Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

Dasar Manusia



 “Dasar Manusia”
David El Bueno

Duduk terpekur di sudut ruangan
Bisikan-bisikan itu ke mana arahnya
Memang apa yang telah kuperbuat?
Ayah… Ibu… ini tempat apa?
Dibawah pohon yang rindang ini aku terkagum akan kemahakuasaan-Mu yang luarbiasa. Karena-Mu aku hidup dan karena kuasa-Mu aku menikmati hari dan segala yang aku saksikan ini.
Rumput taman menusuk-nusuk pantat. Gatalnya lucu, membuatku geli. Hembusan angin melambai-lambai di sekeliling. Aku bersandar pada batang pohon ini. Daun-daun bertabura saat angin semakin kasar padanya. Kupejamkan mata menikmati terpaan angin kencang yang datang dari belakang pohon. Rambutku terhempas. Anganku membaur bersama angin sore. Kunikmati terbang melayang bersama dedaunan gugur. Kubentangkan tangan selebar-lebarnya. Kuhirup udara segar taman bermain. Kunikmati semua bebauan yang tercium. Amis, kecut, pesing, busuk dan harum semuanya dapat kurasakan. Tak peduli itu muncul dari lingkunganku atau badanku, aku hanya ingin bersantai.
Kudengarkan suara kambing mengembik di rerumputan taman. Anak-anak itu tertawa dengan bola yang terlempar kesana-kemari. Desingannya terdengar dekat. Kicauan burung pun tak luput dari pendengaranku. Pasti mereka tengah berbahagia bersama keluarga kecilnya di atas pohon ini. Punya banyak anak, istri yang selalu perhatian, dan makan yang tercukupi. Kebahagiaan hidup burung itu benar-benar lengkap sudah. Namun tiba-tiba kudengar suara yang dengan kencang merambat melalui terpaan angin yang tengah kunikmati. Suara ini sepertinya akan kasar bila mengenai tubuhku.
            “Se’puak!” Bola tendang yang mengenai wajahku membuatku terkaget dan terbangun dari khayalanku.
Langsung kedua tanganku memegang mukaku. Kurasakan panas melingkar di wajah. Mataku berair karena taksanggup menahan perih yang tiba-tiba menghantam hingga membuyarkan seluruh lamunanku.
Kubentak anak-anak tadi. “Hei! Sialan kalian. Dasar bocah-bocah semprul! Kalau nggak bisa main bola mendingan nggak usah main!”
“Sori kak. Sori…sori nggak sengaja.”
“Sori…sori! Sini, mau kupancal juga mukamu biar sama-sama ngerasain sakit!”
Kulihat bola yang mengenaiku tadi masih menggelinding di dekat kakiku. Maka untuk melampiaskan rasa kesalku pada mereka. Aku langsung menendang bola sepak tadi dengan sekuat tenaga. Namun tak kukira kalau bola itu akan melayang kuat mengarah ke gedung TK.
“Piyaaaarrrrr.” Kaca jendela TK itu seketika pecah.
Aku panik. Jantungku berdenyut kencang. Takut dan khawatir mulai menggeliat dalam tubuhku. Aku bingung. Kulihat sekelilingku hanya ada kambing dan anak-anak tadi. Kulihat pula sepedaku masih tergeletak murung di tanah. Aku yang kalut langsung berlari mengambil sepeda. Mengkayuhnya sekencang mungkin berharap tak ada yang tahu perbuatanku tadi. Aku menoleh kebelakang. Kulihat bocah-bocah tadi meneriakiku tak karuan.
            “Woiy! Dasar maling. Tanggung jawab woiy, malah kabur.”
            Anak yang lainnya mulai ikut mengataiku. “Dia tu gedhe-gedhe tapi bego ya.”
            “Pokoknya aku nggak ikut campur. Aku nggak ikut-ikutan. Kalau kayak gini bisa kita yang kena marah. Kaburrrrrrrrrrrr…” Serentak semua anak langsung kabur, taku mereka disalahkan.
Aku yang sudah jauh mengayuh sepedaku kini langsung menuju ke rumah. Aku tak peduli lagi pada ucapan bocah-bocah itu. Terserah mereka mau mengatakan apa pun tentang aku. Aku tak peduli.
            “Shiiiiiii….. it. Tin….tin…!!!” Suara motor menghentikan lajunya karena menghindariku yang menaiki sepeda dengan kencang.
            “Woiy… Kalau naik sepeda hati-hati.” Pengendara motor itu marah dan meneriakiku sekeras-kerasnya.
Lagi-lagi aku pun tak mempedulikan teriakannya. Meski pun dia orang satu desa denganku, aku tak peduli. Sampai di depan rumah aku langsung menjatuhkan sepedaku dan masuk ke dalam rumah.
Pertama kali yang kucari di dalam rumah adalah almari es. Kudekati dan kubuka lemari tersebut. Botol aqua yang penuh berisi air dingin kuambil dan kuminum. “Ahhhhh… Segaaaaar.” Dalam hati aku masih tetap khawatir dengan kejadian tadi. Semoga bocah-bocah tadi tidak mengadukanku pada penjaga TK. Pintu almari es yang masih terbuka lalu aku tutup. Aku berjalan menuju meja makan dengan membawa botol aqua tadi. Terdengar suara adzan dari masjid sebelah.
“Ternyata sudah maghrib.”
            “Klutik-klutik…” Suara piring di meja makan.
Kulihat ada kucing berwarna hitam pekat sedang asyik makan ayam goreng buatan ibuku. Keras saja aku teriaki kucing itu agar turun dari meja. Namun dia tetap tidak mau turun. Botol aqua yang masih di genggaman tanganku langsung kupukulkan ke badan kucing tersebut. Dia mengeram dan terjatuh ke lantai.
Di lantai ia masih sempat makan ikan yang terjatuh saat aku memukulnya tadi. Aku lalu berlari dengan cepat menghampiri kucing itu. Kutendang ia sekuat tenaga. Kucing itu langsung lari terbirit-birit. Kasus ini belum selesai sampai di sini. Aku pun masih tetap mengejarnya. Di ruang tamu kucing itu mencakar-cakar jendela rumah_ingin keluar. Pintu rumah lalu perlahan-lahan aku buka. Kucing tadi melihatnya. Dan ia pun langsung berlari menuju pintu yang kubuka ini. Dia berlari kencang. Saat sampai di depanku langsung kutendang lagi untuk yang kedua kalinya. Setelah itu aku menutup pintu dan berjalan meninggalkannya. Baru dua langkah aku beranjak dari pintu tadi. Aku mendengar teriakan orang.
            “Dasar manusia!”
Karena kaget. Aku langsung membuka pintu. Kulihat tak ada seorang pun, hanya kucing yang tengah muntah-muntah di teras rumah karena tendanganku tadi.
Pintu rumah aku tutup kembali. Kusandarkan tubuhku di pintu ini. Tanpa terasa. Hatiku langsung menciut. Jantungku berdebar-debar kencang. Kepalaku pening. Rasa takut dan khawatir membayang-bayangi hatiku. Pikiranku melayang-layang jauh memikirkan sesuatu gaip tengah memperingatkanku. Aku kalap, berlari menuju kamar tidurku. Saat aku membuka pintu kamar. Angin dingin dari jendela kamar menerpaku kuat-kuat. Suara anginnya pun terasa mengerikan di telingaku. Kulitku merinding. Dari jendela aku melihat hari mulai petang. Suara adzan berhamburan di sana-sini. Aku yang masih berdiri di pintu masuk kamar, tak mampu bergerak. Tubuhku serasa kaku. Ingin rasanya aku berlari mendekati ibuku yang berada di dapur untuk berlindung. Tapi tubuhku benar-benar berat dan tak mampu kugerakkan. Rasanya aku seperti mematung. Mungkinkah aku dikutuk Tuhan. Mungkinkah aku… mungkinkah… Pikiranku melayang-layang tak karuan. Suara teriakan tadi seprtinya bergeming kembali di telingaku. Menggelegar di dalam ruangan. Memecah segela keheningan malam.
            “Dasar manusia!”
            “Dasar manusia! Dasar! Dasar manusia!”
Hatiku kacau. Aku menciut. Aku merasa sangat takut. Lampu kamar masih mati. Dan tubuhku masih terasa berat untuk kugerakkan. Gorden jendela melambai-lambai kencang di terpa angin. Dingin membekukan tubuh, hati, dan pikiranku. Aroma wewangian aneh mulai tercium di hidungku. Menambah rasa takut yang sejak tadi menghinggapiku.
Namun tiba-tiba tubuhku mampu kugerakkan. Aku berlari menuju dapur karena aku rasa ibuku pasti berada di sana. Kulihat ibuku tengah mengiris timun untuk makan malam. Aku langsung mendekat dan memeluk tubuh ibuku dari belakang. Kurasakan harum tubuh ibuku benar-benar nyaman. Berangsung-angsur rasa takutku menghilang. Keberanianku mulai muncul kemabali. Namun suara seorang pria yang tadi meneriaki aku kini kembali terdengar. Tapi bukan kata-kata seperti tadi yang terdengar. Melainkan.
            “Nak, kamu kenapa?”
Suaranya terasa begitu dekat. Mataku terbelalak. Jantungku kembali berdenyut kencang. Bahkan suara denyutnya pun mampu kudengarkan. Rasa takut kembali menyelimuti hatiku. Pikiranku kembali berpacu kuat dengan ketakutanku. Sepertinya orang yang kupeluk inilah yang barusan bertanya kepadaku. Punggungnya memang wangi. Dan kurasakan bahwa ini memang tubuh ibuku. Namun saat aku menengadah ke atas. Kulihat wajah, dan matanya yang tajam menuju ke arahku.
Salah apa aku? Kenapa begini? Kenapa denganku? Ada apa sebenarnya denganku? Rumah ini memang rumahkukan? Pikiranku kacau. Hatiku menciut. Nyaliku benar-benar musnah melihatnya. Suaranya kembali terdengar.
            “Kau mau mati? Hem!”
            “Dasar manusia!!!!” Teriakan seorang laki-laki kembali terdengar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar