THE
PHOTOGRAPH
Oleh: David
Sukma
Inspirated by
Cah Elek
Gemetar. Alunan melodi
irama kecil bergemerincing di sekujur tubuh, merata ke seluruh pori-pori
kehidupan. Keringat berkucuran terjun menukik cepat dari kening otak
terpelajar. Denyut jantungnya berdebum kuat takkuasa menyaksikan merah.
Perutnya mulai mual, sesuatu memaksa naik ke atas permukaan melewati
tenggorokan. Ia tertunduk lemas tanpa hasrat dengan pakaiannya yang serba biru
muda.
Disekitarnya, rekan
kerjanya tengah berusaha keras memperjuangkan kehidupan dan keselamatan sebuah
nyawa yang masih bertengger tanpa sadar di dalamnya. Meraka berulang kali
berganti alat untuk menunjang keberhasilan proses. Tapi seorang darinya
meliriknya tajam, bahkan yang lainnya berulang kali melihatnya sinis hingga
bosan dengan kelakuanku yang tak mau bergerak di sudut tepi ranjang menatap
kekalutan.
“Keluar, tunggu di
ruangku.” Perintahnya datar sambil menjahit bekas luka menganga di perut, tanpa
mau menatapku.
****
Sapi kosong tanpa terusik
kebisingan orang yang selalu membicarakanku, hanya saja katub kecil di dalam
dadaku terus berdegup kencang. Membuatku menciut kecil diantara sesamanya.
Sudah kali keempatnya aku seperti ini menghadapi kewajibanku. Mungkinkah kali
ini aku di skors bahkan di pindahkan dari posisi ini? Hauft…baguslah kalau
memang seperti itu, biarkan ayahku tau rasa kalau sedikitpun aku tak
menginginkan ini. Semua ini keputusannya, semuai ini kehendaknya, bahkan ia
merengut kebahagianku hanya demi kehormatan dan harga diri di depan mata
keluarga yang seluruhnya adalah dokter.
Tiba-tiba pintu terbuka,
seorang berjubah putih masuk dengan tangan yang membasuh keringat didahinya. Ia
berjalan mendekatiku dan menepuk pundakku, langsung duduk di singgasana
panasnya. Ia terpaku diam mengkecam keheningan dengan menatapku dingin dan
serius. “Begitukah jadi dokter?” tantangnya menatapku miris. “Kamu pikir ini
main-main? Pertaruhan kita itu nyawa orang…jika kamu belum bisa berfikir dewasa
dan masih teguh pada pendirianmu yang konyol itu, terserah kamu. Tapi ini sudah
keempat kalinya.” Kecamnya datar kuat sambil menekankan jari di ujung meja
menguatkan omongannya. “Kamu Om skors selama dua bulan.” ujarnya berpaling
dariku.
Aku tahu aku layak untuk
mendapat hukuman ini. Lagi pula aku melakukan ini bukan untukku, aku melakukannya
atas dasar yang bahkan tak mampu kulewati untuk kulebih tinggi darinya. Mendengar
ucapan Omku, bahkan aku tak takut. Hanya saja ada rasa plong di dalam dadaku
yang entah langsung bersorak-sorak riang seolah ini sebuah kesempatan besar.
****
Angin semilir menyejukkan,
membawa terbang semua kenangan dan beban buruk yang menimpa. Aku duduk di
sebuah bangku kayu panjang berwarna coklat yang terletak di sudut taman rumah
sakit. Bersila kecil dengan secangkir hangat segelas kopi susu coklat yang
mengepul ke mukaku.
Rambut panjang terumbai di
belakang kursi, hitam lebatnya melambai-lambai seorang pemuda yang berada cukup
jauh darinya yang tanpa sadar tengah mengamatinya.
Kulirik jam bulat di
tanganku. “Jam empat sore.” Apa yang kulakukan ini benar? Bila aku merelakan
inginku ini pergi, berarti aku menyiakan kebahagiaanku. Bila aku memaksimalkan
yang sudah kudapatkan ini, aku pasti akan hidup nyaman. Tapi untuk apa? Aku tak
mendapat kebahagiaan di sini. Jiwaku melayang di sini, hidup di sini. Tapi
ragaku, mengembara jauh ke ruang hidup yang lebih baik.
Langit jingga bertebaran
indah di atas sana. Ia mendongak tanpa rasa di wajahnya, dingin datar orang
kalut tanpa hasrat. Burung blekok berbulu putih terbang bebas membelah awan.
Tiba-tiba sekilat cahaya dari samping mengagetkanku. Kulihat pemuda itu sedang
memotretku. Apa aku ini obyek yang baik?
Dilihatnya hasil jepretan
itu. Ia tersenyum melihatku, berjalan mendekat dan duduk di sampingku. “Ini.”
ujarnya menjulurkan kameranya. Kuterima tanpa geram, kulihat wajahku terbenam
di sana. Hanyut dalam kesendirian yang mendalam. Terbawa arus kelamnya kegalauan.
“Kau pasien di rumah sakit ini?” tanyaku sembari menyodorkan kopi susu milikku
kepadanya.
“Eh, aaaaaah…te..terimakasih.”
Ujarnya risih menerima segelas kopi bekas milikku yang telah berkurang sedikit.
Dengan ragu-ragu ia meminumnya perlahan sambil melirikku yang masih lekat
mengawasinya agar meminumnya. “Ah…” ujarnya sambil mengacungkan jempol melotot
kesal. “Hari ini aku keluar dari sini. Sudah bosan aku harus tinggal di sini
dengan bius yang terus-menerus menjerumuskanku. Hahaha…” terangnya mengusap-usap
kepala belakangnya.
“Emmmm…” jawabku.
“Bagaimana hasil jepretanku? Seperti seorang professional bukan?
Hahaha…tentunya suatu hari nanti aku akan menjadi kameramen handal.” Ujarnya
menyombongkan diri mengikat tangannya di depan dada. “Benarkah? Wauw…” ujarku
meragukan. Aku berdiri melangkah beberapa meter, mencari obyek menarik dan
berulang kali menjepretnya. “Lihatlah milikku.” Ia mengambil kamera yang
kusodorkan, melihatnya dengan rakus dan senyum kagumnya mulai terkembang lebar.
“Huwa…heeeeebaaaaaaat…kau pasti beruntung bisa menjepret seperti ini. Tapi
sayang, bila dilihat lebih mendalam lagi, milikku lebih punya makna dan dapat
menyampaikan pesan tersendiri.” Terangnya tak mau kalah, mencoba membesarkan
jepretan miliknya yang memang jauh dari mulikku.
“Benarkah? Wauw...” ujarku
yang langsung berjalan menjauh darinya. “Apa? Kau menyindirku? Hei…tunggu.”
Ujarnya menghentikanku. “Kenalkan, aku Diva.” “Panggil saja aku Arin.” Ujarku
sembari berjabat tangan dengannya. “Besok temui aku di taman kota. Akan kuajari
kau bagaimana menikmati fotografi itu. Ok…” ujarnya tersenyum.
“E..hm..e..hm..huwahahahahaha…”
tawaku yang tertahan langsung meledak. “Yang benar aja. Kau mau mengajariku.
Apa kau tak bisa melihat bagaimana hasil jepretanku? Wau…kau benar-benar bocah
yang luarbiasa. Berani mengajak seorang wanita untuk jalan.” Ujarku
menyindirnya dan langsung berlalu berjalan meninggalkannya. “Hei aku ini sudah
dewasa. Aku akan menunggumu!!! Jam dua. Jam dua di taman kota. Kau harus
datang…” teriaknya meyakinkanku. “Haha…dasar bocah, mengajari fotografi? Yang
benar aja…hah…” gerutuku sambil jalan.
****
Di bawah koridor ini aku
berjalan, sendiri dengan semua rasa yang entah kemana. Hanya bocah itu yang
masih terngiang di otakku. Kudekati pintu ruang kerjaku untuk mengambil tas,
berkemas, lalu pulang. Hariku kali ini benar-benar berat tapi juga melegakan,
aku jadi bingung, harus senang atau harus sedih.
Saat handle pintu kubuka
ternyata ada Dion yang sudah menungguku di dalam sana. Ia berdiri dari kursi dan
langsung mendekat dengan cepat. “Karin, apa benar kau di skors?” tanyanya
khawatir. Aku menggangguk pelan mengiyakan sambil berjalan melewatinya
mengambil tas kecilku dan kunci mobil yang ada di laci meja.
Saat aku akan kembali
berjalan melewatinya ia menarik tanganku. “Kau ini, apa kau ingin seperti ini
terus. Aku ini pacarmu, sekali ini tolong dengarlah aku. Menikahlah denganku,
dengan begitu kau tak perlu khawatir dengan pekerjaanmu.” Terangnya serius.
“Apa hanya itu yang kau pikirkan?” ujarku sambil melepas paksa genggaman
tangannya di lenganku. “Tunggu Karin, maaf bila aku terlalu mengaturmu. Tapi
aku ingin yang terbaik untukmu. Mungkin kau butuh refresing, besok aku akan
menjemputmu, kita pergi ke pantai. Bagaimana?” ia membelai rambutku sambil menatapku
dengan senyum. “Terserah.”
****
Cahaya bulan yang temaram
di langit sana enggan membuatku tersenyum menikmati malam yang sunyi ini. Jam
dinding di atas meja menunjukkan angka sembilan malam dan di lantai satu itu
suara ayah dan bunda tengah berdebat keras. Aku yakin sebentar lagi mereka akan
menuju kamarku ini.
Di dalam kamar ini aku
terkujur telungkup sibuk mereview kembali hasil jepretanku dulu yang aku simpan
di dalam notebook. Senyum tipis kembali menyeringai dari hasil flash yang
terang di layar notebookku. Wajah unyu-unyu teman sekampus, ekspresi konyol
yang mereka persembahkan selalu membawaku ke dalam nostalgia yang menyenangkan.
Derap kaki mendekati
kamarku cepat, seketika pintu terbuka, ayah dan bunda langsung masuk. “Arin,
keterlaluan. Seperti inikah hasil sarjanamu, sedikitpun tak ada yang beres. Kau
mempermalukan ayah di depan keluarga. Kau ini anak ayah satu-satunya…seharusnya
kau bisa menjaga nama baik ayah.” Ujarnya menatapku. Sebenarnya aku juga
memikirkan semua perkataan ayah, membuat malu orang tua bukanlah hal baik yang
seharusnya dilakukan seorang anak. “Apa
kau masih ingin menjadi fotografer professional? Sehingga kau benar-benar
berbuat semaumu dengan pekerjaanmu sekarang?” “Ayah, bukan seperti itu yang
Arin lakukan…” “Lalu apa? Ayah ini sudah melakukan segala cara agar kau bisa
menjadi sarjana kedokteran dan bekerja di rumah sakit Ommu itu. Tapi apa?”
“Arin…sekali-kali
dengarkanlah ayahmu. Turutilah perkataannya, kau jangan terlalu egois…” ujar
ibuku membelai rambutku. “Yang egois itu kalian berdua. Kalian selalu memaksaku
melakukan ini itu, padahal aku tak menginginkannya. Sejak dulu aku tak tahan
dengan darah. Ayah…sebagai dokter mana mungkin aku bisa melakukan semua itu. Ayah
dan bunda yang seharusnya lebih paham dengan keadaanku, tapi masih tetap
memaksaku untuk menjadi dokter. Ini semua salah kalian!” teriakku kecewa dengan
semua pemikiran mereka. Aku melempar diri di kasur, membentang selimut dan
menutupkannya ke sekujur tubuhku.
“Arin…” ujar bunda
mengelus pundakku. “Bunda, biarlah dia lakukan semaunya.” Ujar ayahku yang
kemudian bangkit dan keluar dari kamar diikuti ibuku dari belakang.
****
Secangkir kopi susu
wanginya semerbak menyejukkan, kuhirup aromanya perlahan, masuk ke dalam hidung
dan bergoyang lentik di dalam hatiku. Duduk di tengah keriangan orang-orang
yang juga menikmati secangkir kopi hangat bersama rekan-rekan kerja dan
pasangan mereka. Dibawah altar langit yang bercakrawala, aku duduk di bawah
naungan meja bundar yang teduh oleh payung putih lebar sebuah kafe santai di
luar ruangan yang berada di tepi taman kota.
Entah kenapa tubuhku malah
berayun kemari, bukannya menunggu Dion menjemputku tapi aku malah menuruti
keinginan bocah yang baru kukenal itu. Mungkinkah karena dia pecinta forografi?
Atau karena aku yang tak mau kalah dengan bocah itu? huft…mungkin aku butuh
sedikit warna dalam hidupku. Satu tahun belakangan ini aku mulai bosan dengan
semua rutinitas menjenuhkan yang selalu kukerjakan. Mungkin ini saatnya melawan
arus.
Tiba-tiba sebuah tangan
menutup kedua kelopak mataku. Aku kaget terperanga, kutebak-tebak mungkinkah
ini Dion? Karena hanya Dion yang sering melakukan ini padaku. Ia melepasakan
tangannya dan langsung duduk di sampingku, menebar senyum manis dari wajahnya
yang lumayan rupawan. Kulitnya putih bersih dan tubuhnya lebih tinggi dariku,
mungkin bila kita berjalan bersama kami akan terlihat sebagai pasangan yang
serasi. Hanya saja dia lebih muda dariku. Ditambah lagi, baju dan tas ransel itu….?
dia masih SMA.
“Nih…” dijulurkannya kamera
miliknya. Kulihat di dalamnya ada banyak foto-fotoku di tempat ini. Semuanya
hanya melamun, tak berarti sekali hariku.
“Bagus…” ujarku malas,
kulayangkan tangan mengambil secangkir kopi milikku tapi dia langsung
mengambilnya dan meminumnya. “Hei, itu kopiku.” Teriakku. “Shuuuuut…” ujarnya
isyarat diam. “Kita harus cepat, mumpung suasananya tepat.” Ujarnya masih
meneguk kopi perlahan. “Suasana?” pikirku bingung.
Langsung tanpa meminta
izinku ia menarik tanganku membawaku berlari cepat melewati payung-payung
peneduh ruko pinggir jalan. Ingin rasanya aku marah dan menarik tanganku, tapi
saat ia berbalik dan menatapku. Kulihat senyum manisnya terurai, membuatku tak
tega untuk merusak suasana hatinya. Kini kami berdiri di taman kota, ia
berulang kali menjepret obyek menarik yang membuatnya bersemangat. Bahkan ia
menggodaku untuk bersaing mengambil gambar.
Senyum dan tawa kami
terkembang, telah banyak gambar yang kami ambil. Semuanya obyek unik yang
menarik, bahkan ia memotretku saat tersenyum. Bersamanya kenapa terasa sangat
berbeda, seolah seketika aku melepaskan semua penat di dada. Ia menggandengaku
erat, melewati sebuah jembatan kecil yang di bawahnya bertebaran ikan koi yang
menawan. Sekarang kami berdiri di kubangan air mancur, bermain-main kecil saling
menciprat air.
Burung-burung camar yang
bertengger di ranting pohon itu mengamati kami, ikut tersenyum heran dengan
suasana janggal yang mempesona. Kami duduk di sebuah bangku kayu di tepi taman,
di bawah rindangnya pohon cery yang sedang berbuah. “Kau ini, keinginan bila di
tahan Cuma bikin wajah manismu jerawatan.” Ujarnya tenang menyentil jidatku.
“Apa?” tanyaku heran, seolah dia tahu apa yang kurasakan. Apa wajahku ini
benar-benar seperti orang malang.
“Hahahaha…lihat ini.” ia
menyodorkan hasil jepretannya yang terisi senyumanku. “Kau bisa tertawa.”
“Emang aku batu…?” Ujarku manja menggembungkan pipiku. “Aduh, kenapa aku jadi
bertingkah seperti ini dengannya. Sikapnya seperti orang yang lebih dewasa, dia
sedikit pun tak ragu denganku.” pikirku. Jantungku berdegup kencang saat ia
memegang tanganku, gugup hingga meradang ke perutku.
“Meski pun itu beban, tapi
kau bisa mewarnainya bersamaku. Biarlah sebuah kesenangan kecil ini melukis
indah penuh pelangi di dalam hatimu. Rumah sakit mungkin memabosankan, tapi
semuanya bisa kau lawan dengan kesenanganmu. Biarlah itu mengalir mengisi
relung hatimu yang kesepian.” Ujarnya panjang lenbar sambil membelai rambutku.
Kenapa dengan bocah ini,
apa dia punya indrakeenam? Semua ucapannya membuatku tenang dan nyaman.
Kebersamaan ini, sesuatu yang berbeda. Tanpa sadar kepalaku terhuyun ke
pahanya, aku tiduran dengan nyamannya. Ia membelaiku penuh kasih sayang. Kenapa
aku tak menolak?
“Terimakasih, karena kau
aku bisa hidup satu bulan lagi…” ujarnya pelan. Aku terbeku sejenak, memikirkan
kata-katanya ini. “Kenapa kau berterimakasih?” tanyaku cepat sambil memainkan
jariku di pahanya. “Operasi itu, membuatku bertahan hidup meski sejenak.” Aku
terbelalak ragu. Bangkit dan langsung duduk menatap wajahnya. Apa dia orang yang
waktu itu kuoperasi bersama rekan-rekan kerjaku? Mungkinkah?
“Saat aku hampir tertidur
dengan obat bius yang meracuniku, aku melihatmu datang mendekat dengan tangan
yang gemetaran. Hahaha…kau ini, meski professional ternyata bila wanita tetap
saja punya rasa takut dan iba yang besar.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.
Tanpa sadar air mataku
mengalir perlahan membasahi pipiku. Sejuk dan dingin bersama terpa angin yang
perlahan mengibas rambut panjangku. Dia…apa dia tengah menguatkanku. Padahal
sedikitpun aku tak menyentuh operasi itu, tubuhku terlalu takut untuk
menyelamatkan sebuah nyawa yang ternyata sangat berharga sepeti ini. “Apa yang
telah kuperbuat selama ini? aku menyiakan sebuah jalan luarbiasa yang sangat
indah. Menyelamatkan orang ternyata lebih memuaskan dari pada hanya mengambil
secarik gambar dari bagian hidup yang terlewatkan.” Pikirku. “Terimakasih bila
kau berpikir seperti itu. Tapi aku..” jarinya menghentikan ucapanku. “Shuuuuut…lihat…”
ujarnya menarik tanganku menyentuh dadanya. “Jantungku berdetak kencang
karenamu.” Aku ragu harus berkata apa, tapi meski aku tak menolongnya,
ucapannya membuatku bangga.
“Aku menyukaimu. Kau
maukan jadi pacarku?” ujarnya. Mataku terhentak ingin keluar, dia tak ragu-ragu
dengan ucapannya. “Apa benar kau menyukaiku? Mungkin kau hanya merasa sangat
berterimakasih denganku hingga kau menyukaiku.” Ujarku dingin. “Kau ini…”
ujarnya sambil sekali lagi menyentik jidatku. Aku tersipu malu dengan
senyumannya. “Jangan anggap remeh kata-kataku. Mari kita buat lukisan abstrak
dalam hidup kita. Kadang yang aneh itu lebih indah bukan?” ia tersenyum sambil
memegang tanganku meyakinkan ucapannya. “Meski kau pikir hubungan kita ini
aneh, tapi aku nyaman bersama denganmu…” ujarnya. Sekali lagi aku tertegun
penuh makna. Ternyata yang kita rasakan itu sama, mungkin ini akan membuatku
lebih berarti bila bersama dengannya. Tapi apa ini benar?
“Jadi, apa keputusanmu?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar