Davidsukma.blogspot.com|tengok cerpen dan puisi|resensi buku dan film|dan berbagi ilmu bersama|

Selasa, 08 Juli 2014

Ateis




“Ateis”
Oleh: David Sukma

Aku ini hijau tentang rasa. Tidak pernah memahami semua yang diinginkan wanita. Ini sebuah kisahku, kisah malapetaka. Kini tinggal mengalur dalam angan baka. Sampai pedih mengakar di dalam dada. Membuatku kalut terjerembab oleh mimpi-mimpi lama di dalam penjara.
Bukannya aku tak punya malu atau apa. Kemarin itu aku datang ke rumahmu dan kau menghilang entah ke mana. Kutanya, yang kau jawab sebuah kepalsuan. Kau bilang begitu cinta hingga aku selalu memikirkanmu. Kali ini aku terjun dalam deras hujan rela kedinginan tuk datang ke rumahmu, menjengukmu yang kau bilang sakit. Tetap, kau juga menghilang. Ada apa ini? Padahal aku begitu berharap denganmu. Orang tua kita saling menyetujui. Kini tinggal kamu yang putuskan akan ke mana arah tujuanmu nanti.
Sudah dewasa? Sudah katamu. Tapi kau masih seperti ini. Kau bilang mau serius denganku. Bahkan ikatan di jemari telah terlihat sejak waktu itu. “Anita, ini adalah bukti cinta kita yang terukir di tangan melalui bilah emas yang melingkar. Sudikah kau hidup denganku selamanya?” Kau menatapku penuh bahagia hingga aku berseri sebuah masa depan yang indah. Kau mengangguk hingga kedua orang tua kita saling mengerti betapa besar cinta kita.
“Sayang, aku juga menginginkanmu. Mari bersama jalani waktu indah tanpa derai munafik kata,” ujarmu tersenyum manis di hadapanku. Kini kutahu bagaimana pemikiranmu. Kau serius, apalagi aku yang sudah mapan ini. Karena itulah aku semakin yakin dengan hubungan kita berdua.
Umurku memang jauh sepuluh tahun lebih tua darimu. Kurasakan kedewasaanku memenuhi semua inginmu. Semerbak wangi tubuh indahmu yang terkulai di pahaku kala itu, membuatku semakin cinta padamu. Meski matahari membuat peluh kita mengalir deras, tapi di bawah pohon rindang itu kita bisa membilas luka bersama, saling mengerti dan memahami kata. “Aku ingin kita seperti ini terus,” pintamu lembut. Aku pun mengiyakan kala itu. Mungkin kau yang masih muda masih butuh kesegaran jiwa. Tanpa pikir panjang aku seolah tahu maksud kata-katamu.
Pernah hingga larut malam aku pulang kerja. Lampu rumah gelap sudah. Kau pun tak menunggu dan menyambutku hangat. Aku berinisiatif melepas pakaian dan langsung tidur berbaring di sapingmu dalam kasur hangat yang telah kita persiapkan. Tapi saat kubuka pintu, anganku mulai membayang. Sebuah jahat menghantam bilik jantung dengan keras. Pikirku langsung kencang. Dunia kasur sudah acak-acakan. Seingatku hanya aku dan kamu yang bisa melakukannya.
Aku coba berfikir jernih. Dia istri yang kusayang, begitu pula sebaliknya. Mungkin dia sedang kesal menungguku tak pulang-pulang. Pikirku pun menenangkanku. Aku tidur di sampingnya tanpa mencoba membangunkan. Hingga pagi hari tiba, dia menyambutku dengan sebuah wedang yang hangatnya hingga ke pulupuk mata. Kau tersenyum menyambutku, mendekat dan merangkulku dari belakang. “Mas, jangan punya dulu ya. Aku masih ingin begini,” pintamu sekali lagi terlontar. Kuiyakan pula sesuai inginmu. Karena aku juga tidak mau buru-buru. Meski orang tua sudah minta momongan, karena dia belum mau, maka aku menurut.
Bulan berganti musim. Di ujung musim ini aku utarakan inginnya orang tua. Kau tetap masih menolak untuk punya. Katanya masih ingin begitu. Padahal aku sudah mulai bosan dengan malam penuh irama dan ingin punya pemeriah keluarga. Bujuk rayu telah kukerahkan untukmu. Tapi tetap, kau menolak demi karir nyata milikmu itu.
Minggu ini aku dalam perjalanan luar kota. Selama satu minggu penuh kau kutinggal dirumah. Hati sakit meninggalkanmu sendirian, tapi kewajiban adalah kewajiban. Namun satu yang kutakutkan adalah para tetangga sebelah. Aku tak mau ada gunjingan. “Jaga diri di rumah. Jangan terima tamu malam-malam. Apa lagi bukan orang yang kau kenal. Aku pamit dulu sayang.” Kau tersenyum memberiku doa agar selamat di jalan dan hatiku pun tenang karenanya.
Seminggu berlalu dan ini malam terakhirku di kota asing tetangga. Pernah aku memikirkan di musim kering itu. Pertengkaran kita selama semalam. Kau ingin aku kembali pada jalan imanku. Tapi aku menolak enggan kembali pada yang kupercayai. “Kalu begitu masuklah dalam imanku. Kepercayaanku terbuka sayang.” Pintamu lembut. Tapi aku sudah kalut dengan semua itu. Karena sebuah masa, keluarga awal yang kubina lenyap karenanya. Hingga aku ateis tak beriman. Aku sangat marah kau menyebutku macam-macam. Bahkan kau meramalkan masa depan di nirwana sana. Kutampar kau tanpa iba, demi harga diriku seorang suami yang perkasa.
Malam itu pun telah reda. Kini malam aku penuh risau di dada. Esok pagi waktunya aku kembali ke lingkunganku. Semoga kau baik-baik sayang. Malam semakin larut dan mataku terkatup bersama mimpi indah yang selalu kudambakan. Kulihat keluarga kita bahagia, punya seorang anak pintar yang luarbiasa. Tetangga pun memandang kita dengan hormat. “Betapa lengkapnya jalan hidupku ini.”
Pagi menjelang, aku berangkat di tengah awan dan langit cerah. Dari jendela kulihat rajawali yang kunaiki menyibak awan yang begitu dekat dengan matahari. Putih bersih bergumpal menyilaukan, mataku silau tak kuasa melihat sekitar.
Sampai di rumah kau menyambut dengan bangga. “Kubawakan kau oleh-oleh sayang.” Setangkai durian montong kulambaikan padamu.
Kau mencium tanganku dengan sopan, kucim keningmu dengan penuh kasih sayang. Kau membawaku masuk, berbincang membicarakan semua. Hingga malam kita di rumah, mengisi waktu yang seminggu hilang. Jam dinding melirik tajam, sekarang pukul sepuluh malam. Sudah penuh rasaku ingin membelaimu. “Kamu lagi capek sayang. Mending istirahat saja. Bisa di lanjut besokkan?” ujarmu menolak permintaan. Aku kecewa menahan rasa. Padahal aku sudah sangat merindukanmu.
Pagi datang menjelang. Lengkingan ayam berkoar kencang. Membangunkan bersama subuh yang bersenandung. Aku terbangun menyuruhmu membuat kopi hangat. Aku duduk di ruang keluarga, di samping telepon yang sedang kugenggam. Kutelepon kedua orang tua kita. Mereka marah dan sudah sangat ingin momongan dari darah daging anaknya ini. Istriku datang, meletakkan kopi di meja. Ia duduk di sampingku bersandar pada pundakku. Kubelai pelan ia sambil sayu-sayu mengantuk.
“Sayang, kita sudah dua tahun menikah. Kenapa kau masih belum ingin punya momongan?” tanyaku perlahan membuatnya terbelalak. Aku tak pernah menanyakan alasan, kali ini ia mungkin sadar, betapa inginnya aku mendapat momongan dari orang yang kusayang. “Aku tak layak sayang,” jawabmu buram. Aku terhunus belati tajam mendengar kata-katamu. Pikirku menarawang ke alam baka. Sebuah jalan buruk mungkinkah telah kau buat, hingga enggan dapat anak dariku.
“Aku ini wanita karir. Tolong mengertilah. Aku begitu cinta dengan pekerjaanku. Dulu telah kurelakan semua hal untuk mencapainya. Kini bila aku harus hamil, aku pasti dikeluarkan sayang,” elakmu takkaruan. Membuatku bungkam tak bisa melawan. “Tapi dengar. Apa kau tak mau punya anak dariku. Kalau perlu berhentilah. Aku ini sudah mapan. Pekerjaanku pun bisa menghidupi kita dan keluargamu. Kenapa kau masih begitu kolot tak mau menuruti orang tuamu bahkan suamimu ini,” terangku mencoba menyadarkan.
Kau membentakku. Menyuruhku diam dan tak perlu dibicarakan. Tapi aku terus menerjang, memaksamu untuk mengerti dan mau memahami. Malah kau mendorongku, menjatuhkanku seolah kau jijik denganku. “Kau ini kenapa! Menurutlah denganku. Jadilah ibu rumah tangga, urus anak, suami, dan rumah. Tapi jika kelak kau ingin kembali bekerja. Aku mengizinkanmu. Tapi untuk kali ini, cobalah mengerti dan menurut denganku! Hanya untuk kali ini. Karena aku sudah sangat menginginkan momongan sayang.” Kau hanya diam, melepas tanganku paksa, melempar semua kata.
Kau berlari ke dalam kamar, ambil tas, ambil baju semua. Aku bingung dengan pikiranmu. “Kenapa harus begini? Kau mau kembali ke rumah orang tuamu hanya karena masalah ini?” ini memalukan. Kau tak bisa diatur. Kubiarkan kau meninggalkan rumah. Tak sudi lagi berdebat kata. Biarlah dia pergi ke rumah mertua atau orang tua. Biarlah mereka yang menyadarkanmu, sayang.
Terik mentari sudah sepenggalah jalah. Panasnya mualai terngiang menyilaukan. Perutku lapar, mendekati meja, kosong belaka. Kuputuskan untuk makan di warung samping rumah. Di dalamnya banyak tetangga membeli sayur, beli makan, beli lauk, dan beli gosip di lingkungan orang.
Aku duduk dan memesan makanan. Sebuah piring tersandar di atas meja. Kusantap dengan lahap. Tapi mereka melihatku cepat. Tajam sengit denganku seorang. “Suami yang tidak bisa menjaga istri…,” ujar seseorang. Aku tergelitik dalam dada mendengar ucapan itu. “Maksudnya apa?” tanyaku serius tajam. “Dia itu tak tahu diri. Apa kau suaminya tak pernah tahu betapa gilanya istrimu itu. Dia itu warung. Warung setan!” teriaknya. “Tutup mulutmu tetangga! Bicaralah yang sopan.”
“Kalau tidak percaya, tanyakan sama semua orang komplek. Semua tahu. Tiap malam selalu berganti-ganti. Dia itu terlalu liar untukmu!” ujar beberapa orang mengiyakan semua benar.
Dadaku panas. Kepalaku semakin membesar ingin meledak. Meja kayu kugebrak keras-keras. Semua orang terpaku takut melihatku garang. Aku pulang dengan cepat. Pikirku risau tak karuan, “Pergi kemana dia?” Hingga malam aku tak bisa tenang. Sanak keluarga kutelepon sudah. “Tidak ada. Memang kenapa?” jawab mereka sama. Pikiranku semakin melayang tak karuan. “Istriku, apa benar kurangajar?” pikirku di bawah detak jam bundar. “Jam 11 malam.” Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi kencang. Tanpa ragu aku kedepan.
Kubuka pintu, kulihat dia menangis deras. Langsung bersujud di kakiku yang telanjang. Karena sayang, kubawa dia masuk ke dalam, kutanyai dengan seksama. “Aku sadar, aku salah sayang. Aku tak menurutimu. Sekarang aku mau punya anak, sayang.” Terangnya tersedu sedan. Aku memeluknya hangat, mungkin dia benar-benar sudah sadar dan mau menuruti pintaku dan kedua orang tua.
Sembilan bulan berlalu, waktunya melahirkan telah tiba. Kubawa dia ke rumah sakit terdekat. Di dalam kamar itu ia berteriak-teriak. Kugenggam tangannya kuat. “Semoga keduanya selamat.” Kini meletus sudah. Bayi yang kuidam-idamkan telah keluar. Para orang tua tersenyum senang panjatkan doa kepada yang-ESA.
Dokter datang mendekat, membawa bayi yang telah bersih dari darah. “Bayi anda terlahir cacat. Satu kaki, satu tangan, satu mata, dan cacat mental. Ini sungguh tak bisa di percaya. Kami ikut berduka,” ujarnya remang. Turut pilu melihat nasip orang.
Aku tak percaya, tubuhku dingin otakku berhenti bekerja. Kedua mertuaku mendekat menepuk punggungku iba. Kudekati bayi itu, tiba-tiba aku pingsan tak mampu menguatkan raga. Semua yang kuimpikan, semua yang kubayangkan tuk hidup indah. Kini berlalu sudah.
Dalam ketidak sadaran aku menerawang masa. Suara-suara tetangga itu kembali terdengar. Apa yang mereka bilang waktu itu apa benar? Apa ini karma dari yang telah di perbuat istriku? Apa ini akibat dari aku yang melupakan Tuhan? Apa ini hukuman?
Bulan berganti tahun, kini ia sudah berumur tiga tahun. Para tetangga memandang sinis tanpa iba. “Itu akibatnya kalau istrimu bejat!” Tuding mereka. Ini mungkin bukan karena ulah istriku seorang, aku pun turut ikut ambil andil. Aku yang tak pernah lagi mau berdoa, kini dengan paksa harus mengambil hikmah dari limbah yang diratapi orang.
Kala itu hampir petang, bocah itu bermain sendirian. Berjalan di tepi jalan dan tiba-tiba semua hal berada di rumah sakit. Darah segar berkucuran. “Dia kehabisan darah. Kami harap anda dari pihak keluarga bersedia mendonorkan darah, karena darah milik anak anda langka, pasti dari keluarga ada persamaan.” Kembali bertemu dengannya. Kami pun telah sepakat. Saat uji laboratorium tiba, tak ada yang positif. Aku tertunduk lemas. Dokter mengambil inisiatif lain.
Hari berganti bulan. Belum kutanyakan perihal semua ini. Aku pergi ke rumah sakit. Tes DNA kujalani tuk buktikan kebenaran remang ini. Hasil keluar dan ternyata memang benar. Aku pun pulang penuh dendam. Panas membara di dalam dada menyeruak hingga ke otak. Mata merah penuh setan mengibliskan diri. Kubuka pintu dengan mendobrak. Ia kaget luar biasa, melihatku kalap di lahap setan. Dan semuanya hilang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar