Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

“Mom, You Better Than Drug”

              Ketika kau terlintas pikiran tentang kematian, aku mungkin tinggal menunggu waktu saja. Berbaring di kasur berseprei biru ditemani seorang ibu yang menggenggam tanganku dan menatapku dengan sedih. Air matanya menetes. Aku tahu air mata itu. Itu untukku yang berbaring dengan sisa-sisa nafas hari itu yang melihatnya tanpa sanggup menjawab kata-katanya. Yang kulakukan hanya menangis tak ingin mati. Sakit sekali. Kau tahu bagaimana rasanya berbaring begitu lemah dan hanya sanggup melihat orang disekeliling menangisimu? Berulangkali keluargaku menjenguk menunjukkan empatinya padaku, seorang yang lusuh dan berwajah seperti mayat hidup. Bibir putih kering, kulit pucat, mata yang kosong diselimuti lebam kelam, dan air mata yang menangisi diri sendiri. Tidak! Kau tidak tahu dan takkan pernah mau tahu. Karena itu sangat mengerikan. Kau tahu bagaimana rasanya malu dengan diri sendiri? Itu juga tidak. Kau tidak tahu.

Entah mengapa genggaman tangannya membuatku begitu hangat. Seperti sebuah pelukan dari seorang kekasih namun kurasakan lebih dalam. Aku yang tak sanggup membalas semua kebaikannya, aku yang selalu memaki dan kini akan mati di usia muda dengan sejuta penyesalan tanpa sanggup berkata maaf. Apa yang harus kulakukan? Mungkin semenjak kecil aku memang bencana. Terlahir dengan kesialan dan caci maki tetangga. Ibuku seorang pelacur? Ayahku si Preman itu mati setalah dikeroyok warga karena memperkosa dan merampok rumah tetangga. Apa lagi? Oh, aku yang ngedrug dan mabuk-mabukan, yang siap menusuk siapapun hanya demi untuk membeli drug and sabu. Percuma saja menyesalinya karena aku bahkan tak pernah bersyukur.


Aku ingat sewaktu usiaku enam tahun. Ibuku sedang mencuci dan kulihat kompor yang menyala perlahan mati. Kucoba menuangkan minyak namun yang terjadi kompor itu malah terbakar hebat hingga menyentuh langit-langit yang berlapis plastik. Aku menatap takujub dan hanya berkata, “WOW”. Ibuku yang berbalut handuk berlari cepat dan menyemprotkan air dari selang, menyuruhku menyingkir. Tapi apa kau tahu apa yang kulakukan dengan pikiran kekanak-kanakanku itu? Aku menarik handuknya dengan kasar sambil tertawa-tawa melihat ibuku bugil dan kemudian berlari keluar.


Mengingat hal itu membuatku tersenyum pada ibuku karena menangisi anaknya yang bodoh ini. Sekarat dengan atribut HIV-AIDS, alkohol, ketergantungan obat, dan jantung serta hati yang rusak. Lengkap sudah azab yang kuterima.


Belum lagi karma yang kudapat di usia lima tahun, mungkin itu adalah awal bahwa aku memanglah anak pembawa bencana. Aku meminta ibu mengantar dan menemaniku di TK hingga pulang. Tapi saat sampai di rumah, barang-barang berharga semuanya telah hilang, kami kemalingan. Lagi-lagi itu kesalahanku. Beberapa tahun berlalu dan ibu melahirkan adik laki-laki yang kembali diikuti caci maki tetangga karena tak jelas siapa ayahnya. Tetangganya? Atau Pak RT? Mau bagaimana lagi, seorang pelacur yang mencoba menghidupi keluarganya yang bahkan diremehkan oleh anaknya sendiri. Aku bahkan tak pantas menyesap air susunya. Aku yang ditugasi untuk mengawasi adik bayiku itu, malah menyebabkan kepalanya bocor terkena pagar kawat berduri. Ibuku berteriak dan memukulku kuat-kuat. Juga aku dan adikku yang selalu sakit-sakitan. Sekarang ini bila kupikir-pikir pasti ia telah mengorbankan tubuhnya ratusan kali untuk mengais belas kasihan uang jutaan rupiah demi pengobatan kami. Hingga akhirnya harus menjual rumah di Semarang dan kembali ke rumah mertua di Purworejo yang menginginkan cucunya berpendidikan.


Kini tempat itu menjadi neraka bagi ibuku. Selalu direndahkan dan diperlakukan dengan tidak adil. Dijadikan pembantu dan itu benar-benar mengubah ibuku, bertempramen tinggi dan sering depresi. Namun kurasa ibu tetap tabah. Hingga suatu ketika aku bermain di tengah hujan, ibuku datang dengan berterik, aku berlari dan ia melemparku dengan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Bila aku tak menghindar, mungkin aku sudah mati 18 tahun yang lalu. Tatapan matanya yang tajam dan penuh kesedihan. Aku tahu bukan itu maksud ia melakukannya. Itu karena ia sayang padaku.


Saat aku kejang-kejang hampir mati, bibir berbusa, dan selalu penyakitan. Saat itu pula ibuku yang cantik menjual tubuhnya untukku. Agar aku tetap hidup dan memenuhi impiannya. Tapi bahkan aku tak pernah memikirkannya. Hanya menikmati hidupku yang terjerumus kegelapan sex, alkohol, dan narkoba. Sebut saja dunia hitam. Memanggilnya pelacur dan wanita binal. Apa lagi? Binatang? Entah apa saja yang telah keluar dari mulut busukku. Hanya ada neraka terpanas yang akan mengulitiku dengan api dan dikebiri ribuan kali. Dicabik-cabik dan tak sanggup lai mengadu pada siapa pun.


Meski sekarang aku tak sanggup mengatakan apa pun, tapi tolong pahami tatapan mataku yang dipenuhi tangis penyesalan. Maafkan anakmu ini, hiduplah dengan baik dan keluarlah dari rumah itu. Cari suami yang baik yang dapat mengurusmu. Tinggalkan kehidupan yang seperti binatang itu. Jangan lagi kau sakiti fisik dan batinmu. Meski ingin, namun aku tak dapat lagi tinggal disisimu. Biarkan anakmu ini mati dan terkubur dalam sempitnya liang lahat. Hanya satu pintaku, hiduplah dengan baik. Kumohon hiduplah dengan baik. Kau tak perlu memaafkanku bila kau tak ingin. Tapi sekali lagi kumohon. Tolong hiduplah dengan baik, Ibu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar