lasi
gelisah. Tetapi Bu Lanting tak ambil peduli
Lasi
merupakan sosok yang mudah bimbang, hal ini terbukti dari petikan diatas.
10. Melarikan
diri dari masalah yang dihadapi
Bukti
bahwa Lasi memiliki sifat melarikan diri atas masalah yang sedang dihadapi,
dapat kita lihat dari petikan dibawah ini.
a. "Mas Pardi, aku ikut," ujar Lasi
dingin dan kaku. Tatapan matanya lurus ke depan. Wajahnya keras dan beku
seperti dinding batu menyiratkan suatu tekad yang tak tergoyahkan.
a."Ikut?
Kami mau ke Jakarta dan kamu mau ikut?
a.Tak
ada jawaban. Dan Lasi tak bergeming. Matanya yang nyalang terus menatap tanpa
kedip ke depan.
a."Lho,
jangan, Las. Kami tahu kamu sedang punya masalah. Nanti orang bilang aku
mencampuri urusanmu. Jangan, Las," cegah Pardi.
Lasi memang
menangis. Kini ia mulai sadar akan apa yang sedang dilakukannya; lari
meninggalkan Karangsoga, bumi yang melahirkan dan ditinggalinya selama dua
puluh empat tahun usianya. Lari dari rumah; rumah lahir, rumah batin tempat
dirinya hadir, punya peran dan punya makna. Lari meninggalkan tungku dan kawah
pengolah nira dan wangi tengguli mendidih. Dan semuanya berarti lari dari yang
nyata menuju ketidakpastian, menuju dunia baru yang harus diraba-raba, dunia yang
belum dikenal atau mengenalnya.
Lari dan mbalelo
adalah satu-satunya cara untuk lampiaskan perlawanan sekaligus membela
keberadaannya. Lari dan lari meski Lasi sadar tak punya tempat untuk dituju.
11. Pemalu
Bukti
bahwa Lasi memiliki sifat pemalu,
a. "Aku
tak pernah makan di luar rumah. Malu."
a. "Kalau
begitu sekarang kamu coba. Lagi pula kamu sudah ikut kami, maka kamu harus
ikuti aturan kami. Jangan sampai bikin repot gara-gara kamu sakit karena perut
kaubiarkan kosong."
“Lasi tertunduk
malu. Dia menoleh ke Pardi. Sopir itu mengerti. Maka dialah yang kemudian
menjawab pertanyaan Bu Koneng dengan keterangan yang agak panjang.”
b. Dan
jawaban yang jelas diperoleh Kanjat dari orang ketiga: Lasi malu berakrab-akrab
dengan anak orang kaya sementara dia anak orang miskin. Apalagi setelah tamat
SMA Kanjat memang lain; bongsor, gagah, terpelajar, dan dimanjakan Emak dengan
sebuah sepeda motor. Pokoknya, Kanjat tak pantas lagi diaku sebagai adik oleh
Lasi seperti ketika mereka masih kanak-kanak dan suka bermain petak umpet.
12. Hutang
budi
Buki
bahwa Lasi memiliki sifat hutang budi,
a. "Jangan
bilang begitu. Kamu ikut kami, maka soal makan kamilah yang tanggung. Kecuali
kamu mau bikin malu kami."
b. "Untuk
sekadar pegangan, Las. Barangkali kamu membutuhkannya untuk beli minuman selama
aku pergi," kata Pardi.
b. “Terima kasih, Mas Pardi. Aku memang tidak
memegang uang. Dan uang ini kuterima sebagai pinjaman. Kapan-kapan aku akan
mengembalikannya kepadamu."
b. "Terserahlah, kalau kamu ngotot. Yang
pasti aku tidak merasa punya urusan utang-piutang dengan kamu."
Petikan
percakapan diatas, membuktikan bahwa sosok Lasi memiliki sifat hutang budi dan
tidak bisa menerima pemberian secara Cuma-Cuma.
13. Tahu
diri
Bukti
bahwa Lasi memiliki sigfat tahu diri, dapat kita lihat dari petikan dibawah
ini,
a. Bu
Koneng mengajaknya makan pagi, bukan di ruang warung melainkan di ruang dalam.
Lasi tak enak karena merasa terlalu diperhatikan, tetapi tak mampu menampik
kebaikan Bu Koneng.
"Merepotkan
Bu Koneng?" kata Lasi setelah agak lama terdiam.
"Tak
apa-apa, kok. Aku sering disinggahi istri-istri sopir dan mereka biasa menginap
di sini."
14. Baik
hati
Bukti
bahwa Lasi memiliki sifat baik hati,
a. “Lasi
yang tak asing dengan lumpur sawah, entah mengapa, merasa jijik dengan lumpur
pasar. Hanya karena tak ingin menyinggung hati Bu Koneng, Lasi ikut ke mana
saja induk semangnya yang baru itu pergi.”
b. "Eyang
Mus tidak ingin surau kita berlantai tegel dan berdinding tembok? Surau
berdinding bambu sudah ketinggalan zaman," kata Lasi setelah agak lama
terdiam.
c. "Berikan
uang ini kepada Kang Darsa. Uang itu cukup untuk makan kalian selama setahun
bila kalian gunakan untuk menyewa pohon kelapa. Sudah, jangan terus menangis.”
15. Cengeng
Bukti
bahwa Lasi besifat cengeng,
a. "Lho, kok malah menangis. Aku tidak
memaksa kamu, Las. Kalau kamu suka tinggal di kamar sempit dan sumpek di sini,
ya terserah.”
"Las,
maksudku begini. Karena masih muda dan menarik, bagaimana bila suatu saat kelak
ada lelaki menginginkan kamu? Atau, apakah kamu masih ingin kembali kepada
suamimu?"
Lasi cepat
menggeleng. Dan air matanya cepat mengambang.
b. Lasi
tidak menjawab. Ia tetap menunduk. Tangannya gemetar dan mulai sibuk mengusap
air mata.
c. Anehnya,
Lasi sendiri malah menangis lagi. Keluar, menggamit pipi bayi yang sedang
dibopong Sipah, lalu pergi. Kanjat menyusul karena ia pun merasatak bisa
berbuat apa-apa untuk Darsa.
16. Polos,
penurut, kurang tegas, dan tidak punya pendirian
a. Bukti
"Itu gampang. Akan kukatakan kamu ikut Bu Lanting. Bila Pardi meminta, dia
akan kuantar menemuimu. Itu gampang sekali."
Lasi mengira
dirinya akan diajak keluar karena hal itu sudah terlalu sering terjadi. Apalagi
selesai mandi Lasi melihat induk semangnya sudah berdandan. Dan pertanyaan
mulai muncul dalam hati Lasi ketika Bu Lanting menyuruhnya mengenakan kimono.
Lasi belum pernah diajak pergi dengan pakaian seperti itu.
"Kita mau
ke mana sih, Bu? Saya kok pakai kimono?"
"Tidak ke
mana-mana, Las. Kita tidak akan pergi. Aku mau menerima tamu. Tamuku ingin
melihat cara orang memakai baju adat Jepang ini.”
"Bu,
sebenarnya saya tidak bisa memutuskan apa-apa. Saya hanya akan menurut; semua
terserah Ibu bagaimana baiknya. Saya pasrah. Tetapi, Bu, sebenarnya saya takut.”
b. Lasi
tersenyum dan membiarkan Handarbeni menggandeng dirinya keluar. Tetapi untuk
kesekian kali Lasi merasa tidak seharusnya membiarkan diri digandeng seorang
lelaki. Entahlah.
c. "Las,
sehabis makan kamu ingin ke mana lagi?"
c. "Tak
ingin ke mana-mana."
c. "Nonton?"
c. "Tidak
tahu. Saya tidak ingin ke mana-mana."
c. "Kalau
begitu lebih baik kita pulang ke Slipi. Kitaomong-omong saja di rumah sendiri,
pasti lebih leluasa. Kamu mau, bukan?"
d. "Saya
cuma menurut," kata Lasi pelan, tanpa mengangkat wajah. Handarbeni
mendesah, lega. Tersenyum sendiri dan matanya lekat pada Lasi yang tetap
menunduk.
d. "Las,
aku ingin bicara agak banyak tetapi bukan di tempat ini. Kita keluar sekalian makam
malam. Kamu mau, bukan?"
d. Lasi
terdiam dan kelihatan ragu.
Petikan
diatas membuktikan bahwa Lasi merupakan wanita yang polos, penurut, kurang
tegas dan tidak puya pendirian.
17. Bodoh
dengan jalan pikirannya yang dangkal
Petikan
di bawah ini akan membuktikan bahwa Lasi memiliki sifat bodoh dengan jalan
pikirannya yang dangkal,
a. Jat,"
jawab Lasi setelah lama hanya sibuk dengan air matanya. "Untuk apa aku
pulang? Tak ada guna, bukan? Rumah tanggaku sudah hancur. Suamiku tak bisa lagi
kupercaya. Dan aku anak orang miskin yang menderita sejak aku masih kecil. Bila
aku kembali aku merasa pasti semua orang Karangsoga tetap seperti dulu atau
malah lebih: senang menyakiti aku."
Apabila
Lasi memang wanita yang cerdas dalam mengambil keputusan dan pertimbangan,
walaupun masalah yang dihadapinya begitu rumit. Dia akan menyelesaikannya
dengan pikiran dingin, tidak seharusnya ia menjauh dan lari dari permasalahan
yang dihadapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar