“Dasar Manusia”
David
El Bueno
Duduk
terpekur di sudut ruangan
Bisikan-bisikan
itu ke mana arahnya
Memang
apa yang telah kuperbuat?
Ayah…
Ibu… ini tempat apa?
Dibawah
pohon yang rindang ini aku terkagum akan kemahakuasaan-Mu yang luarbiasa.
Karena-Mu aku hidup dan karena kuasa-Mu aku menikmati hari dan segala yang aku
saksikan ini.
Rumput
taman menusuk-nusuk pantat. Gatalnya lucu, membuatku geli. Hembusan angin
melambai-lambai di sekeliling. Aku bersandar pada batang pohon ini. Daun-daun
bertabura saat angin semakin kasar padanya. Kupejamkan mata menikmati terpaan
angin kencang yang datang dari belakang pohon. Rambutku terhempas. Anganku
membaur bersama angin sore. Kunikmati terbang melayang bersama dedaunan gugur.
Kubentangkan tangan selebar-lebarnya. Kuhirup udara segar taman bermain.
Kunikmati semua bebauan yang tercium. Amis, kecut, pesing, busuk dan harum
semuanya dapat kurasakan. Tak peduli itu muncul dari lingkunganku atau badanku,
aku hanya ingin bersantai.
Kudengarkan
suara kambing mengembik di rerumputan taman. Anak-anak itu tertawa dengan bola
yang terlempar kesana-kemari. Desingannya terdengar dekat. Kicauan burung pun
tak luput dari pendengaranku. Pasti mereka tengah berbahagia bersama keluarga
kecilnya di atas pohon ini. Punya banyak anak, istri yang selalu perhatian, dan
makan yang tercukupi. Kebahagiaan hidup burung itu benar-benar lengkap sudah.
Namun tiba-tiba kudengar suara yang dengan kencang merambat melalui terpaan
angin yang tengah kunikmati. Suara ini sepertinya akan kasar bila mengenai
tubuhku.
“Se’puak!” Bola tendang yang
mengenai wajahku membuatku terkaget dan terbangun dari khayalanku.
Langsung
kedua tanganku memegang mukaku. Kurasakan panas melingkar di wajah. Mataku
berair karena taksanggup menahan perih yang tiba-tiba menghantam hingga membuyarkan
seluruh lamunanku.
Kubentak
anak-anak tadi. “Hei! Sialan kalian. Dasar bocah-bocah semprul! Kalau nggak
bisa main bola mendingan nggak usah main!”
“Sori
kak. Sori…sori nggak sengaja.”
“Sori…sori!
Sini, mau kupancal juga mukamu biar sama-sama ngerasain sakit!”
Kulihat
bola yang mengenaiku tadi masih menggelinding di dekat kakiku. Maka untuk
melampiaskan rasa kesalku pada mereka. Aku langsung menendang bola sepak tadi
dengan sekuat tenaga. Namun tak kukira kalau bola itu akan melayang kuat
mengarah ke gedung TK.
“Piyaaaarrrrr.”
Kaca jendela TK itu seketika pecah.
Aku
panik. Jantungku berdenyut kencang. Takut dan khawatir mulai menggeliat dalam
tubuhku. Aku bingung. Kulihat sekelilingku hanya ada kambing dan anak-anak
tadi. Kulihat pula sepedaku masih tergeletak murung di tanah. Aku yang kalut
langsung berlari mengambil sepeda. Mengkayuhnya sekencang mungkin berharap tak
ada yang tahu perbuatanku tadi. Aku menoleh kebelakang. Kulihat bocah-bocah
tadi meneriakiku tak karuan.
“Woiy! Dasar maling. Tanggung jawab
woiy, malah kabur.”
Anak yang lainnya mulai ikut
mengataiku. “Dia tu gedhe-gedhe tapi bego ya.”
“Pokoknya aku nggak ikut campur. Aku
nggak ikut-ikutan. Kalau kayak gini bisa kita yang kena marah.
Kaburrrrrrrrrrrr…” Serentak semua anak langsung kabur, taku mereka disalahkan.
Aku
yang sudah jauh mengayuh sepedaku kini langsung menuju ke rumah. Aku tak peduli
lagi pada ucapan bocah-bocah itu. Terserah mereka mau mengatakan apa pun
tentang aku. Aku tak peduli.
“Shiiiiiii….. it. Tin….tin…!!!”
Suara motor menghentikan lajunya karena menghindariku yang menaiki sepeda
dengan kencang.
“Woiy… Kalau naik sepeda hati-hati.”
Pengendara motor itu marah dan meneriakiku sekeras-kerasnya.
Lagi-lagi
aku pun tak mempedulikan teriakannya. Meski pun dia orang satu desa denganku,
aku tak peduli. Sampai di depan rumah aku langsung menjatuhkan sepedaku dan
masuk ke dalam rumah.
Pertama
kali yang kucari di dalam rumah adalah almari es. Kudekati dan kubuka lemari
tersebut. Botol aqua yang penuh berisi air dingin kuambil dan kuminum. “Ahhhhh…
Segaaaaar.” Dalam hati aku masih tetap khawatir dengan kejadian tadi. Semoga
bocah-bocah tadi tidak mengadukanku pada penjaga TK. Pintu almari es yang masih
terbuka lalu aku tutup. Aku berjalan menuju meja makan dengan membawa botol
aqua tadi. Terdengar suara adzan dari masjid sebelah.
“Ternyata
sudah maghrib.”
“Klutik-klutik…” Suara piring di
meja makan.
Kulihat
ada kucing berwarna hitam pekat sedang asyik makan ayam goreng buatan ibuku.
Keras saja aku teriaki kucing itu agar turun dari meja. Namun dia tetap tidak
mau turun. Botol aqua yang masih di genggaman tanganku langsung kupukulkan ke
badan kucing tersebut. Dia mengeram dan terjatuh ke lantai.
Di
lantai ia masih sempat makan ikan yang terjatuh saat aku memukulnya tadi. Aku
lalu berlari dengan cepat menghampiri kucing itu. Kutendang ia sekuat tenaga.
Kucing itu langsung lari terbirit-birit. Kasus ini belum selesai sampai di sini.
Aku pun masih tetap mengejarnya. Di ruang tamu kucing itu mencakar-cakar
jendela rumah_ingin keluar. Pintu rumah lalu perlahan-lahan aku buka. Kucing
tadi melihatnya. Dan ia pun langsung berlari menuju pintu yang kubuka ini. Dia
berlari kencang. Saat sampai di depanku langsung kutendang lagi untuk yang
kedua kalinya. Setelah itu aku menutup pintu dan berjalan meninggalkannya. Baru
dua langkah aku beranjak dari pintu tadi. Aku mendengar teriakan orang.
“Dasar manusia!”
Karena
kaget. Aku langsung membuka pintu. Kulihat tak ada seorang pun, hanya kucing
yang tengah muntah-muntah di teras rumah karena tendanganku tadi.
Pintu
rumah aku tutup kembali. Kusandarkan tubuhku di pintu ini. Tanpa terasa. Hatiku
langsung menciut. Jantungku berdebar-debar kencang. Kepalaku pening. Rasa takut
dan khawatir membayang-bayangi hatiku. Pikiranku melayang-layang jauh
memikirkan sesuatu gaip tengah memperingatkanku. Aku kalap, berlari menuju
kamar tidurku. Saat aku membuka pintu kamar. Angin dingin dari jendela kamar
menerpaku kuat-kuat. Suara anginnya pun terasa mengerikan di telingaku. Kulitku
merinding. Dari jendela aku melihat hari mulai petang. Suara adzan berhamburan
di sana-sini. Aku yang masih berdiri di pintu masuk kamar, tak mampu bergerak.
Tubuhku serasa kaku. Ingin rasanya aku berlari mendekati ibuku yang berada di
dapur untuk berlindung. Tapi tubuhku benar-benar berat dan tak mampu
kugerakkan. Rasanya aku seperti mematung. Mungkinkah aku dikutuk Tuhan.
Mungkinkah aku… mungkinkah… Pikiranku melayang-layang tak karuan. Suara
teriakan tadi seprtinya bergeming kembali di telingaku. Menggelegar di dalam
ruangan. Memecah segela keheningan malam.
“Dasar manusia!”
“Dasar manusia! Dasar! Dasar
manusia!”
Hatiku
kacau. Aku menciut. Aku merasa sangat takut. Lampu kamar masih mati. Dan tubuhku
masih terasa berat untuk kugerakkan. Gorden jendela melambai-lambai kencang di
terpa angin. Dingin membekukan tubuh, hati, dan pikiranku. Aroma wewangian aneh
mulai tercium di hidungku. Menambah rasa takut yang sejak tadi menghinggapiku.
Namun
tiba-tiba tubuhku mampu kugerakkan. Aku berlari menuju dapur karena aku rasa
ibuku pasti berada di sana. Kulihat ibuku tengah mengiris timun untuk makan
malam. Aku langsung mendekat dan memeluk tubuh ibuku dari belakang. Kurasakan
harum tubuh ibuku benar-benar nyaman. Berangsung-angsur rasa takutku menghilang.
Keberanianku mulai muncul kemabali. Namun suara seorang pria yang tadi
meneriaki aku kini kembali terdengar. Tapi bukan kata-kata seperti tadi yang
terdengar. Melainkan.
“Nak, kamu kenapa?”
Suaranya
terasa begitu dekat. Mataku terbelalak. Jantungku kembali berdenyut kencang.
Bahkan suara denyutnya pun mampu kudengarkan. Rasa takut kembali menyelimuti
hatiku. Pikiranku kembali berpacu kuat dengan ketakutanku. Sepertinya orang
yang kupeluk inilah yang barusan bertanya kepadaku. Punggungnya memang wangi.
Dan kurasakan bahwa ini memang tubuh ibuku. Namun saat aku menengadah ke atas.
Kulihat wajah, dan matanya yang tajam menuju ke arahku.
Salah
apa aku? Kenapa begini? Kenapa denganku? Ada apa sebenarnya denganku? Rumah ini
memang rumahkukan? Pikiranku kacau. Hatiku menciut. Nyaliku benar-benar musnah
melihatnya. Suaranya kembali terdengar.
“Kau mau mati? Hem!”
“Dasar manusia!!!!” Teriakan seorang
laki-laki kembali terdengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar