Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

The Photograph




THE PHOTOGRAPH
Oleh: David Sukma
Inspirated by Cah Elek
Gemetar. Alunan melodi irama kecil bergemerincing di sekujur tubuh, merata ke seluruh pori-pori kehidupan. Keringat berkucuran terjun menukik cepat dari kening otak terpelajar. Denyut jantungnya berdebum kuat takkuasa menyaksikan merah. Perutnya mulai mual, sesuatu memaksa naik ke atas permukaan melewati tenggorokan. Ia tertunduk lemas tanpa hasrat dengan pakaiannya yang serba biru muda.
Disekitarnya, rekan kerjanya tengah berusaha keras memperjuangkan kehidupan dan keselamatan sebuah nyawa yang masih bertengger tanpa sadar di dalamnya. Meraka berulang kali berganti alat untuk menunjang keberhasilan proses. Tapi seorang darinya meliriknya tajam, bahkan yang lainnya berulang kali melihatnya sinis hingga bosan dengan kelakuanku yang tak mau bergerak di sudut tepi ranjang menatap kekalutan.
“Keluar, tunggu di ruangku.” Perintahnya datar sambil menjahit bekas luka menganga di perut, tanpa mau menatapku.
****
Sapi kosong tanpa terusik kebisingan orang yang selalu membicarakanku, hanya saja katub kecil di dalam dadaku terus berdegup kencang. Membuatku menciut kecil diantara sesamanya. Sudah kali keempatnya aku seperti ini menghadapi kewajibanku. Mungkinkah kali ini aku di skors bahkan di pindahkan dari posisi ini? Hauft…baguslah kalau memang seperti itu, biarkan ayahku tau rasa kalau sedikitpun aku tak menginginkan ini. Semua ini keputusannya, semuai ini kehendaknya, bahkan ia merengut kebahagianku hanya demi kehormatan dan harga diri di depan mata keluarga yang seluruhnya adalah dokter.
Tiba-tiba pintu terbuka, seorang berjubah putih masuk dengan tangan yang membasuh keringat didahinya. Ia berjalan mendekatiku dan menepuk pundakku, langsung duduk di singgasana panasnya. Ia terpaku diam mengkecam keheningan dengan menatapku dingin dan serius. “Begitukah jadi dokter?” tantangnya menatapku miris. “Kamu pikir ini main-main? Pertaruhan kita itu nyawa orang…jika kamu belum bisa berfikir dewasa dan masih teguh pada pendirianmu yang konyol itu, terserah kamu. Tapi ini sudah keempat kalinya.” Kecamnya datar kuat sambil menekankan jari di ujung meja menguatkan omongannya. “Kamu Om skors selama dua bulan.” ujarnya berpaling dariku.
Aku tahu aku layak untuk mendapat hukuman ini. Lagi pula aku melakukan ini bukan untukku, aku melakukannya atas dasar yang bahkan tak mampu kulewati untuk kulebih tinggi darinya. Mendengar ucapan Omku, bahkan aku tak takut. Hanya saja ada rasa plong di dalam dadaku yang entah langsung bersorak-sorak riang seolah ini sebuah kesempatan besar.
****
Angin semilir menyejukkan, membawa terbang semua kenangan dan beban buruk yang menimpa. Aku duduk di sebuah bangku kayu panjang berwarna coklat yang terletak di sudut taman rumah sakit. Bersila kecil dengan secangkir hangat segelas kopi susu coklat yang mengepul ke mukaku.
Rambut panjang terumbai di belakang kursi, hitam lebatnya melambai-lambai seorang pemuda yang berada cukup jauh darinya yang tanpa sadar tengah mengamatinya.
Kulirik jam bulat di tanganku. “Jam empat sore.” Apa yang kulakukan ini benar? Bila aku merelakan inginku ini pergi, berarti aku menyiakan kebahagiaanku. Bila aku memaksimalkan yang sudah kudapatkan ini, aku pasti akan hidup nyaman. Tapi untuk apa? Aku tak mendapat kebahagiaan di sini. Jiwaku melayang di sini, hidup di sini. Tapi ragaku, mengembara jauh ke ruang hidup yang lebih baik.
Langit jingga bertebaran indah di atas sana. Ia mendongak tanpa rasa di wajahnya, dingin datar orang kalut tanpa hasrat. Burung blekok berbulu putih terbang bebas membelah awan. Tiba-tiba sekilat cahaya dari samping mengagetkanku. Kulihat pemuda itu sedang memotretku. Apa aku ini obyek yang baik?
Dilihatnya hasil jepretan itu. Ia tersenyum melihatku, berjalan mendekat dan duduk di sampingku. “Ini.” ujarnya menjulurkan kameranya. Kuterima tanpa geram, kulihat wajahku terbenam di sana. Hanyut dalam kesendirian yang mendalam. Terbawa arus kelamnya kegalauan. “Kau pasien di rumah sakit ini?” tanyaku sembari menyodorkan kopi susu milikku kepadanya.
“Eh, aaaaaah…te..terimakasih.” Ujarnya risih menerima segelas kopi bekas milikku yang telah berkurang sedikit. Dengan ragu-ragu ia meminumnya perlahan sambil melirikku yang masih lekat mengawasinya agar meminumnya. “Ah…” ujarnya sambil mengacungkan jempol melotot kesal. “Hari ini aku keluar dari sini. Sudah bosan aku harus tinggal di sini dengan bius yang terus-menerus menjerumuskanku. Hahaha…” terangnya mengusap-usap kepala belakangnya.
“Emmmm…” jawabku. “Bagaimana hasil jepretanku? Seperti seorang professional bukan? Hahaha…tentunya suatu hari nanti aku akan menjadi kameramen handal.” Ujarnya menyombongkan diri mengikat tangannya di depan dada. “Benarkah? Wauw…” ujarku meragukan. Aku berdiri melangkah beberapa meter, mencari obyek menarik dan berulang kali menjepretnya. “Lihatlah milikku.” Ia mengambil kamera yang kusodorkan, melihatnya dengan rakus dan senyum kagumnya mulai terkembang lebar. “Huwa…heeeeebaaaaaaat…kau pasti beruntung bisa menjepret seperti ini. Tapi sayang, bila dilihat lebih mendalam lagi, milikku lebih punya makna dan dapat menyampaikan pesan tersendiri.” Terangnya tak mau kalah, mencoba membesarkan jepretan miliknya yang memang jauh dari mulikku.
“Benarkah? Wauw...” ujarku yang langsung berjalan menjauh darinya. “Apa? Kau menyindirku? Hei…tunggu.” Ujarnya menghentikanku. “Kenalkan, aku Diva.” “Panggil saja aku Arin.” Ujarku sembari berjabat tangan dengannya. “Besok temui aku di taman kota. Akan kuajari kau bagaimana menikmati fotografi itu. Ok…” ujarnya tersenyum.
“E..hm..e..hm..huwahahahahaha…” tawaku yang tertahan langsung meledak. “Yang benar aja. Kau mau mengajariku. Apa kau tak bisa melihat bagaimana hasil jepretanku? Wau…kau benar-benar bocah yang luarbiasa. Berani mengajak seorang wanita untuk jalan.” Ujarku menyindirnya dan langsung berlalu berjalan meninggalkannya. “Hei aku ini sudah dewasa. Aku akan menunggumu!!! Jam dua. Jam dua di taman kota. Kau harus datang…” teriaknya meyakinkanku. “Haha…dasar bocah, mengajari fotografi? Yang benar aja…hah…” gerutuku sambil jalan.
****
Di bawah koridor ini aku berjalan, sendiri dengan semua rasa yang entah kemana. Hanya bocah itu yang masih terngiang di otakku. Kudekati pintu ruang kerjaku untuk mengambil tas, berkemas, lalu pulang. Hariku kali ini benar-benar berat tapi juga melegakan, aku jadi bingung, harus senang atau harus sedih.
Saat handle pintu kubuka ternyata ada Dion yang sudah menungguku di dalam sana. Ia berdiri dari kursi dan langsung mendekat dengan cepat. “Karin, apa benar kau di skors?” tanyanya khawatir. Aku menggangguk pelan mengiyakan sambil berjalan melewatinya mengambil tas kecilku dan kunci mobil yang ada di laci meja.
Saat aku akan kembali berjalan melewatinya ia menarik tanganku. “Kau ini, apa kau ingin seperti ini terus. Aku ini pacarmu, sekali ini tolong dengarlah aku. Menikahlah denganku, dengan begitu kau tak perlu khawatir dengan pekerjaanmu.” Terangnya serius. “Apa hanya itu yang kau pikirkan?” ujarku sambil melepas paksa genggaman tangannya di lenganku. “Tunggu Karin, maaf bila aku terlalu mengaturmu. Tapi aku ingin yang terbaik untukmu. Mungkin kau butuh refresing, besok aku akan menjemputmu, kita pergi ke pantai. Bagaimana?” ia membelai rambutku sambil menatapku dengan senyum. “Terserah.”
****
Cahaya bulan yang temaram di langit sana enggan membuatku tersenyum menikmati malam yang sunyi ini. Jam dinding di atas meja menunjukkan angka sembilan malam dan di lantai satu itu suara ayah dan bunda tengah berdebat keras. Aku yakin sebentar lagi mereka akan menuju kamarku ini.
Di dalam kamar ini aku terkujur telungkup sibuk mereview kembali hasil jepretanku dulu yang aku simpan di dalam notebook. Senyum tipis kembali menyeringai dari hasil flash yang terang di layar notebookku. Wajah unyu-unyu teman sekampus, ekspresi konyol yang mereka persembahkan selalu membawaku ke dalam nostalgia yang menyenangkan.
Derap kaki mendekati kamarku cepat, seketika pintu terbuka, ayah dan bunda langsung masuk. “Arin, keterlaluan. Seperti inikah hasil sarjanamu, sedikitpun tak ada yang beres. Kau mempermalukan ayah di depan keluarga. Kau ini anak ayah satu-satunya…seharusnya kau bisa menjaga nama baik ayah.” Ujarnya menatapku. Sebenarnya aku juga memikirkan semua perkataan ayah, membuat malu orang tua bukanlah hal baik yang seharusnya dilakukan seorang anak.  “Apa kau masih ingin menjadi fotografer professional? Sehingga kau benar-benar berbuat semaumu dengan pekerjaanmu sekarang?” “Ayah, bukan seperti itu yang Arin lakukan…” “Lalu apa? Ayah ini sudah melakukan segala cara agar kau bisa menjadi sarjana kedokteran dan bekerja di rumah sakit Ommu itu. Tapi apa?”
“Arin…sekali-kali dengarkanlah ayahmu. Turutilah perkataannya, kau jangan terlalu egois…” ujar ibuku membelai rambutku. “Yang egois itu kalian berdua. Kalian selalu memaksaku melakukan ini itu, padahal aku tak menginginkannya. Sejak dulu aku tak tahan dengan darah. Ayah…sebagai dokter mana mungkin aku bisa melakukan semua itu. Ayah dan bunda yang seharusnya lebih paham dengan keadaanku, tapi masih tetap memaksaku untuk menjadi dokter. Ini semua salah kalian!” teriakku kecewa dengan semua pemikiran mereka. Aku melempar diri di kasur, membentang selimut dan menutupkannya ke sekujur tubuhku.
“Arin…” ujar bunda mengelus pundakku. “Bunda, biarlah dia lakukan semaunya.” Ujar ayahku yang kemudian bangkit dan keluar dari kamar diikuti ibuku dari belakang.
****
Secangkir kopi susu wanginya semerbak menyejukkan, kuhirup aromanya perlahan, masuk ke dalam hidung dan bergoyang lentik di dalam hatiku. Duduk di tengah keriangan orang-orang yang juga menikmati secangkir kopi hangat bersama rekan-rekan kerja dan pasangan mereka. Dibawah altar langit yang bercakrawala, aku duduk di bawah naungan meja bundar yang teduh oleh payung putih lebar sebuah kafe santai di luar ruangan yang berada di tepi taman kota.
Entah kenapa tubuhku malah berayun kemari, bukannya menunggu Dion menjemputku tapi aku malah menuruti keinginan bocah yang baru kukenal itu. Mungkinkah karena dia pecinta forografi? Atau karena aku yang tak mau kalah dengan bocah itu? huft…mungkin aku butuh sedikit warna dalam hidupku. Satu tahun belakangan ini aku mulai bosan dengan semua rutinitas menjenuhkan yang selalu kukerjakan. Mungkin ini saatnya melawan arus.
Tiba-tiba sebuah tangan menutup kedua kelopak mataku. Aku kaget terperanga, kutebak-tebak mungkinkah ini Dion? Karena hanya Dion yang sering melakukan ini padaku. Ia melepasakan tangannya dan langsung duduk di sampingku, menebar senyum manis dari wajahnya yang lumayan rupawan. Kulitnya putih bersih dan tubuhnya lebih tinggi dariku, mungkin bila kita berjalan bersama kami akan terlihat sebagai pasangan yang serasi. Hanya saja dia lebih muda dariku. Ditambah lagi, baju dan tas ransel itu….? dia masih SMA.
“Nih…” dijulurkannya kamera miliknya. Kulihat di dalamnya ada banyak foto-fotoku di tempat ini. Semuanya hanya melamun, tak berarti sekali hariku.
“Bagus…” ujarku malas, kulayangkan tangan mengambil secangkir kopi milikku tapi dia langsung mengambilnya dan meminumnya. “Hei, itu kopiku.” Teriakku. “Shuuuuut…” ujarnya isyarat diam. “Kita harus cepat, mumpung suasananya tepat.” Ujarnya masih meneguk kopi perlahan. “Suasana?” pikirku bingung.
Langsung tanpa meminta izinku ia menarik tanganku membawaku berlari cepat melewati payung-payung peneduh ruko pinggir jalan. Ingin rasanya aku marah dan menarik tanganku, tapi saat ia berbalik dan menatapku. Kulihat senyum manisnya terurai, membuatku tak tega untuk merusak suasana hatinya. Kini kami berdiri di taman kota, ia berulang kali menjepret obyek menarik yang membuatnya bersemangat. Bahkan ia menggodaku untuk bersaing mengambil gambar.
Senyum dan tawa kami terkembang, telah banyak gambar yang kami ambil. Semuanya obyek unik yang menarik, bahkan ia memotretku saat tersenyum. Bersamanya kenapa terasa sangat berbeda, seolah seketika aku melepaskan semua penat di dada. Ia menggandengaku erat, melewati sebuah jembatan kecil yang di bawahnya bertebaran ikan koi yang menawan. Sekarang kami berdiri di kubangan air mancur, bermain-main kecil saling menciprat air.
Burung-burung camar yang bertengger di ranting pohon itu mengamati kami, ikut tersenyum heran dengan suasana janggal yang mempesona. Kami duduk di sebuah bangku kayu di tepi taman, di bawah rindangnya pohon cery yang sedang berbuah. “Kau ini, keinginan bila di tahan Cuma bikin wajah manismu jerawatan.” Ujarnya tenang menyentil jidatku. “Apa?” tanyaku heran, seolah dia tahu apa yang kurasakan. Apa wajahku ini benar-benar seperti orang malang.
“Hahahaha…lihat ini.” ia menyodorkan hasil jepretannya yang terisi senyumanku. “Kau bisa tertawa.” “Emang aku batu…?” Ujarku manja menggembungkan pipiku. “Aduh, kenapa aku jadi bertingkah seperti ini dengannya. Sikapnya seperti orang yang lebih dewasa, dia sedikit pun tak ragu denganku.” pikirku. Jantungku berdegup kencang saat ia memegang tanganku, gugup hingga meradang ke perutku.
“Meski pun itu beban, tapi kau bisa mewarnainya bersamaku. Biarlah sebuah kesenangan kecil ini melukis indah penuh pelangi di dalam hatimu. Rumah sakit mungkin memabosankan, tapi semuanya bisa kau lawan dengan kesenanganmu. Biarlah itu mengalir mengisi relung hatimu yang kesepian.” Ujarnya panjang lenbar sambil membelai rambutku.
Kenapa dengan bocah ini, apa dia punya indrakeenam? Semua ucapannya membuatku tenang dan nyaman. Kebersamaan ini, sesuatu yang berbeda. Tanpa sadar kepalaku terhuyun ke pahanya, aku tiduran dengan nyamannya. Ia membelaiku penuh kasih sayang. Kenapa aku tak menolak?
“Terimakasih, karena kau aku bisa hidup satu bulan lagi…” ujarnya pelan. Aku terbeku sejenak, memikirkan kata-katanya ini. “Kenapa kau berterimakasih?” tanyaku cepat sambil memainkan jariku di pahanya. “Operasi itu, membuatku bertahan hidup meski sejenak.” Aku terbelalak ragu. Bangkit dan langsung duduk menatap wajahnya. Apa dia orang yang waktu itu kuoperasi bersama rekan-rekan kerjaku? Mungkinkah?
“Saat aku hampir tertidur dengan obat bius yang meracuniku, aku melihatmu datang mendekat dengan tangan yang gemetaran. Hahaha…kau ini, meski professional ternyata bila wanita tetap saja punya rasa takut dan iba yang besar.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.
Tanpa sadar air mataku mengalir perlahan membasahi pipiku. Sejuk dan dingin bersama terpa angin yang perlahan mengibas rambut panjangku. Dia…apa dia tengah menguatkanku. Padahal sedikitpun aku tak menyentuh operasi itu, tubuhku terlalu takut untuk menyelamatkan sebuah nyawa yang ternyata sangat berharga sepeti ini. “Apa yang telah kuperbuat selama ini? aku menyiakan sebuah jalan luarbiasa yang sangat indah. Menyelamatkan orang ternyata lebih memuaskan dari pada hanya mengambil secarik gambar dari bagian hidup yang terlewatkan.” Pikirku. “Terimakasih bila kau berpikir seperti itu. Tapi aku..” jarinya menghentikan ucapanku. “Shuuuuut…lihat…” ujarnya menarik tanganku menyentuh dadanya. “Jantungku berdetak kencang karenamu.” Aku ragu harus berkata apa, tapi meski aku tak menolongnya, ucapannya membuatku bangga.
“Aku menyukaimu. Kau maukan jadi pacarku?” ujarnya. Mataku terhentak ingin keluar, dia tak ragu-ragu dengan ucapannya. “Apa benar kau menyukaiku? Mungkin kau hanya merasa sangat berterimakasih denganku hingga kau menyukaiku.” Ujarku dingin. “Kau ini…” ujarnya sambil sekali lagi menyentik jidatku. Aku tersipu malu dengan senyumannya. “Jangan anggap remeh kata-kataku. Mari kita buat lukisan abstrak dalam hidup kita. Kadang yang aneh itu lebih indah bukan?” ia tersenyum sambil memegang tanganku meyakinkan ucapannya. “Meski kau pikir hubungan kita ini aneh, tapi aku nyaman bersama denganmu…” ujarnya. Sekali lagi aku tertegun penuh makna. Ternyata yang kita rasakan itu sama, mungkin ini akan membuatku lebih berarti bila bersama dengannya. Tapi apa ini benar?
“Jadi, apa keputusanmu?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar