Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

Novel Bekisar Merah Analisis

ANALISIS TOKOH LASI

DALAM NOVEL

BEKISAR MERAH

 

A.  Pembedaan Tokoh

1.      Tokoh Utama

Tokoh Lasi dalam novel yang berjudul “Bekisar Merah”  merupakan satu-satunya tokoh yang dapat disebut sebagai tokoh utama. Karena dari dari awal novel hingga akhir, tokoh yang menjadi patokan berjalannya cerita ini adalah sosok seorang Lasi, apabila tokoh Lasi ini dihilangkan, maka alur kisah novel ini sedikit pun tidak menarik untuk di baca.

Tokoh Lasi menjadi fokus utama berbagai kejadian dan perkara dalam perjalan kisah hidup tokoh-tokoh dalam novel ini. Maka hanya Lasi lah yang tepat untuk dapat dikatakan sebagai tokoh utama.

2.      Tokoh Protagonis

Tokoh Lasi tepat disebut sebagai tokoh protagonis. Tokoh protagonis ialah tokoh yang mendapat perhatian dan simpati dari pembaca. Kita kagumi atas perjuangan hidup dalam menghadapi segala permasalahan yang ia alami.

      Lasi yang hanya seorang istri penderes nira yang telah mengalami krisis hidup berumah tangga yang menyebabkan ia harus meninggalkan kampung dan hidup di Jakarta seorang diri. Menjalani lingkungan kehidupan yang benar-benar berbeda dari lengkungannya di desa.

Usahanya dalam menghadapi godaan dan rayuan orang-orang yang akhirnya memanfaatkan Lasi untuk kepentingan sendiri. Ia hadapi dengan mengikuti arus perjalanan hidupnya tanpa sedikit pun berusa menyangkal dan menghindarinya. Hal ini menjadikan Lasi mengerti dan memahami segala tingkah pola hidup orang-orang kaya di Jakarta, memberinya pengalaman hidup yang nyata dan memberinya kedewasaan berfikir dan mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri.

3.      Tokoh Bulat

Lasi dapat disebut sebagai tokoh bulat atau round carackter yang memiliki beberapa kualitas pribadi. Hal ini terbukti dari kehidupan, pola pikir dan sifatnya yang polos berubah menjadi seorang wanita yang memiliki pemikiran akan banyak hal yang memberinya motivasi untuk berubah menjadi seorang wanita yang berhak untuk dihargai dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.

Seorang wanita miskin yang hanya mengenal lingkungan hidup pedesaannya. Kini menjadi Lasi yang kaya raya dan mengerti lingkungan luas kehidupan di Jakarta.

4.      Tokoh Berkembang

Tokoh Lasi mengalami berbagai konflik hidup dan perkara dalam lingkungannya.  Memberinya interaksi dengan tokoh-tokoh lain yang menyebabkan berkembangnya alur peristiwa dalam novel ini.

      Mengalami perkembangan hidup, fisik, pola pikir, dan perkembangan konflik hidup dengan berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang berbeda.

      Alasan diatas yang menyebabkan tokoh Lasi disebut sebagai tokoh berkembang yang mengalami perkembangan atas apa yang terjadi.

5.      Tokoh Netral

Tokoh Lasi merupakan tokoh yang paling berpengaruh dan aktif dikisahkan, karena Lasi merupakan tokoh yang bereksistensi demi jalannya cerita dalam novel ini.

B.  Pelukisan Tokoh

Teknik pelukisan tokoh seorang Lasi pada novel yang berjudul “Bekisar Merah,” menggunakan tehnik pelukisan Ekspositoris atau Analitik. Hal ini terbukti dari pelukisan keadaan fisikn secara langsung oleh para tokoh dalam novel tersebut.

Beberapa petikan dibawah ini membuktikan bahwa tokoh Lasi menggunakan tehnik pelukisan Ekspositoris, diantaranya:

a.       Lasi selesai mandi. Rambutnya basah tergerai, terjun ke belakang telinga kanan, melintir ke depan dan terjumbai di dada.

b.      Dan karena Lisi berdiri membelakang, Darsa dapat melihat punggung istrinya yang terbuka. Juga tengkuknya. Ada daya tarik yang aneh pada kontras warna rambut yang pekat dengan kulit tengkuk Lasi yang putih, lebih putih dari tengkuk perempuan mana pun yang pernah dilihat oleh Darsa. Penyadap muda itu tak habis merasa beruntung punya istri dengan kulit sangat putih dan memberi keindahan khas terutama pada bagian yang berbatasan dengan rambut seperti tengkuk dan pipi.

c.       Keraguan Darsa datang karena banyak celoteh mengatakan bahwa Lasi yang berkulit putih dengan mata dan lekuk pipi yang khas itu sesungguhnya lebih pantas menjadi istri lurah daripada menjadi istri seorang penyadap.

d.      "Nah, apa kubilang. Kamu sangat cantik, bukan? Kamu bukan anak kampung lagi. Dasar ayahmu Jepang, nah, kamu sekarang kelihatan aslinya, gadis Jepang yang cantik," kata Bu Lanting.

e.       "Las, maksudku begini. Karena masih muda dan menarik, bagaimana bila suatu saat kelak ada lelaki menginginkan kamu? Atau, apakah kamu masih ingin kembali kepada suamimu

C.  Penokohan

Dalam novel yang berjudul “Bekisar Merah” tokoh yang bernama Lasi memiliki sifat-sifat,  diantaranya:

1.      Tanggap

Bukti bahwa Lasi memiliki sifat tanggap, diantaranya:

a.        Lasi pun mengerti, suaminya terpanggil oleh pekerjaannya, oleh semangat hidupnya. Penderes mana saja akan segera pergi mengangkat pongkor pada kesempatan pertama. Sementara Darsa pergi ke sumur untuk mengguyur seluruh tubuhnya, Lasi menyiapkan perkakas suaminya; arit penyadap, pongkor-pongkor dan pikulannya, serta caping bamboo.

Pembuktian di atas jelas membuktikan bahwa Lasi merupakan seorang tokoh istri yang tanggap terhadap situasi, terutama terhadap keperluan suaminya.

b.      Ketika yang pertama terlihat adalah lampu minyak tercantel pada tiang, Lasi sadar bahwa yang harus dilakukannya adalah menyalakan lampu.

Sosok Lasi secara sepontan tersadar akan apa yang harus ia lakukan, karena saat itu ia tidak percaya akan apa yang telah menimpa Darsa.

2.      Rajin

Bukti bahwa Lasi memiliki sifat Rajin,

Di rumah, Lasi menyiapkan tungku dan kawah untuk mengolah nira yang sedang diambil suaminya. Senja mulai meremang. Setumpuk kayu bakar diambilnya dari tempat penyimpanan di belakang tungku. Sebuah ayakan bambu disiapkan untuk menyaring nira.

Keterangan di atas telah membuktikan bahwa Lasi ialah seorang yang rajin dalam kesehariannya sebagai istri seorang penyadap nira.

3.      Rela berkorban

Bukti bahwa Lasi bersifat rela berkorban,

 

a.       Pernah, karena ketiadaan kayu kering dan kebutuhan sangat tanggung, Lasi harus merelakan pelupuh tempat tidurnya masuk tungku. Tanggung, karena sedikit waktu lagi nira akan mengental jadi tengguli.

Lasi tanpa berpikir panjang langsung mengambil pelepuh tempat tidurnya. Petikan diatas jelas membuktikan bahwa Lasi merupakan sosok yang rela berkorban.

b.      "Mak, tapi kasihan Kang Darsa," sela Lasi. "Saya ingin dia dirawat sampai sembuh. Untuk Kang Darsa, apakah kebun kelapa saya tidak bisa dijual?"

Gagasan Lasi yang ia ucapkan tanpa berpikir panjang akan kelangsungan hidupnya kelak, sangat membuktikan bahwa Lasi merupakan wanita yang rela berkorban.

 

4.      Pintar merayu

Bukti bahwa Lasi bersifat pintar merayu,

Meskipun begitu tak urung Lasi ketakutan, khawatir akan kena marah suaminya karena telah merusak tempat tidur mereka satu-satunya. Untung, untuk kesulitan semacam ini emak Lasi mempunyai nasihat yang jitu: segeralah mandi, menyisir rambut, dan merahkan bibir dengan mengunyah sirih. Kenakan kain kebaya yang terbaik lalu sambutlah suami di pintu dengan senyum.

Sebagai seorang wanita, merayu merupakan hal yang mudah dilakukan. Terutama kepada suaminya. Hal ini dilakukan pula oleh Lasi, ia  melakukannya agar suaminya tidak marah.

 

5.      Pemarah

Bukti bahwa Lasi bersifat pemarah,

a.       Dan Lasi mencabut kayu penggaris dari ketiaknya, lari menyeberang titian dan siap melampiaskan kemarahan kepada para penggoda. Ia takkan segan menggunting hingga putus leher ketiga anik lelaki itu. Tetapi yang ada bukan tangan penjepit melainkan kayu penggaris. Dua penggoda lari dan seorang lagi tetap tinggal, bahkan membiarkan punggungnya dipukul Lasi dengan kayu penggaris.

"Anak-anak mengganggumu lagi?"

"Selalu!"

Jawab Lasi tajam. Sinar kemarahan masih terpancar dari matanya. Terasa ada tuntutan yang runcing dan menusuk diajukan oleh Lasi; mengapa dia harus menghadapi ejekan dan celoteh orang setiap hari.

Sikapnya kepada teman-temannya membuktikan bahwa Lasi merupakan sosok yang pemarah. Hanya karena olok-olok yang sepele dari teman-temannya, ia memukulnya. Kemarahannya terlihat pula saat ia meminta penjelasan kepada ibunya.

 

6.      Ingin tahu

Bukti bahwa Lasi bersifat igin tahu,

 

a.       “Ya, Las. Dia bukan ayah kandungmu," jawab Mbok Wiryaji agak terbata.

a. "Jadi siapa ayah saya yang sebenarnya? Orang Jepang?"

a. "Ya."

a. Mbok Wiryaji menelan ludah.

a. "Kok bisa begitu?"

a. "Dulu di sini banyak orang Jepang. Mereka tentara."

a. "Kata orang, Emak diperkosa orang Jepang. Diperkosa itu bagaimana?"

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Lasi kepada ibunya, membuktikan bahwa Lasi merupakan sosok yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

7.      Perhatian dan kepedulian

Bukti bahwa Lasi memiliki sifat perhatian dan peduli,

 

a.       Pagi ini Lasi berangkat hendak menjenguk Darsa di rumah sakit kecil di kota kewedanan itu.

b.      "Sudahlah, Mak. Emak memang tidak minta. Tapi saya sendiri melihat rumah ini sudah terlalu tua. Saya sendiri yang menghendaki rumah ini dibangun kembali dan Emak tinggal tahu beres. Mak, Saya tidak ingin Mas Han kebocoran bila suatu saat kelak suamiku itu menginap di sini."

 

Kedua petikan diatas membuktikan bahwa ia merupakan sosok yang memiliki rasa perhatian dan perhatian tinggi terhadap orang-orang yang ia sayangi.

 

8.      Hawatir

Bukti seorang Lasi memiliki rasa kekhawatiran,

 

a.       Mungkin ia akan tetap menyadap nira apabila nyawanya tak melayang. Meskipun begitu kemarin Lasi berdiri lama di depan pintu ketika melepas Darsa pergi menyadap. Mulut Lasi komat-kamit. Mangkat slamet, bali slamet, bisik Lisi. Amit-amit jangan seperti dulu, mangkat slamet, kembali sudah terkulai dalam gendongan Mukri.

 

Kalimat petikan diatas, menunjukkan seorang Lasi ialah sosok yang memiliki perasaan khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan.

 

9.      Bimbang

Bukti bahwa Lasi memiliki sifat bimbang,

 

a.       Lasi kadang merasa ragu dan takut. Namun rasa sakit karena perbuatan Darsa dan lebih-lebih sakit karena merasa dirinya tidak lagi berharga untuk seorang suami, membuat tekadnya lebih pekat.

b.      Lasi terbelalak. Sejenak terpana dan tiba-tiba sulit bernapas. Wajahnya pucat oleh guncangan yang mendadak menggoyang jiwanya. Sepasang alisnya merapat. Lasi gelisah. Tetapi Bu Lanting tak ambil peduli

Lasi merupakan sosok yang mudah bimbang, hal ini terbukti dari petikan diatas.

10.  Melarikan diri dari masalah yang dihadapi

Bukti bahwa Lasi memiliki sifat melarikan diri atas masalah yang sedang dihadapi, dapat kita lihat dari petikan dibawah ini.

 

a.        "Mas Pardi, aku ikut," ujar Lasi dingin dan kaku. Tatapan matanya lurus ke depan. Wajahnya keras dan beku seperti dinding batu menyiratkan suatu tekad yang tak tergoyahkan.

a."Ikut? Kami mau ke Jakarta dan kamu mau ikut? 

a.Tak ada jawaban. Dan Lasi tak bergeming. Matanya yang nyalang terus menatap tanpa kedip ke depan.

a."Lho, jangan, Las. Kami tahu kamu sedang punya masalah. Nanti orang bilang aku mencampuri urusanmu. Jangan, Las," cegah Pardi.

Lasi memang menangis. Kini ia mulai sadar akan apa yang sedang dilakukannya; lari meninggalkan Karangsoga, bumi yang melahirkan dan ditinggalinya selama dua puluh empat tahun usianya. Lari dari rumah; rumah lahir, rumah batin tempat dirinya hadir, punya peran dan punya makna. Lari meninggalkan tungku dan kawah pengolah nira dan wangi tengguli mendidih. Dan semuanya berarti lari dari yang nyata menuju ketidakpastian, menuju dunia baru yang harus diraba-raba, dunia yang belum dikenal atau mengenalnya.

Lari dan mbalelo adalah satu-satunya cara untuk lampiaskan perlawanan sekaligus membela keberadaannya. Lari dan lari meski Lasi sadar tak punya tempat untuk dituju.

 

11.  Pemalu

Bukti bahwa Lasi memiliki sifat pemalu,

 

a.       "Aku tak pernah makan di luar rumah. Malu."

a. "Kalau begitu sekarang kamu coba. Lagi pula kamu sudah ikut kami, maka kamu harus ikuti aturan kami. Jangan sampai bikin repot gara-gara kamu sakit karena perut kaubiarkan kosong."

“Lasi tertunduk malu. Dia menoleh ke Pardi. Sopir itu mengerti. Maka dialah yang kemudian menjawab pertanyaan Bu Koneng dengan keterangan yang agak panjang.”

b.      Dan jawaban yang jelas diperoleh Kanjat dari orang ketiga: Lasi malu berakrab-akrab dengan anak orang kaya sementara dia anak orang miskin. Apalagi setelah tamat SMA Kanjat memang lain; bongsor, gagah, terpelajar, dan dimanjakan Emak dengan sebuah sepeda motor. Pokoknya, Kanjat tak pantas lagi diaku sebagai adik oleh Lasi seperti ketika mereka masih kanak-kanak dan suka bermain petak umpet.

 

12.  Hutang budi

Buki bahwa Lasi memiliki sifat hutang budi,

 

a.       "Jangan bilang begitu. Kamu ikut kami, maka soal makan kamilah yang tanggung. Kecuali kamu mau bikin malu kami."

b.      "Untuk sekadar pegangan, Las. Barangkali kamu membutuhkannya untuk beli minuman selama aku pergi," kata Pardi.

b.     “Terima kasih, Mas Pardi. Aku memang tidak memegang uang. Dan uang ini kuterima sebagai pinjaman. Kapan-kapan aku akan mengembalikannya kepadamu."

b.     "Terserahlah, kalau kamu ngotot. Yang pasti aku tidak merasa punya urusan utang-piutang dengan kamu."

Petikan percakapan diatas, membuktikan bahwa sosok Lasi memiliki sifat hutang budi dan tidak bisa menerima pemberian secara Cuma-Cuma.

 

13.  Tahu diri

Bukti bahwa Lasi memiliki sigfat tahu diri, dapat kita lihat dari petikan dibawah ini,

 

a.       Bu Koneng mengajaknya makan pagi, bukan di ruang warung melainkan di ruang dalam. Lasi tak enak karena merasa terlalu diperhatikan, tetapi tak mampu menampik kebaikan Bu Koneng.

"Merepotkan Bu Koneng?" kata Lasi setelah agak lama terdiam.

 "Tak apa-apa, kok. Aku sering disinggahi istri-istri sopir dan mereka biasa menginap di sini."

 

14.  Baik hati

Bukti bahwa Lasi memiliki sifat baik hati,

a.       “Lasi yang tak asing dengan lumpur sawah, entah mengapa, merasa jijik dengan lumpur pasar. Hanya karena tak ingin menyinggung hati Bu Koneng, Lasi ikut ke mana saja induk semangnya yang baru itu pergi.”

b.      "Eyang Mus tidak ingin surau kita berlantai tegel dan berdinding tembok? Surau berdinding bambu sudah ketinggalan zaman," kata Lasi setelah agak lama terdiam.

c.       "Berikan uang ini kepada Kang Darsa. Uang itu cukup untuk makan kalian selama setahun bila kalian gunakan untuk menyewa pohon kelapa. Sudah, jangan terus menangis.”

 

15.  Cengeng

Bukti bahwa Lasi besifat cengeng,

 

a.        "Lho, kok malah menangis. Aku tidak memaksa kamu, Las. Kalau kamu suka tinggal di kamar sempit dan sumpek di sini, ya terserah.”

"Las, maksudku begini. Karena masih muda dan menarik, bagaimana bila suatu saat kelak ada lelaki menginginkan kamu? Atau, apakah kamu masih ingin kembali kepada suamimu?"

 Lasi cepat menggeleng. Dan air matanya cepat mengambang.

b.      Lasi tidak menjawab. Ia tetap menunduk. Tangannya gemetar dan mulai sibuk mengusap air mata.

c.       Anehnya, Lasi sendiri malah menangis lagi. Keluar, menggamit pipi bayi yang sedang dibopong Sipah, lalu pergi. Kanjat menyusul karena ia pun merasatak bisa berbuat apa-apa untuk Darsa.

 

16.  Polos, penurut, kurang tegas, dan tidak punya pendirian

 

a.       Bukti "Itu gampang. Akan kukatakan kamu ikut Bu Lanting. Bila Pardi meminta, dia akan kuantar menemuimu. Itu gampang sekali."

Lasi mengira dirinya akan diajak keluar karena hal itu sudah terlalu sering terjadi. Apalagi selesai mandi Lasi melihat induk semangnya sudah berdandan. Dan pertanyaan mulai muncul dalam hati Lasi ketika Bu Lanting menyuruhnya mengenakan kimono. Lasi belum pernah diajak pergi dengan pakaian seperti itu.

 

"Kita mau ke mana sih, Bu? Saya kok pakai kimono?"

 

"Tidak ke mana-mana, Las. Kita tidak akan pergi. Aku mau menerima tamu. Tamuku ingin melihat cara orang memakai baju adat Jepang ini.”

"Bu, sebenarnya saya tidak bisa memutuskan apa-apa. Saya hanya akan menurut; semua terserah Ibu bagaimana baiknya. Saya pasrah. Tetapi, Bu, sebenarnya saya takut.”

b.      Lasi tersenyum dan membiarkan Handarbeni menggandeng dirinya keluar. Tetapi untuk kesekian kali Lasi merasa tidak seharusnya membiarkan diri digandeng seorang lelaki. Entahlah.

c.       "Las, sehabis makan kamu ingin ke mana lagi?"

c. "Tak ingin ke mana-mana."

c. "Nonton?"

c. "Tidak tahu. Saya tidak ingin ke mana-mana."

c. "Kalau begitu lebih baik kita pulang ke Slipi. Kitaomong-omong saja di rumah sendiri, pasti lebih leluasa. Kamu mau, bukan?"

d.      "Saya cuma menurut," kata Lasi pelan, tanpa mengangkat wajah. Handarbeni mendesah, lega. Tersenyum sendiri dan matanya lekat pada Lasi yang tetap menunduk.

d. "Las, aku ingin bicara agak banyak tetapi bukan di tempat ini. Kita keluar sekalian makam malam. Kamu mau, bukan?"

d. Lasi terdiam dan kelihatan ragu.

Petikan diatas membuktikan bahwa Lasi merupakan wanita yang polos, penurut, kurang tegas dan tidak puya pendirian.

17.  Bodoh dengan jalan pikirannya yang dangkal

Petikan di bawah ini akan membuktikan bahwa Lasi memiliki sifat bodoh dengan jalan pikirannya yang dangkal,

a.       Jat," jawab Lasi setelah lama hanya sibuk dengan air matanya. "Untuk apa aku pulang? Tak ada guna, bukan? Rumah tanggaku sudah hancur. Suamiku tak bisa lagi kupercaya. Dan aku anak orang miskin yang menderita sejak aku masih kecil. Bila aku kembali aku merasa pasti semua orang Karangsoga tetap seperti dulu atau malah lebih: senang menyakiti aku."

Apabila Lasi memang wanita yang cerdas dalam mengambil keputusan dan pertimbangan, walaupun masalah yang dihadapinya begitu rumit. Dia akan menyelesaikannya dengan pikiran dingin, tidak seharusnya ia menjauh dan lari dari permasalahan yang dihadapi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar